Folklor Betawi: Kisah Sial Kuda dan Ketimun Bongkeng

0
1326

Pasar-Senen-tempo-dulu-1950

Foto : Pasar Senen tempo dulu.

Jakarta awal 1960-an sedang bersolek. Bangunan-bangunan baru bermunculan, tanda negara sedang gencar membangun. Meski demikian, peninggalan Belanda masih tampak di mana-mana. Gedung-gedung tua berarsitektur Hindis memberikan corak tersendiri terhadap ibu kota yang menjadi tempat berkumpulnya berbagai macam orang dari suku bangsa. Dengan segala kekhasannya, Jakarta sedang berkembang mencari identitas menjadi kota metropolitan.

Alkisah di Kampung Pisangan Lama dekat Jatinegara, hiduplah satu keluarga kecil: Muhammad alias Mamat, Fatimah alias Papat, dan Abdul yang sering dipanggil Dul. Pagi itu cerita kita mulai di Pasar Jatinegara yang dulu bernama Meester Cornelis.

Trem lalu lalang di jalanan Pasar Jatinegara yang sibuk, beradu dengan bajaj dan helicak. Di pasar orang berjualan macam-macam, mulai dari kain, pupur, hingga sendal. Ada pula yang berjualan hewan, aneka burung dan ayam. Pasar bau di tengah terik panas bulan Agustus. Begitu ramainya pasar, sopir trem sampai harus membunyikan bel berkali-kali agar kendaraan besi itu bisa melaju mulus.

Di atas trem listrik yang berjalan tersendat-sendat, Mamat meminta karcis pada para penumpang yang naik trem jurusan Jatinegara-Pasar Ikan. Ia menggerutu sebal lantaran penumpang turut membawa binatang yang dibelinya naik trem. Di bangku paling belakang rangkaian trem, ada laki-laki yang sedang asyik mengelus ayam jagonya. Barangkali ia baru membelinya di pasar, mungkin buat diadu.

“Karcisnya mana, Bang,” ucap Mamat menegur.

Si laki-laki tergopoh-gopoh merogoh sakunya. Ia tampak pucat karena tak menemukan karcis yang dimaksud.

“Tolong pegang sebentar, Bang.” Laki-laki itu mengangsurkan ayam dalam keranjang kepada Mamat. Mamat menerimanya dengan enggan.

Di samping laki-laki itu ada pasangan suami-istri yang masih muda. Si laki-laki tengah membaca koran Berita Minggu, mungkin membaca cerita Firman Muntaco yang kesohor itu. Sedangkan istrinya yang berwajah bulat manis dan mengenakan kerudung tampak melihat suasana sekitar dengan antusias. Mamat menebak si istri baru pertama kali naik trem. Barangkali hendak ke Pasar Ikan melihat keramaian.

“Ini, Bang, ada,” laki-laki itu mengangsurkan karcis yang lecek kepada Mamat. Di wajahnya terpeta kelegaan.

Mamat menerimanya, lantas segera pergi mengecek karcis para penumpang yang lain. “Pasar Ikan, Pasar Ikan,” sesekali Mamat berteriak, sambil menghapus peluh yang bercucuran di wajahnya.Hari itu dia terpaksa mengambil dua shift. Seharusnya Dullah bertugas pagi tadi. Tapi kawannya sesama kenek trem itusedang sakit demam berdarah. Di musim kemarau, nyamuk memang lebih ganas menggigit. Apalagi di Jakarta banyak selokan dan parit yang menjadi tempat kesukaan nyamuk. Dullah sudah lima hari dirawat di CBZ (Centrale Burgelijke Ziekenhuis—sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunnkusumo), tapi panasnya belum turun-turun. Kini tambah lagi muncul bintik-bintik merah di muka dan tangan Dullah. Mamat berharap karibnya itu segera sembuh. Kasihan kawannya itu, baru saja kawin.

Mamat adalah laki-laki biasa saja di kampungnya. Ia bukan orang gedean yang berilmu mumpuni. Mamat hanya lulusan SR. Mamat berperawakan kecil, kurus, dan berkulit hitam. Rambutnya tak pernah dibiarkan tumbuh panjang lebih dari dua senti. Jalannya agak membungkuk. Bibirnya hitam karena kebanyakan merokok. Namun biar begitu, Mamat adalah pekerja keras. Pagi-pagi usai ayam berkokok, Mamat segera bangun. Bersamaan dengan istrinya menjerang air buat mandi, Mamat sudah selesai salat. “Kopi mana, Pat,” begitu ucapannya setiap pagi.

Sambil menyesap kopi hitam panas dan singkong rebus, atau kadang-kadang juga pisang goreng, Mamat takzim mendengarkan berita RRI dari radio mungil, harta kesayangan dia satu-satunya. Radio itu peninggalan dari bapaknya, bikinan Jerman. Radio ditinggalkan di rumah bapak di Bukit Duri oleh tentara Sekutu. Waktu itu rumah Bapak dijadikan markas oleh pasukan NICA. Begitu kawin dengan Fatimah, Mamat ikut pindah ke kampung istrinya diPisangan. Radio itu lantas dihadiahkan kepadanya.

Seperti kebanyakan penduduk kampungnya, mulanya Mamat memelihara kambing dan berdagang hasil bumi. Tapi atas jasa baik kawannya dulu di SR, Mamat bisa menjadi kenek trem. Tentu saja Mamat merasa bangga. Paling tidak ia bukan tukang,begitu pernah batinnya berkata.

***

Mamat menghitung uang di hadapannya berkali-kali. Sore itu akhirnya tugasnya selesai. Ia memastikan hasil jerih payahnya seharian cukup untuk membelikan Papat hadiah. Tadi pagi istri yang sudah dinikahinya sepuluh tahun itu merajuk. Fatimah minta dibelikan rok kembang-kembang dan parfum.

“Ampun dah Pat, ngapain lu mau pake wangi-wangian?”

“Saye, Bang. Saye pan pengen kayak perempuan yang lain juga,” ujar Fatimah, sambil menggelendot di lengan suaminya.

Mamat memandang istrinya yang memang masih cukup muda, baru menginjak 30 tahun. Fatimah bermata bulat dengan lekukan senyum yang menarik. Bibirnya selalu merah meski tanpa gincu. Ditambah badannya juga botoh. Mamat sering khawatir Fatimah dilirik laki-laki lain. Maklum saja, dulu saingan Mamat lumayan banyak. Ada si Samsul anaknya Pak Mandor, ada juga si Rochmat anak juragan sapi di Kuningan. Makanya, begitu Fatimah berkata ingin punya rok kembang-kembang, Mamat jadi curiga.

“Ini pasti ade ape-apenye?”

“Ade ape-apenye gimana maksud Abang?”

“Lu lihat siapa tau-tauan pengen rok kembang-kembang.”

“Idih, Abang curigaan beeng deh.”

“Pan, tumben-tumbenan.”

“Iya dah, saye lihat si Leslie. Udeh Abang puas.”

“Yang begituan lu ikutin.”

“Ih, dasar medit!”

Fatimah mengentakkan kaki, lantas pergi meninggalkan suaminya. Mamat tertawa. Dalam hati ia berjanji akan mampir membelikan istrinyarok kembang-kembang dan parfum di Pasar Baru.

***

Begitu matahari tak terasa begitu panas di kepala, Mamat pulang ke rumah. Dua shift bekerja dan mampir ke pasar yang ramai sesak membuat kepalanya pusing seperti mau pingsan. Ia berharap bisa segera makan sampai kenyang. Di benaknya sudah terbayang sayur asem, ikan asin, sambal, dan asinan bikinan istrinya. Sayur asem bikinan Fatimah memang paling juara. Segar dan nikmatnya itu sulit dilukiskan oleh kata-kata. Glek, membayangkan saja sudah membuat Mamat menelan ludahnya.

“Salam lekum. Pat, Pat…” Mamat berteriak di muka rumah.

Ia mendorong pintu yang setengah terbuka. Tak ada seorang di dalam rumah.

“Pada kemana, sih. Rumah dibiarin aja ngablak,” Mamat menggerutu.

Perutnya perih. Dilihatnya gerobok di dapur. Tak ada sepotong lauk pun di sana. Mamat mencoba mengingat-ingat. Rasanya tadi ia sudah memberikan Fatimah uang belanja. Mamat bergerak lagi, mengangkat tudung di kukusan. Waduh, masih aron, pikirnya kesal melihat bulir-bulir nasi yang belum tanak itu. Bagaimana bisa makan kalau begini, pikir Mamat kesal sambil membanting pecinya ke atas meja. Mamat lantas tidur-tiduran di atas bale di teras, sambil menunggu istri dan anaknya, si Dul, pulang.

Kira-kira setengah jam tidur-tiduran, datanglah Fatimah tergopoh-gopoh. Mamat membuka mata demi mendengar suara orang melepas sendal.

“Dari mane aje, sih?” Mamat bertanya.

“Itu, Bang. Tadi saye lagi masak dipanggil sama Encing Leha.”

“Terus?”

“Disuruh bantuin Encing Leha. Katanya si Zubaedah mules-mules, enggak tahunya udah waktunya ngelahirin, Bang.”

Fatimah memang memiliki kepintaran lain yang cukup dibanggakan Mamat. Istrinya itu pernah ikut penyuluhan bidan desa dari puskesmas. Sementara Encing Leha adalah adik ibunya Fatimah yang berprofesi sebagai tukang pijat dan dukun beranak. Hanya Encing Leha satu-satunya dari tujuh anak perempuan Wak Badar yang mewarisi kemampuan sebagai dukun beranak dan tukang pijat merangkap tukang sembur. Maka Encing Leha dan Fatimah adalah pasangan klop bagi siapa pun di Kampung Pisangan Lama yang sudah waktunya melahirkan.

“Si Zubaedah bininya Maruf, kan? Yang kakinya pedok?”

“Iya, Bang,” jawab Fatimah.

“Kasihan ya si Maruf pedok begitu. Telapak kakinya kok bisa ke dalem. Jalannya ampe miring-miring.”

“Ya, namanya juga, Bang. Mungkin dulu waktu kecil si Maruf kurang diurus. Habis jatuh enggak diurut, makanya jadi pedok.”

“Iye kali ya, Pat. Si Maruf kan saudaranya banyak. Ada sebelas.”

“Iya, sekarang juga si Maruf anaknya udah empat, Bang.”

“Trus sekarang anaknya apa, Pat.”

“Perempuan lagi, Bang,” Fatimah menjawab sambil tersenyum. Tanpa sadar ia mengelus-elus perutnya. Dul sudah berusia sepuluh tahun, tapi Tuhan belum ngasih keluarga itu anak lagi.

Mamat memandang tingkah laku istrinya. Ia tahu betul apa yang dipikirkan istrinya itu.

“Ya udeh, sekarang lu masak dah,” Mamat mengalihkan pembicaraan. “Gue laper banget nih, Pat.”

“Entar dulu ya Bang, sabar sedikit.”

“Iye,” jawab Mamat sambil bersiap tiduran lagi. “Oh iya, ini pesenan elu. Udah gue beliin tadi di Pasar Baru.”

“Oh iya Bang,” kata Fatimah sambil menerima bingkisan hitam itu. “Tapi ini, Bang, air habis. Tolong Abang timba dulu air buat saye masak,” kata Fatimah. Tak diresponsnya sedikit pun bingkisan yang dibawakan Mamat dengan susah payah itu.

“Aduh, Pat. Udah laper, pegel, capek pula habis muter cari pesenan elu di Pasar Baru, sekarang disuruh nimba air pula. Dasar sial kuda!” ucap Mamat sambil bersungut-sungut.

Fatimah nyengir. Mamat bangkit lantas menuju sumur yang ada di bagian belakang rumahnya.

“Masak yang enak. Asinan timun ama bengkuang jangan lupe,” ucap Mamat setelah menimba air. Ia telah membuka bajunya dan tengah mengipas-ngipas badannya dengan peci hitam.

“Yaah, timunnya enggak ada, Bang,” kata Fatimah.

“Dul, beli timun dulu, Dul. Di pengkolan sana ada,” ucap Fatimah demi melihat Abdul masuk sambil menuntun sepedaFongers bikinan Belanda. Sepedanya tinggi dengan rangka yang kuat dan gagah dengan lampu di bagian depan. Sepeda itu didapat Mamat dari mertuanya, yang pernah menjadi babu di rumah orang Belanda di Harmoni.

Abdul cemberut dan mendengus demi mendengar perintah ibunya. Ia capek karena baru saja pulang setelah sekolah seharian. Pagi di SD dan siang di Madrasah. Baru juga sampai dan bahkan belum mengucapkan salam, ia sudah diberi perintah.

“Hahaha, sial kuda juga lu, Dul,” ucap Mamat melihat kejadian itu.

“Ih, Abang kok begitu.”

“Lah, iya. Emang nasib sial kuda bagaimana sih? Kuda kan udah dia diiket enggak pakai baju atau, matanya ditutup, harus ngikutin kusir, terus masih dicambukin pula,” Mamat menerangkan.

“Emangnya saye kayak kusir!” Fatimah memaki.

Fatimah segera mengepalkan sedikit uang pada Abdul. “Sana beli ketimun. Inget jangan beli timun yang bongkeng ya. Beli dua tanding,” ia berpesan.

Abdul segera memutar sepedanya. Ia menuju ujung jalan, di ujung Pasar Cipinang, demi membeli ketimun pesanan ibunya. Sesekali ia membunyikan bel, membuat anak-anak yang bermain gundu di jalan minggir dan tergangga melihat Dul dan sepedanya melintas.

Abdul mengingat jelas pesan ibunya, jangan membeli ketimun bongkeng sebab ketimun bongkeng adalah ketimun yang tak sempurna dan memiliki titik-titik pada tubuhnya. Secara wujud, ketimun bongkeng melingkar di bagian ujungnya. Ketimun bongkeng ini rasanya pahit, sehingga orang-orang tak berminat membelinya.

***

Di Pasar Cipinang, tampaklah Sarifudin, yang nama bekennya Udin, tukang ketimun kita, memandang tumpukan ketimun di depannya. Masih ada dua tanding yang tersisa. Sejak pagi ia membawa sepuluh tanding, ukuran berat kira-kira satu kilogram. Ketimun-ketimun itu ia tumpukkan dalam satu susunan piramida. Selain ketimun, Udin juga berjualan macam-macam. Ada nanas, tomat, bengkuang, ubi dan singkong. Tapi sore itu tinggal ketimun saja dagangannya yang bersisa.

Pada mulanya ditanam oleh petani, tentu petani tak tahu mana ketimun yang akan jadi bagus atau bongkeng. Semua bibit diperlakukan sama. Begitu tumbuh, ada ketimun yang tumbuh dengan baik dan ada yang bongkeng. Namun itu tentu adalah kehendak Tuhan yang punya kuasa atas nasib si ketimun. Akan tetapi karena rasa keadilan si petani, begitu tumbuh dan waktunya dipetik, semuanya ikut dibawa dan dimasukkan ke karung. Lantas ketimun itu juga diangkut ke truk dan dijual kepada tengkulak. Di pasar induk Kramat Jati itulah si ketimun berpindah kepada para pengecer, termasuk kepada Udin.

Udin awalnya tak bercita-cita jadi pedagang. Sejak lulus dari sekolah menengah, sebenarnya Udin kebelet kawin. Ia naksir Rosita anak kampung Matraman. Namun karena si Ita—demikian Rosita biasa dipanggil—suka sama anak-anak muda yang keren dan kesohor, Udin bela-belain ikut geng Berland Boys. Rambutnya dipotong ala-ala Beatles, celana junkies, dan ke mana-mana bawa pisau lipat.

“Tuh lihat si Udin, romannya kayak anak enggak pernah diajarin ngaji,” begitu omongan tetangganya saban hari yang didenger sama Rosani, ibunya.

“Din, din, kapan sih elu insyaf. Setiap hari petantang-petenteng di jalanan, ikutan krosboi,” ucap Rosani suatu hari sambil menangis.

“Elu pan udah disekolahin sampe esempe. Coba lu cari kerja biar mendingan. Bantuin encang lu kek sana di bengkel,” Rosani menyambung.

“Dih, Enyak, masak Udin disuruh kerja di bengkel. Kagak pantes, dong,” Udin mengelak.

“Kerja apa dulu enggak persoalan, yang penting halal.”

Namun tentu saja Udin tidak mempan dinasehati ibunya. Setiap bangun tidur Udin buru-buru mandi, lantas becermin. Ia bersiul-siul sambil menyisir rambutnya yang lantas ia kucuri minyak rambut merek Erasmic.Soal akhirnya si Udin insyaf dan akhirnya jualan ketimun, tentu itu ada ceritanya sendiri.

Di kelompok Berland Boys, nasib si Udin seperti ketimun bongkeng, enggak dianggap. Sekali waktu Udin dianggap ada gunanya, tapi lebih sering Udin jadi aksesoris. Upaya menarik perhatian Ita gagal, kesohor kagak. Ujung-ujungnya Udin malah digelandang CPM saat lari lemparan batu sama anak Palmeriam. Kapok menginap di hotel prodeo, Udin kini tekun mendengarkan nasihat ibunya. Celana jengkinya ia pensiunkan. Udin pun pasrah saja dijodohkan dengan Zuhriyah, tetangganya yang memiliki senyum manis dan berjualan gado-gado.

***

“Bang, beli dong timunnya.”

Udin yang sedang melamun terperanjat demi melihat seorang anak laki-laki di depannya. Badan anak itu berkeringat, tampak ngos-ngosan. Anak itu turun dan menyenderkan sepedanya.

“Mau berapa tanding? Udin bertanya.

“Dua tanding aja, Bang. Jangan yang bongkeng ya,” Dul mengingatkan.

Maka Udin lantas memisahkan ketimun yang bongkeng, kemudian menaruhnya di belakang.

“Bang, tambahin dong timunnya,” Dul menawar.

Maka, tanpa sepengetahuan si Dul yang sibuk menghitung duit untuk membayar ketimun, Udin menaruh kembali dua ketimun yang bongkeng di dalam plastik.

Transaksi jual beli itu pun selesai. Dul kembali pulang untuk menyerahkan pesanan ibunya. Sesampainya di rumah, dibukalah plastik itu. Dul duduk bersila di dapur, hendak membantu ibunya mengupas ketimun demi membuat asinan.

“Yah, Mak, timunnya ada yang bongkeng,” ujar Dul menyesali kelalaiannya.

“Ya udah, enggak apa-apa, pakai saja dulu,” Fatimah menyahut. Tangannya sibuk mengulek sambal terasi.

“Kan pahit, Mak.”

“Cobain dulu, kali-kali enak.”

Maka Abdul menggigit sedikit ujung ketimun. Ketimun yang pahit ia buang, ia lemparkan ke dalam tempat sampah. Barulah pada ketimun bongkeng yang kedua ia mendapati rasa yang tidak pahit.

“Yang ini enggak pahit, Mak.”

“Bagus deh, Dul,” ucap Papat sambil menyeka tangannya yang kotor di celemek.

Selepas semua beres, maka keluarga itu akhirnya bisa makan dengan lahap. Mamat begitu antusias sampai makannya nambah. Akhirnya ia mendapatkan buah kesabarannya.

“Be, tadi kan Dul enggak sengaja beli timun bongkeng,” ucap Dul mengaku.

“Oh, untung enggak pahit,” kata Mamat..

“Sebenernya ada kisah nasib timun bongkeng, nih,” ujar Mamat sambil mengelap tangannya.

“Timun itu makanan yang semua masyarakat seneng. Tapi ada timun bongkeng yang nasibnya beda sama timun yang lain. Ketimun ini disisihkan, enggak dianggep. Tapi kadang ketimun ini dicari-cari buat tambahan.”

Abdul lantas mengingat kejadian tadi kala ia dikibuli pedagang.

Mamat menambahkan, “Nasib manusia juga begitu. Di kelompok mana pun, ada yang bernasib kayak ketimun bongkeng. Kalau enggak ada dicari-cari, kalau ada dibiarin. Itu namanya nasib ketimun bongkeng.”

“Ooh, jadi Dul musti jadi timun yang bagus ya, bukan yang bongkeng.

“Pinter!” Mamat menyahut.

Senja mulai turun di langit Jakarta. Warna matahari yang keemasan tampak indah memancar. Keluarga itu bersyukur atas nikmat yang mereka peroleh. Lamat-lamat suara azan terdengar dari masjid Kampung Pisangan. Allahu akbar-allahu akbar.

Kirim Tanggapan