Memahami Penyunting, Editor, dan Penyuntingan

0
1111

Seorang kawan menelepon dari Semarang. Ia berkata, “Aku pengin belajar gimana jadi editor.” Ketika saya tanya lebih jelas, ia merasa meski sudah mengikuti mata kuliah Penyuntingan di kampus tercinta Universitas Indonesia, hingga saat ini ia masih buram tentang apa itu editor, syarat dan tugas-tugas editor, serta—yang ini paling penting—buku yang mengajarkan cara menjadi editor.

Ketika sedikit berbual-bual mengenai menjadi editor di media di hadapan mahasiswa dan karyawan UIN Syarif Hidayatullah pada sekitar Mei 2015, banyak peserta yang mengatakan bahwa editor itu adalah orang hebat karena mengoreksi semua tulisan. Wah, hidung saya jadi kembang-kempis mendengarnya. Namun supaya lebih jelas, tulisan ini bermaksud memaparkan apa itu penyunting, editor, penyuntingan, serta sedikit hal yang perlu diketahui perihal tugas editor, khususnya di media massa.

  1. Penyunting

Ada tiga istilah yang sering muncul dalam dunia penerbitan Indonesia, yaitu:

  • Penyunting
  • Redaktur –> dari bahasa Belanda
  • Editor –> dari bahasa Inggris

Definisi KBBI:

  • Penyunting adalah orang yang bertugas menyiapkan naskah siap cetak atau orang yang bertugas merencanakan dan mengarahkan penerbitan media (massa cetak).
  • Redaktur adalah orang yang menangani bidang redaksi. Redaksi bermakna badan (pada persuratkabaran dan sebagainya) yang memilih dan menyusun tulisan yang akan dimasukkan ke dalam surat kabar dan sebagainya.
  • Editor adalah orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya (termasuk media online).
  1. Apa itu editor?

Didefinisikan bahwa editor adalah orang yang mengatur, memperbaiki, merevisi, mengubah isi, dan gaya naskah orang lain, serta menyesuaikannya dengan suatu pola yang dibakukan untuk kemudian dibawa ke hadapan umum untuk diterbitkan atau ditayangkan.

Editor berfungsi menyampaikan “pesan” penulis kepada pembaca sehingga harus memiliki keterampilan berbahasa, pengetahuan berbahasa yang mencakup ejaan, diksi, maupun struktur, memiliki kepekaan dan pikiran yang terbuka terhadap persoalan berbahasa.

  1. Apa tugas editor?
  • Menetapkan naskah yang layak dan tidak layak.
  • Mengetahui jika perlu dilakukan perubahan atas naskah dan mengapa perubahan itu dilakukan.
  • Mencari kesalahan dan ketidakcermatan, membuang kalimat atau bahasa yang berlebihan.
  • Memeriksa kembali data dan fakta yang diungkapkan penulis.
  • Seringkali, menulis ulang dan menata kembali seluruh karangan.
  1. Syarat menjadi seorang editor
  • Rajin membuka kamus, tesaurus, dan buku pegangan.
  • Terampil berbahasa dan memahami pemakaian bahasa.
  • Memiliki pengetahuan dalam bidang komposisi bahasa.
  • Mengetahui kaidah bahasa agar paham bilamana kaidah bahasa itu dilanggar.
  • Berpengetahuan luas.
  • Teliti dan sabar.
  • Memiliki kemampuan menulis.

Seorang editor dalam sebuah media adalah pertahanan terakhir dari “wajah” naskah. Biasanya naskah akan dikirim dari seorang penulis atau reporter ke redaktur bidang masing-masing. Naskah berita politik akan dicek oleh seorang redaktur yang memang memahami dan mengawal isu-isu politik. Setelah itu, dalam kasus surat kabar atau majalah, naskah akan dikirim kepada editor bahasa untuk diperiksa kembali. Sementara di media online, naskah biasanya akan ditayangkan di situs karena sifat berita yang harus cepat “naik”. Namun naskah yang sudah tayang di kanal berita akan dicek kembali oleh editor bahasa apakah ada kesalahan fatal yang masih “lolos”.

Sebuah naskah berita maupun buku yang baik dan bersih dari kesalahan akan membawa nama dan implikasi baik kepada perusahaan atau media yang menayangkannya. Jika naskah itu buruk dan banyak typo, penerbit maupun media itu akan dicap sebagai tidak akurat dan tidak kompeten. Naskah yang penuh dengan bahasa yang buruk akan membuat malas pembaca untuk menengoknya—atau bahkan di media online—datang kembali.

Seperti yang sudah saya sebutkan, editor bahasa adalah gerbang pemeriksaan terakhir dalam proses penerbitan buku maupun berita di surat kabar maupun media online, karena itu peran seorang editor menjadi sedemikian penting. Seorang editor akan mengoreksi bila ada kesalahan nama gubernur atau wali kota yang disebutkan, kesalahan hari dan tanggal (ini sering sekali terjadi!), atau bahkan kalimat yang sedemikian rancu akibat begitu berbelit-belitnya.

Bagaimana dikatakan seorang editor itu berhasil melaksanakan tugasnya? Indikatornya gampang saja, yakni bila “apa yang saya maksudkan/omongkan bisa kamu terima dengan sama persis maksudnya.” Bagaimana caranya? Proses penyuntingan-lah yang membuat semua itu berhasil.

  1. Apa itu penyuntingan?

Penyuntingan berasal dari kata sunting. Penyuntingan menurut KBBI bermakna proses, cara, perbuatan sunting-menyunting, segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan menyunting, pengeditan.

Sementara kata menyunting bermakna (1) menyiapkan naskah siap cetak atau siap terbit dengan memerhatikan segi sistemika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat); mengedit; (2) merencanakan dan mengarahkan penerbitan (surat kabar, majalah); (3) menyusun atau merakit (film, pita rekaman) dengan cara memotong-motong dan memasang kembali.

  1. Buku pedoman pelaksanaan penyuntingan
  • Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia
  • Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia
  • Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko)
  • Buku Pintar Penyuntingan Naskah (Pamusuk Eneste)
  • Taktis Menyunting Naskah (Bambang Trim)
  • Berbagai buku pedoman yang dikeluarkan Pusat Bahasa
  • Kamus bahasa asing lainnya
  • Karya sastra (cerpen, novel, puisi). Saya merekomendasikannya untuk melatih kepekaan dan kelenturan berbahasa.

Semoga tulisan singkat ini mampu menjawab pertanyaan teman saya serta memberikan gambaran mengenai tugas dan cara menjadi seorang editor. Perihal teknis penyuntingan, gaya selingkung, serta kesalahan-kesalahan yang sering dan patut diwaspadai akan dijabarkan dalam tulisan berikutnya. Ya, mudah-mudahan saja itu tidak lama lagi.

 

Kirim Tanggapan