Antara Hamdani, Kampung, dan Istrinya

0
1058
orang Betawi, Jakarta
orang Betawi, Jakarta, tempo dulu

Masyarakat di kampung itu sedang geger. Mereka ramai membicarakan soal penggusuran. Kabarnya, ada pengembang yang berani membeli tanah mereka dengan mahal dan segera. Kasak-kusuk pun terjadi di seantero kampung. Tua dan muda kini sedang berhitung, berapa uang yang akan mereka terima dari penggusur. Setelah itu, benak mereka dipenuhi khayali indah tentang bagaimana cara terbaik menghabiskan uang yang akan mereka terima.

Sebabnya adalah rumah Peyot yang sudah rata dengan tanah. Sehari-hari tidak ada orang yang tahu persis apa pekerjaan pria berkepala pelontos itu. Peyot lebih sering terlihat kongko-kongko di ujung jalan sambil menenggak bir. Namun tiba-tiba saja Peyot berhasil naik derajat. Ia kini punya rumah bertingkat dengan pendingin udara. Kabarnya, sampai tiga turunan pun uang Peyot tak akan habis. Rumah Peyot yang lama sudah rata dengan tanah. Kini di atasnya ada pelang dengan tulisan: Tanah Ini Milik PT Sumber Ribut. Dilarang Masuk Tanpa Izin.

Dahlia, istri Hamdani, tampak cemberut. Sudah lama ia memimpikan punya rumah yang bagus, yang menurut standar dia, ada WC duduk, berpendingin udara, bahkan kalau bisa bertingkat dengan gaya arsitektur terbaru, dan yang paling penting: tak ada seekor pun tikus di dalamnya. Desas-desus tentang adanya pengembang yang mau membeli tanah mereka tak ayal melambungkan harapan di hatinya. Dahlia tahu tak mungkin Hamdani mampu membeli rumah seperti rumah Peyot. Suaminya itu hanyalah seorang pedagang peralatan rumah tangga. Hidup mereka serba kekurangan. Bahkan, modal untuk berdagang itu didapat Hamdani dari pamannya. Sang paman memasok Hamdani mobil bak dan modal untuk berdagang. Itu dilakukan setelah Hamdani terkena PHK dari pabrik tempatnya bekerja selama ini.

“Bapak tahu tidak, tadi pagi Pak RT sudah ke sini,” Dahlia membuka percakapan.

Hamdani baru saja pulang berdagang sore itu. Keringat di dahi bahkan belum disekanya. Tapi Dahlia sudah tak sabar mengatakan persoalan yang membayangi pikirannya sejak pagi tadi.

“Pak RT tanya surat-surat tanah kita. Tapi karena aku tidak tahu, kusuruh dia datang lagi nanti malam.”

Hamdani memandang istrinya yang bicara dengan nada menggebu-gebu. Surat tanah yang dimaksud itu memang disimpannya di tempat yang rahasia. Dulu, dulu sekali, Dahlia pernah menggadaikan surat tanah mereka kepada seorang rentenir. Alasan Dahlia, gaji Hamdani tak cukup untuk biaya makan sehari-hari dan sekolah tiga anak mereka. Akibatnya, Hamdani harus mencicil utang itu dari gajinya setiap bulan. Karena tak kunjung lunas, ditambah gaji yang makin sedikit dan kebutuhan yang mencekik, Hamdani terpaksa meminta bantuan pada keempat kakaknya. Hamdani terpaksa menanggung malu karena kakak-kakaknya urunan membayari utang yang ditimbulkan Dahlia.

Soal apa yang akan dibicarakan Pak RT, Hamdani sudah bisa menduganya kala laki-laki berperut gendut itu datang ke rumah. Konon Pak RT sudah naik haji dua kali, maka kopiah putih tak pernah lepas dari kepalanya. Pak RT—yang baiklah kita sebut saja Pak Haji—meminta kopi surat tanah milik Hamdani.

“Begini Pak Hamdani, Bapak tahu kan Bapak BSS yang punya PT itu? Yang beli tanah si Peyot?”

“Ya, saya tahu.”

“Nah, nanti di atas tanah Pak Hamdani dan warga yang lain, Bapak BSS punya misi mulia. Ia ingin membuat sebuah kawasan terpadu, ada hotel, perkantoran, kolam renang, tempat fitness. Pak Hamdani tentu bangga kalau kampung kita jadi maju, kan?”

Hamdani tak menyahut.

“Nanti Pak Hamdani bisa ikut rapat dulu. Kita bicara santai-lah. Yang pasti, ganti rugi yang diterima pantas sekali, Pak Hamdani. Nanti Bapak bisa punya rumah yang lebih bagus dari si Peyot.”

“Berapa harganya?”

“Saya kira bisa 20 juta per meter, Pak Hamdani. Itu nanti bisa saya bicarakan dengan Pak BSS. Pak Hamdani tenang sajalah.”

Meski bukan keluaran sekolah tinggi, Hamdani bukanlah orang bodoh. Ia tahu benar bahwa angka yang disebut Pak Haji itu terbilang kecil. Saat ini harga tanah di wilayahnya sudah melonjak karena permintaan yang tinggi. Bahkan ia mendengar di kampung seberang yang dipisahkan oleh sebuah jalan tol dalam kota dengan kampungnya, warganya menerima ganti rugi yang lebih besar daripada yang disebut-sebut Pak Haji. Tapi kepada Pak Haji, terhalang oleh sikap sopan-santunnya, Hamdani hanya mengatakan akan pikir-pikir dulu.

***

“Bagaimana, semua warga sudah diberi tahu, Pak RT?”

“Sudah semua, Pak.”

“Kira-kira bagaimana?”

“Sepertinya akan mudah-lah, Pak. Bahkan, satu-dua orang sudah langsung setuju.”

“Berapa harga yang Bapak bilang?”

“Tak lebih dari 20 juta, Pak.”

“Bagus, kita bisa jaga-jaga kalau nanti mereka minta lebih. Tapi ya diusahakan jangan sampai mereka minta lebih. Kita enggak dapat apa-apa nanti, hahaha.”

Kedua orang itu tertawa bahagia, membayangkan fulus yang akan mengalir ke kantong mereka.

***

Hamdani memandang kali butek yang mengalir di depannya dengan perasaan nelangsa. Dulu ia dan kawan-kawannya merasai kegembiraaan kala kali itu masih jernih. Ia biasa berenang-renang di sana, telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Di pinggir kali, tertambat kambing-kambingnya yang asyik merumput. Setelah itu, Hamdani akan mampir ke tanah rawa, mencabuti kangkung untuk emak atau ke empang mencari tutut untuk dimasak. Dan di sana di pinggir kali itu adalah rumah Sahroni, yang nyaris selalu dihinggapi banjir kala musim hujan tiba. Kini kawan-kawannya hilang, tercerai berai, seperti juga kampungnya.

Di hadapannya terbentang tanah luas yang sedang diuruk. Tak ada bekas rawa maupun empang. Yang tampak hanyalah truk-truk pengangkut pasir yang hilir mudik. Sebuah alat berat sedang memasak bumi di sana. Suaranya bagaikan mimpi buruk bagi Hamdani, membuatnya tak enak tidur semalaman. Saat tengah tertegun, tiba-tiba pundaknya ditepuk.

“Oh, Pak Mandor,” ucap Hamdani sungkan, lantas mencium tangan orang tua yang seangkatan dengan almarhum bapaknya itu.

“Nak Hamdani sedang apa?”

“Ah, biasa, Pak.”

“Anu,” ujar Pak Mandor ragu-ragu. “Pak Haji sudah ke tempat Nak Hamdani.”

“Sudah, Pak.”

“Lalu bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Nak Hamdani mau melepas?”

Hamdani diam, membiarkan ada jeda di situ.

“Anu, semua warga sudah sepakat Nak Hamdani. Lagipula, bapak juga butuh untuk biaya si Ribut.”

Si Ribut adalah bontot Pak Mandor yang sedang ditahan di penjara. Kabarnya Ribut dicokok lantaran menjual narkoba. Istrinya yang sedang hamil tujuh bulan menangis kala suaminya dibawa polisi. Pasangan itu baru menikah tiga bulan lalu. Pestanya digelar meriah dengan hiburan grup dangdut semalam suntuk. Kala itu, suara sound system-nya sampai menggetarkan kaca rumah Hamdani.

Insya Allah, Pak Mandor.” Hanya itu yang sanggup diucapkan Hamdani untuk menghibur hati pria renta yang seharusnya sudah tak dipusingkan dengan ulah anak-anaknya lagi.

***

Dua hari setelahnya, datanglah undangan pertemuan di rumah Pak Mandor. Pak Haji dan satu orang lainnya yang tak dikenal Hamdani berperan sebagai pihak pembeli. Sementara di seberangnya, Hamdani dan beberapa tetangga duduk sebagai penjual. Pertemuan itu rupanya tak semulus yang disangka Hamdani. Dua orang ibu yang memiliki rumah paling mentereng di kampung itu menolak harga yang ditawarkan Pak Haji dan temannya.

“Masak sih cuma segitu, Pak Haji. Yang benar, lho. Saya dengar di kampung seberang malah sudah 30 juta per meter,” ucap ibu A.

“Saya enggak bohong, Bu.”

“Tapi kan Pak Haji ini tokoh masyarakat. Paling tidak bisa bantu kitalah, ya enggak bapak-bapak,” ucap ibu B.

“Ya, nanti saya sampaikan, Bu. Tapi saya enggak janji, lho, ya. Saya kan hanya perantara saja. Keputusan yang buat itu kan di pusat.”

“Tapi kalau harga segitu kami berat, lho, Pak Haji. Kami mau pindah ke mana? Rumah di sekitar sini kan sudah miliaran harganya. Bayangkan itu!” ucap ibu A berapi-api.

“Betul kan bapak-bapak. Apalagi Pak Mandor itu, coba, yang anaknya sepuluh. Wah, kalau segitu tentu tidak cukup untuk semua anaknya.”

Pak Mandor tampak bergelinjang di bangkunya. Ia terbatuk pelan. Wajahnya pucat. Selain kedua ibu itu, tak ada yang berani bersuara.

“Ya, kalau begitu sampai saat ini kita belum menemui kata sepakat ya, bapak-bapak, ibu-ibu. Kalau begitu kami pamit dulu.”

“Kalau begitu saya juga pamit ke dalam,” ucap Pak Mandor tiba-tiba.

Maka, berdirilah Pak Haji dan temannya, disusul dengan Pak Mandor. Tiba-tiba tubuh Pak Mandor limbung, lunglai jatuh seolah tak bertulang. Orang-orang berteriak. Istri dan anak-anak Pak Mandor keluar dari rumah mereka, histeris. Setelah itu anak tertua Pak Mandor mencegat taksi, membawa tumpuan hidup mereka ke rumah sakit terdekat. Orang-orang yang berkerumun segera pulang sambil menggerendeng. Di hadapannya, Hamdani mendengar Pak Haji berkata, “Mudah-mudahan enggak kenapa-kenapa. Kalau ada apa-apa kan saya jadi enggak enak.” Hamdani pulang sambil berusaha menyingkirkan sejuta pikiran jelek yang mampir di kepalanya.

“Bagaimana, Pak?” sambut Dahlia begitu ia sampai di rumah.

“Pak Mandor masuk rumah sakit,” ucap Hamdani pendek.

Tak dihiraukannya rentetan pertanyaan istrinya. Hamdani segera menarik selimut, tidur.

***

Sore harinya, sepulang berdagang, Hamdani mendengar kabar Pak Mandor dipindahkan ke rumah sakit khusus. Jantung laki-laki tua itu rupanya harus segera dioperasi agar bisa bertahan hidup. Untuk itu pihak rumah sakit meminta jaminan 70 juta. Menantu Pak Mandor kabarnya sedang mengupayakan mencari pinjaman. Namun umur manusia Tuhan juga yang menentukan. Pak Mandor meninggal malam itu di rumah sakit, di pangkuan istrinya.

“Lantas, bagaimana nasib kita?” Dahlia bertanya khawatir.

Hamdani tak menjawab. Dikenakannya koko putih dan peci hitam. Ia bergegas mengambil wudu, lantas bersiap menyambut datangnya jenazah dari rumah sakit. Di rumah Pak Mandor, Hamdani mendapati mata-mata merah akibat banyak menangis. Tak kelihatan Ribut di antara mereka.

Kirim Tanggapan