MH Thamrin, Intelektual Superkaya yang Kampungan

0
995
Sidang Volksraad dan MH Thamrin. Foto: KITLV dan koleksi Museum MH Thamrin.

Mohammad Hoesni Thamrin (selanjutnya disebut Thamrin) adalah pemikir sekaligus politikus yang berasal dari golongan superkaya, tetapi sangat kampungan. Thamrin yang lahir di Weltevreden, Batavia, pada 16 Februari 1894 berasal dari keluarga “gado-gado”. Thamrin lahir dari situasi hibrida masyarakat Betawi. Kakeknya, Tuan Ort, adalah lelaki berkebangsaan Inggris, yang menikah dengan neneknya Thamrin, Noeraini, seorang perempuan pribumi. Kakeknya pengusaha hotel di Petojo Enclek dan ayahnya, Tabri Thamrin, seorang wedana di bawah Gubernur Jenderal Cornelis van der Wick.

Dengan akarnya yang mestizo MH Thamrin menikmati pendidikan ala Eropa. Ia masuk dalam golongan borjuasi kota dan menyelesaikan sekolah di Koning Willem III School te Batavia. Berbeda dengan di Jawa di mana hanya anak wedana atau bupati atau priyayi saja yang bisa bersekolah, di Batavia selain dengan keturunan, hanya golongan konglomerat sajalah yang bisa memasuki institusi pendidikan cara Belanda.

Zen Hae, sastrawan Betawi, dalam suatu acara diskusi di Depok pada Minggu, 14 Februari 2016 mengatakan, “Dengan pendidikan berbahasa Belanda yang cukup dan karier yang baik, ia menjadi sosok orang Betawi pertama yang menempuh karier politik yang cemerlang.” Zen Hae mengutip Bob Hering yang menyebut Thamrin sebagai “satu-satunya orang Betawi modern yang berpendidikan tumbuh sampai ke puncak dengan mengandalkan jalan di dewan perwakilan.”

Dalam kesempatan yang sama, JJ Rizal menyebut Thamrin memilih bergerak, meninggalkan jaminan kenyamanannya sebagai orang superkaya Batavia dan keturunan Eropa. Thamrin memilih dan menjadi Betawi dan memperjuangkan kaum Betawi dengan kampungnya yang dirusak.

“Kita inget Thamrin, inget pembelaannya yang serius terhadap kaum Betawi, malah belom ada yang nandingin keseriusannya dari soal tanah orang Betawi yang diserobot, nasib kampung yang dihinakan, sampai urusan minyak tanah,” kata JJ Rizal.

Thamrin, yang diharapkan menjadi “si hitam berkulit putih”, justru keluar masuk kampung becek, mandi di Kali Ciliwung, dan bergaul bahkan tidur dengan kalangan jelata. Thamrin justru keluar dari cetakan Eropanya. Ia terutama menekankan pentingnya perbaikan jalan-jalan kampung dan sanitasi di Batavia pada masa itu. Thamrin terutama sangat kampungan karena keberpihakannya pada pribumi. Ia menghilangkan kesempatan bagi dirinya untuk jadi elite intelektual.

Marco Kusumawijaya, penasihat PBB untuk urusan perkotaan yang mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta, mengatakan Thamrin bersama Abu Bakar adalah orang pertama yang mengkritik soal pembebasan lahan di Menteng. Bahkan menurut Marco, “Thamrin adalah sumber belajar tentang tata kota.”

Thamrin dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Volkraad mewakili kaum inlanders (pribumi). Ide-idenya yang menunjukkan keberpihakan kepada wong cilik berkali-kali ditentang dan berlawanan dengan kebijakan politik kolonial Belanda. Ia telah menjalankan perannya sebagai pembela wong cilik, yang menurut JJ Rizal, “seperti si Kromo dalam tafsiran Mas Marco (Kartodikromo) atau Marhaen dalam tafsiran Sukarno.”

Di kemudian hari orientasi politik Thamrin meluas, bukan lagi provinsionalisme, tetapi nasionalisme: Indonesia merdeka. Thamrin mengatakan lemahnya pergerakan di Indonesia lantaran banyak orang tidak tahu apa yang menjadi kewajiban masing-masing. Thamrin juga menunjuk sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Snouck Hurgronje, yang mengemukakan bahwa pemerintah yang tidak mempedulikan aturan dan keberatan rakyat, pada suatu waktu mereka akan melakukan apa yang dirasa baik, sebab …. terpaksa.

Namun apakah prediksi MH Thamrin ini akan tepat? Situasi kematian obor seperti yang dikatakan Thamrin sudah patutnya diakhiri. Kampung yang dirusak dan digusur, sungai yang dibeton, teluk yang direklamasi, kesemuanya mengubur sejarah orang Betawi sebagai masyarakat sungai dan pesisir. Sudah sepatutnya kesewenang-wenangan dilawan, seperti Thamrin yang melawan dan akhirnya namanya diabadikan sebagai nama proyek perbaikan kampung di Jakarta yang selalu dia bela.