Ramainya Festival Cap Go Meh 2016 di Glodok

0
585
barongsai glodok, Cap Go Meh
barongsai glodok, imlek

Festival Cap Go Meh 2016 yang berlangsung pada Minggu, 21 Februari 2016 di jalan sepanjang Jalan Raya Gajah Mada, Jakarta Barat, menimbulkan kesan megah yang sangat membekas di hati. Dilaksanakan terakhir kali pada 1962, festival yang berlangsung Minggu lalu itu disambut warga dengan antusias. Tidak hanya warga keturunan Tionghoa saja, masyarakat sekitar pun tampak ramai mengerubungi jalanan di sekitar Pasar Glodok Lama hingga Lindeteves Trade Center (LTC). Mereka umumnya datang bersama keluarga, seperti anak atau bahkan orang tua masing-masing.

Saya sebenarnya terdampar di sana. Berencana ke Petak Sembilan untuk melihat-lihat kawasan Pecinan Jakarta dan Vihara Dharma Bakti, mobil kami malah menepi di Jalan Gajah Mada. Kami menyeberang ke depan LTC karena penasaran melihat tenda-tenda besar yang berdiri di ujung sana. Dan voila, inilah yang kami lihat.

Para peserta yang sangat tinggi ini memakai engrang.
Para peserta yang sangat tinggi ini memakai engrang.
Sun Go Kong, si kera sakti.
Sun Go Kong, si kera sakti.
IMG_5642
para penari Kabasaran asal Minahasa dari Sanggar Bapontar Jakarta
IMG_5644
barongsai
hamonan
Hanoman, maskot dan simbol tahun monyet api.

Para penari liong dance alias barongsai tampil begitu menakjubkan dalam gerak yang lincah. Para anggota drum band sudah bersiap dalam barisan yang rapi untuk beraksi. Belum lagi para cici dan koko serta abang dan none Jakarta yang memeriahkan pawai dengan melambaikan tangan. Beberapa mobil pawai sudah siap di tempat, sementara patung dewa-dewa dari berbagai kelenteng disiapkan untuk naik ke atas mobil.

Anak saya, Alia, 6 tahun, baru pertama kali melihat keramaian semacam ini. Saya sendiri merasa senang bisa memperlihatkan betapa beragam dan kayanya Indonesia. Saking berbahagianya, ia meminta dibelikan topi barongsai. Seperti inilah penampilan dia kala mengenakannya.

aira barongsai
Alia Azkayra

 

Cap Go Meh merupakan hari kelima belas sesudah tahun baru (Imlek) dalam penanggalan Cina. Selain di Glodok, festival Cap Go Meh terbesar salah satunya diadakan di Singkawang, Kalimantan Barat.

“Karena wilayah ini dikenal sebagai Pecinan, Glodok adalah rumah bagi pencampuran (melting pot) etnis, seperti Betawi, Portugis, dan Arab. Kami sangat senang menunjukkan kebudayaan yang kaya ini kepada orang-orang dari berbagai etnis,” ucap perwakilan dari Glodok Chinatown Community, Wijanarko, yang juga menjadi penyelenggara Festival Cap Go Meh, seperti diberitakan Jakarta Post (21/2/2016)

Festival Cap Go Meh 2016 dilaksanakan oleh Komunitas Masyarakat Tionghoa dengan mengambil tema “Nasionalisme dalam Cap Go Meh”.

Hari semakin sore hampir pukul 15.00 WIB, kerumunan orang semakin ramai. Pawai belum juga dimulai. Sebuah mobil yang diiring-iringi beberapa mobil lain melaju di hadapan kami. Sangat jelas bahwa itu mobil pejabat. Dua orang petugas bersenjata laras panjang tampak berjaga-jaga. Bahkan, Kombes Pol Khrisna Murti tampak memantau situasi. Pengamanan polisi bisa dikatakan cukup maksimal.

Meski tampak cukup menarik (kabarnya Jay Soebiakto menjadi kuratornya) tampak panitia kewalahan mengatur penonton yang membeludak. Tak adanya garis pembatas membuat para penonton maupun fotografer (baik dadakan maupun profesional) bisa seenaknya menganggu peserta pawai untuk meminta foto bersama. Saya sendiri sangat berharap pawai ini akan berlangsung kembali tahun depan dengan konsep dan pengamanan yang lebih rapi.

Kirim Tanggapan