Karena Warna Merah Itu

0
1032

Pertemuan itu terjadi secara kebetulan pada suatu sore. Itu perjumpaan pertama setelah mereka tak bertemu 15 tahun lalu. Satu sosok laki-laki berambut ikal, berkulit agak gelap, berkacamata dan memakai celana jins mengamati sosok perempuan langsing berambut sebahu dan berkulit putih yang asyik mewawancarai para pejalan kaki dari kejauhan. Laki-laki itu berteduh dari teriknya panas di bawah pohon rindang di taman, sedangkan si perempuan tak sadar bahwa gerak-geriknya sudah diawasi lebih dari satu jam lalu.

Akhirnya, perempuan itu kelihatan sudahlipstik-merah selesai dengan pekerjaannya, si laki-laki datang mendekat untuk menyapa. Bayu tampak gagah dan percaya diri. Bukan karena ia merasa tampan dengan penampilannya, meski wajahnya memang tak bisa dikatakan buruk, tapi karena ia memang orang yang selalu optimistis dan bersemangat.

“Sarah,” tegurnya halus.

Sarah menoleh, memandang lekat-lekat pada laki-laki yang berdiri di depannya. Cahaya matahari senja menyorot dari depan, menyilaukannya. Ia teringat sesuatu, tapi merasa ragu-ragu. Si laki-laki mengingatkannya pada seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya. Seseorang yang ketika ia sebut namanya, dadanya bergemuruh keras dan otaknya sesak. Sarah menyebut nama itu dengan ragu.

Bayu tersenyum. Senyumnya masih seperti dulu, jenaka dan tengil. Dengan sigap Bayu mengulurkan tangan, mengajak bersalaman, lantas mengambil tempat di bangku sebelah Sarah.

Begitulah mereka bertemu kembali. Percakapan demi percakapan mengalir lancar, seolah-olah mereka tidak pernah terpisah belasan tahun lamanya. Saling tanya berbalas cerita. Senyum, tawa, dan canda hadir begitu alamiah, menenggelamkan waktu kala itu yang seolah-olah maklum pada pertemuan dua anak manusia yang dulunya adalah sepasang kekasih.

***

Sarah pertama kali berjumpa Bayu kala SMA. Sarah adalah primadona di sekolah. Ia dikenal sebagai murid yang baik, cantik, dan cerdas. Sarah menjadi kesayangan guru-guru. Sedangkan Bayu berbeda 180 derajat dari Sarah. Meski tampan, Bayu badung dan suka melanggar peraturan. Ancaman apa pun yang diberikan para guru tak sanggup mengubah tabiatnya. Karena itu, tak ada yang bisa mengerti mengapa Sarah yang dipuja-puja banyak orang justru melabuhkan hati pada orang semacam Bayu.

Namun, kuberi tahu satu rahasia. Sarah dan Bayu pernah dibicarakan orang satu sekolah. Kabarnya, ada yang melihat Bayu dan Sarah di lorong belakang sekolah saat pelajaran sudah usai. Ada yang bilang mereka berciuman, ada juga yang bilang hanya berpegangan tangan. Yang pasti sejak itu, hubungan Sarah dan Bayu renggang, sampai akhirnya Bayu melanjutkan kuliah di Bandung, sementara Sarah tetap di Jakarta.

Sampai akhirnya mereka bertemu kembali sore itu.

***

“Sayang, apa kabarmu hari ini. Kangen,” ujar Adi dalam pesan whatts app.

Sarah tersenyum kala membaca pesan dari suaminya. Adi sudah dua minggu tak pulang ke rumah. Saat ini dia sedang sibuk menyutradarai film dokumenter tentang Gunung Tambora. Dia akan pulang dua hari lagi. Adi orang yang aktif dan ceria. Mirip Bayu. Bedanya, jika Bayu adalah api, Adi adalah air.

Sarah bertemu Adi dalam press release sebuah production house. Saat itu ia sedang meliput acara dan mewawancarai para artis yang terlibat dalam film. Tiba-tiba laki-laki berbadan tegap dengan alis tebal itu mengajaknya bersalaman dan menyebutkan namanya. Sejak perkenalan itu, mereka makin intens bertemu, nonton film dari satu festival ke festival lain. Adi membuat Sarah banyak tertawa. Bahkan setelah lima tahun mereka menikah dan tak seorang buah hati pun hadir, Adi tetap berbisik mesra di telinga Sarah usai mereka bercinta. “Tuhan memang memberikan kita kesempatan untuk lebih banyak berpacaran.”

***

Sarah berkaca di depan cermin. Ia menimbang-nimbang warna apa yang hendak dioleskan di bibirnya. Ada merah maroon, merah fushia, merah bata, merah agak pink, dan merah yang terang menyala. Akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada lipstik warna merah menyala. Sebelumnya Sarah tak pernah terlalu percaya diri memakai warna merah menyala. Ia menganggap warna semacam itu tak cocok untuknya. Namun, saat ia berkaca terakhir kalinya, sambil membereskan beberapa helai rambut yang keluar dari jalurnya, Sarah menyadari penampilannya sempurna. Ia siap bertemu Bayu.

Kafe itu terletak di bilangan Jakarta Selatan, agak di pinggiran. Dari luar arsitekturnya tampak khas. Dominan kayu dan warna cokelat, payung-payung lebar menaungi orang-orang yang ingin bercengkrama di pelataran. Lambang burung besar terpampang di pintunya. Di dalamnya, Sarah mendapati suasana lebih hangat. Lampu-lampu unik menggantung rendah. Cahaya temaram membias ke seluruh ruangan, padahal matahari di luar masih belum condong ke barat. Di satu sudut kafe, ia menemukan Bayu sedang tersenyum lebar sambil menatapnya. Sarah balas tersenyum. Tiba-tiba ia merasa dirinya belasan tahun lebih muda.

Bayu menyambutnya, mencium pipinya. Sarah kikuk, mundur selangkah. Bayu tertawa.

“Silakan duduk, Sarah. Selamat datang di rumahku,” ujar Bayu.

“Jadi, sekarang kau ini apa? Ahli kopi?”

Sarah menatap secangkir kopi di hadapannya. Matanya memandang Bayu, meminta kejelasan.

“Apa ini?”

“Salah satu hidangan terbaik kami, kopi Bali Kintamani. Cobalah.”

Sarah menyesap kopi itu, merasakan sensasi asam dan pahit dengan aroma buah-buahan meluncur ke tenggorokannya. Ia mengernyit sedikit. Tangan Bayu menjulur, mengibaskan helai rambut yang menutupi wajah Sarah.

“Kok, tumben pakai lipstik merah menyala.”

“Jelek ya?”

“Ah, tidak kok.”

Bayu berdiri, lalu berbisik di telinga Sarah, “Bilang-bilang ya kalau kau nanti ingin menghapusnya.”

Sarah menoleh. Bayu sudah pergi. Seorang kawan memanggilnya. Sarah meneguk lagi kopinya, memikirkan arti kata-kata Bayu barusan. Apa maksud Bayu berbicara demikian?

Rrrr, ponsel Sarah bergetar. Sarah membukanya, ternyata ada pesan masuk dari Bayu.

“Bolehkah aku menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku?”

Sarah memekik kecil. Ia mengetikkan emoticon tersenyum, lalu menulis, “Hamsad Rangkuti”

Pagi itu Sarah sulit untuk membuka mata. Seluruh tulang-tulangnya seakan melekat ke tempat tidur, menolak untuk digerakkan. Ia baru hendak menutup matanya kembali ketika sebuah ciuman tiba-tiba mendarat di bibirnya.

Sarah terkesiap, rasa kantuknya langsung hilang. Wajah Adi tepat berada di hadapannya. Sarah memeluk suaminya, mengamati sosok yang dua minggu ini tak tidur di sampingnya. Ada bulu-bulu kecil tumbuh di bawah dagu suaminya. Kulit Adi juga sedikit bertambah cokelat. Tapi selain itu, Adi kelihatan sangat sehat.

“Kapan sampai? Kenapa tidak membangunkan aku?”

“Aku tak tega membangunkanmu, Sayang.”

“Bagaimana di Tambora?”

“Aaah, indah sekali. Akan kutunjukkan hasil kerjaku kalau nanti sudah selesai. Sekarang, biarkan aku istirahat. Sudah lama aku tak tidur di kasur seempuk ini.”

Sarah mengelus wajah suaminya, membiarkan Adi memejamkan mata. Dalam hati ia merasa bersyukur sudah tiba di rumah sebelum Adi pulang. Entah apa yang akan terjadi jika Adi tahu ia bertemu dengan laki-laki lain tadi malam.

***

Sore itu Sarah kembali menuju kafe. Ia tidak menghubungi Bayu sebelumnya. Ia hanya terdorong perasaannya untuk kembali ke tempat ini lagi. Kala mendorong pintu kayu kafe yang selalu berdecit, mata Sarah langsung tertumbuk pada sosok Bayu yang sedang berada di balik mesin pemroses kopi.

“Kau tidak memakai lipstik merah menyala itu lagi,” tanya Bayu begitu Sarah mendekat.

“Aku takut kau akan menghapusnya,” Sarah menjawab.

Sebenarnya Sarah ingin sekali memakai lipstik itu. Ia suka warna merah itu yang membuatnya merasa seksi. Namun ia juga tidak ingin dianggap menantang Bayu untuk menciumnya.

Waktu seolah-olah tak penting lagi kala Sarah berjumpa Bayu. Pengunjung datang dan pergi, tapi Sarah tetap di bangkunya. Ia mengamati Bayu kala memproses biji kopi, mengenalkan aroma jenis kopi yang berbeda-beda, alat-alat yang dipakainya, dan asal mula ketertarikannya pada kopi.

“Semuanya bermula sewaktu aku di Bali. Aku ini bukan ahli kopi, Sarah. Aku cuma pencinta kopi.”

Sarah mengangguk. “Kau tahu? Mari kita menonton Filosofi Kopi! Pasti menyenangkan.”

Bayu tertawa, mengambil tangan Sarah dan menggengamnya.“Ya, ayo. Sekalian ngapus lipstik, ya.”

Sarah memukul lengan Bayu. Tapi ia tak sungguh-sungguh. Bayu juga tahu itu.

***

Sarah gelisah. Tadi ia berbohong pada Adi. Suaminya itu tak curiga sama-sekali waktu Sarah berkata akan pulang sedikit terlambat. Adi masih punya setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan. Tenggat penyelesaian video itu memang sudah dekat.

Sebelum pergi, Sarah sempat memulaskan lipstik warna merah menyala itu lagi di bibirnya. Ia merasa aneh, seolah menjadi pribadi yang lain, seakan-akan sisi nakal dirinya mencuat ke luar. Anehnya, Bayu tak berkata apa-apa saat melihat Sarah memakai warna itu. Diam-diam Sarah merasa sedikit kecewa.

Film telah usai. Sarah dan Bayu berjalan beriringan menuju basement. Sebenarnya Sarah belum ingin pulang. Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Bayu.

“Kau ‘kan ada yang menunggu di rumah,” begitu sahut Bayu kala Sarah menyatakan keinginannya.

Sarah merasa kesal. Bayu diam. Suasana menjadi tidak enak. Masing-masing merasakan suatu kenyataan menyedihkan yang tak bisa dipungkiri: Sarah sudah menikah. Sementara itu, lamat-lamat terdengar suara air yang jatuh ke bumi. Hujankah di luar sana?

Sarah menekan tombol central lock begitu menemukan mobilnya. Tadi ia menjumpai Bayu di lokasi menonton film. Bayu tak membawa kendaraan, maka Sarah merasa bertanggung jawab mengantarnya pulang. Sarah memberikan kunci mobil pada Bayu, yang langsung mengambil posisi di kursi pengemudi.

Kau marah?” Bayu bertanya.

Sarah menunduk, menyembunyikan wajahnya.

Basement sepi. Di luar hujan, tapi dari dalam mobil menyengat hawa panas. Bayu mengangkat wajah Sarah, mendekatkan bibirnya ke bibir Sarah. Dua anak manusia resah, gelisah, menahan syahwat yang bergejolak. Sarah tak ingat bagaimana semua bermula. Bayu mulai menghapus pelan-pelan lipstik di bibir Sarah, dari pinggir seinci demi seinci. Sarah seakan kena setrum kejut dan terlempar ke masa silam, di lorong sepi sekolah. Sejenak mereka hanyut dalam gejolak masa remaja.

Di luar hujan makin deras. Lipstik itu rasanya manis, demikian pikir Bayu. Kecupan Bayu terasa basah, lengket, sekaligus penuh gairah. Sarah menyerah pada Bayu yang dikendalikan hormon kelelakiannya. Tubuh mereka kini saling menempel. Sarah menarik leher Bayu mendekat. Nafasnya memburu.

Sarah terengah ketika tangan Bayu mulai menyelusup ke balik bajunya. Sekian detik terlena, Sarah tersadar. Ia mencoba menghentikan. Ditepisnya Bayu pelan sambil tersengal, “Bukan ini yang kita mau,” ucapnya halus.

Mendengar perkataan Sarah, Bayu seakan terbebas dari hipnotis. Dia hempaskan tubuhnya ke jok sambil menghela napas.

“Laki-laki di mana pun sama saja. Tinggi-tinggi bicara soal Tuhan, kebudayaan, ujung-ujungnya kalah sama selangkangan.”

***

Sarah berkendara dalam kalut. Di tengah derasnya hujan, ia memacu mobilnya kencang. Ia berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Hujan makin deras. Sarah terpekur, memikirkan arti kejadian barusan: lipstik, warna merah, dan ciuman.

“Pulanglah,” begitu pesan Bayu.

Sarah paham maknanya. Maka ia mengendarai mobilnya kembali pulang, kembali ke suaminya. Sebuah sedan berwarna hitam terparkir di garasi. Sarah bertanya dalam hati, siapakah yang datang bertamu ke rumahnya malam-malam?

Sarah memadamkan lampu mobilnya. Dari kejauhan ia mengamati satu sosok perempuan ke luar dari rumahnya, ditemani suaminya. Perempuan berlipstik merah itu tertawa kala Adi mencium bibirnya, lama dan mesra.

Hati Sarah mendadak sakit. Air mata turun dari pipinya tanpa bisa ia tahan.

Kirim Tanggapan