Belajar dari Ciliwung, Jangan Khianati Dia

0
612

Dalam rangka memperingati Hari Ciliwung yang jatuh pada 11 September 2015, Betawi Kita bekerja sama dengan Komunitas Bambu menyelenggarakan diskusi yang bertajuk “Orang Betawi dan Ciliwung” pada Minggu, 15 November 2015. Ada tiga narasumber yang dihadirkan, yakni Sudirman Asun, Direktur Ciliwung Institute; Alip Purnomo, Sekretaris Forum Daerah Aliran Sungai; serta Septian alias Eloy dari Kelompok Tani Sangga Buana. JJ Rizal, Direktur Komunitas Bambu, menjadi moderator.

Bertajuk “Orang Betawi dan Ciliwung”, diskusi ini berupaya menghadirkan kembali kearifan lokal orang Betawi dalam mengelola sungai. Bagi orang Betawi, sungai adalah milik bersama yang merupakan sumber kehidupan. Septian, mengutip Bang Idin—penjaga Kali Pesanggarahan—mengatakan ‘ci’ berarti air dan ‘liwung’ berarti lempeng, malu hati, dan mawas diri.

Asun mengatakan sebenarnya banyak yang bisa ditiru dari cara orang Betawi mengelola sungai. “Orang Betawi ngurusin sungai itu enggak ribet. Mereka, misalnya, enggak pernah buang sampah ke sungai. Sampah dibuang dengan cara menggali lubang di tanah. Lalu di dalam tanah itu dimasukkan sampah,” kata Asun.

asun-eloy

Rizal, mengutip Anthony Reid dalam buku Asia Tenggara dalam Kurun Niaga, menyatakan bahwa masyarakat Asia Tenggara sesungguhnya adalah masyarakat sungai. Khusus di Jakarta, ini tampak jelas dari banyaknya daerah berawalan ci (misal Ciputat, Cinere, Cilandak), setu (Setu Babakan), atau kedung (Kedung Halang). Karena itu, ucap Rizal, orang Betawi membangun rumah dengan konsep rumah panggung. “Sebab Ciliwung adalah saudara kembar orang Betawi, mereka sadar bahwa saudaranya ini bisa datang sewaktu-waktu.”

Konsep rumah bagi orang Betawi, dijelaskan Rizal, adalah bangunan kecil dari ruang yang besar. Bahkan banyak orang Betawi yang minta dikuburkan di sekitar rumahnya. “Itu artinya tanah bukan untuk dijual,” kata Rizal.

Alip Purnomo mengatakan filosofi itu sesuai dengan kebijakan Gubernur Ali Sadikin di situs suaka pertanian dan cagar budaya Condet, yakni hanya 25-30 persen dari tanah yang boleh didirikan bangunan, sementara sisanya kebun. Sayang sekali tidak ada insentif dalam kebijakan ini. Akibatnya, tanah di Condet banyak yang berubah kepemilikan. Rizal, menyambung Alip, mengatakan konsep yang dilakukan Ali Sadikin sebenarnya meniru gagasan tulishting 1930 dari Wali Kota Sudiro, Wali Kota DKI Jakarta yang pertama. Saat itu wilayah selatan Jakarta sudah direncanakan menjadi sabuk hijau (green belt) dan sabuk historis. Selain banyak ditemukan artefak dan perkakas peninggalan zaman prasejarah, di Condet terdapat tumbuhan khas Jakarta, seperti salak dan duku condet.

Meskipun DKI Jakarta dialiri oleh 13 sungai, banyak anak-anak masa kini yang tak merasakan asyiknya bermain di sungai. Asun mengatakan pada 1980-1990-an sebenarnya kondisi sungai di Jakarta masih bagus. “Makanya ketika saya edukasi orang-orang aslinya mereka mau, karena mereka ada keterikatan emosional dengan sungai, punya memori pernah mandi atau bermain di sungai,” ujar pria berkaca mata ini.

Namun akibat kondisi Ciliwung yang terus menurun dan dipenuhi sampah, banyak hewan-hewan sungai yang kini berstatus genting. Salah satunya adalah senggawangan yang punya nama latin Chitra chitra javanensis. Asun mengaku beruntung beruntung masih menemukan bulus raksasa senggawangan di Ciliwung Tanjung Barat pada 11 November 2011 berukuran 1,4 meter dengan bobot 140 kilogram, yang kemudian diinisiasi menjadi Hari Ciliwung atau sering disingkat menjadi Ciliwung Sebelas-Sebelas. Selain senggawangan, ada juga puyu-puyu dan baung, yang saat ini sudah tidak dikenal lagi oleh orang Betawi.

sendawangan

Jadi, bagaimana cara terbaik menjadi Ciliwung. Asun menegaskan yang paling benar adalah normalisasi dengan konsep ekologi dan DAS (Daerah Aliran Sungai). “Pembetonan hanya merusak ekosistem dan mempercepat terjadinya banjir karena air akan cepat sampai ke hilir,” ujarnya. Ia bersama Komunitas Ciliwung Condet menyerukan moratorium proyek Pemprov DKI dan KemenPu di Sungai Ciliwung. “Sempadan direhabilitasi, setu-setu direvitalisasi, dan konservasi menyeluruh mengembalikan bentuk sungai kepada aslinya,” tutur Asun.

Rizal mengatakan bahkan nama Depok pun ada kaitannya dengan sungai, yakni ‘padepokan’ yang artinya tempat bermenung. “Dulu ada rumah-rumah kecil di tepian Sungai Ciliwung tempat orang bermenung,” kata Rizal. Cara paling mudah mencegah banjir ke Jakarta, kata Rizal, sebenarnya dengan memanfaatkan setu-setu di sekitar Depok sebagai tangkapan air.  Apalagi ada sekitar 40-an setu di Depok. “Kasih aja uang. Jangan pelit-pelit, lah. Kan, dana untuk ngurusin banjir Jakarta 70 triliun, tuh,” katanya bersemangat.

Jika Asun menyarankan rehabilitasi menyeluruh, Alip Purnomo menegaskan perlunya pembangunan kampung hijau sebagai solusi pemeliharaan sungai. Dalam kampung itu ada sistem pengelolaan sampah, pembangunan sumur resapan air, dan pembuatan lahan bercocok tanam sayur-sayuran. “Pengelolaan sungai harus melibatkan masyarakat sekitar sungai,” kata Alip.

Bang Idin malah lebih menukik lagi. Selama 15 tahun menjalani profesi sebagai penjaga Sungai Pesanggarahan, ia telah berhasil menanami DAS Pesanggrahan dengan pohon-pohon tertentu, misalnya rambutan, buni, jamblang, dan bambu. Ia juga melepaskan ikan-ikan tertentu, di antaranya mujair dan nila. Bahkan di pinggir kali yang terletak di Karang Tengah itu, kita juga bisa mendapati burung-burung yang berkicau merdu, misalnya perkutut dan pentet. Itu dilakukannya karena Bang Idin sadar betul bahwa alam bukan warisan nenek moyang, tetapi titipan anak cucu.

bang-idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan

Pemenang Kalpataru bidang konservasi air itu mengatakan kehendak alam tidak boleh dilawan. “Misalnya di daerah resapan air dibuat bangunan terus banjir ya salah sendiri, kan itu emang jalannya!” Hmm, sebaiknya Ahok belajar dari Bang Idin karena apa yang dia lakukan sekarang dengan pembetonan, seperti diucapkan Tarsun Waryono ahli geografi dari Universitas Indonesia, adalah melawan kehendak alam. Dengan wilayah tutupan sungai Ciliwung yang kini tinggal 13 %, melawan kehendak Undang-Undang 41 Nomor 2009 tentang Kehutanan yang mensyaratkan luas tutupan sungai 30 % dari DAS, Ciliwung darurat diselamatkan. “Ciliwung rusak, hidup lo belangsak,” kata Asun menegaskan.

ciliwung rusak

Kirim Tanggapan