Dari Masyarakat Sungai, Lahirlah Orang Betawi

0
642

JJ RIZAL

Kawan saya di Tempo yang sangat Jawa, Harun Mahbub, pernah berkelakar bahwa suku Betawi adalah suku yang muda, sementara Jawa adalah suku yang tua. Pemahamannya itu didasarkan pada pengetahuan bahwa asal-usul orang Jawa setidaknya sudah ada sejak abad ke 13 sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Namun ternyata suku Betawi enggak muda-muda amat meskipun nama Betawi, yang didasarkan pada Kota Batavia, baru muncul belakangan, yakni pada abad ke-15. JJ Rizal dalam Kongko sambil Tuker Pikiran di Komunitas Bambu pada Minggu, 11 Oktober 2015 mengatakan penggalian oleh para arkeolog telah memperlihatkan bahwa sejak lima ribu tahun yang lalu sudah ada masyarakat yang bermukim di pinggir Kali Ciliwung, antara lain di Condet. Hal ini terbukti dengan ditemukannya peralatan rumah tangga seperti kapak perimbas. Bahkan sepanjang pengetahuan saya, nama salah satu kelurahan di Condet, yakni Batu Ampar, konon berasal dari batu yang dipakai dalam kegiatan memasak manusia prasejarah di Jakarta. Karena itu, masyarakat sungai ini bisa disebut sebagai cikal bakal alias nenek moyang orang Betawi. Sayangnya tak ada catatan sejarah yang bisa ditemukan dari masa ini. Gelap dan ahistoris.

Dengan demikian, pantaslah jika dibilang masyarakat Betawi merupakan masyarakat sungai. Hal ini terbukti dengan banyaknya nama tempat di Jakarta yang mengandung unsur air, misalnya Kalimalang, Rawasari, dan Setu Babakan. Masyarakat tepian sungai ini kemudian membentuk wilayah yang masuk dalam catatan Cina, yang disebut Kalapa. Orang-orang Cina juga membuat peta sungai yang menyebut adanya kota bandar. Dapat dipahami bahwa masyarakat sungai di kota bandar Kalapa merupakan bentuk lanjut dari masyarakat sungai. Karena ada pengaruh ekspansi Sunda, maka kota ini kemudian lebih dikenal sebagai Sunda Kalapa. Di dalam kota ini sudah ada penghuninya, tapi kemudian terus mengalami evolusi akibat bertambahnya para pendatang ke kota.

Rizal menyatakan salah satu bukti orang Betawi berasal dari masyarakat sungai adalah banyaknya mitos maupun folklor yang berhubungan dengan buaya. Bahkan, salah satu syarat dalam pernikahan cara Betawi adalah membawa roti buaya. Buaya adalah perlambang kesetiaan. Meski kawin berkali-kali selama hidupnya, buaya hanya kawin dengan satu pasangan pada satu waktu. Selama itu pula buaya setia dan tak akan berpaling dari pasangannya.

Penakhlukan kota Batavia oleh Fatahillah, yang kemudian mengubah nama kota ini menjadi Jayakarta yang berarti “kemenangan”, membuat masyarakat asli Jakarta terus berevolusi. Perang dengan Banten dan setelah penaklukan oleh Fatahillah, yakni ketika kota dikuasai Pangeran Jayakarta, malah memperlihatkan perkembangan yang terus mundur. Kota kemudian dihancurkan dan masuk berbagai etnis akibat politik yang dijalankan oleh JP Coen, Gubernur Hindia Belanda yang paling terkenal. Orang Betawi yang tadinya berciri masyarakat sungai berubah menjadi masyarakat benteng. Sifat inklusif dan suka bercampur (termasuk dalam urusan kawin) membuat terciptanya satu suku etnis tertentu yang ternyata, menurut Rizal, “Jawa bukan, Sunda bukan.”

Politik JP Coen membelah Batavia menjadi dua, yakni Intramuros (daerah pusat kota) dan Ommelanden (wilayah pinggiran kota). Di tiap perkampungan dibentuk sebuah otonomi sendiri dengan seorang ketua. Akibatnya, kita mengenal ada Kampung Melayu, Kampung Makassar, dan Kampung Cina. Pada tahun 1930 dilakukan sensus dan ditemukan 80 ribu jiwa yang tidak bisa dideteksi suku bangsanya. Dengan kebudayaannya yang bercorak Hindis, yang menjadi salah satu aspek kebudayaan Betawi sekarang, kelompok ini dinamakan sebagai Betawi—berasal dari nama Batavia dalam pengucapan pribumi.

Rizal mengatakan nama Betawi semakin dikenal luas sejak seorang ulama besar bernama Syekh Junaid Al-Batawi membawa nama Betawi dalam ranah Islam. Ia diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi’ie. Syekh keturunan Bugis ini lahir di Pekojan dan wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100 tahun.

Sifat kebudayaan Betawi masa kini seharusnya mencerminkan asal-usulnya: progresif, berani, terbuka, cerdas, dan menghargai plurarisme. Maka tak aneh jika setiap orang yang datang ke Ibu Kota berusaha menjadi Betawi. Contohnya, Harry de Fretes, yang kemudian mempopulerkan Lenong Rumpi—meski nyata tak ada bau-bau lenong sama sekali di situ. Dengan demikian, asal-usul keturunan tak lagi penting. Siapakah yang berani mengatakan Rano Karno, SM Ardan, MH Thamrin dan bahkan Benyamin Suaeb—ikon Betawi tersohor—bukan orang Betawi? Rano Karno jelas orang Padang, SM Ardan berdarah Sunda, kakek MH Thamrin asli Inggris, dan bapaknya Benyamin berasal dari Purworejo. Maka, ukuran “asli” menjadi sulit untuk ditemukan akibat sifat orang Betawi yang senang bercampur.

Rizal menegaskan pada masa ini ukuran kebetawian bukan pada keturunan, tetapi pada sebesar apa orang tersebut memahami dan ikut berbuat bagi Betawi. Orang Betawi telah menempuh proses sejarah, membuka diri, dan tak menengok lagi asalnya. Masa lalu tak penting lagi, seperti banyak orang tua Betawi zaman dulu yang tak ingat tanggal lahir anaknya dan hanya ditandai dengan gejala alam. Dengan demikian, Betawi akan terus hadir, tak mati, dan tak terbatas pada konsep politik geografis saja. Orang Betawi ada di Depok, Bekasi, bahkan Bogor, membuat pembatasan Betawi Pinggir, Tengah, dan Ora kini tak lagi relevan. Yang terpenting sekarang, menurut Rizal, adalah bagaimana orang Betawi bertindak tidak merusak citra Betawi. Atau seperti kata MH Thamrin, “Mudah-mudahan pada sigra mendusin.”

Kirim Tanggapan