Aiko Kurasawa Membaca Indonesia

2
1019

 

Aiko Kurasawa, 69 tahun, tampak segar ketika menyambut saya, Kamis, 24 September 2015 di rumahnya di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Padahal, ia mengaku baru tiba semalam dari Kalimantan Barat. Menembus kabut asap ke Borneo, ia mengusung agenda khusus: mempelajari kehidupan orang Tionghoa suku Khek di Singkawang dan Pontianak. Ia bersama rekannya, seorang peneliti yang juga editor sebuah penerbit di Jepang.

“Kasihan sekali karena mereka hidupnya miskin,” ujarnya membuka percakapan. Ia meneliti kehidupan komunitas suku itu, yang hijrah seiring terusirnya orang Tionghoa di Kalimantan oleh suku Dayak akibat provokasi tentara setelah peristiwa 1965.

Bermula dari Soekarno

Lahir di Osaka pada 26 Juli 1946, ketertarikannya kepada Indonesia muncul dalam usia cukup muda, 18 tahun, yakni begitu tamat sekolah menengah pada 1965. Peristiwa 1965, yang disebutnya sebagai insiden yang mengakibatkan pembantaian di berbagai daerah, membetot perhatiannya. Kejadianberdarah itu diberitakan cukup luas di Jepang karena hubungan akrab Sukarno dengan pemerintah Jepang. Secara khusus ia tertarik dengan sosok Sukarno sebagai pemimpin terkemuka, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga negara Asia-Afrika melalui organisasi Konferensi Asia-Afrika. Melalui berita di surat kabar, ia mengamati kejatuhan Sukarno. Saat itu, katanya, Jepang hanya diam dan tidak menghiraukan permintaan bantuan dari Indonesia. Padahal sebelumnya Jepang banyak memanfaatkan kedudukan Sukarno untuk memperkuat pengaruh di Indonesia saat Perang Asia Timur Raya.

“Saya ingat sekali waktu itu membaca bahwa Sukarno sekarang mengalami kesusahan,” ujarnya. Setelah 1965, Jepang mulai masuk ke Indonesia melalui Undang-Undang Penanaman Modal Asing. Namun tak lama muncul bentrok-bentrok kecil yang berujung pada peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) tahun 1974. “Orang Jepang waktu itu masuk Indonesia optimistis saja,” tuturnya. Jepang tidak memahami keadaan psikologi orang Indonesia yang masih trauma terhadap masa pendudukan sepanjang 1942-1945. Menurut Kurasawa, ini tidak aneh karena sejarah hubungan Indonesia dan Jepang tidak diajarkan di sekolah-sekolah. “Karena itu saya berpendapat kita para peneliti harus meneliti tentang agama, budaya, dan sejarah masyarakat Indonesia sebagai informasi untuk perusahaan-perusahaan Jepang. Dan saya pikir ceritanya harus mulai dari zaman Jepang,” ia menegaskan.

Penelitian tentang Indonesia dilakukannya selama kurun waktu 20 tahun. Pada 1968 ia menulis skripsi S1 di Tokyo University tentang zaman Jepang di Jawa. Kemudian pada 1972 ia menulis tentang pertempuran Surabaya sebagai tesis S2. Karyanya yang paling monumental adalah disertasi di Cornell University, yang diselesaikannya pada 1988, yakni Mobilization dan Control: A Study of Social Change in Rural Java (1942-1945), yang lantas diterbitkan Komunitas Bambu pada Januari 2015 dengan judul Kuasa Jepang di Jawa (1942-1945), yang hingga sekarang menjadi rujukan utama bagi mahasiswa maupun peminat sejarah yang ingin mengetahui secara mendetail mengenai gejolak perubahan sosial akibat pendudukan Jepang di Jawa. Disertasi setebal 776 halaman itu diselesaikannya setelah melakukan penelitian selama hampir sepuluh tahun.

Ketika mula-mula dia mengadakan penelitian lapangan tentang topik itu, ia mengalami kesulitan mendapatkan izin dan visa penelitian. Pemerintah, khususnya tentara, tampaknya tidak terlalu suka ada orang asing hendak masuk desa. Untunglah ia mendapat bantuan dari Nugroho Notosusanto yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional, sebelumnya Rektor Universitas Indonesia. Setelah izin diperoleh, ia datang ke desa-desa di Jawa tempat di mana teman-teman Indonesianya berasal. Pada masa itu, awal 1980-an, masih banyak saksi-saksi hidup zaman Jepang. Namun ia mengakui upayanya mendapatkan cerita dari para saksi terbilang sulit. “Mula-mula mereka hanya bicara manis saja. Jepang baik, Jepang mengajarkan teknik pertanian dan disiplin. Saya kira itu karena mereka terlalu sopan,” katanya. Namun lama-kelamaan para saksi bersikap terbuka. Ia banyak mendapatkan cerita sedih mengenai nasib para romusha. Banyak anggota keluarga dan tahanan Jepang yang tewas akibat romusha. Ada pula yang dibunuh karena dianggap mata-mata Belanda. “Mereka menangis dan tidak bisa melanjutkan wawancara karena teringat dengan keluarga yang meninggal,” ujarnya. Karena itulah ia mendesak pemerintah Jepang meminta maaf atas perbuatannya selama masa perang Asia Timur Raya. “Saya banyak mendapat black mail karena menyuarakan itu.”

aiko 2Studi Indonesia oleh Peneliti Jepang

Minatnya yang luas terhadap Indonesia mencakup topik-topik lain di luar zaman Jepang. Pada September 2015 bukunya berjudul Peristiwa 1965 : Persepsi dan Sikap Jepang diterbitkan oleh Kompas. Melalui buku ini ia ingin mengatakan bahwa Jepang sesungguhnya dapat banyak keuntungan dari insiden 1965, meski tidak terlibat langsung di dalamnya. Adapun bukunya berjudul Consuming Indonesia: Consumption in Indonesia in Early 21st Century sudah diterbitkan oleh Gramedia. Ia tertawa ketika saya tanya apakah tidak tertarik menulis tentang Ratna Sari Dewi.

“Sebenarnya Dewi benci PKI dan dekat dengan Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution) karena Hartini (istri Sukarno yang lain) pro-kiri,” ujarnya. Dewi menginginkan PKI jatuh tapi kedudukan Sukarno selamat. Karena itu, katanya, Dewi marah betul ketika pemerintah Jepang bersikap dingin. Apalagi Jepang banyak memanfaatkan jasa Dewi untuk mendekati Sukarno demi mendapatkan keuntungan melalui dana pampasan perang.

Ia mengatakan pada mulanya Dewi menaruh harapan terhadap Nasution. Namun ketika Brigadir Yusuf datang ke Dewi pada November 1965 dan meminta agar Sukarno menyerahkan kuasa ke Suharto, ia menolaknya. “Belakangan Dewi menyesal,” ucapnya.

Ia menegaskan Indonesianis asal Jepang sebenarnya tidak kalah dengan peneliti Eropa, hanya sayang mereka kurang dikenal. Karya-karya dari peneliti sezamannya, seperti Ken’ichi Goto, Tsuyoshi Kato, Hiroyoshi Kano maupun peneliti-peneliti generasi di bawahnya, seperti Tagayasu Naito, Yasuko Kobayashi, Arai Kazuhiro, dan Arai Ken’ichiro tidak sampai kepada publik Indonesia akibat kendala bahasa dan komunikasi. “Padahal kalau diundang memberi ceramah di sini mereka pasti senang. Apalagi mereka juga lancar berbahasa Indonesia,” ujarnya.

Problem lainnya adalah penerjemahan. Harga untuk menerjemahkan buku berbahasa Jepang lebih mahal dibandingkan dengan bahasa Inggris. Ia menambahkan, “Sulit jika tidak ada donor karena harga bukunya akan jadi sangat mahal.” Karena itu, ia menekankan perlunya dibentuk sebuah yayasan yang bertugas menghimpun dana untuk penerjemahan buku-buku tentang Indonesia berbahasa Jepang.

Indonesia Tanah Air Kedua

Bagi Kurasawa, Indonesia sudah seperti tanah airnya yang kedua. Pada 1991 ia bertugas di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta bersama suaminya, Hiroshi Inomata, yang juga ditugaskan ke Indonesia oleh kantornya. Setelah pekerjaannya sebagai Special Assistant for Ambassador di kedutaan selesai, ia kembali ke Jepang dan mengajar di Universitas Nagoya. Saat itu kedua anaknya, Hiromi dan Isaka, ditinggalkan di Jakarta. Namun ia berpikir akan lebih baik jika mereka menempuh pendidikan di Jepang. Maka keduanya kemudian diajak ke Jepang. “Tapi anak-anak ternyata tidak betah,” ujarnya sambil tertawa. Setelah satu setengah tahun, keduanya kembali ke Indonesia dan tinggal bersama Inomata sampai lulus sekolah menengah. “Anak saya yang perempuan bahkan sampai menyebut ‘pulang’ jika ke Indonesia,” ucapnya. Karena itu, ia tidak mau menjual rumah di Lenteng Agung meski kini rumahnya terasa terlalu besar dan kotor karena tidak rutin diurus.

Profesor emeritus Universitas Keio yang sudah tiga tahun pensiun ini mengatakan ia khawatir pada perkembangan politik di Jepang akhir-akhir ini. Pada 1995, bertepatan dengan 50 tahun Indonesia merdeka, Perdana Menteri Murayama dari partai Sosialis sebenarnya sudah pernah menyiarkan permintaan maaf kepada dunia. Namun perdana menteri yang sekarang dari partai Liberal-Demokrat, Shinzo Abe, bersikap sebaliknya. Hanya ganti rugi terhadap para jugun ianfu di Filipina, Korea, dan Indonesia yang sudah dibayarkan Jepang. Sebab, di kalangan orang Jepang masih ada anggapan bahwa penjajahan di Asia Pasifik adalah untuk membantu saudara Asia. “Artinya Jepang tidak menyesal sama sekali,” tuturnya.

Hingga saat ini Kurasawa masih bolak-balik Indonesia-Jepang. Sekali datang ia bisa menghabiskan waktu selama dua bulan, sesuai batas berlakunya visa kunjungan. Pada Agustus kemarin ia membawa rombongan mahasiswa dari kampusnya untuk belajar tentang Indonesia. Para mahasiswa itu diajaknya bergaul dengan warga sekitar, belajar budaya di Yogyakarta, dan tinggal di rumah petani di Bali. Ia memanfaatkan kunjungan ke Yogyakarta untuk melakukan penelitian tentang rehabilitasi dan rekonsiliasi tahanan politik 1965.

Selain menjadi pembicara di berbagai seminar, termasuk baru-baru ini di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengenai pandangan negara-negara Asia tentang peristiwa 1965, ia juga aktif menjadi promotor di berbagai universitas, termasuk Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada, mengenai studi zaman Jepang di Jawa.

Azan Zuhur berkumandang. Tak terasa sudah tiga jam saya mengobrol. Dua buah kue bulan, oleh-oleh yang dibawanya dari Pontianak, beserta secangkir kopi pahit sudah saya habiskan. Ia mengantar saya ke gerbang sambil berkata, “Saya akan kembali ke Jepang pada Oktober dan baru ke Indonesia lagi pada Februari. Saya berharap saat itu sudah ada buku baru saya yang terbit.” Semangatnya mempelajari Indonesia tidak pernah padam meski ia sering mendapatkan kesulitan dari kubu reaksioner di Jepang yang semakin lama semakin kuat.