Menjelajah Pasar Ikan Muara Angke

0
2206

Bau amis yang menyengat bercampur belerang tercium begitu mobil melaju keluar dari Tol Ancol. Kami agak tersesat siang itu saat menuju Tempat Pelelangan Ikan Muara Angke. Pasalnya Mama mengira tempat makan ikan itu ada di Muara Karang. Padahal, perlu beberapa kilometer lagi sampai kami akhirnya menemukan tempat yang dimaksud, persis di belakang Terminal Muara Angke.

Tempat Jajan Ikan, begitu pelang yang menaungi sebuah jalan yang berfungsi sebagai pintu masuk. Di kiri-kanannya terhampar aneka restoran kecil sebagai tempat makan. Lebih dari sepuluh restoran bejejer dengan nama khas bahari. Salah satunya yang aku ingat: Anging Mamiri.

“Hayuk Bu Haji, di sini aja, sepuluh ribu aja per orang,” tutur seorang laki-laki membujuk.

Aku dan Mama yang berjalan paling depan tampak kebingungan. Tangan kiriku menggendong si bungsu, Shakira, sementara tangan kanan memegang payung. Udara saat itu, sekitar pukul tiga sore pada 7 Februari 2016, memang sedang terik-teriknya. Wilayah yang tepat berbatasan dengan laut ini sungguh punya udara dan bau yang berbeda dengan tempat tinggal kami di Kebagusan, Jakarta Selatan.

Asap mengepul menganggu, membuat jarak pandang terbatas. Sebagian besar restoran di sini memakai batok kelapa sebagai arang. Panggangan untuk membakar ikan diletakkan di muka restoran, sehingga asapnya berkeliaran ke mana-mana. Penampilan restoran dan fasilitasnya begitu sederhana, hanya meja untuk duduk lesehan dibuat di tempat yang agak tinggi.

“Sepuluh ribu saja per kilogram untuk bakarnya,” ujar seseorang gigih membujuk.

Kami sampai di ujung jalan yang berbatasan dengan laut. Air laut begitu kotor dengan limbah dan sampah. Warnanya hitam pekat. Namun demikian, angin laut yang cukup kencang menerpa wajah dan memainkan rambut lumayan menggembirakan hati.

“Kita beli saja ikannya dulu, baru minta dibakarin,” ujar Mama memutuskan setelah bertanya ke restoran Sinar Muara Angke. Ini satu-satunya restoran di Jalan Dermaga yang terletak di atas laut. Untuk mencapainya, kami harus melalui jembatan terlebih dahulu.

Maka aku dan Mama berbelanja ke tempat pelelangan ikan, sementara yang lain (Bapak, adik-adik, suami, anak, dan keponakan) memutuskan menunggu di dalam restoran.

Air menggenang di sekitar lokasi yang kami tuju. Beberapa pedagang berjualan di luar tempat resmi dengan sebuah payung tenda sebagai pelindung dari terik matahari. Ikan-ikan diletakkan di atas sebuah wadah besar dari styrofoam. Ada bawal, tongkol, nila, kue, bandeng, kembung, udang, kepiting, rajungan, cumi-cumi, hingga lobster. Pedagangnya juga membekali dengan es beku jika ikan itu mau dibawa pulang.

ikan1

mama

“Dari mana, Teh,” tanya si pedagang. Tampaknya sebagian pedagang dan nelayan di Muara Angke adalah kaum pendatang.

“Pasar Minggu, Bang,” jawab saya.

Tawar menawar berlangsung sengit. Sampai akhirnya harga disepakati, Mama mengeluarkan dua lembar uang seratusan dan selembar lima ribuan, lalu ikan berpindah tangan.

Kami pun pindah ke pedagang lain untuk membeli kepiting, udang, dan cumi.

“Balikin aja, Bu Haji,” jawab seorang pedagang ketika Mama menolak membeli jenis ikan yang lain karena sudah ada.

Aku tersenyum.

“Dia anaknya tiga, Bu Haji,” ucap seorang pedagang lagi sambil menunjuk temannya yang melayani kami.

kepiting1.jpg

Maka, kembalilah kami ke restoran sambil menenteng empat kantong plastik. Aku bingung membayangkan bagaimana kami bisa menghabiskan berkilo-kilogram ikan sebanyak ini.

Sesampainya di restoran Sinar Muara Angke, ikan rupanya ditimbang lagi. Terkaget-kagetlah aku mendapati bahwa timbangan di restoran berbeda dengan timbangan di pedagang. Ikan kue yang kami beli empat kilogram hanya ditimbang dua kilogram, sementara jenis lain yang rata-rata satu kilogram bervariasi antara 700-800 gram. Wah, tidak jujur ternyata pedagang ikan itu, bisik saya dalam hati.

“Pantesan dia jual murah,” kata Mama.

Untuk biaya membakar ikan, per kilogramnya dikenai Rp 18.000, sementara bila ingin dimasak dengan variasi seperti asam manis, saus padang, dan lain sebagainya dikenai biaya Rp 30.000 per kilogram. Nasi putih Rp 8000 per porsi. Biayanya jauh lebih mahal dibandingkan dengan restoran biasa di bawah. Namun keuntungannya, di tempat ini kamu tidak akan kebauan asap. Bahkan jendela restoran langsung menampakkan pemandangan perahu nelayan yang sedang hilir mudik.

Menu kami sore itu adalah ikan bawal dan kue bakar, udang saus padang, kepiting asam manis, cumi tepung, tumis kangkung, es kelapa dan otak-otak ikan. Masakannya lumayan, yang terenak adalah cumi tepung dan kepiting asam-manisnya. Namun udang saus padangnya agak hambar, seperti kurang diberi garam. Sementara nasinya, yah tidak begitu enak. Nasinya berwarna agak cokelat sampai-sampai suami komplain. Memang bagi dia, lauk oncom atau tahu-tempe pun tidak masalah, yang penting nasinya enak. Aku berkelakar, “Kalau begitu lain kali kita bawa nasi dari rumah.”

foto2

Kenyang makan, kami pun pulang. Sebelumnya tentu sempat berfoto-foto dulu sebagai kenangan. Kami mengambil jalan memutar menuju tempat parkir agar tidak melewati tempat makan bau asap itu kembali. Di pinggir jalan empat anak kecil berkerumun. Mereka menyanyikan lagu Pok Ame-ame.

Pok Ame-ame, belalang kupu-kupu
Adek jangan nangis, mamanya lagi kerja

Hatiku langsung mencelos mendengarnya. Mendadak sontak aku memeratkan pelukan pada Shakira yang sedang kudekap, sementara kakaknya, Alia, sudah berlari mendahului kami. Aku menoleh ke belakang. Tiga anak yang lebih besar tampak sedang membujuk seorang anak yang lebih kecil. Mereka itulah yang bernyanyi tadi. Sementara itu, lampu-lampu mulai menyala, pedagang otak-otak di ujung tempat parkir sudah ramai dikerumuni pembeli. Satu keluarga dengan ayah, ibu, dan seorang anak menumpang motor sedang santai menunggu otak-otak yang dibakar. Hari mulai senja, tapi tampaknya geliat perekonomian di pelabuhan ini justru makin bergegas.

Kirim Tanggapan