Arti Buaya dan Ciliwung bagi Orang Betawi

1
1402

Seekor buaya ditemukan di Kalibata. Begitu judul berita foto di portal media online pada Senin, 16 November 2015. Ciliwung yang meluap rupanya membuat buaya ini keluar dari habitatnya. Buaya kecil itu konon baru bisa ditangkap petugas dan warga setelah 2,5 jam diburu. Saya sungguh ngenes melihat buaya itu diiikat dari mulut hingga ke sekujur tubuh. Tidak berperibinatangan sama sekali.

biawak sungai ciliwung

Begitu ditelusuri, ternyata bukan sekali ini saja buaya di Sungai Ciliwung menampakkan diri. Tercatat selain di Kalibata, buaya Sungai Ciliwung pernah juga ditemukan masyarakat di sekitar Menteng dan Matraman yang dilewati aliran Sungai Ciliwung.

Persoalan munculnya buaya sebenarnya tak terlampau aneh bila kita tahu banyak sekali mitos tentang buaya di Ciliwung terkait dengan local wisdom alias kearifan lokal orang Betawi.

JJ Rizal dalam diskusi “Orang Betawi dan Ciliwung” yang digelar Betawi Kita di Komunitas Bambu pada Minggu, 15 November 2015 mengatakan orang Betawi itu saudara kembarnya Ciliwung. Menurut Rizal, Jakarta lahir bersamaan dengan hujan tropis di masa plaistosen. Apalagi kebudayaan Betawi pada masa awal dapat ditemukan jejaknya di sepanjang Sungai Ciliwung. Maka dari sinilah kita mengenal istilah situs buni dan gigi geledek.

 

jjrizaltopi

Bang Idin, jawara penjaga Kali Pesanggarahan, bilang sungai adalah tempat mengenal Tuhan. Rizal malah lebih tajam lagi menyebut sungai tempat lahirnya nilai dan tata aturan hidup. Yang paling kuat tentu saja tercermin dalam ritus upacara perkawinan orang Betawi yang di dalamnya mencakup roti buaya.

“Roti buaya itu harus dibawa lantaran buaya perlambang kesetiaan. Itu enggak main-main. Kalau enggak bawa roti buaya, bisa dipertanyakan kesungguhan niat membina rumah tangga,” ujar Rizal, yang belum juga berumah tangga di usianya yang sudah kepala empat.

roti buaya icha

Dalam mitos orang Betawi, buaya sungai hanya menikah satu kali dalam satu waktu dengan satu pasangan. Karena itu, penyebutan lelaki buaya untuk menyebut laki-laki yang doyan perempuan sesungguhnya salah kaprah. “Itu buaya darat kali, Bang,” celetuk Galih Iman, salah seorang peserta diskusi.

“Nah, Jek, jadi nanti kalau lu bawa roti buaya, itu roti kagak boleh dimakan, kudu dibiarin aja selama seminggu,” ujar Rizal menyapa Kojek Rapper Betawi yang kala itu membawa serta calon istrinya.

Selain muncul dalam bagian terpenting ritus orang Betawi, yakni pernikahan, mitos buaya juga bertebaran dalam folklor Betawi. Salah satu kisah yang paling terkenal adalah cerita Nenek Jenab dan Buaya Buntung. Alkisah, Jenab yang sangat cantik selalu menolak pria yang ingin melamarnya. Namun ketika ia sudah berumah tangga, suaminya justru berubah menjadi buaya buntung.

Ada lagi kisah buaya putih penunggu Setu Babakan, cagar alam dan cagar budaya Betawi di selatan Jakarta. Eka Budianta dalam Festival Dongeng Jakarta yang digelar di Zona A Setu Babakan beberapa waktu lalu mengatakan buaya putih itu adalah seorang gadis cantik yang memilih menceburkan diri ke hutan karena putus asa akibat kekasihnya tak kunjung datang dan melamarnya. Folklor tentang buaya ini akan saya ceritakan panjang lebar lain waktu. Saking banyaknya kisah tentang buaya dan Ciliwung, di Kalimalang Jakarta Timur juga ada mitos tentang buaya penunggu sungai atau orang yang mengaku bersaudara dengan buaya.

Rachmat Sadeli, pendiri Majalah Betawi yang besar di Kemanggisan, menyebut dulu ketika ia masih kecil ibunya beberapa kali melihat buaya, yakni saat Kali Slipi meluap di musim hujan. Beberapa kali setelah penampakan buaya, ikan-ikan terdampar di pinggir kali. “Pengalaman aje,” tutur Rachmat via pesan chat Whatsapp.

Banyaknya kisah tentang buaya di Ciliwung menandakan sungai ini adalah keramat. Namun sayangnya, Ciliwung tidak diperlakukan layaknya saudara. Bahkan buaya yang merupakan local wisdom—dan kemudian jadi sumber nilai orang Betawi—justru dikaitkan dengan kisah-kisah buruk, seperti buaya buntung meminta tumbal berupa nyawa manusia.

Yahya Andi Saputra, seniman Betawi, mengatakan orang Betawi menganggap buaya adalah penjelmaan ruh penjaga sumber kehidupan di sungai. Maka, pemahaman yang salah terhadap arti buaya harus diluruskan. Caranya adalah kembali menjadikan sungai sebagai saudara. Rizal mengatakan, “Kita tak kenal sungai lagi. Entah kenapa sekarang kita memusuhinya dan menjadikannya tempat sampah.”

ciliwung sungai