Sebuah Kisah yang Belum Usai

0
921

Rumah kecil itu tampak menyolok perbedaannya dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Gentingnya tampak hendak jatuh, pintunya yang terbuat dari kayu koyak, dan sebuah tikar melapisi dindingnya yang bolong-bolong. Di teras yang berupa plesteran kasar semen bertebaran tahi ayam, membuatku harus hati-hati kala melangkah. Di dalam, seorang perempuan tua sedang menggoreng cucur. Ia meniup api yang berkobar dari kayu yang terbakar dalam tungku. Penampilan Wak Ninit, demikian nama perempuan tua itu, seperti nenek sihir saja. Rambutnya yang putih beruban awut-awutan, kebayanya lusuh, dan sarungnya berwarna pudar. Garis keriput jelas terpeta di wajahnya. Sungguh bertolak belakang dengan dirinya dalam foto pernikahan yang ia letakkan di samping dipan kayunya. Cantik, sintal, dan menggoda—pantaslah ia dijuluki Ninit yang berasal dari kata genit.

Aku berusaha menahan bau yang sejak tadi menusuk hidung. Suara ayam berkokok nyaring terdengar. Beberapa malah mondar-mandir dekat kakiku. Hanya kesopanan yang menghalangiku segera pergi dari tempat ini. Wak Ninit tak punya bangku untuk tamu. Hanya bale, sebuah dipan, dan meja reyot di dapur hartanya. Aku mengambil kamera DSLR yang sejak tadi menggantung di leher, lantas menghampiri Wak Ninit, memfoto perempuan tua itu yang sedang menusuk bagian tengah kue cucur dengan lidi, lalu mengangkatnya ke sebuah piring yang terbuat dari kaleng, untuk kemudian menuangkan adonan baru di atas minyak yang mendidih. Topi meksiko, begitu Wak Ninit biasa menyebutnya. Wak Ninit tertawa begitu melihatku tak sabar mencomot kue di piring.

“Masih panas,” tegurnya.

“Enak. Topi meksiko buatan Wak Ninit paling enak,” aku megap-megap kepanasan. Topi meksiko adalah kue buatan Wak Ninit yang paling kucari sejak kecil, sejak rumah ini masih rapi dan bersih. Jika sampai sore aku tak pulang, Umi pasti tahu aku sedang di rumah Wak Ninit, menungguinya menggoreng cucur.

Lama kelamaan, seiring dengan kesibukan dan pergaulanku yang makin luas sebagai remaja, aku jarang mengunjungi Wak Ninit. Namun begitu Umi menceritakan kondisi Wak Ninit sekarang, aku menyempatkan diri mampir. Kebersihan rumahnya merosot tajam, begitu juga kewarasannya, sejak suaminya meninggal.

Wak Ninit tertawa keras melihatku meniup-niup kue cucur di tanganku. Tawa yang jika didengar orang-orang, tentulah mereka mengatakan itu tertawa macam nenek lampir. Tapi Wak Ninit tak peduli, meski sebagian orang mengatakan dia gila. Sewaktu muda, yah, Wak Ninit menikah dengan seorang laki-laki yang sayangnya pria beristri. Tentu aja akibatnya ia dicap sebagai perebut suami orang. Dari pernikahannya itu, ia tak dikaruniai anak seorang pun. Suaminya meninggalkan sebuah rumah untuknya yang kini ia tempati. Sayangnya tak ada surat-surat yang mengesahkan kepemilikan rumah itu untuknya. Diam-diam ia takut diusir anak-anak tirinya. “Kalau Uwak mati, berjanjilah mengurus mayatku,” begitu pernah ia berkata pada Abah, ayahku.

Soal jalan hidupnya, Wak Ninit tak pernah menyesal. Ia pernah berkata, “Uwak sudah bertemu Baba. Cuma Baba cinta Uwak satu-satunya. Uwak ikhlas harus begini,” ujarnya. Aku sampai merinding mendengarnya.

Aku memandangi keadaan di dalam rumah itu. Ayam yang dibiarkan berak sembarangan. Radio tua rusak yang berbunyi kresek-kresek sengaja dinyalakan, hanya supaya Wak Ninit tidak terlalu kesepian. Dan seekor kucing besar berwarna putih yang tidur di dipan, yang dianggap sebagai pengganti suaminya. Di dinding bambu tergantung baju Baba yang diciumi Wak Ninit sehari-hari. Dan di depannya terdapat sebuah sofa lusuh pemberian orang, tempat Wak Ninit mengenangkan segala pengalaman masa mudanya. Wak Ninit hampir saja mengingatkanku pada orang lain, kalau saja ia tidak sedang di dapur menggoreng cucur. Kedatanganku rupanya mampu memaksa ia bangun dan memasak, suatu hal yang sudah lama ia tinggalkan. Menurut Umi, sehari-hari Wak Ninit tergantung pada nasi dan lauk kiriman para tetangga yang bermurah hati.

Enam bulan setelah kepulanganku dari Inggris, Wak Ninit meninggal di panti jompo. Sesuai janji, Abah mengurus mayatnya dan memakamkannya dengan layak. Aku dengar rumahnya sudah dijual oleh anak-anak tirinya.

***

Berita berpulangnya Wak Ninit disampaikan Umi via pesan singkat saat aku sedang di kantor. Saat itu aku baru saja kembali setelah redaktur memintaku mengambil foto para tersangka kasus korupsi stadion olahraga di KPK.

“Ada undangan buat Mbak Aisha,” ujar Wilda, sekretaris redaksi kompartemen kami.

Aku membolak-balik undangan itu, tapi tak menemukan nama pengirimnya.

Di tanganku tertera sebuah undangan pameran fotografi dan peluncuran film The Act of Killing karya Joshua Oppenheimer. Mataku tertumbuk pada salah satu nama penulis skenario dan buku dalam pameran itu, Andrian Suteja. Pikiranku segera beralih berganti-ganti pada Wak Ninit, Andrian, dan sebuah kota kecil di Inggris.

Soal yang terjadi di Inggris, baiklah aku ceritakan di sini. Sebuah pengumuman yang disebarluaskan oleh temanku di media sosial dua tahun lalu membawaku terbang ke Aberdeen, sebuah kota kecil yang dingin dan berangin. Aku mengajukan diri untuk mendapatkan beasiswa pada program pendek tentang jurnalistik dan fotografi yang digagas oleh Ford Foundation. Program itu tak begitu lama, hanya satu tahun, lalu kami dapat kembali ke Tanah Air. Karena program itulah aku bertemu dengan Andrian, laki-laki yang kini akan kukisahkan padamu.

Pertemuan pertama terjadi waktu kami makan malam di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, beberapa hari sebelum program perkuliahan singkat dimulai. Andrian tiba-tiba saja muncul di depanku dan bertanya, “Siapa namamu?” Sebenarnya itu cara yang aneh untuk mengajak berkenalan, tapi cara itu nyatanya berhasil.

“Sudah cicipi makanan yang di sana? Enggak enak, lho,” ujarnya sambil menunjuk makanan di atas meja.

Aku tertawa. Makanan yang ditunjuk Andrian itu adalah kue jahe asal Inggris. Bagi lidah orang yang biasa mencicipi masakan Nusantara, tentu saja rasanya tak enak. Namun Andrian tampaknya tak mau menyia-nyiakan kesempatan makan malam untuk mencicipi berbagai jenis makanan. Ia pria kurus tinggi yang gesit dengan selera makan yang baik. Rambutnya cepak dan ia mengenakan kacamata bulat seperti yang dipakai Harry Potter.

“Sebentar ya, aku cari makan dulu,” ujarnya setelah satai ayam yang dibawanya habis. Kali ini rupanya ia tahu diri mencomot makanan dari bagian Indonesia.

Selepas acara itu, ia meminta nomor teleponku dan menyimpannya di telepon selulernya. Kuperhatikan ia tak meminta nomor telepon Sekar, yang terus berdiri di sampingku dalam acara itu. Sekar adalah teman yang juga baru kukenal, tapi kami langsung akrab. Aku dan Sekar bahkan berjanji akan satu flat di Aberdeen. Sebabnya gampang saja, hanya kami berdua perempuan dalam rombongan penerima beasiswa. Sepuluh orang lainnya adalah laki-laki. Karena itulah aku merasa senasib dengannya.

Aku merasa bersemangat memulai hari-hari baru bersama orang-orang dengan minat yang sama sepertiku. Aku belum tahu bahwa pengalamanku di Aberdeen nanti akan sangat tak terlupakan.

***

Dari dua belas penerima beasiswa, dengan segera kami membentuk sebuah geng kecil. Aku, Sekar, Agung, dan Dwi. Keakraban tumbuh karena flat kami berdekatan. Tapi selain itu, bisa dikatakan latar belakang keluarga kami sama.

–bersambung

Kirim Tanggapan