Kaus Betawi Pesanan Ganjar Pranowo

1
625

 

Saya tiba di Komunitas Bambu semenit lalu. Irma, staf administrasi penerbit buku-buku sejarah itu, mengatakan orang yang saya cari sedang keluar. Saya memutuskan menunggu di lantai tiga. Untunglah saya tak perlu menunggu lama. Baru saja meletakkan pantat di bangku kayu, terdengar suara dari bawah.

JJ Rizal, Direktur Utama Komunitas Bambu, datang bersama Kojek, rapper Betawi yang punya nama asli Muhamad Amrullah. “Hei, sudah makan?” ia menyapa. Bang Rizal, demikian saya biasa memanggilnya, lantas membuka isi plastik . Sepuluh buah tahu jeletot super pedas disajikan dalam piring. “Mau minum apa? Kopi, teh?” ujarnya lagi. “Kopi saja,” saya menyahut. Ia pun segera mengambil ceret, mengisinya dengan air dari wastafel di belakang meja makan tempat kami duduk, lalu menuju lantai dasar untuk memasaknya dengan kompor gas.

Kojek mengambil sesuatu dari tasnya. Ia mengangsurkan sebuah kaus putih dalam plastik bening kepada saya. “Buat Mpok,” katanya. Ia memang selalu memanggil mpok kepada saya, yang berarti kakak perempuan dalam bahasa Betawi. Ia merupakan representasi anak muda yang tak malu-malu menunjukkan identitas kebetawiannya.

Alhamdulilah.” Saya menerima pemberiannya dengan senang. Sudah lama memang saya naksir kaus-kaus yang dipakainya. “Cerita dong, Bajak artinya apa?” saya bertanya. Kaus yang dipakainya bertuliskan Betawi, sementara kaus saya bertuliskan Bajak. “Bajak itu artinya Baju Jakarta, Mpok,” ia menerangkan.

Bang Rizal datang membawa air panas. Ia menuangkannya dalam gelas kuno seperti yang dipakai rumah makan bergaya tempo dulu. Gelas semacam itu pernah juga saya lihat dalam tayangan Si Doel Anak Sekolahan. Gelas seperti yang pernah dipakai Benyamin Suaeb, kini almarhum, dalam versi lebih kecil. Gelas itu secara keseluruhan cocok dengan kesan gedung baru Komunitas Bambu yang bergaya rumah kebaya, rumah adat khas Betawi. Sinar matahari siang menyorot masuk dari belakang melalui kaca patri yang berwarna-warni. Tidak ada AC di gedung itu, hanya beberapa kipas angin berputar di atas, menggantung dari besi-besi yang membentuk kubah. Konsep industrial sedikit terasa di sana.

Wadah gula diedarkan. Kami bergantian membubuhi gula pada kopi, lantas mengaduknya. Panas-panas ditemani kopi, ternyata cocok juga. “Ini enak,” kata saya begitu sesapan pertama. “Ya, dari Bandung,” ujar Bang Rizal sambil menuju meja kerjanya, mengecek surat elektronik yang masuk.

“Kalau yang tangan panjang lagi habis, Mpok,” tutur Kojek meminta maaf. Kaus yang diberikannya memang tak mungkin saya pakai tanpa manset. Suara mesin gergaji yang bising di lantai bawah menganggu percakapan kami. “Gue mau nunjukin Betawi itu bukan cuma yang preman-preman itu, Mpok. Betawi ada yang kuliah, ada yang kerja, ada yang ke mal, dan nonton konser musik,” Kojek memulai ceritanya.

Ia merasa selama ini dirinya dan David Nurbianto, stand up comedian jebolan Kompas TV yang juga orang Betawi, sering menjadi manekin berjalan bagi orang lain. “Kenapa kita enggak bikin kaus sendiri? Apalagi selama ini enggak ada oleh-oleh kaus dari Betawi,” ujarnya menceritakan kegelisahannya. “Yogya punya Dagadu. Bali ada Joger. Nah, sekarang jadi kebanggaan sendiri bahwa Betawi punya Bajak.”

Kojek memiliki tim khusus yang mendesain baju Bajak. “Sekarang kita lagi mau bikin baju Engkong dan Nyai,” ia bertutur. “Engkong dan Nyai itu khusus buat couple. Kita sengaja pakai kata itu. Selain buat memperkenalkan arti kata Engkong dan Nyai, juga buat mendoakan agar mereka bisa langgeng sampai jadi engkong dan nyai.”

Saya lantas teringat pada kaos Bajak yang berdesain MH Thamrin, seorang pahlawan Betawi yang namanya diabadikan sebagai nama proyek perbaikan kampung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Gue ingin ketika orang-orang pakai baju Bajak, mereka sadar sebagai orang Betawi. Dan dengan pakai baju itu, mereka enggak berbuat macem-macem yang maluin Betawi,” Kojek menambahkan.

Ketenaran Kojek dan David Nurbianto turut memberi andil pada promosi Bajak. Sebagai orang Betawi yang senang bersilaturahmi, Kojek dan David tak segan-segan menyampiri pembeli. Bila ada yang memesan via online, mereka tak keberatan membuat janji bertemu. “Mereka juga seneng soalnya habis itu bisa foto-foto,” kata Kojek sambil tertawa. “Kami enggak masalah meski untung kepotong buat ongkos transport.”

Kojek juga tidak ingin pembeli baju-baju Bajak hanya kalangan tertentu. Karena itu, ia menjual Bajak dengan harga Rp 80.000. Dengan harga segitu, ia menjamin kualitas dan bahan yang dipakainya bagus. Ia juga sengaja memakai desain yang sederhana untuk menjangkau khalayak yang lebih luas di luar orang Betawi. Ia mengaku caranya itu ampuh. “Responsnya bagus. Pada bilang gini dong baju Betawi. Enggak kayak di Monas. Udah desainnya jelek, bahannya gerah juga,” Kojek menuturkan.

Di tengah obrolan, musik keroncong mengalun. JJ Rizal mengaku mendapatkan compact disk dari Belanda. Suara Wieteke van Dort merdu terdengar, menyanyikan Keroncong Kemayoran, bersaing dengan suara mesin gergaji. Kojek mengeluarkan pomade merek Murrays Superior. Pelicin rambut itu memiliki wadah berwarna orange dengan gambar laki-laki dan perempuan berambut lebat. Saya tertawa melihatnya, menyadari ternyata minyak rambut masih menjadi bagian penting dari seorang laki-laki dewasa.

Gue ingin baju bukan sekadar baju. Baju juga ada pesennya,” kata Kojek. “Yang lucu kemarin ada yang pesan baju Betawi warna pink. Ini lucu. Karena akan ada kesan Betawi enggak sangar, Betawi enggak kolot, dan bisa bercampur dengan modernisasi.” Terkait pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang berslogan “Ayo Kerja,” Kojek menegaskan bahwa, “Ini gue lagi kerja meski dolar lagi ngehe,” ia tertawa. Soal Gubernur Basuki “Ahok” Thajaja Purnama yang mengatakan orang Betawi harus dikerasi, Kojek berkata, “Ya jangan begitu juga.”

Kojek merasa prihatin dengan adanya Jakcloth festival. Meski mengusung nama Jakarta, tidak ada kaus dan seniman Jakarta di sana. “Gue pengen bisa ngebajak Jakcloth. Jadi kalau ada orang ngeluh kok kita enggak bisa jadi tuan rumah di kampung sendiri. Ya lo dong bikin apa?” katanya. “Gue pengin ketika orang ke Jakarta, mereka udah bisa dapet baju Jakarta dan dapet pelajaran dari situ.”

Demi misinya, Kojek dan David bahkan rela berjualan di pinggir jalan. “Sebelum Lebaran kita dagang ngemper di Rawabelong. Tapi yang datang beli pakai mobil semua, ha-ha-ha,” katanya. Pesanan Bajak kini datang dari berbagai daerah: Karawang, Bandung, hingga Semarang. “Bahkan Ganjar Pranowo juga udeh pesen,” kata Kojek. “Dan dia enggak mau dikasih gratis. Sekretarisnya bilang Bapak mau bayar.” Sebelumnya Kojek sempat heran kenapa Ganjar repot-repot memesan baju Bajak. Ia curiga Ganjar mau maju di pilkada DKI 2017. “Tapi David bilang, biarin aje, kite kan tukang dagang. Kalau dia beli dan make kita untung dong. Jadi deh kite kawin,” ujarnya sambil tertawa.

Soal cita-cita ke depan, Kojek mengatakan ingin buka toko. Ia ingin tokonya nanti tidak hanya menjual kaus, tetapi bisa merambah ke yang lain, misalnya topi. Penyayang enyak, panggilan ibu bagi orang Betawi, ini mengatakan banyak hal yang dia dapatkan ketika ada enyak. Karena itu, syarat utama calon istrinya adalah sayang pada enyak. “Sebab, bagaimana pun juga surga di bawah telapak kaki enyak,” kata dia serius.

Wieteke van Dort masih terus bernyanyi. Kali ini Terang Bulan Terang di Kali jernih mengalun. Suasana syahdu melingkupi kami, di sebuah kampung di Depok, tempat orang-orang Betawi tergusur dari habitatnya. Dari sebuah rumah kecil dalam kebun yang luas, tempat pepohonan dihargai sebagai roh-roh luhur, kini kami harus bertahan dalam sebuah lahan yang sempit. Sebuah pohon menjulang hingga ke lantai tiga, sengaja tidak ditebang oleh empunya rumah, menjaga agar kearifan Betawi tidak hilang. Seperti kata Kojek, “Betawi bukan cuma cantolan. Betawi adalah bagian dari kehidupan seseorang.”

 

1 Komentar

Kirim Tanggapan