Catatan dari Workshop Cerpen Kompas

0
952

Oleh-oleh Workshop Cerpen Kompas Bersama SGA dan Linda Christanty

Selasa-Rabu, 9-10 Juni 2015

bersama sapardi

Rasanya tak percaya saat pagi itu, 26 Mei, sebuah e-mail masuk dari Kompas, mengabarkan bahwa saya terpilih menjadi 1 dari 28 peserta yang akan mengikuti workshop cerpen. Di Jakarta sendiri, pelatihan ini diampu oleh dua narahubung, yakni Seno Gumira Ajidarma dan Linda Christanty. Saya gembira tak terperi sebab saya sebenarnya baru belajar menulis cerpen. Pada Mei 2015, saya mengikuti Kelas Menulis Fiksi Tempo Institute yang diampu Leila S. Chudori. Cerpen yang saya buat di kelas itu menjadi satu dari dua cerpen yang saya kirimkan sebagai syarat untuk mengikuti workshop. Baiklah saya tuliskan bekal yang saya dapat dalam dua hari workshop yang sangat berkesan itu.

Sesi pertama dibuka oleh Linda Christanty. Pada awal presentasinya, penulis cerpen “Kuda Terbang Mario Pinto” ini menggali dari mana para peserta mendapat inspirasi untuk menulis cerpen. Jawaban para peserta ternyata bermacam-macam. Ada yang mendapat inspirasi berdasarkan obrolan dengan teman, dari mengamati, kegalauan penulis, berdasarkan karya orang lain, membaca berita, atau tentang budaya di sekitar. Dari sini saya sudah merasa jiper karena kelihatan bahwa sebagian besar para peserta workshop sudah terbiasa menulis cerpen. Setelah itu, Linda memaparkan bahwa ada lima struktur utama bangunan cerpen, yakni:

  1. Tokoh atau karakter, detail pada karakter tak boleh mubazir
  2. Konflik, konflik bisa juga hal yang bersifat batin
  3. Kompleksitas (perumitan), detil harus diperhatikan
  4. Krisis
  5. Perubahan/situasi akhir (klimaks/antiklimaks)

Menurut Linda, menulis fiksi adalah BERUSAHA MENYAKINKAN PEMBACA TENTANG KEBOHONGAN KITA. Ia juga menekankan bahwa cara menulis tidak boleh rumit, tetapi cerita yang dihadapi para tokoh boleh rumit dan tidak sederhana. Cerita yang baik, menurut Linda, adalah cerita yang ketika orang membacanya, meski tidak seluruhnya, adalah seperti menemukan dirinya sendiri.

Setelah itu, Linda juga memberikan tip untuk membangun karakter—ini adalah pertanyaan dari saya sebab saya selalu kesulitan membuat karakter. Pada bagian ini ada kesamaan dengan cara Leila menggambarkan karakter—yang tidak mungkin diberikan pikiran yang lahir dari orang lain.

  1. Tentukan siapa yang mau kita tulis. Apa orang Jawa, bagaimana kebiasaannya, cara berpikirnya, makanan yang disukainya .
  2. Apakah kita punya model untuk tokoh kita.
  3. Linda menekankan bahwa manusia tidak hitam-putih, tapi punya sisi gelap yang berlapis-lapis.
  4. Kalau tidak yakin dengan tokoh kita, lakukanlah riset. Misalnya, bagaimana cara melukiskan orang Sumatera dan cara berpikirnya.
  5. Kalau bisa, ciptakanlah tokoh-tokoh baru, seperti dalam karya Shakespeare, yang memperlihatkan lapisan-lapisan hubungan dalam manusia dengan orang lain. (Duh, saya enggak baca Shakespeare, jadi kurang paham maksud ini).

Pada bagian akhir presentasi, Linda memaparkan cara membuat ending. Ini adalah momok bagi sebagian penulis. Bahkan, seorang kawan mengaku bila bingung dengan ending, dia lebih suka mematikan tokoh-tokohnya. Caranya, ujar Linda, berikan petunjuk sedikit demi sedikit. Kalau kata SGA, setiap kata dalam cerpen harus punya makna. Duh, berat.

Sesi kedua adalah sesi bersama Seno Gumira Ajidarma. Saya sangat senang melihat penulis “Senja untuk Pacarku” ini berdiri di depan kami, para peserta workshop. Malah, saking noraknya, saya langsung memfoto SGA dan mengunggahnya di grup alumnus IKSI 2003. Maaf ya, teman-teman J

Seno membuka presentasi dengan membacakan sebuah cerita pendek karya Rendra. Menurut dia, dari cerpen Rendra itulah dia belajar membuat cerpen, bahwa cerpen adalah sebuah suasana, yang lantas menjadi alur. Seno menekankan bahwa setiap kata harus ada alasan untuk keluar, bahwa dalam cerpen harus ada sesuatu yang mengaduk-aduk perasaan atau mengacaukan perasaan. Nah, caranya bagaimana? Salah satunya adalah dengan memasukkan IRONI. Jangan hanya melihat secara hitam-putih. Kepekaan terhadap ironi bisa digali dengan rajin memperhatikan kondisi sehari-hari. Sebab, menurut Seno, semua hal yang kita lihat sehari-hari bisa memberi ide.

Seno mengibaratkan orang belajar membuat cerpen seperti orang mendaki gunung. Kali pertama sampai kali kelima, orang naik gunung dengan pemandu, melalui jalur resmi. Kali kesepuluh sampai kedua puluh, mulai dicari jalur alternatif, sampai akhirnya lama-kelamaan mampu naik gunung sendiri. Salah satu modal menulis cerpen adalah banyak membaca buku, apa saja, tidak perlu fiksi dan rajin menulis. Dengan demikian, lama-kelamaan, menulis cerpen tidak perlu teori macam-macam, langsung mengalir saja, sudah bisa sendiri. (Oh, tunggu aku baru bikin empat cerpen, berarti masih lama sampai bisa tahu-tahu jadi, ha-ha-ha).

Seno berpesan, jadilah penulis yang merdeka, atau kata Linda, penulis bukan nabi. Maka, menggurui adalah hal yang sangat terlarang, sebab sastra yang baik menyampaikan sesuatu secara implisit. Memang sih dalam cerpen sadar tidak sadar penulis akan berpihak, tapi caranya adalah tidak verbal. Nah, apa kriteria cerpen yang bagus menurut Seno? Yakni karya yang dibicarakan orang. Karya yang mungkin sebagian orang bilang bagus, tapi sebagian lagi bilang jelek atau malah tidak mengerti sama-sekali. Maka, estetika penulis jadi penting, yakni estetika yang didapat dari pergulatan hidup. Selain itu, bebaslah dalam bersastra sebab SASTRA ADALAH PEMBEBASAN DARI CARA BERBAHASA.

Satu lagi yang ditekankan oleh kedua narahubung adalah karya sastra yang baik tidak perlu menjelas-jelaskan kepada pembaca. Gambarkan saja melalui narasi, tingkah laku, dialog. Jangan menganggap pembaca bodoh karena fiksi selalu memberikan ruang untuk berintrepretasi. Atau kalau istilah di Tempo, show it do not tell it. Misalnya, bikin cerita cinta tanpa ada satu pun kata cinta di dalamnya.

Setelah keduanya memberikan ceramah sendiri-sendiri, mereka berdua duet membahas cerpen para peserta. Untungnya (atau sialnya) cerpen saya enggak dibahas. Hanya Seno memuji judul cerpen saya yang menurut dia menjual. Judul boleh sederhana, kata Seno, tapi isi jangan sederhana. Pada bagian ini Linda mengaku selalu bermasalah dengan judul. Maka itu, ujarnya, cerpen-cerpen saya selalu judulnya kalau tidak seekor anjing, ya seekor burung (buku terbaru Linda berjudul Seekor Burung Biru di Naha).

Sesi terakhir, pada bagian tanya jawab, saya bertanya bagaimana caranya untuk terus menulis, bagaimana mendapatkan ide, dan inilah jawaban dua sastrawan itu:

  1. Selalu ada buku dalam tas, selalu ada yang dibawa.
  2. Kalau tidak sempat menulis, membacalah, baik fiksi maupun non-fiksi.
  3. Jika punya pemikiran terhadap satu hal, tulis saja, sebab melatih ketajaman menulis.
  4. Disiplin, usahakan punya waktu setiap hari untuk menulis meski hanya beberapa paragraf.
  5. Kuncinya adalag antusiasme. Ketahui minat dan fokuslah.
  6. Catat peristiwa dan berita-berita yang sekiranya bisa jadi ide cerita, simpan dalam buku atau folder khusus.
  7. Punya batas untuk diri sendiri dalam mengerjakan tulisan.

Nah, bincang-bincang berlangsung sangat seru, diselingi dua kali coffe break dan makan siang yang lezat. Setelah peserta puas bertanya, saatnya foto-foto, ha-ha-ha. Untuk sesi keesokan harinya, kami diberi tugas oleh Putu Fajar Arcana alias Bli Can untuk mengobservasi lingkungan sekitar. Tapi saya ceritakan lain waktu saja ya sebab kisahnya akan panjang. Oh iya, asyiknya setelah sesi hari kedua, para peserta workshop juga diundang hadir ke peluncuran Cerpen Terbaik Kompas 2014 di Bentara Budaya Jakarta. Malam itu kami satu ruangan dengan para cerpenis yang masuk dalam kompilasi cerpen terbaik: Yanusa Nugroho, Danarto, Budi Darma, SDD, Faisal Oddang, Guntur Alam, Anggun Prameswari, Afrizal Malna, Made Adyana Ole hanya sedikit di antaranya. Terima kasih Kompas, mudah-mudahan hasil dari dua hari itu ada dari kami yang bisa mentas sebagai cerpenis Kompas ya, seperti Anggun Prameswari yang juga alumnus workshop Kompas. Syukur-syukur tahun depan ada alumnus yang ikut mejeng di panggung dan ditahbiskan sebagai cerpenis, wooo… Saya, ah, apalah saya, baca buku saja lama betul.

Berikut foto-foto kegiatan dua hari workshop cerpen Kompas 2015. Maafkan kalau agak sedikit narsis.

Kirim Tanggapan