Buku-buku yang Harus Kamu Baca di 2015

0
852

Seperti layaknya edisi akhir tahun, ada keinginan untuk menengok ke belakang serta mengulas kembali perkembangan yang terjadi selama satu tahun terakhir. Salah satunya adalah penilaian atas karya sastra sepanjang tahun 2015.

Ada banyak kesulitan jika kita hendak melabeli sebuah karya sastra sebagai terbaik. Haruslah ada dasar untuk meletakkan suatu karya, sehingga dianggap lebih baik dari yang lainnya. Penilaian antara satu orang dengan orang lainnya bisa saja berbeda karena selera dan pengetahuan setiap orang tidak sama. Namun dalam hal ini kita bisa menyepakati, misalnya, kebaruan tema, kebaruan cara bercerita, serta kemulusan penggarapan antara tema dan cara bertutur menjadi faktor-faktor terpenting dalam menilai suatu karya. Selain pertanyaan tentang apa yang ditawarkan para sastrawan dalam karyanya, eksekusi selalu lebih penting dari ide. Boleh saja ide bagus luar biasa, tapi jika eksekusi jelek, apa gunanya?

Catatan kecil ini, yang diminta sebagai catatan penutup karya sastra terbaik tahun 2015, diupayakan memperkecil kemungkinan bias dan subyektif. Namun berdasarkan pemantauan acak sepanjang tahun 2015, bolehlah dikatakan kita bisa bergembira dengan lahirnya para penulis yang masih muda usia sekaligus meledak-ledak semangatnya. Mereka bisa bersaing dengan para penulis mapan, umpamanya katakanlah Seno Gumira Ajidarma atau Sapardi Djoko Damono, dan mewarnai dunia sastra Indonesia dengan kisah-kisah yang tidak terlalu “urban” maupun cara penceritaan yang biasa-biasa saja dan mudah ditebak.

Berdasarkan diskusi intens dengan Teguh Affandi, pengasuh Ruang Baca Yogya (Klub Baca Jogja, Mbak), kami menyepakati bahwa sepuluh karya di bawah ini sangat mencuri perhatian, yakni:

  1. Kambing dan Hujan (Mahfud Ikhwan)

Cover_Buku_Kambing_&_Hujan_compress

Novel pemenang Sayembara Novel DKJ tahun 2014 ini menyita perhatian karena menyoroti konflik horisontal antara dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU. Konflik yang sejatinya perihal masalah pilihan, kemudian dibalut dengan kisah cinta antara Fauzia dan Miftah. Konflik antara dua anak muda ini lantas membuka tabir rahasia yang membuat kedua orang tuanya saling berseberangan pendapat.

Selain konflik cantik, novel ini mampu menyajikan narasi yang menarik dan bagaimana peurbahan sudut pandang tidak sekadar perubahan subjek pencerita. Suara-suara yang berkisah dalam novel ini benar-benar mewakili seorang tokoh yang kokoh. Maka patutlah novel ini menjadi pemenang sayembara bergengsi dua tahunan itu. Pilihan untuk mengakhiri konflik dengan cara cantik ala penulis juga menjadi tekanan yang kontekstual apabila ada gesekan antara dua organisasi pada masa kini.

  1. Perempuan Patah Hati yang Menemukan Cinta Melalui Mimpi (Eka Kurniawan)

eka kurniawan

Memang ini bukan karya-karya puncak Eka Kurniawan dalam menulis cerpen, tetapi beberapa cerpen menunjukkan bagaimana Eka Kurniawan mengolah cerita menjadi sajian yang berbeda.

Eka Kurniawan begitu jeli menceritakan kesederhanaan tema dengan sudut penceritaan unik, yang mungkin saja dianggap oleh penulis lain tidak terlalu seksi untuk dijadikan cerpen. Mungkin bagi penulis cerpen lain tidak akan terpikir mengungkapkan perasaan sebuah batu di taman, yang tanpa sengaja dipergunakan untuk membalas dendam. Namun Eka Kurniawan menghidupkan batu dengan kepulan dendam dalam cerpen Cerita Batu.

Atau bagaimana Eka Kurniawan mengubah guyonan soal bagaimana gajah masuk kulkas dengan humor satir. Selain kadar humor yang cukup, Eka tetap menyisipkan kritik politik dengan menggunakan gaya seorang sastrawan. Dalam kumpulan cerpen ini, Pengantar Perjalanan Panjang dan Gincu Itu Merah, Sayang menjadi dua kesukaan saya.

  1. Tanjung Luka (Benny Arnas)

tanjung luka

Titik awal Benny Arnas dikenal publik sastra Indonesia adalah dengan menghadirkan prosa-prosa Melayu. Melayu dari tema dan Melayu dengan kelenturan bahasa. Karya paling fenomenal dari Benny Arnas adalah Bulan Celurit Api. Buku ini memang tidak bisa lepas dari kesan Melayu dan bunga-bunga kata khas Benny Arnas.

Namun keunikan lain dari novel ini adalah bergeser dari novel roman Melayu ke thriller yang sedikit mencekam. Juga bergeser dari jebakan untuk membenturkan antara budaya lokal dan budaya modern. Dalam novel ini Benny Arnas justru menyuguhkan peliknya sebuah mitos dan kutukan hingga merembet ke kasus pembunuhan. Dan bila dicermati, sampai akhir, kita tidak akan menemukan siapa sebenarnya tokoh utama, protagonis, atau pahlawan dalam novel ini. Karena memang demikianlah manusia, selalu memiliki dark side yang suatu saat akan menjadi lebih dominan.

  1. Mawar Hitam (Candra Malik)

mawar hitam

Sebenarnya tidak ada kekhasan dalam bahasa Candra Malik. Prosa-prosanya memakai gaya bahasa sederhana, terang, dan memiliki twisted ending yang mengejutkan di akhir. Namun dari kesederhanaan inilah kita bisa merasakan bagaimana aura sufisme dan pelajaran hidup yang hendak disampaikan penulis kepada pembaca.

Candra Malik menjadi penutur yang luwes dalam buku ini. Di satu sisi Candra Malik menutupi pelajaran sufi dengan tuturan-tuturan tersembunyi. Namun beberapa cerpen justru dengan gamblang menyajikan sufisme yang dalam. Tentu tidak lupa, Candra Malik menyisipkan kritik soal peribadatan sekarang yang hanya sekadar aktivitas lahiriah yang menjauh dari ketenangan batin dan ruhiyah.

  1. Puya ke Puya (Faissal Oddang)
cover Puya ke Puya
cover Puya ke Puya

Nama Faisal Oddang tahun ini begitu bersinar. Fai, begitu ia disapa, memperoleh penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri, serta menyita perhatian publik dengan novel yang menjadi unggulan DKJ ini. Puya ke Puya memang sedang mengkritisi bagaimana kebudayaan dan mitos di Tana Toraja justru mengekang kehidupan manusia modern. Pertentangan antara keengganan tokoh muda yang sudah tercelup kampus, modern, dan dunia urban akan upacara rambu solo yang menghabiskan banyak uang menjadi konflik runcing.

Namun sebenarnya bukan hanya itu saja yang sedang disorot Faisal Oddang. Ada soal eksploitasi alam yang nir-sosial, ada konflik keluarga, dan tentu ada riak asmara di dalamnya. Keunggulan novel ini selain keseksian tema adalah bagaimana Faisal Oddang memakai teknik bercerita unik. Pergantian sudut pandang yang cepat dan begitu banyak tokoh bercerita, yang terkesan mengacaukan kerunutan. Namun dari fragmen-fragmen yang ditandai dengan tanda bintang (*) ini menjadi jalinan kisah yang kuat dan apik.

  1. Di Tanah Lada (Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie)

di tanah lada

Novel dan nama penulisnya benar-benar unik. Ziggy dalam novel ini sedang memotret fenomena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sekaligus membeberkan dampak psikologis jangka panjang terhadap anak korban KDRT yang merangkap perekam bila kedua orang tua sedang beradu jotos dan amarah. Luka psikologis yang diderita dua tokoh, yakni Salva dan P, menapak begitu dalam di sanubari belia mereka. Derita psikologi sampai membuat mereka memandang hidup tanpa keyakinan utuh. Hingga dalam benak Salva, si tokoh utama, tumbuh pesimistis untuk sulit menemukan ‘kebenaran’ dalam kamus. Namun lebih sulit menemukannya di dunia nyata.

Logika anak, sisipan arti kata sesuai dalam kamus, menjadi bagian unik dalam novel ini. Terlebih dialog-dialog ajaib dari kedua tokoh Salva dan P yang mengocok perut. Novel ini mengingatkan kita pada novel The Little Prince, yang menggunakan cerita anak justru untuk menampar logika dewasa.

  1. Melihat Api Bekerja, kumpulan puisi (Aan Mansyur)

melihat api bekerja

Kedahsyatan puisi-puisi Aan Mansyur memang tidak bisa dielakkan. Puisi-puisinya indah, quote-able, pantas dijadikan status di media sosial. Apalgi dalam buku ini puisi bertemu seni lain, yakni seni rupa karya eMTe yang indah aduhai. Jadilah racikan pas, kata puisinya melodis dan ilustrasinya manis.

  1. Kematian Kecil Kartosoewirjo, kumpulan puisi (Triyanto Triwikromo)

kematian kecil

Kalau boleh menyebut, mungkin ini adalah kompilasi puisi paling berani dan keren. Bagaimana tidak, kalau buku kumpulan puisi lain mungkin memiliki tema acak atau pun kalau tidak sekadar benang merah semu yang mengaitkan satu puisi ke puisi lain. Namun buku besutan Triyanto ini menyorot hanya satu tokoh, yakni Kartosoewirjo. Dan yang lebih menarik, dalam puisi kita bisa melihat sosok lain yang tidak kita lihat dalam buku sejarah.

Kartosoewirjo dalam buku ini tampil sebagai seorang alim, bahkan kematiannya mendatangkan aroma harum. Ya, ini buku puisi yang keren.

  1. Si Janggut Mengencingi Herucakra (AS Laksana)

si janggut

Tak ada yang meragukan kemampuan AS Laksana dalam meracik prosa. AS Laksana dalam buku ini kembali hadir dengan kumpulan cerpen yang mengesankan dengan kesederhanaan bahasa tanpa genit dan berusaha mengejutkan di akhir. Cerita ya cerita, demikian kesan selama pembacaan. AS Laksana tidak perlu diributkan dengan diskripsi-diskripsi berparagraf-paragraf. Cerita ya cerita itu sendiri. Tokoh-tokoh hidup kemudian bergerak menentukan nasibnya sendiri.

Dan AS Laksana tidak memiliki beban untuk hendak menyampaikan pesan besar lewat ceritanya. Seolah dia hanya bertugas sebagai penerus cerita.

  1. Dilan (Pidi Baiq)

 

dilan 2

Buku ini keren dan patut masuk dalam list karena gaya bertuturnya yang tidak biasa. Pidi Baiq, yang juga terkenal sebagai vokalis band Panas Dalam, mampu memindahkan gaya bertutur lisan ke dalam tulisan. Setiap kata-kata yang ditulisnya seolah mampu menghadirkan humor, memiliki kekuatan yang menipiskan jarak dengan pembacanya. Jelas tidak semua orang mampu untuk menulis dengan cara seperti ini.

 

Kirim Tanggapan