Perihal Kalimat yang Efektif

0
520
Kami dan Kita menandai adanya modus kebersamaan dalam bahasa Indonesia.

Seseorang yang lebih tinggi posisinya di kantor pernah mengeluh, “Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu kan enggak asyik. Coba deh, itu kayak orang asing baru belajar bahasa Indonesia. Pasti enggak enak.” Begitu kira-kira ucapannya.

Mendadak sontak saya terdiam mendengarnya. Sebab tentu saja, buat saya, bahasa Indonesia yang baku itu tak harus kaku. Sedih betul saya mendengar ucapan itu. Sebab kalau sekelas Amarzan Loebis yang mendengarnya, sudah barang tentu ia akan berceramah panjang lebar. Dalam sebuah kelas yang saya ikuti tahun 2015, Pak Amarzan pernah mengatakan, “Bahasa jurnalistik Indonesia adalah bahasa Indonesia!” Saya rasa pemahaman ini harus ditancapkan kuat-kuat dulu bahwa kita (para editor di media massa) memang selayaknya patuh dan tunduk pada kaidah berbahasa Indonesia yang baku itu.

Tak lama berselang, di akhir 2015, Tempo Institut dengan Forum Nulistik mengadakan diskusi dunia maya via grup WA dengan pegampu Yosep Suprayogi, redaktur majalah Tempo. Diskusi ini penting karena membahas salah satu dasar dari sebuah karya atau tulisan yang baik, yakni bagaimana membuat kalimat efektif. Adapun tulisan ini sebagian besar adalah intisari diskusi itu, yang saya tambahkan dengan data dari sumber lainnya ditambah pengalaman pribadi.

Memulai diskusi, Mas Yosep mengatakan tugas cerdik cendekia adalah mengubah informasi yang sangat detil, spesifik, sarat jargon ke dalam bentuk informasi yang dapat dipahami dan disukai publik, tetapi tetap akurat.

Sementara kalimat efektif adalah kalimat yang bila aku tuliskan atau omongkan, kamu mengerti persis dengan apa yang aku tulis atau omongkan.

Nah, agak belepotan ya. Tapi intinya, jika kamu maksudkan A, orang lain akan menangkapnya A juga, bukan B atau malah C.

Soal bahasa Indonesia yang baik dan benar, banyak kesalahan anggapan. Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi. Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah. Bahasa Indonesia yang baik dan benar mengikuti tata bahasa yang baku, ejaan yang resmi, dan penggunaan kalimat secara efektif. Perlu diingat bahwa bahasa jurnalistik Indonesia adalah bahasa Indonesia. Dalam penulisan berita, tentu kita mengikuti bahasa Indonesia laras jurnalistik dan ragam resmi.

Kalimat efektif ditandai dengan:

  1. Kalimat yang ringkas. Biasanya 4-11 kata dalam satu kalimat. Kalimat yang terlalu panjang, selain tidak efektif menyampaikan pesan juga berisiko membuat pembaca salah paham. Satu alinea berisi 3-4 kalimat. Satu alinea satu pokok pikiran.
  2. Jelas subyek-predikat-obyeknya. Siapa melakukan apa itu harus jernih. Itu sebabnya kita dianjurkan membuat kalimat aktif karena jelas SPOK-nya. Kalimat pasif cenderung menyembunyikan subjek atau pelaku.
  3. Gunakan kalimat sederhana dan jangan bercanggih-canggih dengan kata-kata.
  4. Tidak mengulang ide dan kata-kata secara mubazir. Tampilkan segera pokok pemikirannya.
  5. Tidak ambigu. Perhatikan penggunaan diksi.
  6. Tidak terlalu banyak angka. Kalau harus menyangkut angka-angka, usahakan disederhanakan.
  7. Cek keberadaan kata sambung “dari, daripada, yang, untuk, dengan, oleh” yang seringkali tidak fungsional. Kalau tidak fungsional, kata sambung itu bisa diangkat.
  8. Upayakan atribusi, teknik pengganti sebutan subyek.
  9. Jika sudah mengindonesiakan suatu kata, tidak perlu lagi ditulis istilah asingnya. Pengecualian untuk nama Latin, misalnya padi (Oryza sativa). Catatan: istilah teknis yang tidak semua orang faham, baru diberi kata Inggris.
  10. Pemanjangan singkatan hanya satu kali dengan diberi kurung, setelah itu boleh ditulis singkatannya saja, misalnya Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)

Kira-kira seperti itulah penjabaran mengenai kalimat efektif. Nah, sekarang cek tulisanmu, sudah efektifkah? Jangan-jangan kamu termasuk yang sering menaruh konjungsi di awal kalimat. 🙂

Kirim Tanggapan