Pengalaman Menjadi Finalis, Spread Your Words!

0
405

“Langsung masuk saja ke dalam, Mbak,” ucap seorang laki-laki begitu aku menyebutkan nama di meja pendaftaran acara Nulis Buku, Sabtu, 28 November 2015.

Begitu masuk dan belok kiri, tampaklah sebuah ruangan yang sudah dipenuhi oleh peserta. Aku agak bingung juga karena di depan pintu ada seorang laki-laki yang menghalangi, di depannya ada lagi yang sedang merekam dengan kamera digital. Namun laki-laki bertubuh agak gemuk itu segera menyadari kehadiranku. Sambil tersenyum, ia bergerak minggir dan memberi jalan bagi aku untuk segera masuk. Tangannya terentang mempersilakan, sambil menunjuk satu barisan yang di ujungnya masih tersedia bangku kosong.

Aku terbungkuk-bungku meminta maaf menganggu pandangan peserta yang sudah duduk, hingga akhirnya berhasil sampai di pojok kiri ruangan, beberapa baris dari depan. Duh, sempit sekali jarak antar bangku, bikin tak leluasa untuk sekadar menyilangkan kaki. Di depan tampak seorang wanita dengan atasan serupa kebaya modern, namanya Febby, sedang menjelaskan tentang program IATSS Forum. Ia mempromosikan kegiatan itu, menjelaskan syarat-syarat untuk memperoleh beasiswa, serta manfaat yang didapat dari kegiatan IATTS. Febby sendiri merupakan alumnus IATTS. Dalam paparannya, Febby menekankan pentingnya kolaborasi untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Untuk informasi lebih lanjut bisa klik http://www.iatssforum.jp/en/.

feby indirani

Setelah itu Pak Harry, Ketua Yayasan Astra Honda Motor, memberikan sambutan. Pak Harry berkata penting sekali untuk memahami atau menilai suatu keadaan dengan kacamata orang lain. Aku ingat dia bilang, misalnya anak-anak sekarang sering bekerja sampai malam atau bahkan di akhir pekan. Nah, sebagai orang tua jangan menuduh, tapi lihatlah dengan kacamata mereka, versi anak-anak itu. Ia mengaku itulah yang menyebabkan dia bisa bersahabat dengan teman-teman anaknya. Pak Harry mengucapkan terima kasih karena partisipan dalam acara Nulis Buku kerja sama bareng Astra Honda Motor dalam mempromosikan “Safety First, Keamanan dalam Berkendara Sepeda Motor”, diikuti oleh 440 peserta—suatu jumlah yang cukup banyak. Dari jumlah itu, dipilih 20 finalis terbaik, yang lalu dieliminasi lagi dan dipilih 3 di antaranya untuk menjadi pemenang.

Oh ya, aku sendiri terpilih menjadi salah satu finalis melalui cerpenku “Takdir di Perlintasan”. Cerpennya sendiri bisa dibaca di sini https://ruangceritablog.wordpress.com/2015/10/29/cerpen-takdir-di-perlintasan/. Cerpen ini bukanlah cerpen terkuat yang pernah aku buat. Diksi dan cara bertuturnya terinspirasi dari novel Dari Hari ke Hari karya Mahbub Djunaidi, wartawan dan sastrawan Betawi kelahiran Tanah Abang. Jadi aku memang tidak terlalu berharap menang, hanya ingin jalan-jalan kok, sekalian menghilangkan rasa penasaran dengan sosok Ainun Chomsun, founder Akademi Berbagi yang akan menjadi pemateri pada sore itu.

Sore mulai merangkak menuju senja. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 05.00 sore. Aku menggesekkan tangan ke dinding yang tidak disemen sempurna. Bagian bawah dinding berupa tumpukan batu bata masih terlihat. Warna abu-abu dan hitam dominan di dalam ruangan kecil di Conclave, sebuah tempat pertemuan di dekat Blok M. Di atas ruangan ada semacam pipa-pipa, tak ditutupi apa pun. Beberapa tiang menyekat di tengah ruangan. ‘Ala industrial,’ pikirku dalam hati. Persis sekali dengan konsep gedung Tempo Palmerah. Yah, walaupun apa yang tertinggal di Palmerah tetap akan ada di Palmerah. Hmmm, tiba-tiba saja aku jadi sentimentil.

Pembawa acara dengan atraktif menyebut nama Ainum Chomsun. Para peserta, sekitar seratusan orang, mencari-cari sosok yang dimaksud dengan mata mereka. Ainun masuk ke dalam ruangan. Oh, rupanya sejak tadi ia berada di luar. Dengan semangat berapi-api, sore itu Ainun bercerita tentang pengalamannya mendirikan Akademi Berbagi.

“Saya seorang ibu,” ujar perempuan yang memakai dress selutut berwarna hitam itu. “Saya mau belajar karena merasa ilmu dari kuliah saja tidak cukup, tapi saya tidak mau menganggu cash flow. Biasa, kan, ibu-ibu,” katanya. Ainun menegaskan pendidikan di institusi formal tidak bisa mengejar ketertinggalan. Karena itu, ia menekankan, belajar itu perlu. “Belajar kewajiban sekaligus hak,” ujar perempuan berkaca mata itu.

ainun chomsun

Ainun bilang yang paling utama adalah membuat cerita yang paling bisa mempengaruhi orang, setelah itu bikin aksi nyata dan tulisan. “Waktu saya bikin Akademi Berbagi, nama akun saya masih @pasarsapi, yang mungkin ramai setahun sekali waktu Idul Adha, dan followers saya juga masih di bawah 200,” katanya. Ia berusaha mendekati para praktikus agar mau mengajarinya secara gratis. “Ada yang nolak, enggak?” katanya. “Ya ada, tapi saya dekati yang lain yang mau. Saya cari yang punya kesamaan dengan saya untuk berbagi.”

Dari gerakan di Twitter, ide Ainun menjadi viral. Saat ini Akademi Berbagi sudah punya 200+ relawan, 100 + guru, 2000 + peserta, serta 50 + kota penyelenggara dengan 20 + kota yang aktif. “Saya selalu mempropogandakan bahwa Sharing is Fun. Berbagi itu bukan buat orang lain, tapi buat kebahagiaan kita sendiri,” ucap ibu seorang putri berusia 13 tahun ini.

Perkembangan media sosial yang sangat pesat sendiri sudah menjadi revolusi. Maka, media sosial bisa menjadi powerful tergantung cara kita menggunakannya. Media sosial adalah sebuah alat. Ainun menegaskan media sosial bukan cuma sekadar bermain. “Orang bahkan sering bilang saya main FB itu dibayar,” tuturnya. Nah, bagaimana cara memanfaatkan media sosial? Menurut Ainun, yang paling penting adalah create your story. Pertama-tama, kita harus membangun cerita soal produk yang mau kita tawarkan. Pilih cerita yang paling kuat untuk kita bagi, setelah itu bangunlah gerakan. Menurut Ainun, apa yang kita tuliskan akan menjadi besar kalau kita jadikan aksi nyata. Kedua, kenali audiens. Ainun memaparkan beda platform beda audiens. Kita harus mempelajari karakter tiap audiens dan platform yang kita gunakan agar tepat sasaran sesuai dengan tujuan yang hendak kita capai. Ketiga, pilih konten yang baik dan bahan yang baik. Artinya, konten masih menjadi kunci. Ainun memberi tips, ukurlah informasi yang akan kita tulis sebelum dibagikan. Orang-orang yang jago bikin konten akan menjadi pemimpin, ujar Ainun memberi semangat kepada para peserta.

Media sosial itu jembatan penghubung, kata Ainun. Banyak profesi yang muncul dari media sosial, misalnya social media spesialist atau social media strategist. Setelah bekerja sebagai freelance selama tiga tahun untuk mengurus anaknya, Ainun sekarang menjabat sebagai Community Manajer CNN Indonesia. “Saya ambil dua pekerjaan sekaligus. Agak rakus sih, ya?” ia tertawa.

Ainun mengatakan media sosial itu seperti sebuah pasar, itu adalah public space. Karena itulah, kita harus punya kekuatan untuk merebut perhatian. Selain itu, ujar Ainun, dengarkan apa yang audiens inginkan. Terakhir, Ainun mengingatkan pentingnya kolaborasi. “Collaboration is a must,” katanya.

Soal menulis, Ainun mengatakan jangan takut bercerita karena bercerita punya dampak buat orang lain. Kebaikan besar atau kecil tak masalah, ujarnya merujuk pada Akademi Berbagi yang perkembangannya tak pernah ia kira bakal sebesar sekarang.

Sayangnya meski diskusi sangat menarik dan banyak pula yang berminat bertanya kepada Ainun, sesi diskusi itu harus diakhiri karena waktu yang tersedia sudah habis. Para finalis yang sudah diundang diminta maju ke depan—aku bertemu Ade Yusuf dan istrinya, Anggun Prameswari yang sedang hamil 5 bulan—dan menceritakan pengalaman kreatif saat menulis. Lantas, tiga nama pemenang pun diumumkan.

fadjri-anggun

Menariknya, aku bertemu juga dengan Ira Guslina Sufa, reporter Tempo yang tulisannya sering kuedit. Rupanya dia baru 2 bulan mengambil cuti di luar tanggungan. Cerpen yang dibuat Ira berhasil memenangi peringkat kedua dalam lomba itu. Selamat ya, Mbak! Oh iya, ini penampakan bukunya. Akhirnya aku punya sebuah antologi dengan cerpen karyaku di dalamnya. Terima kasih ya Nulis Buku!

nulis buku

Kirim Tanggapan