Humor dalam Sastra Betawi

0
1234

“Jot, Ijot!” kata Bang Nuing kepada bininya. “Gue mau pegi dulu ah bentaran. Dari setadian gue nongkrong di lobang dapur aje, ucus ngebet amat nih pengen ngayap!” (“Banjir” dalam Gambang Jakarte, 2006)

Begitulah kutipan kelincahan gaya berbahasa Firman Muntaco, penulis kelahiran Cideng tahun 1935. Begitu kuatnya aspek humor dalam karya-karyanya, sehingga orang dengan mudah lantas mengaitkan bahwa sastra Betawi pasti memiliki humor yang kuat. Benarkah?

Salah satu sifat orang Betawi yang dikenal secara umum adalah memiliki humor yang tinggi. Saya ingat ketika sinetron Si Doel Anak Sekolahan sedang booming, ada kritik yang menyatakan bahwa tokoh Doel, yang diperankan oleh Rano Karno—kini Gubernur Banten menggantikan Ratu Atut Chosiyah—terlalu serius. Orang Betawi biasanya selalu bergembira, meski dalam keadaan susah sekali pun. Berkat sifatnya yang humoris, mereka mampu bertahan dari kesulitan hidup. Lihatlah Mandra, Tile, maupun Benyamin yang begitu natural membawa humor dalam karakter yang mereka perankan.

Humor, seperti dikutip Chaer dari Wijana (2012), adalah suatu rangsangan verbal atau visual yang secara spontan dapat memancing senyum dan tawa orang yang mendengar, membaca, atau melihatnya. Jejak humor dalam sastra Betawi sebenarnya sudah dapat dilacak sejak masa kesusasteraan Melayu Klasik, utamanya dalam karya Muhamad Bakir bin Sofyan bin Usman Fadli yang ditulis pada awal abad ke-20. Salah satunya tampak dalam Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak, sebagai berikut:

“Maka mengulit-ulit di bumi seperti terkena sakit kolera. Maka ada yang ditampar oleh Merpati Mas, habis merah mukanya dan keluar kecap dari lubang hidungnya, keluar darah. Maka Merpati Mas pun menendanglah dengan sekuat-kuatnya pada berbetulan kemaluannya, maka melesatlah keluar biji kelapurnya. Maka segera jatuh rebahlah pada bumi dengan kemaluannya, menyesal ia memegang kaki Merpati Mas itu, maka tiada berapa lamanya lagi karena biji itunya sudah keluar, lalu mati” (Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak: 93-96)

Keberanian untuk membicarakan seks secara demikian terbuka, ditambah dengan humor yang membungkusnya hampir mustahil kita temukan dalam karya sastra dengan patron istana. Bahkan bagi sebagian orang masa kini, hal ini masih dianggap jorok dan porno.

Saya mengira keterbukaan dan keberanian untuk menggunakan humor dalam sastra Betawi berkaitan dengan sifat bahasa Betawi yang egaliter dan terbuka. Bahasa Betawi, yang berinduk dari bahasa Melayu, tidak memiliki sekat atau tingkatan yang membedakan orang yang diajak berbicara oleh penutur. Bagi beberapa kalangan, termasuk Herman Willem Daendels—perwakilan pemerintahan Prancis yang kala itu menguasai Jawa—bahasa Melayu yang merupakan lingua franca merupakan bahasa ayam, suatu bahasa yang kasar, yang tidak seorang pun ingin mendengarnya. Para raja-raja di Jawa bahkan selalu menolak berbahasa Melayu. Peter Carey menuturkan mereka lebih suka berbahasa Jawa yang indah dengan para pejabat pemerintah Hindia Belanda yang bertugas di wilayah mereka.

Bagi Firman Muntaco, humor adalah bungkus untuk menyatakan kritik sosialnya. Pemuatan karyanya di surat kabar tentu sejalan dengan sifat koran yang harus selalu menyajikan berita yang terbaru dan relevan. Maka tidak heran jika dalam sketsa-sketsa Firman Muntaco, hal-hal yang disajikan merupakan masalah kemanusiaan yang sangat dekat dengan kehidupan orang-orang di Jakarta. Melalui sketsa-sketsanya, berbagai segi kehidupan orang kecil yang selama ini tersembunyi atau tidak terungkap mulai naik ke permukaan. Yang istimewa tentu saja, dalam karya Firman, terasa sekali kebetawiannya. Bisa dikatakan karyanya kuat dengan unsur tradisi lisan dan humor. Hal ini dapat kita temukan pada contoh berikut:

Percis pukul setengah dua belas hari Jum’at, keluarlah Bung Jeki dari kantornya. Terus saja ia nyelonong ke tempat sepeda, buat menyomot sepedanya terbirit-birit. Si Junet, sobat kentalnya yang nama panggilannya Si Joni, serenta melihat Bung Jeki ngibrit mau pulang, kontan ia berteriak:

“Sok keren lu, Jek, ah! Nggak ape-ape terbirit-birit kaye nyang mau sembahyang aje! Ude lama lu jadi mualim? Pake dong sorbannye! (Muntaco, 2006: 197).

Semakin berkembangnya zaman membuat Firman merasa perlu mengikutinya dengan menuliskan hal-hal yang update di masyarakat, salah satunya perihal korupsi. Hal ini terlihat dalam sketsanya berjudul “Si Mewah Ngadepin Lebaran” yang dimuat Berita Buana, 28 September 1975.

“Pap, lebaran seminggu lagi, kita potong ayam atau kambing?” tanya bininya Pak Anoar yang sekarang pake istilah ‘papa’ segala kalau manggil lakinya. Dulunya sih paling banter ‘abang’ atau ‘kakak’.”

Dalam skesta ini diceritakan sebuah keluarga yang sangat berubah gaya hidupnya akibat menerima gratifikasi dari para relasi dan korupsi. Saking noraknya, keluarga ini dijuluki sebagai, “orang buta baru melek”. Namun Pak Anoar menganggapnya biasa saja sebagai imbas rejeki jabatan. Sebagai kontras untuk menghapus dosa-dosanya, Pak Anoar dikisahkan rajin salat dan puasa.

Kontas memang menjadi bagian dari gaya penceritaan Firman Muntaco. Namun dalam kontras itu ada humor dan kritik yang tercermin melalui kehidupan orang-orang yang bukan priyayi. Saya kira Firman telah menjadi pelopor serta peletak dasar sastra yang bercirikan dan menonjolkan kebetawian, yang ditulis oleh “orang dalam” yang sedemikian meresapi dan memahami budaya yang mengungkungnya.

Maka, haruskah ada humor dalam sastra Betawi? Jawabannya seringkali iya dan kadang-kadang tidak. Namun, dapat disimpulkan bahwa humor dan bahasa Betawi adalah penanda suatu sastra “Indonesia” yang bercorak lokal Betawi.

Bahan bacaan:

Muntaco, Firman. 2006. Gambang Jakarte. Depok: Masup Jakarta.

Chaer, Abdul. 2012. Folklor Betawi. Depok: Masup Jakarta.

Nurdiarsih, Fadjriah. 2008. Pandangan Sosial dalam Sketsa-sketsa Firman Muntaco. Depok: Skripsi Sarjana Universitas Indonesia.

Kirim Tanggapan