Cerita Seram dari Gedung Arca

0
639

Cerita-cerita dari Museum Nasional

“Hari Senin museum tutup, Mbak,” ucap seorang petugas yang berjaga di depan lokasi pembelian tiket, Senin, 21 September 2015. Saya lemas mendengarnya. Sejak berangkat saya memupuk harapan bisa melihat lukisan pelukis realis-naturalis Indonesia yang kesohor, Basuki Abdullah. Ya, tahun ini Museum Nasional bekerja sama dengan Museum Basuki Abdullah mengadakan pameran bertajuk “100 Tahun Basuki Abdullah.” Temanya agak gombal, “Rayuan Basuki Abdullah,” tapi justru karena itu saya jadi penasaran.

Tak mau buru-buru pulang saya memilih berkeliling bagian depan museum bergaya Indis ini. Enam buah pilar putih menopang bagian serambi museum, sementara di taman depan museum nangkring patung gajah kecil dari perunggu. Patung ini merupakan hadiah Raja Chulalongkorn dari Siam yang berkunjung ke Batavia pada 1871. Seorang petugas kebersihan berseragam merah tampak tiduran di depan arca Mahakala, penjaga pintu masuk candi Hindu-Siwa sebelah kanan. Saya menegurnya, “Enggak takut, Mas, tiduran di depan arca?” Ia buru-buru bangun sambil menggeleng. Agak menyesal juga saya menganggu istirahat laki-laki muda itu.

20150921_122836Pintu masuk museum dihiasi dengan gerbang berukir dari jati yang indah. Namun aksesnya ditutup dengan pintu berjeruji. Dari sela-selanya saya dapat mengintip Ganesha, dewa ilmu pengetahuan berhidung belalai, dan Syiwa, dewa penghancur yang kakinya menginjak manusia-manusia kecil. Seram sekali membayangkan dalam museum yang luas hanya terdapat arca dan berbagai barang peninggalan dari zaman kuno. Bapak Hadyaksa, satpam Museum Nasional yang sejak tadi mengamati saya, tertawa waktu saya tanya apa apakah pernah ada kejadian aneh di museum. “Ya, kalau di museum mah udah enggak aneh, Mbak,” katanya. “Enggak cukup sehari-dua hari kalau saya ceritain semua ke Mbak.”

Ya, museum yang kesohor sebagai Gedung Arca itu memang terkenal mistis. Wahyono Martowikrido pernah menceritakannya sebagai “orang dalam” dalam Cerita dari Gedung Arca yang diterbitkan Masup Jakarta pada 2006. Naiman, penjaga museum yang dikisahkan dalam buku itu, berkata pernah mendengar suara pintu-pintu dibuka dan kaca yang pecah, tapi setelah diperiksa tak ada kaca yang pecah sama sekali. Setali tiga uang, Hadyaksa mengaku pernah mendengar suara gamelan di tengah malam dan ketika dicek tak ada seorang pun yang memainkan gamelan. Tentu saja bulu kuduknya langsung berdiri. Namun Hadyaksa mengaku tidak takut. Meski baru bekerja selama dua tahun sebagai satpam museum, ia mengaku Museum Nasional sudah seperti rumahnya sendiri.

Sebagai museum yang juga dijuluki Gedung Perabot oleh majalah Bendera Wolanda yang terbit tahun 1910 lantaran banyak menyimpan segala barang kerajinan dan perkakas, sistem keamanan dalam museum terbilang mumpuni. Setiap ruangan dikunci pada pukul empat pada Selasa-Jumat dan pukul lima pada Sabtu-Minggu. Di dalamnya dipasang banyak CCTV dan alarm pengaman. “Jadi kalau alarm bunyi, kita tinggal ngecek aja tuh Mbak di CCTV,” tutur Hadyaksa. “Meski sering juga pas saya matikan alarmnya eh enggak ada apa-apa.” Hadyaksa mengatakan hal semacam itu sudah biasa karena alarm yang begitu sensitif. “Ada angin atau tikus aja bisa bunyi,” katanya menambahkan.

Sesuai standard operational procedure yang berlaku di museum, ia tidak diperkenankan memeriksa ke dalam museum sendiri. “Minimal dua orang, biar ada saksi,” ujarnya. Ia biasa mengajak juru kunci dan memberitahu kepala museum jika hendak memeriksa bagian dalam museum. Hal itu tidak aneh mengingat pada tahun 2013 Museum Nasional pernah kehilangan sejumlah artefak berlapis emas koleksinya. Kejadian ini cukup mengegerkan publik dan bahkan masuk dalam investigasi majalah Tempo. Apalagi berdasarkan penelusuran media, Museum Nasional sudah lima kali kecurian. Pencurian artefak berlapis emas ini tak pelak memunculkan spekulasi “mafia” artefak dan benda purbakala masih berkeliaran.

Museum Nasional didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 24 April 1778, waktu itu bernama Bataviaasch Genootscap van Kunsten en Wetenschappen. Mulanya museum berlokasi di Societetit de Harmonie di Jalan Majapahit Nomor 3 (sekarang kompleks Sekretariat Negara) hingga akhirnya dipindahkan ke Jalan Medan Merdeka Barat No 12 pada 1868. Museum terus berkembang hingga kini, bahkan diperluas dengan didirikannya ruang pamer baru, yakni Gedung B, pada 2007 yang peresmiannya dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejak 2013 dibangun Gedung C, yang meliputi ruang edukasi, laboratorium, dan teater. Sejalan dengan itu, kegiatan di museum semakin bervariatif. Pada pekan saya datang sedang berlangsung “Akhir Pekan di Museum” dalam rangka World Maritime Day bekerja sama dengan Teater Koma.

20150921_124605“Sudah Mbak, datang saya lagi nanti malam. Kan, nanti malam baru pembukaannya,” kata Hadyaksa mencoba menghibur saya yang kecewa. Saya hanya manyun, kecele dengan publikasi pameran yang dilangsungkan pada 21-30 September 2015. Gagal sudah saya melihat perempuan-perempuan molek dalam goretan kuas Basuki Abdullah, pelukis yang juga terkenal sebagai pelukis potret itu. Sebuah bus tingkat terlihat melintas di depan museum. Setelah mengucapkan terima kasih, saya berlari mengejar bus itu. “Saya ikut!” kata saya sambil terengah-engah pada kenek. Hop, dalam satu langkah saya masuk ke dalam bus berwarna merah sumbangan perusahaan soda itu dan naik ke lantai dua. Bye-bye Museum Nasional, saya mau keliling Jakarta dulu, ya!

Kirim Tanggapan