Imlek: Bandeng dan Pasar Malam

0
739

Dalam sebuah sketsa yang ditulis oleh Firman Muntaco, sastrawan asal Betawi, ada sebuah kisah tentang Imlek. Dikisahkan, seorang pria pergi ke pasar malam yang rutin digelar menjelang tahun baru orang Tionghoa. Di sana lantaran begitu padatnya dengan orang, ia leluasa mencolek para perempuan. Namun tak disangka salah satu dari orang yang dicoleknya adalah calon mertuanya.

Dalam sebuah cerita yang lain, masih di kumpulan Gambang Jakarte-nya Firman Muntaco, ada kisah tentang bandeng. Terungkap bahwa seorang menantu atau calon menantu wajib hukumnya membawa ikan bandeng sebagai hantaran kepada mertua. Ini sejalan dengan kebiasaan orang-orang Tionghoa di Jakarta. Namun ternyata, kebiasaan ini kemudian diadaptasi oleh orang-orang Betawi di Jakarta.

Kawasan Rawabelong, Jakarta Barat, yang sohor dikenal sebagai kampungnya si Pitung, setiap menjelang Imlek ramai dengan para pedagang yang menjajakan ikan bandeng. Rachmat Sadeli, pemimpin redaksi Majalah Betawi, pernah menyusuri pasar malam sepanjang Rawabelong. Dari hasil penelusurannya, terungkap bahwa para pedagang bandeng di pasar malam menjelang Imlek rata-rata menjalani usaha ini turun temurun. Beberapa pedagang mewarisi usaha musiman ini dari orang tuanya. Namun bandeng Imlek beda dengan bandeng biasanya. Ukuran bandeng Imlek biasanya lebih besar. Majalah Betawi menyebutkan harga per ekor bandeng berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 125 ribu dengan berat berkisar 1,7 kg dan panjang mencapai 50 cm.

ikan bandeng

Haji Bachtiar, pemimpin Sanggar si Pitung di Rawabelong, bahkan menyebut ada bandeng sebesar anak orok. Bandeng yang dijual di Rawabelong memang merupakan bandeng pilihan yang berbeda dengan ikan bandeng yang biasanya dijual di tukang ikan. Bandeng yang dijual merupakan ikan bandeng yang dipelihara khusus untuk Imlek. Meski bukan diproduksi di Rawabelong, nyatanya bandeng Rawabelong sangat terkenal.

Tradisi pasar malam menyambut Imlek memang dipraktikkan luas di kalangan orang Betawi Rawabelong, Kemanggisan, hingga Kebon Jeruk. Haji Bachtiar menyebut sejak ia kecil, kira-kira tahun 1960, pasar malam Imlek itu sudah ada. “Cuma dulu belum rapi, belum bejejer kayak sekarang,” ujarnya.

Saking terkenalnya bandeng Rawabelong yang gurih, muncul sindiran jika si menantu datang dengan tangan hampa di hari Imlek. “Emang gak lewat Rawabelong, ape?” Yang artinya kira-kira si mertua mengharapkan si menantu membawakan ia ikan bandeng.

Bahkan saking mendarah dagingnya bandeng ini dengan perayaan Imlek, sebuah lelucen terkenal di kalangan masyarakat Betawi menyebut, pernikahan bisa bubar gara-gara bandeng! Jika tak ada bandeng, atau bandeng yang dibawa bukanlah yang terbaik, orang tua konon rela anaknya bercerai.

Selain kepada mertua, bandeng yang sudah diolah—paling terkenal adalah dipindang, diberi bumbu asam dan kuning kecap manis—dibawa kepada orang-orang yang dianggap “perlu”, misalnya sanak keluarga yang dianggap dekat. “Yang panen bandeng di sini biasanya ustaz-ustaz, tuh,” Haji Bachtiar menjelaskan.

pindang bandeng

Bandeng saat Imlek bagi orang Rawabelong, Kemanggisan, Kebon Jeruk dan sekitarnya sudah menjadi tradisi yang melekat dengan nilai-nilai kehidupan mereka. Tradisi leluhur itu terus dipegang dan dikembangkan sampai sekarang. Selain karena ikan bandeng mempunyai nilai gizi yang tinggi, tradisi makan bandeng bersama saat Imlek dianggap sebagai media silaturahmi yang efektif. Selain itu, di Rawabelong–sebagaimana orang-orang Tionghoa–Imlek dimaknai sebagai hari raya makan. “Ini saya dari kemaren makan bandeng melulu. Udah digoreng, dipindang, sekarang lagi mindang lagi,” tutur Haji Bachtiar. Ia melanjutkan, “Siapa aja yang dateng, ayok dah makan bareng.”

Berbeda dengan kalangan Tionghoa di pinggiran Jakarta yang merayakan Imlek dengan acara hiburan seperti barongsai, cokek, dan gambang kromong, orang Rawabelong hanya mengenal hantaran dodol Betawi dan bandeng. Namun, dodol ini tidak dibuat khusus seperti menjelang Lebaran. Dodol ini juga memiliki cita rasa dan penampakan yang berbeda dibanding dodol Cina. Dodol Betawi secara kasat mata berwarna hitam, beda dengan dodol Cina yang berwarna cokelat muda.

Akan tetapi, patut dicatat bahwa tradisi makan bandeng ini tentu tidak merata di seluruh wilayah kebudayaan Betawi. “Orang Tenabang (Tanah Abang) mana kenal makan bandeng begini,” ucap Haji Bactiar.

Sejarawan Rusdi Husein menyebut pada masa lalu Rawabelong sudah menjadi kawasan ramai yang merupakan perlintasan dari orang-orang pinggiran ke pusat kota. Karena itulah di Rawabelong ada tradisi makan bandeng saat Imlek hasil persentuhan dan interaksi dengan orang-orang Tionghoa, berbeda dengan Tanah Abang hingga Sawah Besar yang kebanyakan dipengaruhi kebudayaan Arab.

Imlek, bandeng, dan pasar malam. Demikian geliat tradisi yang dianggap menjadi bagian dari kebudayaan Betawi, khususnya di Rawabelong dan sekitarnya. Ciri akulturasi dan keterbukaan yang dimiliki masyarakat Betawi membuat mereka mampu menyerap unsur-unsur kebudayaan lain lantas memperkayanya sebagai milik mereka dengan bentuk yang sesuai dengan ciri dan kearifan lokal yang mereka punyai. Selamat Imlek, Gong Xi Fat Chai.

Kirim Tanggapan