Ciliwung Rusak, Banjir Kembali Genangi Jakarta

0
244

November berarti musim hujan. Dan, benar bahwa hari-hari ini Jakarta sudah disapa banjir. Saat saya memandangi hujan yang turun dari balik jendela kantor di lantai 14 gedung di bilangan Senayan, penyiar di televisi mengabarkan air sudah menggenangi Kampung Pulo.

Ciliwung meluap. Banjir tidak hanya terjadi di Kampung Pulo, tetapi juga di Rawajati. Kabarnya air itu kiriman dari Bogor. Banjir datang pagi tadi, Senin, 16 November 2015. Bendung Katulampa siaga. Di bendung itu saya lihat sampah dan bambu menumpuk.
Maka saya pun bertanya-tanya, sejak kapan Jakarta jadi langganan banjir? Sebab, sepanjang ingatan saya mampu mencatat, banjir sudah lama sekali terjadi di Jakarta sampai-sampai usaha membebaskan Jakarta dari banjir dibilang utopia. Gubernur Ahok saja bilang, “Jangan Berkhayal Jakarta Bebas dari Banjir” (http://news.liputan6.com/read/2366743/ahok-jangan-berkhayal-jakarta-tidak-banjir).

JJ Rizal dalam diskusi “Orang Betawi dan Ciliwung” di Komunitas Bambu pada Minggu, 15 November 2015 mengatakan banjir terjadi akibat gagalnya sistem kanal yang dibawa orang-orang Belanda ke Batavia. Kanal-kanal yang membelah Kota Batavia itu dibuat sebagai penebus rasa kangen bangsa kulit putih itu terhadap kampung halamannya. Namun, sebenarnya ini hanya mencerminkan sifat angkuh para pembesar di Batavia. Dengan kanal, sungai menjadi rusak. Banjir dan demam berdarah pun merajalela. Historia menyebut pada 1670 sudah terjadi banjir besar di Batavia.

Kanal hanya merusak ekologi kota. Rancangan Simon Stevin itu hanya merusak sungai. Ditambah lagi masa itu pemerintahnya alias VOC sangat korup. Di pinggiran Batavia, yakni Ommelanden, mereka menanam tebu sebagai bahan baku gula—komoditas yang saat itu paling populer. Padahal tebu adalah tanaman yang paling merusak tanah. Sampai 100 tahun pun tanah tak akan pulih. Ampas-ampas penggilingan tebu kemudian dibuang ke sungai, membuat mampat. Setelah tebu tidak populer, tanah malah ditanami teh. Rizal menyebut, “Ini lebih kacau lagi.”

Di musim panas, kanal-kanal itu kering dan berbau; sementara di musim hujan, air meluap menimbulkan banjir dan penyakit. Chairuddin alias Bang Idin, jawara penjaga Kali Pesanggarahan, menyebut ini karena para penguasa melupakan filosofi orang Betawi dalam merawat sungai. “Kalau pendek jangan disambung, panjang jangan dipotong.” Artinya, jangan semena-mena atau bahkan melawan alam. Bang Idin, dalam rekaman yang diputar di Komunitas Bambu, mengatakan, “Sungai harus dihormati karena sungai adalah tempat mengenal Tuhan.”

Jadi, bagaimana cara membuat Jakarta bebas banjir. Konservasi menyeluruh diperlukan, seraya masyarakatnya menengok kembali pelajaran yang sudah diberikan oleh sejarah. Ciliwung harus diperlakukan sebagai teman karib sebab wajah kota terlihat dari wajah sungainya. “Jika sungai kotor, berarti pikiran masyarakatnya kotor. Kalau Ciliwung rusak, maka hidup rusak,” kata Rizal.

Ciliwung mengalir
Dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta
Karna tiada bagai kota yang papa itu
Ia tahu siapa bundanya
(“Ciliwung yang Manis” karya WS Rendra)

Ciliwung kini marah karena sekarang kita memusuhi dan menjadikannya tempat sampah. Warga Jakarta dan orang Betawi khususnya lupa bahwa Ciliwung adalah saudara kembar mereka, tempat lahirnya peradaban, bermukimnya leluhur serta tata nilai dan aturan hidup.

Kirim Tanggapan