Resensi Pulang Karya Tere Liye

0
1695
Pulang, Tere Liye
Pulang

RESENSI PULANG KARYA TERE LIYE

PULANG: ARTI SEBUAH JANJI DAN KESETIAAN

Judul : Pulang

Penerbit : Republika

Tahun terbit : September 2015

Jumlah halaman : iv + 400

novel Pulang

Negeri para mafia. Kesan itulah yang terbayang pertama kali saat saya memaknai isi novel ini. Kasus Setya Novanto yang mencatut nama Presiden Jokowi dalam kasus Freeport, pelemahan KPK dan seterusnya menandakan bahwa negeri ini, termasuk pembesar-pembesarnya dan kejadian di baliknya dikuasai oleh tangan-tangan yang tak kelihatan tapi bekerja sangat rapi dan sistematis.

Namun kenapa harus memakai kata pulang di saat ada novel berjudul sama yang menjadi bintang di Frankfut Book Fair 2015? Dengan merujuk kepada kata pulang saja, sudah terbayang di benak pembaca bahwa ini adalah kisah seseorang yang kembali mencari jati dirinya. Ya, semacam bocoran, bukan?

Pulang kali ini berkisah tentang seorang anak talang di rimba hutan Sumatera, di antara rimbunnya Bukit Barisan, yang dipanggil si Bujang. Sekilas kita mahfum bahwa Bujang hanyalah nama panggilan, seperti nama Entong di Betawi, dan bukan nama yang sebenarnya. Ia dititipkan pada seorang tauke—yang dari sebutannya tentu kita bisa menduga dari suku apa si tauke berasal. Maka dari seorang anak yang tidak memiliki alas kaki, kemudian si Bujang tumbuh menjadi seorang yang cerdas luar biasa dan menyelesaikan gelar dua master sekaligus. Padahal sampai usia 15 tahun ia tak mencecap bangku sekolah sedikit pun. Hanya Mamak, ibunya, yang menjadi gurunya sehari-hari serta mengisahkan banyak hal, termasuk ilmu agama.

Kisah selanjutnya bergulir pada sepak terjang Keluarga Tong dengan pemimpinnya si tauke besar yang secara diam-diam mempunyai pengaruh pada berbagai kegiatan ekonomi di kota provinsi. Tere Liye menjembarkan pada pembacanya perihal istilah shadow economy: kegiatan pencucian uang, sumber-sumber dana yang dipakai dalam bisnis dan perbankan, serta orang-orang kaya yang dipakai sebagai pion dalam menjalankan usaha bagi orang lain. Shadow economy mulanya adalah isu yang mungkin telah kita dengar secara samar-samar. Di dunia inilah, dengan gaya ala mafia dan aksi ala Ocean Eleven, novel ini mengisahkan tukang pukul nomor satu di keluarga Tong: si Bujang alias Babi Hutan. “Bisikkan nama si Babi Hutan di telinga mereka, maka orang-orang akan gemetar ketakutan. Suruh si Babi Hutan bicara, bahkan seorang presiden pun akan diam mendengarkan (hlm. 315).

Sampai akhirnya pengkhianatan dari Rasyid, yang selalu mengklaim sebagai pewaris suku Bedouin, membawa jalan bagi Bujang untuk memahami akar keluarganya, soal sakit hati dan kisah cinta orang tuanya. Maka si Bujang pun pulang, seperti yang dipesankan oleh Mamaknya, “Pergilah anakku, temukan masa depanmu. Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang. (hlm. 24)”

Meski menjadi tukang pukul, Bujang tidak pernah makan babi atau minum minuman keras atau bahkan menggoda perempuan. Tentu Bujang bukan tukang pukul sembarangan, tapi ia juga penyelesai konflik tingkat tinggi. Ini memang berkaitan dengan pesan Mamaknya, tapi tentu kita tahu maksudnya. Tanpa sedikit pun makanan dan minuman haram yang masuk ke dalam tubuhnya, Bujang akan menemukan jalan pulang sejauh apa pun dia tersesat. Ya, akhirnya ia menyadari arti namanya: Agam, yang berasal dari leluhurnya yang saleh dan pemberani. Juga darah kakeknya yang seorang perewang tetap mengalir dalam tubuhnya.

Kelemahan novel ini, menurut saya, adalah banyaknya “suara Tuhan” dalam penceritaan. Meski mengambil sudut pandang orang pertama, kesan maha tahu masih ada. Padahal, dalam penceritaan memakai teknik aku seharusnya pengetahuan orang pertama di luar dirinya sangat terbatas. Kelemahan lain, kesan menggurui masih ada ditambah kalimat panjang-panjang yang rasanya kurang wajar terjadi dalam situasi percakapan antara satu orang dengan orang lain. Dalam hal ini, saya ingat satu adegan dalam novel Harry Potter And Half Blood Prince saat Harry berbicara dengan Dumbledore yang sudah meninggal dan Dumbledore hanya menyarankan Harry mencari jawabannya sendiri. Karya sastra memang seharusnya tidak berceramah, tetapi bisa mengajak pembaca untuk lebih melihat ke dalam dirinya sendiri, ke dalam kemanusiaannya.

Kirim Tanggapan