Kisah dari Pejambon

0
750

Suara azan Magrib sudah lama usai tatkala Sakinah menyusuri jalan setapak menuju rumahnya di Gang Murtadho di bilangan Matraman, Jakarta Pusat. Senja hampir digantikan oleh malam yang pekat. Jalanan tampak sepi. Rata-rata pada jam segitu masyarakat Murtadho sedang sibuk mengaji atau berzikir, sambil menunggu datangnya Isya. Sakinah melangkahkan kakinya cepat-cepat. Ia belum sembahyang Magrib. Kepulangannya hari itu sedikit terlambat akibat diskusinya dengan teman-teman BEM di kampus. Sakinah mahasiswi semester akhir Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sebagai mahasiswi di kampus penyandang nama negara, Sakinah merasa perlu ikut serta mengawal jalannya pemerintahan yang pada hari-hari itu tampak makin mengkhawatirkan.

Assalamu alaikum,” Sakinah menyeru di depan rumahnya.

Waalaikum salam,” jawab Abdul Rois bin Murtadho. Ia yang sedang mengajar anak-anak mengaji di teras rumahnya yang luas mendongak demi mendengar salam putri bungsunya. Matanya tajam menatap Sakinah, yang lantas buru-buru masuk ke dalam rumah sebelum mendapatkan omelan dari ayahnya itu.

“Inah belum sembahyang, Mak,” ujar Sakinah kala bertemu Siti Aminah, ibunya, di dalam rumah. Aminah hanya mengangguk, lantas segera ke luar rumah untuk membantu suaminya. Anak-anak memang kerap berisik, pun kalau sedang mengaji. Tak jarang ada yang berkelahi. Rois agak kurang sabar kalau begitu, sehingga Aminah harus turun tangan. Nasab para ulama memang mengalir kental dalam darahnya, ditambah suaminya juga keturunan Hadramaut di Pekojan.

Sementara Aminah mengajari anak-anak membaca huruf Hijaiyah, Sakinah menunaikan kewajibannya yang tertunda pada Sang Khalik. Setelah tunai tiga rakaat, barulah ia merasa tenang. Namun Sakinah tak merasa aman. Sakinah tahu cepat atau lambat ayahnya akan mengajaknya bicara. Sebab, kemarin ia sudah melihat Wak Sani datang berkunjung. Sakinah merasa cemas. Ia tak mau buru-buru mengikuti jejak Fatimah, kakaknya, yang kini tinggal di Pejambon bersama suami dan anak-anaknya.

Gang Murtadho, seperti namanya, ditinggali keturunan dari Haji Murtadho–seorang penguasa tanah dan pemilik lahan di sekitar Pasar Pramuka. Keturunannya bertebaran di gang selebar tiga meter itu. Aminah adalah keturunan Murtadho. Ibunya berasal dari Bogor dan bapaknya masih bersaudara dengan Habib Ali yang saban Minggu mengadakan pengajian di Kwitang. Aminah empat bersaudara dan semuanya perempuan. Semua saudaranya dinikahkan pada usia muda, termasuk Aminah. Ia hanya sempat lulus Aliyah sebelum akhirnya naik pelaminan dengan Rois. Aminah dan Rois dijodohkan orang tua, tapi untunglah mereka memang saling mencintai. Kala itu para orang tua memang sepakat menjodohkan anak-anak mereka dengan saudara atau sepupu jauh agar tidak “mati obor”. Karena itu, di keluarga Aminah dan Rois, kalau diurut-urut keturunannya, pasti ada garis dari Haji Murtadho.

Kebiasaan saling menjodohkan di antara anak-anak memang masih dianut oleh para orang tua di Gang Murtadho. Mereka umumnya berpendapat wajib memilihkan jodoh terbaik bagi anak perempuan mereka. Ada kalanya suatu lamaran dari seorang laki-laki diterima tanpa berkewajiban menanyakan pada pendapat si perempuan. Lamaran itu bisa datang langsung dari keluarga laki-laki yang bersangkutan, atau melalui jasa seorang comblang, dalam hal ini Wak Sani.

“Nah, sini duduk deket Babe,” Rois memanggil putrinya.

“Saye, Be,”jawab Sakinah, lantas menjatuhkan badannya di bangku sebelah Rois.

“Nah, kemarin Wak Sani dateng ke sini,” ucap Rois memulai percakapan.

Sakinah menahan napas. “Iya, Be.”

“Inah kira-kira tahu apa maksud Wak Sani ke sini,” ucap Aminah ikut bicara.

Aminah menggeleng. Hatinya cemas.

“Wak Sani lagi cari jodoh untuk Lutfi, anaknya Haji Zainuddin dari Kuningan, yang punya pabrik susu di sana. Si Lutfi lulusan perguruan Al-Mughni, ngajinya bagus ame solatnya rajin,” ucap Rois.

“Pegimane? ” Aminah bertanya hati-hati.

“Inah masih mau sekolah, Mak.”

“Sekolah kan bisa disambi, Nah,” ucap Rois, mulai tak sabar.

“Pokoknya Inah mau sekolah sampe selesai. Inah enggak mau kayak Mpok Fatimah.” Sakinah berdiri, hendak melarikan diri dari situasi yang akan semakin menyulitkan dirinya.

Aminah memegang bahu Rois, menahan suaminya untuk ikut-ikutan berdiri. “Lu tahu kan pamali menolak lamaran orang. Bagaimana kalau nanti lu jodohnya seret?” ucapan Rois terdengar samar-samar di telinga Sakinah yang sudah kabur secepat kilat menuju kamarnya.

***

Fatimah Azzahra adalah anak pertama Rois dan Aminah, satu-satunya kakak yang dipunyai Sakinah. Antara keduanya terpaut 5 tahun. Ketika berusia 21 tahun, Fatimah diminta oleh keluarga terpandang dari Pejambon. Lamaran datang melalui perantaraan Wak Sani. Segera setelah Fatimah menikah dan tinggal di rumah suaminya, Sakinah merasa kesepian. Kini tak ada lagi temannya bercakap-cakap sambil mengepang rambut, mencari petai Cina di kebun-kebun tetangga, atau mengaji seusai Subuh. Namun yang lebih disayangkan Sakinah adalah terhentinya kuliah kakaknya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Soal ini Fatimah sendiri tampaknya tak ambil pusing. Ia sudah merasa cukup puas menjadi ibu dari dua anak laki-laki bernama Irsyad dan Zulfikar.

“Sakinah, kamu melamun ya?” tegur Bu Maria di ruang kelas. Maria Carolina adalah dosen Neurologi yang terkenal galak. “Kamu dengar tidak apa yang saya bicarakan barusan?”

Sakinah tergeragap, ia menggeleng.

“Setelah selesai kelas kamu menghadap saya dulu, ya.”

Kelas dibubarkan. Sakinah masih terdiam di bangkunya, menerka-nerka hukuman apa yang akan ia terima. Pada awal perkuliahan, hubungan Sakinah dengan dosen keturunan Tionghoa ini tidak harmonis. Sakinah merasa dilecehkan begitu dosen berperawakan mungil itu mengetahui bahwa dirinya orang Betawi.

“Lho, ada ya perempuan Betawi yang sekolah tinggi,” begitu ucapan Maria kala itu. Hati Sakinah pedih. Ia ingin berteriak, tapi ditahannya demi rasa hormat pada sang dosen.

Lama-kelamaan Sakinah merasa Maria menaruh perhatian khusus padanya. Sakinah sering ditanyai tentang kebiasaan-kebiasaan orang tuanya, cara hidup dan budaya sehari-hari, atau tetek bengek lainnya. Maria seringkali takjub kala Sakinah memperlihatkan kepintaran dalam mata kuliah yang diampunya. Keadaan semacam ini seringkali membuat Sakinah merasa dongkol.

Tiba-tiba suasana di luar ruang kuliah ricuh. Hari itu, 14 Mei 1998, cuaca terasa amat terik. Para mahasiswa berteriak. Maria menoleh ke luar kelas, tampak cemas. Situasi memang sedang tegang. Krisis ekonomi membuat pemerintahan goyah. Banyak yang tidak puas terhadap kerja Presiden Soeharto. Para mahasiswa turun ke jalan, menggelar aksi menuntut Soeharto mundur.

Maria mencegat seorang mahasiswa yang berlari di luar ruang kelas. “Ada apa?” ia bertanya.

“Mahasiswa Trisakti ditembak, Bu. Mati. Lebih baik Ibu segera pulang,” ucap si mahasiswa.

Maria terkejut. Di wajahnya terpeta kebingungan.

Sakinah mendekati Maria. “Mari, Bu, saya antar ke rumah kakak saya. Keadaan begini Ibu pasti susah pulang,” ujarnya.

Sakinah tidak tahu dari mana ia mendapatkan keberanian . Ia hanya tahu ia pasti selamat, sedangkan dosennya dalam bahaya karena merupakan minoritas. Dimintanya si mahasiswa tadi mencari bajaj. Dalam waktu 15 menit, entah bagaimana caranya, bajaj tersedia di samping kampus Salemba. Dari kejauhan Sakinah melihat para mahasiswa sedang membakar ban di tengah jalan. Bendera organisasi kampus dikibarkan setinggi mungkin ke udara. Terik matahari terasa menyengat di ubun-ubun. Sakinah mengikatkan kerudungnya ke belakang. Ia mendorong Maria masuk ke dalam bajaj.

“Ibu di dalam saja, biar tidak kelihatan. Saya tidak apa-apa di luar,” ujarnya.

“Ke Pejambon, Bang,” ucap Sakinah pada sopir bajaj.

Sang sopir langsung menginjak gas, melaju ke Pejambon secepat yang bisa dilakukan kendaraan beroda tiga tersebut.

Di ujung jalan, lagi-lagi ada pembakaran. Jalan ditutup. Orang-orang berteriak menuju bajaj yang ditumpangi Sakinah. Maria ketakutan. Sakinah berteriak, “Putar, Bang. Balik-balik.”

Akhirnya, setelah melewati gang-gang kecil, mereka sampai di Pejambon, di depan sebuah rumah mungil bercat putih dengan halaman luas. Di balik tirai, Fatimah melihat dengan curiga pada bajaj itu. Namun tatkala dilihatnya sang adik turun, Fatimah langsung berlari menyambut. Ia tak bertanya lebih jauh kala melihat sang adik menggamit seorang perempuan bermata sipit. Diajaknya mereka segera ke dalam rumah.

“Mpok, kami nginep ya malam ini. Ini dosenku, Ibu Maria,” ujar Sakinah.

Fatimah mengangguk. Ia bersikap tenang dan cekatan. Ditunjukkannya kamar tamu, tempat Maria bisa berganti baju dan beristirahat.

“Kenalin, saye Fatimah, kakaknya Sakinah. Malam ini Ibu tidur di sini aja. Tenang-tenang dulu,” ujarnya.

Malam akhirnya tiba setelah siang yang terasa panjang. Malam itu terasa lebih sepi dibanding malam-malam yang lalu. Orang-orang tak berani keluar. Keheningan yang timbul itu merindingkan bulu kuduk. Maria duduk terpekur dalam baju kebesaran yang dipinjami tuan rumah. Sakinah sibuk berzikir dalam balutan mukena. Wajahnya yang serius karena tenggelam dalam mantra magis mengesankan kecantikan yang paripurna. Bibirnya yang tipis komat-kamit mengulang pujian kepada Tuhan. Di kamar sebelah, sayup-sayup terdengar suara Fatimah mendongengkan Hikayat Seribu Satu Malam untuk kedua anaknya. Tak ada laki-laki di rumah itu. Subhan, suami Fatimah, belum juga pulang karena tidak ada kendaraan umum yang berani mengangkut penumpang.

Tiba-tiba terdengar suara diketuk. Tiga kali, keras dan cepat. Maria dan Sakinah berpandangan. Sakinah memberi kode pada Maria untuk bersembunyi di kamar. Sakinah membuka sedikit gorden. Tampak seorang laki-laki gagah berhidung mancung dengan alis tebal di depan pintu. Sakinah waspada. Ia hendak bersembunyi, tapi tak jadi demi mendengar ucapan salam pria itu.

Dan, laki-laki itu kini berdiri di depannya. Jarak di antara mereka hanya satu langkah. Sakinah diam, mematung. Laki-laki itu berkata ramah, “Saye Lutfi Ishak, disuruh Babe Rois ke sini.”

Fatimah tiba-tiba datang menyela, “Siape?”

Fatimah tersenyum begitu mengetahui siapa tamu yang datang. Disenggolnya sikut Sakinah.

“Tamu dibiarin aje di luar.”

Sakinah tersadar, lantas memiringkan tubuhnya, memberi jalan kepada Lutfi untuk masuk ke dalam rumah. Sakinah segera melepas mukenanya, kemudian membuatkan teh pahit. Tak lama datanglah Subhan, yang ternyata pulang dengan berjalan kaki.

Malam itu mereka sulit tidur, waspada dengan kondisi sekitar. Para lelaki berjaga di ruang tengah, sambil sesekali melihat ke luar. “Untung Babe mengirim Lufti ke sini,” kata Fatimah sebelum naik ke ranjangnya. Sakinah ingin menyahut, tapi diurungkannya. Ya, untung Babe mengirim Lutfi ke sini, bisiknya dalam hati.

***

Keesokan harinya, Lufti memutuskan mengantar Maria pulang ke Klender. Ia berhasil mendapatkan motor yang entah dipinjamnya dari siapa. Sakinah memeluk dosennya.

“Hati-hati, Ibu,” ucapnya sebelum melepas Maria pergi. Motor melaju kencang. Sosok pengemudi dan penumpangnya yang berhelm hitam cepat hilang dari pandangan.

Dalam suasana pagi yang khidmat, dengan sinar matahari yang melimpah, Sakinah seakan lupa pada keadaan genting yang terjadi kemarin. Ia mengingat kembali kata-kata Lutfi tadi. Kata-kata yang membuat hatinya terasa hangat sekaligus gamang. Di depan, keadaan negara sepertinya akan lama suram.

 

Kirim Tanggapan