Pengantar Perjalanan Panjang

0
618

“Aku pergi, pulang ke rumah orang tuaku. Intan kubawa. Kau jagalah Damar baik-baik,” demikian isi surat pendek yang ditulis Marni, istriku. Surat itu diletakkannya di atas meja makan, di samping hidangan makan malam yang sudah disediakannya lengkap. Aku menghela napas. Damar memandangku heran. Sewaktu aku pulang, Damar dititipkan pada tetangga. Ibu tetangga tak berkata apa-apa, tapi pandangannya menuduh. Lapar, kubuka tudung saji di atas meja. Rupanya ikan kembung, tumis kangkung, dan sambal terasi. Marni baik betul, repot-repot membuatkanku makanan sebelum pergi. Kuhabiskan makanan itu sampai tandas. Damar menolak ketika kutawari. Entah dia sudah kenyang atau dia terlampau memikirkan ibunya yang malam itu tidak tidur bersama kami.

Esok bahkan esoknya lagi, aku tidak menjemput Marni ke rumah orang tuanya di Yogya. Marni telah pergi, meninggalkan aku dan anaknya. Dia begitu tega, maka tak ada alasan buatku merengek-rengek mengharapkan Marni pulang. Yang agak memedihkan hati adalah reaksi Damar. Dia tahu aku dan Marni bertengkar. Damar sudah besar, usianya 9 tahun. Dia bisa mencium ada masalah di antara orang tuanya. Namun Damar adalah anak yang baik dan selalu patuh. Dia menurut saja ketika setelah kuantarkan ke sekolah harus dijemput tukang ojek yang mangkal di ujung gang rumah kami. Kadang-kadang Damar kuajak pula ke kantor kalau kebetulan tak ada tetangga yang bisa kutitipi untuk mengasuhnya. Pada kawan-kawan yang bertanya, ku katakan terus terang bahwa Marni meninggalkan kami.

Pangkal persoalan pertengkaran kami sebenarnya sepele saja. Sampai saat ini aku bahkan tak mengerti kenapa Marni meributkannya, bahkan sampai memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Sebulan yang lalu, Marni membuka handphoneku. Di sana dia melihat fotoku sedang menggandeng seorang perempuan. Marni bertanya kepadaku. Dengan jujur kukatakan bahwa perempuan yang berfoto denganku adalah seorang rekan kerja. Marni mutung, marah, lantas menangis sejadi-jadinya. Dia menuduhku berbuat tak pantas, bahkan menyakiti hatinya. Aku naik darah mendengar tuduhannya. Dengan emosi kubalas perkataannya, bahwa aku tak peduli apa dia pikirkan karena memang tak ada yang terjadi. Seharusnya Marni malu berpikir seperti itu. “Seperti anak kecil saja!” Aku mencercanya. Marni menangis. Air mata mengalir di pipinya yang putih. Sejenak aku kasihan, tapi kemarahan menghalangiku untuk mendekat dan menghiburnya. Marni terus terisak sampai jauh malam. Bantalnya basah karena tangisnya yang tiada henti. Malam itu untuk pertama kalinya kami tidur terpisah ranjang. Pagi harinya kudapati matanya bengkak. Tak ada senyum di wajahnya saat menyiapkan sarapan. Rambutnya kusut masai. Aku mencium pipinya, Marni hanya diam saja. Pasrah, aku berangkat ke luar rumah. Aku masih punya tanggung jawab yang harus kuselesaikan, pikirku kala itu.

***

Aku dan Marni jatuh cinta sejak remaja. Kami berjumpa di surau Haji Jafar saat belajar mengaji. Kala itu diam-diam aku sering melirik Marni. Ia gadis tercantik di surau. Rambutnya sering terlihat di balik kerudung warna putih yang ia lilitkan di kepalanya. Ia gadis periang dan suka berkawan. Marni juga cerdas. Kala beberapa orang mencoba menggodanya, mengatakan ada salam untuknya dariku, ia menyunggingkan senyum.

“Marni, Marni, dapat salam dari Rustam. Wak Kaji, Wak Kaji, ada yang pacaran,” seperti itulah keributan setiap hari di surau.

Marni hanya tersenyum malu-malu. Wak Kaji tertawa lebar-lebar, memamerkan deretan gigi hitamnya. Setelah itu ia akan menyuruh kami diam dan memulai pelajarannya. Kemudian selepas Magrib kami akan mendaraskan pujian kepada Gusti Allah, salawat pada Kanjeng Nabi, dan melafalkan Juz’amma, dari Al-Ikhlas sampai Al-Asr.

Selepas mempersunting Marni, aku membawanya ke Ibu Kota, mencoba peruntungan sebagai perantau. Orang tua Marni tampak sedih melepas kami. Maklum Marni adalah anak mereka satu-satunya. Hanya Marni permata yang menghiasi hari-hari mereka. Marni juga tampak berat meninggalkan orang tuanya yang mulai uzur. Tapi ia memang pandai melipat perasaannya. Dengan tabah ia mendampingiku selama sepuluh tahun, sampai lahir kedua anak kami, Damar dan Intan.

***

Marni agak berubah sejak menemukan foto itu. Dia jadi semakin pendiam. Aku sampai kehabisan akal harus bagaimana lagi memberi pengertian pada Marni. Setengah jengkel aku mengajak bicara Marni yang sedang menyuapi Intan di halaman.

“Kalau kau tidak percaya apa yang kukatakan, datang saja ke kantorku. Silakan tanyai semua orang di sana. Itu hakmu, aku tak akan menghalangi.”

“Itu bukan urusanku,” jawab Marni pendek. Ia lantas masuk ke dalam.

“Marni!” Aku mengejarnya. “Apa kau pikir aku akan berbuat semacam itu. Tidak pernah, Marni. Berpikir sedikit pun tidak pernah. Justru aku heran kalau ada orang yang selingkuh. Apa tidak punya pikiran!”

“Nah,” sahut Marni.

“Nah, bagaimana? Aku kan masih punya tanggung jawab. Itu juga foto di kantor, bukan di tempat lain. Di sana juga banyak orang-orang. Semuanya banyak yang melihat. Coba pikir Marni, kalau aku memang berniat jelek, tentu sudah kuhapus foto itu. Foto itu sudah seminggu ada di sana.”

“Lantas, kenapa Mas sengaja berfoto seperti itu? Menyakiti perasaanku saja!”

Aku bingung, pusing. Marni menangis lagi.

***

Pertengkaran itu ternyata membawa efek lain dalam kehidupan rumah tangga kami. Marni tidak bersedia melayaniku. Tentu ini masalah besar bagi laki-laki yang kebutuhan biologisnya terus berjalan. Seribu satu macam cara kupakai agar Marni mau berbaikan, tapi semuanya gagal.

Permasalahan semakin pelik karena aku lupa hari ulang tahun Marni. Sejak dulu aku memang payah mengingat tanggal-tanggal. Biasanya Marni dengan senang hati mengingatkan kapan ulang tahunnya tiba. Setelah itu aku akan menanyai dia, kado apa yang dia mau dan Marni akan menyebut satu atau bahkan beberapa benda yang inginkan. Begitu kado kuberikan, Marni akan tersenyum lebar sekali dan bersikap sangat baik.

“Mas memang tak sayang sama aku,” ucap Marni malam itu ketika aku sedang menonton televisi.

Aku menoleh tak mengerti.

“Mas lupa ulang tahunku. Mas bahkan tak membelikan kado. Kalau Mas sayang, tentu Mas sudah menyiapkan kado untukku.”

Aku menepuk jidatku, “Maaf ya. Sejak dulu kau tahu aku tak terbiasa dengan perayaan ulang tahun dan semacamnya.”

“Aku rasa Mas juga akhir-akhir ini berubah,” Marni melanjutkan bicaranya.

“Mas suka berdandan. Kalau mau berangkat kerja, Mas berkaca lama sekali. Mas sekarang memakai parfum. Mas juga makin perlente, suka membeli pakaian baru.”

Aku terdiam, mendengarkan analisis Marni yang tak aku mengerti seluruhnya.

“Sudah sejak lama aku curiga, perasaanku tak enak. Ternyata benar Mas sekarang genit.” Marni terdiam sebelum bicara dengan hati-hati. “Kenapa Mas? Apa Mas sudah tak cinta sama aku? Apa aku sudah tak cantik lagi di mata Mas?”

“Marni, bicara apa sih kau ini? Tumben-tumbenan kau cemburu begini. Dulu-dulu kau tidak pernah marah,” ujarku heran.

“Kita sudah punya dua anak, Marni. Tak mungkin aku berbuat macam-macam.”

Marni cemberut, memonyongkan bibirnya. Aku mendekat hendak memeluk Marni, tapi ia menolak didekati. Aku tak meladeni. Kupikir masalah ini akan segera selesai. Besok tentulah keadaan hati Marni membaik. Tapi rupanya aku salah besar. Sore itu justru kudapati surat dari Marni, mengabarkan kepergiannya. Sungguh aku tak mengerti jalan pikiran Marni.

***

Keadaan rumah berubah sepeninggal Marni. Tanaman-tanaman di halaman rumah meranggas karena tak ada lagi yang rutin menyiramnya. Sudut-sudut rumah makin berdebu karena tak ada yang rutin membersihkannya. Banyak perabotan pecah karena aku tak cakap mempergunakannya. Tapi di atas itu semua, yang paling penting adalah rumah ini kehilangan sinar mataharinya. Rumah yang tadinya berkesan hangat dan ceria berubah menjadi dingin dan suram. Tak ada lagi suasana menyenangkan di dalam rumah sekuat apa pun aku mencobanya. Hilangnya senyum Marni dan tawa manis Intan adalah salah satu penyebabnya. Yang paling kasihan adalah Damar. Ia tampak betul merindukan ibu dan adiknya.

“Kapan Ibu akan pulang?” tanya Damar suatu malam.

“Pasti sebentar lagi,” Aku menyahut tak yakin.

“Ibu pergi naik bus, ya?”

“Hmmm, iya.”

“Ayah tahu Ibu pergi ke mana?”

“Sebentar lagi Ibu pasti pulang,” ujarku menegaskan.

Damar hanya terdiam mendengar ucapanku. Malam itu, dalam tidurnya Damar mengigau, memanggil-manggil nama Marni. Aku terbangun mendengar igauannya, lalu mencium keningnya. Tiba-tiba dadaku terasa sesak.

***

Sepuluh hari setelah kepergian Marni, datang telepon dari Yogyakarta. Mertuaku, Bapak Benu dan Ibu Nyai—demikian aku biasa memanggilnya—menelepon. Mereka mengabarkan bahwa Marni ada di rumah mereka.

“Nak Rustam, datanglah ke sini, jemput Marni.”

Nyuwun pangapura, Bapak. Aku tidak pernah menyuruh Marni pulang. Biarlah Marni yang kembali ke Jakarta.”

Di ujung telepon terdengar suara Pak Benu menghela napas.

“Nak Rustam, Bapak tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Marni tidak mau bercerita apa-apa. Tapi Nak Rustam, tolonglah, putri Bapak cuma Marni seorang. Bapak sudah menyerahkan Marni pada Nak Rustam, jangan sakiti Marni,” ujar mertuaku itu sungguh-sungguh.

Tak berapa lama telepon diserahkan pada Ibu Nyai.

“Nak Rustam, kalau Nak Rustam tak ke sini segera, Ibu sungguh khawatir dengan Marni. Setiap hari ia hanya terdiam saja. Datanglah Nak Rustam, jemput Marni.”

Aku tahu tak lama lagi mertuaku pasti akan menangis. Ia sungguh orang yang sangat perasa. Aku menyanggupi akan datang ke sana, tapi aku minta bisa bicara dulu dengan Marni. Mertuaku berkilah Marni tidak ada di rumah karena sedang berkunjung ke seorang kerabat. Setelah mendapatkan janjiku, mereka minta bicara dengan Damar. Kualihkan telepon ke Damar. Raut wajahnya berubah. Tentu dia senang, akhirnya dia tahu kini ibunya ada di mana.

“Kapan kita akan menjemput Ibu dan Dek Intan?” tanya Damar sebelum tidur.

Aku mengembuskan napas panjang. Saat ini aku tak punya jawaban atas pertanyaan Damar. Kulantunkan kidung Dhandanggula yang dulu sering dinyanyikan orang tuaku sebagai pengantar tidur. Aku tak pandai mendongeng seperti Marni. Lama-kelamaan, Damar tertidur juga di sampingku.

***

Di pinggiran Kota Yogyakarta, di bawah pohon jati yang rindang, Marni duduk sambil menekuk kakinya. Ia memangku Intan yang masih berusia satu tahun. Marni memotong setangkai bunga melati yang tumbuh di bawah jendela kamarnya di rumah orang tuanya. Satu per satu dicabutnya kelopak bunga itu. “Datang, tidak, datang, tidak, datang, tidak.” Marni seolah-olah menyerahkan nasibnya pada ramalan kelopak bunga. Sudah dua puluh hari Marni menunggu Rustam datang menjemputnya.

Di dalam bus, Rustam tak bisa tidur. Ia memandangi Damar yang masih pulas di sampingnya. Meski agak kurang nyaman, Damar mampu tidur meringkuk di kursinya. Sementara Rustam tak sekejap pun sanggup memejamkan mata. Rustam membayangkan wajah Marni. Di depan, matahari mulai memancarkan sinar keemasan. Sang surya akan segera memulai tugasnya. Dari dalam bus, Rustam melihat kesibukan untuk menyambut datangnya hari. Para penjual makanan yang bersepeda, orang-orang yang baru pulang salat Subuh dari masjid, dan empunya toko yang sedang menyiapkan dagangan mereka. Rustam datang untuk menjemput Marni.

Jakarta, 4 Mei 2015

Kirim Tanggapan