Kisah Si Entong dan Biji Beton

0
7374

“Tong, tong,” suara Ibu Mahmudah terdengar ke seantero lapangan.

Entong, yang nama aslinya Amin, segera mendongak begitu mendengar suara ibunya memanggil.

“Buruan pulang dah, Tong. Dipanggil Babe,” ucap Ibu Mahmudah begitu mendapati anaknya.

Entong yang sedang bermain gundu dengan kawan-kawannya segera berdiri mengiringi ibunya. Mereka terburu-buru pulang. Hati Entong cemas sebab sudah satu minggu bapaknya terbaring sakit di rumah. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk tengah menantinya.

Entong adalah anak yang berwajah rupawan. Kulitnya bersih, hidungnya bangir, dan bibirnya bagaikan buah kenari. Rambutnya hitam berkilau dan matanya selalu bercahaya. Seringkali orang mengatakan bagaimana mungkin Sulaiman, yang dikenal sebagai raja tega, memiliki anak yang begitu tampan macam si Entong.

Julukan raja tega melekat pada Sulaiman alias Maman bukannya tanpa sebab. Semasa muda, Bang Maman adalah jawara tangguh. Sayang kemampuannya itu tidak disalurkan kepada hal-hal yang baik.Bang Maman justru menjadi tukang rampok dan begal yang meresahkan warga kampung. Jika ada musuh yang berani menantang, ia tak ragu-ragu mengayunkan celuritnya. Meski Mahmudah tak bosan-bosan mengingatkan suaminya itu, Bang Maman selalu tutup kuping. Sampai akhirnya di akhir hidupnya, jelang sakaratul maut, Bang Maman ingin bertaubat.

Kala melihat laki-laki separuh baya itu terbaring payah, Entong menempelkan tangannya di pipi sang bapak. Bang Maman membuka matanya, lantas membisikkan wasiat. Mahmudah memegang tangan suaminya. Namun, malaikat maut tak mau menunggu. Usai membisikkan wasiat, Mata Bang Maman terpejam pelan-pelan. Mahmudah menangis tersedu-sedu. Entong hanya terpaku. Tak sedikit pun air mata menetes di pipinya. Seperti anak-anak kecil lainnya, dia belum paham benar arti kematian.

***

Satu minggu setelah Bang Maman wafat, Entong dan ibunya sudah berdiri di muka rumah Guru Rojali. Sesuai wasiat, Entong dititipkan pada Guru Rojali untuk belajar mengaji dan ilmu agama. Umur Entong dianggap sudah cukup untuk belajar, yakni 7 tahun. Terpilihnya Guru Rojali juga bukan tanpa sebab. Guru Rojali adalah guru yang kesohor di kampung itu. Banyak muridnya datang dari mana-mana.

Saat melihat si Entong, mulanya Guru Rojali merasa enggan. Reputasi jelek Bang Maman sudah jadi buah bibir di mana-mana. Namun sadar akan kewajibannya, mau jugalah ia menerima si Entong menjadi muridnya. Maka sejak hari itu pagi-pagi benar habis Subuh si Entong sudah tiba di rumah Guru Rojali.

Namun, perlakuan Guru Rojali kepada Entong agak berbeda. Tanpa disadarinya, Guru Rojali masih menyimpan prasangka. Air cucuran pastilah jatuhnya ke pelimbahan juga, begitu kata pepatah. Ia menduga perangai si Entong pastilah seburuk ayahnya. Maka jika setiap hari murid-muridnya diajari mengaji, si Entong justru disuruh menyapu, mengepel, menimba air, dan melaksanakan tugas rumah tangga lainnya. Entong tak pernah mengeluh dan menentang perintah sang guru. Dalam usia semuda itu, Entong paham perintah guru tentu patut dijunjung tinggi.

betawi-ngaji-640x330_c

“Sret-sret,” demikian suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah. Entong tampak kepayahan menyeret sapu yang besar dan berat itu.

Entong memandang kawan-kawannya yang sedang berkerumun di pintu langgar, menunggu kedatangan sang guru. Mereka mengenakan kain sarung yang berwarna-warni cerah, baju koko warna putih, dan membawa sebuah buku berisi huruf hijaiyah. Saat Entong menunduk untuk kembali menyapu, matanya tertumbuk pada sendal kayu berwarna cokelat. Ia mengangkat wajahnya dan menemukan wajah Guru Rojali.

Entong buru-buru mencium tangan gurunya. Tangan Guru Rojali keriput, seperti juga wajahnya. Guru Rojali memelihara jenggot dan rambutnya sudah beruban. Peci putih tidak pernah lepas dari kepalanya. Selendang kuning yang dibawanya dari Tanah Haram melingkar di lehernya. Tongkat kayu tak pernah lepas dari tangannya, menambah kewibawaan Guru Rojali.

“Tong, lu tahu kan gue seneng makan biji beton nangka,” ucap Guru Rojali memulai percakapan.

“Iya, Guru.”

“Nah, biasanya pagi-pagi si Sueb yang gue suruh bakar biji beton. Tapi lu kan tahu sendiri si Sueb sekarang udah pergi mukim.”

“Iya, Guru.”

“Nah, sekarang ini biji beton lu bakar dah. Nanti kalau udah mateng lu bawain ke rumah gue. Entar habis itu baru dah gue ajarin ngaji,” ucap Guru Sueb.

Entong menerima biji beton pemberian gurunya dengan senang. Sudah terbayang di kepalanya, tak lama lagi ia bisa mengaji. Alif fatah a, Alif kasroh i, Alif dommah u.

Entong mengipas-ngipasi biji beton itu di atas bara dengan hati-hati. Setelah biji beton itu matang, ditaruhnya biji itu dalam piring. Entong kemudian membawa biji beton bakar ke rumah sang guru. Guru Rojali menerima beton bakar pemberian Entong, lalu menghitungnya. Sebenarnya tugas itu, selain menjadi syarat yang diberikan Guru Rojali, juga sebuah ujian. Tak disangka Guru Rojali, beton yang diberikan Entong berkurang satu. Beton sepuluh tinggal sembilan. Guru Rojali heran karena dia merasa memberikan sepuluh biji beton pada Entong tadi pagi. Wah, bener dugaan gue, nih anak persis sama seperti bapaknya, suka nyolong, kata Guru Rojali dalam hati.

Guru Rojali berusaha menutupi perasaan marahnya. Ia mempersilakan Entong duduk di hadapannya. Akhirnya, Entong diajari mengaji juga oleh gurunya.

“Tong, sekarang ikutin ya,” kata Guru Rojali.

Bismillahirahmanirrahim, beton sepuluh tinggal sembilan.”

Entong merasa heran mendengar ucapan gurunya. Meski belum pernah sekali pun diajari mengaji oleh orang tuanya, ia tahu tak biasanya Guru Rojali mengajari demikian. Namun karena patuh, ia mengikuti saja ucapan gurunya.

Setelah memastikan Entong paham, Guru Rojali berpesan. “Sekarang Tong, lu baca-baca terus ya. Beton sepuluh tinggal sembilan. Habis solat, lu hapalin tuh tadi yang gue ajarin.”

Entong mematuhi betul perintah gurunya. Setiap hari setelah solat, ia mengulangi kalimat itu. Kelakuan Entong itu tentu saja membuat ibunya heran.

“Baca apaan sih, Tong?”

“Pokoknya Mak, Entong disuruh baca ini terus sama Guru Rojali.”

Meskipun Mahmudah tak mengecap bangku sekolahan, dia juga tidak bodoh. Ia tahu betul perintah Guru Rojali itu aneh. Namun, demi menghargai nama besar Guru Rojali dan wasiat suaminya, Mahmudah membiarkan Entong mengulang kalimat itu seperti merapal mantra.

Bulan demi bulan berlalu, Entong masih menjadi anak bawang di antara murid-murid Guru Rojali yang lain. Membakar beton menjadi kewajibannya setiap pagi. Namun, dari sepuluh beton yang diberikan gurunya, selalu saja hilang satu biji saat dikembalikan. Maka, pelajaran mengaji Entong pun tak maju-maju dari beton sepuluh tinggal sembilan. Begitu seringnya pelajaran itu diberikan, Entong kini bahkan bisa menyanyikannya dengan merdu seperti anak-anak lain membaca Al-Quran dengan lagu maqom.

***

Guru Rojali tengah berkemas-kemas. Besok ia berencana pergi menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Semua barang-barang sudah ia masukkan dalam tas besar berwarna hijau, berbentuk lonjong dengan resleting di atasnya dan tali untuk mencangklong. Ada pula sahara, tas khusus berwarna biru yang ditalikan sebagai pengaman. Guru Rojali memasukkan aneka macam barang: pisau, ikan asin, beras, rokok, gula, kopi, teh, bahkan cobek untuk mengulek bumbu-bumbu. Perjalanan ke Mekah akan panjang. Dari Pelabuhan Tanjung Priok, Guru Rojali harus naik kapal ke Pelabuhan Jeddah. Perjalanan itu kira-kira memakan waktu satu bulan. Begitu sibuknya Guru Rojali sampai-sampai ia lupa memberitahu Entong yang sudah beberapa hari tidak datang karena sedang diare.

Keesokan harinya, Entong sudah sehat. Ia merasa bersemangat bisa kembali menemui guru yang dicintainya. Namun, Entong merasa heran karena pagi itu ia tidak menemukan kesibukan di langgar Guru Rojali. Tak ada anak-anak mengaji, membaca salawat, atau menyuarakan azan. Entong berlari menuju rumah sang guru. Hanya ada seorang kakek, Engkong Muid, tetangga Guru Rojali, di sana. Entong pun bertanya kepada Engkong Muid.

“Kong, ke mana ya orang-orang?”

Engkong Muid yang sedang asyik menghisap rokok menoleh. Entong menduga umur Engkong Muid lebih tua daripada Guru Rojali. Sebab, rambut Engkong Muid sudah putih seluruhnya dan pendengarannya sudah berkurang. Karena itu, Entong harus agak berteriak kala bertanya.

Engkong Muid menjawab, “Emang lu kagak tahu, Guru Rojali udah pergi ke Tanjung Priok. Sekarang kan musim haji. Guru Rojali mau ke Mekah. Tadi temen-temen lu banyak gue lihat pada nganterin.”

Mendengar jawaban itu, badan Entong langsung lemas seolah tak bertulang.

“Aduh, guru, kenapa saya enggak dikasih tahu,” ratapnya sambil menangis tersedu-sedu.

Entong tidak menyadari bahwa perbedaan perlakuan itu karena Guru Rojali masih menganggapnya sebagai anak penjahat. Dalam hatinya, Entong hanya menyesali satu hal, yaitu dia tidak sempat mencium tangan gurunya untuk meminta ridho atau restu. Entong pun berniat menyusul gurunya ke Tanjung Priok.

“Emang lu tahu Tanjung Priok di mana?” Engkong Muid khawatir juga saat mendengar keinginan Entong.

“Nanti biar saya tanya sama orang-orang, Kong,” jawab Entong.

“Jangan begitu, Tong. Apa-apa kudu dipikirin baek-baek.”

Setelah berpikir sebentar, Entong pamit. Ia ke rumah Bang Samiun, mantan anak buah bapaknya yang setia. Bang Samiun kemudian mengantarkan Entong ke Tanjung Priok.

“Belajar sama Guru Rojali yang bener ya, Tong,” Bang Samiun berpesan di pintu pelabuhan.

“Biar babe lu bangga. Jangan sampe nurunin jadi raja tega. Gue juga nyesel.”

“Iye, Cang,” jawab Entong.

“Coba babe lu itu. Saking jahatnya orang-orang enggak mau nyolatin. Cuma tujuh orang yang dateng. Itu juga imam, pengurus masjid, sama tukang gali kubur. Pas tahlil juga begitu, sepi. Mudah-mudahan lu bisa jadi orang bener dah Tong, gue doain,” Bang Samiun berkata sungguh-sungguh.

Di pelabuhan tertua di Jakarta itu, bau asin air laut menguar. Kapal-kapal beraneka bentuk dengan layar kayu tertambat di pinggir dermaga. Entong mencari-cari kapal mana yang mengangkut Guru Rojali ke Pelabuhan Jeddah. Tak ada kapal dari besi yang sedang bersandar. Saat matanya jelalatan mencari, ia bertemu dengan kawan-kawannya yang ikut dalam rombongan pengantar.

“Eh, Entong mau ngapain ke sini?” kata salah seorang kawannya.

“Saya mau nganterin guru, katanya guru pergi haji,” Entong menjawab.

“Iya guru memang pergi haji. Itu dia kapalnya udah jalan.”

“Ya Allah, guru,” kata Entong, “susah bener saya mau salaman sama guru. Saya mau minta nama saya dipanggil-panggil biar bisa pergi haji.”

“Ya udah lu pulang aja,” kawan lainnya memberi usul.

“Enggak bisa. Pokoknya saya mau nyusul guru.”

Entong kemudian menunggu sampai badan kapal yang mengangkut gurunya hilang di cakrawala. Ia kemudian pergi mengambil air wudu dan salat di langgar terdekat. Seusai salat, karena niatnya yang sangat kuat untuk menyusul gurunya, ia membaca bacaan beton ada sepuluh tinggal sembilan seperti yang diajarkan gurunya. Hal itu diulang-ulanginya terus menerus seperti membaca tahlil. Tiba-tiba saja badan si Entong seperti melayang dan diangkat oleh sebuah kekuatan besar. Dalam sekejap saja Entong berpindah ke sebuah tempat yang asing. Suasanya sangat berbeda dibanding Tanjung Priok. Entong kemudian mengambil air wudu lagi dan salat, memohon petunjuk dari Allah. Setelah hatinya mantap, ia bertanya kepada orang-orang. Aneh tapi nyata Entong kini berada di Pelabuhan Jeddah.

“Saya menunggu kapal dari Batavia,” kata Entong.

“Oh, tunggu, kapalnya kira-kira datang satu bulan lagi,” kata seseorang yang ditanya Entong.

Selama menunggu, Entong melakukan apa pun yang bisa ia kerjakan. Ia mencuci hambal serta membantu memasak. Karena Entong ringan tangan dan selalu tersenyum, orang-orang menyukainya. Bahkan, ia berkenalan dengan murid seorang habib yang juga berasal dari Batavia. Tidur dan makan kini tak menjadi persoalan buat Entong.

Singkat cerita, kapal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kapal itu besar dan panjang. Buritannya luas. Kamar-kamar di dalamnya bertingkat. Kapal itu seperti kapal fery, tetapi lebih kuat dan canggih. Entong melihat dengan seksama pada setiap orang yang turun dari kapal. Di antara ratusan orang yang mengenakan kain ihram, Entong melihat satu sosok yang teramat ia rindukan: Guru Rojali.

Entong berlari ke arah gurunya yang sedang kepayahan mengangkat koper dan sahara. Ia berteriak-teriak memanggil gurunya.

“Guru, guru,” kata Entong.

Guru Rojali terheran-heran mendengar suara orang memanggil-manggil dirinya. Dalam batinnya, ia berkata tak mungkin ada seorang pun di Jeddah yang mengenalinya.

Begitu ada di hadapan gurunya, Entong segera mengambil tangan gurunya, lantas menciuminya.

“Guru, ampun guru, saya minta ridhonya, guru,” kata Entong terharu.

Bukan main terkejutnya Guru Rojali melihat Entong ada di hadapannya. “Lah, Entong, lu sama siapa di sini?”

“Enggak, saya pergi ke sini sendiri, guru.”

“Emang lu punya tiket.”

“Enggak, saya enggak pakai tiket, guru.”

“Terus pake apa?”

“Dulu kan di pengajian guru ngajarin.”

“Emang apa yang gue ajarin sama lu, Tong,” Guru Rojali merasa heran.

Entong lantas membaca kalimat sakti yang berhasil membawanya ke Jeddah. “Audzubillahiminassyaitonirrajim, bismillahirrahmanirrahim, beton ada sepuluh tinggal sembilan.”

Kala mendengar pengakuan si Entong, betapa terpukulnya hati Guru Rojali. Ajaran yang sebelumnya dimaksudkan untuk menyindir Entong, tanpa disangka-sangka membuahkan hal yang baik berkat ketulusan hati si Entong. Guru Rojali tergetar dan terdiam seribu bahasa akibat rasa malu begitu menguasai dirinya.

“Astagfirullahal azim,” Guru Rojali beristigfar memohon ampun.

***

Musim haji pun berlangsung. Guru Rojali tunai menjalankan rukun-rukun ibadah haji. Setelah melakukan wukuf, tawaf, sai, dan akhirnya tahallul, tiba saatnya bagi Guru Rojali untuk kembali ke Batavia. Guru Rojali lantas berpesan pada Entong yang setia mendampinginya selama di Mekah dan Madinah.

“Tong, udah sekarang lu enggak usah ikut gue. Lu mukim di sini aja,” kata Guru Rojali.

“Enggak guru, Entong mau ikut guru aja. Entong cuma mau nolongin guru. Guru udah tua, enggak pantes bawa barang-barang berat begini,” kata Entong.

“Tapi gimana caranya lu pulang. Lu kan enggak punya tiket.”

“Entar biarin saya cari cara. Guru tenang aja,” kata Entong menenangkan gurunya.

Maka Guru Rojali pun berangkat, masuk ke dalam kapal yang akan membawanya pulang berkumpul bersama orang-orang terkasih.

Setelah kapal berangkat, lagi-lagi Entong membaca, “Audzubillahiminassyaitonirrajim, bismillahirrahmanirrahim, beton ada sepuluh tinggal sembilan.”

Sssssttt, terhisaplah tubuh Entong ke angkasa. Begitu membuka mata, Entong sudah berada di Batavia kembali.

Satu bulan berlalu, sampailah kapal yang membawa Guru Rojali ke Batavia. Entong bersama kawan-kawannya menyambut Guru Rojali di pelabuhan. Rombongan penyambut orang pulang haji bukan main ramainya. Semua berebut ingin mendapat berkah. Di antara rombongan penjemput, tampak si Entong dengan wajahnya yang bersih bersinar mengambil koper bawaan Guru Rojali, lalu mencium tangan sang guru.

Guru Rojali yang melihat si Entong di hadapannya merasa tidak percaya. Ia menangis tersedu-sedu. Guru Rojali merasa sangat berdosa lantaran prasangkanya kepada si Entong padahal anak rampok itu berhati mulia. Karena terlalu sering menangis menyesali dosanya, mata Guru Rojali akhirnya menjadi buta.

 

Kirim Tanggapan