JS Badudu dan Bahasa Kita

0
1365
JS Badudu, foto: CNNIndonesia

Kabar duka datang menyentak di Minggu pagi, 13 Maret 2016. Jusuf Syarif Badudu, yang kita kenal sebagai JS Badudu, meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada Sabtu, 12 Maret 2016 pukul 2016. Ia dilahirkan di Gorontalo 19 Maret 1926 dan wafat dalam usia 89 tahun akibat komplikasi penyakit di usia tua.

Bagi saya pribadi, kematian JS Badudu membawa rasa sedih yang mendalam. Tidak, saya tak mengenalnya secara pribadi. Saya hanya tahu dan pernah membaca buku-buku yang ditulisnya. JS Badudu, misalnya, ikut menyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994). Ia juga ikut merevisi kamus Sutan Muhammad Zain, Kamus Kata-kata Serapan Asing (2003), Pelik-pelik Bahasa Indonesia (1971), Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (1993), Kamus Peribahasa (2008), dan Membina Bahasa Indonesia Baku (1980).

Tidak semua karyanya saya baca, selain karena memang sudah sulit ditemukan. Namun di kantor saya yang lama di Tempo, kamus adikaryanya ada dalam perpustakaan kami. Namanya juga dibicarakan dengan penuh rasa hormat dan penghargaan. Misalnya ketika kami membahas seharusnya HUT RI ke-70 atau HUT ke-70 RI, dengan mudah kami menemukan jawabannya berkat buah pikir JS Badudu. Si senior rupanya sudah pernah menonton acara J.S. Badudu di TVRI, yaitu Pembinaan Bahasa Indonesia. Acara ini ditayangkan di TVRI pada 1977-1979, kemudian berlanjut tahun 1985-1986. Saat itu TVRI adalah satu-satunya siaran televisi di Indonesia.

Ya, melalui acara ini JS Badudu getol mengajak masyarakat untuk berbahasa Indonesia yang baik yang benar—sebuah impian yang kini tampaknya jauh dari harapan. Berbahasa yang baik dan benar dianggap kuno, kaku dan tak menyenangkan, sementara bahasa yang penuh istilah asing dianggap lebih modern dan “kekinian”. Kini saya pun pesimistis, apakah konsep berbahasa yang ideal itu hanya akan menjadi utopia?

Pertanyaannya, mengapa pengguna bahasa lebih senang memakai kata di-bully dibanding dirisak atau dirundung? Pilih mana gadget atau gawai, mem-posting atau mengunggah, incumbent atau petahana? Oh ya ada lagi, streaming atau aliran data?

Banyak alasan yang mendasari pilihan kata berbau asing itu. Beberapa misalnya, “Tapi kan enggak enak”, “kalau pakai kata-kata itu orang enggak ada yang tahu”, dan satu lagi “tapi enggak SEO (Search Engine Optimization).

Untuk alasan nomor satu, menurut saya Anda baper. Sementara nomor dua, kalau orang tidak tahu, Anda justru harus memberi tahu. Jika orang sudah tahu dan kata-kata itu menjadi familiar, tentu saja kata-kata itu lambat laun akan menjadi SEO. Salah satu contohnya adalah kata canggih. Dulu banyak orang tidak paham bahwa kata canggih itu dipakai untuk menggantikan sophisticated. Barulah belakangan orang terbiasa memakai kata canggih.

Di sinilah saya merasakan begitu vitalnya peran JS Badudu, yang menurut Goenawan Mohamad seperti dikutip dari akun Twitternya, “Satu generasi tak akan lupa Pak Yus Badudu: lewat TVRI, ia menyadarkan orang ttg betapa perlunya berbahasa Indonesia dgn baik dan benar.”

Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar kini menjadi PR kita. Ingatlah, JS Badudu mensyaratkan baik dulu, baru benar. Artinya, sesuai situasi dan lawan bicara dulu, baru kaidah dan tata bahasa.

Bicara soal benar, kita punya Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Pedoman Ejaan yang Disempurnakan dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. JS Badudu yang merupakan Guru Besar Universitas Padjajaran merupakan salah satu pelopor Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Dalam buku tipis tapi penting itu, diatur tata cara berbahasa Indonesia. Sayangnya, aturan ini kini banyak diabaikan, salah satunya oleh media Tanah Air.

Saya berpendapat media seharusnya punya sikap untuk ikut menjaga dan merawat bahasa Indonesia. Sebab, media dibaca orang dan punya peran edukasi. Sangat disayangkan bila media justru memilih cara berbahasa yang salah. Bisakah Anda bayangkan, jika media dengan sengaja memilih bentuk bahasa yang salah, lalu tulisan itu dibaca orang dan dipahami oleh generasi sekarang yang instan sebagai bentuk yang benar. Maka yang terjadi adalah bentuk yang salah itu akan dipakai secara luas dan kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Karena itulah, saya mendukung habis-habisan ketika seorang teman mengatakan hendak memakai kata gim untuk menggantikan game dan tertawa keras ketika yang lain bersumpah serapah karena tak ada yang memahami arti kata terungku yang dia pakai. Dan karena itu pula, saya tidak terima bila konsep angka muncul di awal kalimat. Bukannya saya pakai kacamata kuda, tapi ada perbedaan besar antara konsep narasi dan matematika. Logika psikologis harus kita pakai dalam memahami alasan tersebut.

Dengan demikian, saya akan selalu merindukan JS Badudu, yang disebut Bondan Winarno sebagai pendekar bahasa yang baik dan benar. JS Badudu yang telah membaktikan hampir seluruh hidupnya untuk mencintai dan mengampu bahasa Indonesia. Berdasarkan informasi dari Ananda Badudu, cucu ke-7 beliau yang juga wartawan Tempo, JS Badudu telah delapan tahun menjadi guru SD, empat tahun guru SMP, 10 tahun guru SMA, dan 42 tahun menjadi dosen di Unpad dan UPI Bandung. Bahkan setelah masuk usia pensiun pada 1991, JS Badudu masih aktif mengajar dan menulis sampai awal 2000.

Atas dedikasi dan pengorbanannya, JS Badudu dianugerahi tiga tanda kehormatan dari pemerintah: yakni Satyalencana Karya Satya (1987), Bintang Mahaputera Nararya (2001), dan Anugerah Sewaka Winayaroha (2007)

Indonesia sepatutnya sangat kehilangan, tapi ia telah menunaikan tugasnya dengan paripurna. JS Badudu memang telah wafat. Ia mewariskan pemikiran dan prinsip yang penting serta bernilai untuk direnungi generasi sekarang. Selamat beristirahat dengan tenang Bapak Jusuf Syarif Badudu.

Kirim Tanggapan