Orang Jakarta Berkuasa di Pantai Carita, Banten?

0
741
Banana Boat, Pantai Carita

Ombak Pantai Carita, Anyer, tampak tenang sore itu, Sabtu, 2 April 2016. Satu buah kapal cepat tengah menarik sebuah pelampung besar berbentuk pisang dengan enam orang di atasnya. Tiba-tiba saja kapal itu berbelok tajam. Enam orang itu pun terjatuh ke dalam air. Mereka saling bertumpuk. Tapi tenang saja, mereka tidak tenggelam. Selain mengenakan pelampung, ada satu orang lagi yang bertugas menjadi penyelamat.

Orang-orang yang melihat kejadian itu ramai tertawa-tawa. Permainan banana boat itu cukup diminati karena menantang adrenalin. Seorang lelaki kurus dan berkulit hitam mendekati saya. “Banana boat, Bu. Dua puluh ribu saja,” ucapnya.

Permainan banana boat di Pantai Carita diminati para pelancong.
Permainan banana boat di Pantai Carita diminati para pelancong.

Saya iseng bertanya apakah ia pemilik wahana itu. Ia tersenyum sambil bilang, “Bukan, saya cuma orang suruhan.” Yang punya Haji Mul, orang kampung sini, Kampung Sanghyang,” katanya.

Haji Mul yang disebutnya bos itu rupanya punya dua banana boat dan satu perahu cepat untuk  membawa para wisatawan ke tengah lautan atau tanjung di dekat lautan dalam. Tanjung Mutiara, mereka menyebutnya. Untuk ke sana tarifnya per orang 100 ribu rupiah, lumayan mahal. Tapi jangan kaget dulu, rupanya tarif itu bisa ditawar hingga 50 persen. “Bisa berenang dan lihat terumbu karang,” ia berpromosi.

Dari Pantai Karang Sari, Carita, cuma butuh 15 menit saja menuju Tanjung Mutiara. Pantai Karang Sari, meski namanya demikian, konon tidak ada karangnya. Pantai ini terletak setelah Pantai Karang Bolong Carita yang memang ada batu karang yang berlubang di tengah-tengahnya. Setelah Pantai Karang Sari ada Pantai Pasir Putih. Masing-masing orang sudah mengkapling sendiri lahan rejekinya.

Ternyata Haji Mul adalah satu-satunya pemilik yang merupakan warga setempat. Kapal-kapan lainnya rata-rata dikuasai orang Jakarta.

Adi yang mengantarkan saya hingga ke Tanjung Mutiara mengatakan ada lima orang yang bertugas sebagai “bos kecil”. Kelima orang ini biasanya mencatat dan mengawasi setiap transaksi. Dari setiap pemasukan hari itu, setelah dipotong biaya bahan bakar dan operasional, hanya sekitar 50 persen yang masuk kantong pribadi.

Gunung Krakatau dilihat dari tengah Pantai Carita
Gunung Krakatau dilihat dari tengah Pantai Carita

Senada, Irpan asal Kampung Cibenda menyatakan sistem pembagian hasil yang mereka dapatkan berbeda dengan sistem sewa sopir angkutan. Ada delapan orang dalam kelompoknya. Itu berarti keuntungan bersih yang mereka dapatkan dibagi sama rata untuk delapan orang. Ada yang bertugas mencari orang, menyetir perahu, hingga menambatkan perahu di dermaga penyimpanan.

Berapa rata-rata penghasilan mereka sehari? Kalau sepi biasanya di bawah Rp 1 juta. Sementara kalau ramai, “Wah, bisa dapat 10 juta,” ucapnya sambil tertawa.

Setiap hari ia dan teman-temannya setia menjaga di pinggir Pantai Carita. Mereka sudah bersiaga sejak pagi hingga sore. Memang itu penghidupan satu-satunya untuk menafkahi keluarga.

Monopoli orang Jakarta rupanya juga berlaku untuk penyewaan jet ski. Mesin untuk olahraga air itu juga disewakan di Desiana Cottages, Pantai Carita, Banten. Kubil, si penjaga, menyatakan pemiliknya orang Jakarta Pusat. Mesin bermotor itu disewakan kepada yang berminat kebut-kebutan seharga Rp 150 ribu untuk 15 menit. Bagi yang sudah terbiasa tentu asyik. Kalau tidak, hati-hati apabila mesin mogok di tengah lautan seperti yang saya alami. Jika tidak lihai mengendarainya, Anda bisa terlempar ke tengah laut saat berbelok. Meski sudah memakai pelampung, terlempar ke tengah laut yang jauh dari siapa-siapa tentu bukan pilihan yang asyik.

Kirim Tanggapan