Kojek Rapper Betawi, dari Kampung ke Kota

0
669

“Mau lagi apa udah, nih?” tanya Kojek rapper Betawi di Bentara Budaya Jakarta, Jumat malam, 19 Februari.

“Lagi!” para penonton berseru.

“Buset, gue udah engap (capai), nih,” ucap Kojek ngos-ngosan.

Bersama rekannya sesama rapper, Zaun SWC, dan DJ Diandra, Kojek sudah menyanyikan empat lagu, yakni si Pitung, Mancing, Bajaj, dan Enjoy Jakarte. Sebagai lagu pamungkas, ia lantas mengajak penonton bersama-sama menyanyikan lagu Ondel-ondel karya Benyamin Suaeb.

Bersama JJ Rizal, Kojek yang punya nama lengkap Muhamad Amrullah ini mengisi sesi talk show  “Saya Anak Kampung, Saya Anak Kota” dalam rangkaian acara “Anak Kampung Anak Kota, dari Betawi ke Jakarta” yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta pada Kamis dan Jumat, 18-19 Februari 2016.

Sebagai kelahiran Sunter, Jakarta Utara, pada 1986,  Kojek mengaku menikmati indahnya hidup di kampung. Ia mandi di kali, mengejar capung, dan menikmati segala macam hal seperti layaknya anak kampung. Suasana kampung itulah yang kemudian menjadi inspirasi dia untuk menulis lagu rap bernuansa Betawi.

“Soalnya Kojek inget pesen Babe, boleh nge-rap asal jangan lupa ama Betawi,” katanya. Kojek mengaku dulu ia sempat dilarang nge-rap oleh sang ayah. Namun begitu ia mencampurkan rap dengan bahasa Betawi, lampu hijau pun diperolehnya.

kojek jj rizal

Laki-laki yang mendapatkan nama julukan lantaran kesukaannya menghisap permen Kojek ini mengatakan ia mulai nge-rap sejak 2010. Semua bermula ketika Kojek memenangi lomba musik rap yang diadakan di Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Saat itu ia mengaku masih menyanyi rap biasa saja. Namun setelah mengusung rap Betawi, dewi fortuna menghinggapi dirinya. Kojek dan karya-karyanya pun mulai dikenal.

Lagu rap Betawi pertamanya berjudul “Lo Kate Jakarte”. Lagu ini dibuatnya untuk memperingati hari jadi Jakarta pada 2011. Kemudian ia merilis album yang berjudul Betawi Punya Rapper pada 2012. Dan pada 2016 ini ia merilis single “Enjoy Jakarte”. Dalam video yang diperlihatkan kepada para peserta diskusi itu, Kojek tak lupa menyertakan pesan-pesannya yang kritis terhadap pemerintah, termasuk menolak reklamasi.

Kala ditanya penghargaan apa yang sudah diberikan pemerintah atas usahanya mengangkat budaya Betawi, Kojek mengatakan “Awalnya memang harus berjuang sendiri dulu kalau mau memajukan budaya. Setelah gue mulai muncul di TV baru gue mulai dikirimi bingkisan ke rumah. Pak Lurah nelepon, camat gue di Penjaringan nelepon, terus diminta isi acara,” ucap Kojek.

Sebagai anak Betawi dan anak kampung Kojek mengaku bangga. “Style gue modern tapi gue Betawi. Gue orang kampung, orang Betawi, tapi gue bangga. Jadi Betawi itu harusnya bangga, karena Betawi landasan agamanya kuat. Jadi orangnya harusnya enggak gampang terombang-ambing,” katanya.

Soal tuduhan kaum tua Betawi bahwa rap seperti yang dibawakan Kojek bukan berciri Betawi, ia menanggapinya dengan santai. “Lihat aja tuh Emak gue di rumah saban hari kerjanya nge-rap. Orang Betawi dari lahir udeh bisa nge-rap,” tuturnya sambil tertawa.

Menutup diskusi, Kojek memberikan pantun. “Tukang sawi namanya Bang Maman, jangan ngaku Betawi kalau cuma bisa jadi preman,” pungkas Kojek yang disambut riuh sorakan para penonton.

Video penampilan Kojek di BBJ klik: https://www.youtube.com/watch?v=scgBI6yqJ1k

Kirim Tanggapan