Batavia, dari JP Coen hingga Impor Gadis

0
1429
Balai Kota Hindia Belanda, sumber Wikipedia

Dalam membaca sejarah pembentukan Kota Jakarta, tentu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pemerintahan kolonial di masa lampau. Susan Blackburn mengatakan Belanda selalu menganggap Batavia adalah kreasi bangsa Eropa yang didirikan di lahan kosong dengan bahan yang benar-benar baru (2011: 3). Padahal, Kota Jakarta pada mulanya adalah sebuah pelabuhan yang ramai di tepi laut bernama Sunda Kelapa yang ada di bawah penguasaan Kerajaan Hindu Pajajaran. Sumber-sumber sejarah menyebutkan kota ini sudah berdiri sejak abad ke-12. Di kemudian hari, yakni pada awal abad ke-17, Belanda datang merebutnya dan lantas mengubah nama kota ini menjadi Batavia—dari nama leluhur orang-orang Belanda.

Ditaklukkannya Sunda Kelapa oleh perusahaan dagang Hindia Belanda, VOC, berkaitan dengan motif ekonomi. Salah satunya adalah ketertarikan komersial bangsa Eropa terhadap rempah-rempah yang merupakan produk jarak jauh paling menguntungkan yang dapat disediakan wilayah tersebut bagi Eropa (Blackburn, 2011: 9). Lada, cengkih, dan pala menjadi komoditas yang paling diburu orang Eropa di Nusantara. Sunda Kelapa menjadi salah satu pelabuhan penghubung ke jalur perdagangan dunia.

Orang yang dianggap paling berperan dalam pembentukan Kota Batavia adalah Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC 1618- 1623 dan 1627-1629). Orang Betawi menyebutnya Mur Jangkung. JP Coen-lah yang meletakkan dasar bagi pembangunan tata kota dan masyarakat di Batavia. Ia membangun Batavia sebagai kota benteng yang di dalamnya orang Jawa tidak diizinkan tinggal. Dinding kota dibuat kuat dan besar untuk menghadapi gangguan perampok dari Banten. Coen beranggapan berkumpulnya orang Jawa di dalam benteng bisa menimbulkan kemungkinan mereka kasak-kusuk merencanakan pemberontakan. Karena itulah, ia mengumpulkan orang-orang dari berbagai daerah untuk memenuhi kebutuhan kota.

JP Coen membayangkan Batavia menjadi kota yang ideal dan bermartabat. Dalam visi Coen, Batavia tidak dirancang untuk menjadi sebuah ibu kota dari pemerintahan kolonial yang besar. Perusahaan dagang Hindia Belanda hanya menginginkan kota ini menjadi pelabuhan tempat kapal-kapal dapat diperbaiki, tempat segala barang komoditas yang menguntungkan dikumpulkan, serta markas besar administratif untuk segala kegiatan VOC di wilayah ini. Berkat bimbingan Coen, pada abad ke-17 Batavia berkembang pesat menjadi sebuah kota dengan jaringan perdagangan Belanda di Asia yang kokoh. Batavia kemudian menjadi kota VOC dan bukan kota Jawa.

Di mana batas kota benteng Batavia? JJ Rizal menyebutkan kota lama Batavia terbentang dari Pasar Ikan hingga wilayah yang dikenal sebagai kota tua, dengan ikonnya Museum Sejarah Jakarta, dulu Balai Kota alias pusat pemerintahan Belanda di Jakarta. “Segitu doang,” ucap JJ Rizal beberapa waktu lalu.

Meski demikian, ada satu hal yang menggelisahkan JP Coen. Di Batavia terlampau banyak kaum laki-laki. Komunitas Eropa di sana kekurangan gadis. Padahal, dalam suratnya kepada kepada Heeren XVII, ia menulis, “Siapa pun tahu bahwa laki-laki tidak dapat hidup tanpa perempuan. Namun, sepertinya Tuan-tuan mengharapkan sebuah koloni yang dibangun tanpa perempuan. “ Coen merasa putus asa lantaran terlalu sedikit bangsa Eropa yang berminat datang ke Batavia, sementara kaum Eropa yang sudah ada di sana kebanyakan adalah “sampah masyarakat.” Lalu, muncullah ide untuk membeli gadis. Namun benarkah Belanda mengimpor gadis ke Batavia?

Bondan Kanumayoso, doktor sejarah dari Universitas Indonesia, menyatakan pada Sabtu, 4 Maret 2016, JP Coen memang bercita-cita menjadikan kota sebagai koloni yang berisikan Belanda totok. Maka, ia meminta agar pemerintah pusat di Belanda mengirimkan gadis-gadis agar orang-orang Belanda di Batavia terjaga kemurnian darahnya. Namun sayang yang dikirimm justru perempuan-perempuan nakal dari tempat pelacuran.

“Akibatnya perempuan-perempuan ini justru bertingkah dan membuat masalah. Padahal, Coen mengharapkan terbentuknya masyarakat yang taat dengan kesadaran sosial yang tinggi,” ucap Bondan Kanumayoso.

Program ini pun akhirnya dihentikan. “Barangkali hanya satu atau dua kali kirim,” ucap Bondan lagi.

Salah satu alasan kurangnya minat orang Eropa ke Batavia adalah monopoli VOC terhadap kegiatan perdagangan di sana. Hampir setiap aktivitas ekonomi yang menguntungkan dilakukan oleh petugas VOC? Lantas, apa yang dapat mereka lakukan di sana? Bahkan para tukang-tukang Eropa yang terlatih pun kalah bersaing dengan tukang-tukang Asia yang bersemangat, bekerja lebih keras, dan mau dibayar lebih murah. Ditambah ketika lahan di sekeliling dibuka untuk pertanian, kondisi iklim tropis Batavia bukanlah sesuatu yang biasa dihadapi para petani Belanda.

Dengan demikian, Batavia pada awalnya adalah kota yang berisikan orang-orang yang dibawa demi tujuan VOC. Kaum Eropa untuk pemerintahan, bangsa Asia termasuk Jepang dan Filipina dijadikan tentara bayaran demi menjaga garnisun kota, dan orang-orang Cina menjadi penghubung perdagangan. Berbagai tenaga kerja budak dikumpulkan dari wilayah di seluruh Nusantara karena mereka terlalu curiga terhadap orang Jawa. Ini adalah kota yang didesain dan dijalankan demi kepentingan VOC sendiri.

Kirim Tanggapan