Perempuan yang Memandang Kematian

0
1482
Perempuan yang Memandang Kematian

Perempuan yang Memandang Kematian

Riyana Rizki

 

Teriakan Gedarik menuai badai. Tidak, sebenarnya ia hanya menangis seperti biasa. Seperti bocah satu tahun lainnya yang bila mulut tidak tersumpal susu. Di sampingnya, kain gendong bergoyang-goyang, seperti mengajak Gedarik bermain. Tapi Gedarik tidak tertawa, voltase suaranya semakin meninggi. Magnet di suara Gedarik mulai menarik kaki para tetangga untuk mendatangi tangisan yang jauh lebih lama dari biasanya. Dan di sana, di samping tubuh Gedarik yang dipenuhi ompolnya sendiri, di kain gendong yang bergoyang tadi menggantung tubuh Ningsih, neneknya. Perempuan yang dikenal sebagai perempuan paling bahagia di pasar Kuramang.

Bibir orang-orang mulai bergetar, tanpa irama, menduga cerita. Semua bibir bertanya mengapa, tapi tak ada satu pun yang memberi kata karena. Bibir-bibir bergetar tidak hanya dialami oleh tetangga Ningsih, orang-orang yang mengenal Ningsih di pasar Kuramang pun mulai menggoyangkan bibir mereka, menduga cerita. Di lorong-lorong pasar, nama Ningsih masih menggantung di bibir-bibir yang bergetar, mereka-reka kata karena.

“Mungkin dia terlilit utang, kan…” Satu bibir bergetar mengeluarkan suara sambil melepas paha sapi yang tergantung kemudian memotongnya.

“Mana mungkin,” serobot penjual lain. “Bu Ningsih itu masih dapat kiriman dari anaknya yang jadi TKW. Kirimannya besar, sampai hutang Bu Ningsih sudah lunas.”

“Mungkin kesepian?” Penjual daging lainnya ikut menggetarkan bibir.

“Kalau iya, pasti Bu Ningsih sudah mau diajak kawin sama Pak Sabro.”

Dan bibir-bibir terus menggetarkan nama Ningsih di setiap lorong pasar. Setiap sudut pasar tahu kisah hidupnya. Seperti kisah klasik lainnya, ia janda miskin yang terlanjur terdampar di kota yang angkuh tanpa keterampilan dengan seorang anak berusia 3 tahun. Tinggal di belakang pasar dan bertahan hidup dengan menjual kue berkeliling pasar. Klasik.

#

Tunggu, itu kisahnya. Kisah klasik yang dituturkan pencerita tentang cerita nenekku. Kisah itu pula yang ditelan setengah matang oleh orang kampung dan pasar. Tidak ada yang tahu bagaimana nenekku mendapat status jandanya, tidak ada yang tahu kronologi kelahiranku, tidak ada yang tahu bagaimana ibuku. Tidak ada. Baik, silakan tuan dan puan dengarkan dongeng dari sudut pandangku ini, dongeng ini kututurkan tidak ada kurang lebihnya. Sebab nenek terus menerus mengulang cerita ini setiap malam, jadi aku telah menghapalnya dengan baik.

Nenek menyumpal mulutku dengan botol dot. Aku lupa rasa menghisap tubuh ibuku, aku lupa rasa air yang mengalir dari tubuh ibu. Tapi aku ingat wajah ibu, nenek seperti memahat wajahnya sendiri di wajah ibu. Itulah mengapa aku suka memandang wajah nenek berlama-lama. Meski kulit wajah nenek lebih lentur dari milik ibu, tapi di wajah keduanya kecantikan tidak dapat disembunyikan, pun oleh usia. Malam itu, nenek menurunkan pigura kayu yang membingkai foto setengah badan laki-laki berseragam putih dengan dasi hitam menggantung di kerahnya. Aku pun dapat melihat garis-garis wajah ibu di wajah laki-laki itu.

Nenek menempelkan pandangannya pada wajah yang membingkai senyum. Pandangan nenek tidak pernah sama ketika memandang laki-laki dalam foto itu. Pandangan nenek selalu layu di hadapan foto itu. Aku melihat tumpukan kerinduan yang menempeli ekor mata nenek. Setiap kerjapan mata mungkin menjadi usaha nenek untuk melepas rekatan memori, tapi laki-laki itu punya caranya sendiri untuk menghantui nenek. Bahkan setelah 26 tahun sejak perpisahan keduanya, laki-laki itu masih menggantungkan memorinya di setiap sudut pandangan nenek. Nenek mengusap foto itu, tepat di wajah si laki-laki.

Nenek mendekatkan foto itu ke wajahku.

“Bukankah dia sangat mirip ibumu?”

Kami sama-sama tahu jawabannya, tapi tidak ada satupun yang mau menjawab. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Kubuka lebar mulut agar dot terlepas dari mulutku. Dan di sinilah nenek akan memulai dongengnya untuk menidurkanku. Apakah setiap bayi-bayi di luar sana sepertiku, didongengkan oleh pendongeng yang selalu sesegukan di tengah-tengah cerita?

Laki-laki memang nekat, itu yang kutangkap saat kutahu ia menikahi nenek ketika status mahasiswa akhir masih ada di dahinya.

“Aku tidak ingin bungaku dipetik laki-laki lain lagi.” katanya saat ia meyakinkan nenek untuk lari bersamanya.

Nenek dan laki-laki itu sebenarnya sudah lama menyepakati status mereka. Sejak usia mereka masih belasan. Nenek tidak menyebut angka pastinya, sepertinya ia lupa. Tapi, ketika usia nenek 18 tahun, ketika laki-laki itu baru saja berangkat ke ibukota untuk melanjutkan pendidikan, nenek dinikahkan dengan pemilik tanah yang digarap orang tuanya. Laki-laki itu pun tahu ia ditinggalkan tanpa ucapan selamat tinggal. Pernikahan itu hanya semata-mata dilakoni untuk menyelamatkan masa depannya sendiri dan kehidupan orang tuanya. Masa depan mungkin bisa terselamatkan bersama suaminya itu, tapi tidak dengan badan nenek. Sampai saat ini ada banyak luka yang tidak kunjung hilang di badan nenek, buah tangan dari suami pertamanya. Nenek pun kembali ke rumah orang tuanya setelah berhasil melarikan diri di suatu malam yang buta. Dan di sanalah ia kembali bertemu dengan laki-laki itu. Laki-laki yang masih menyimpan bara kerinduan di hatinya. Bara yang sejenak padam dan kembali berkobar ketika bunga yang dipujanya kembali, meski tak lagi utuh dan wangi. Tapi laki-laki itu masih menyisakan ruang untuk menerima bunganya kembali.

“Aku lega tidak pernah mendengar ada ucapan selamat tinggal,” Kata laki-laki itu dengan membawa setumpuk kertas di tangannya. Diam-diam ia mensyukuri keputusan nenek untuk lari dari rumah suami pertamanya. Diam-diam pula ia berterima kasih pada dosen pembimbing skripsinya untuk memaksa pulang mengambil data keperluan skripsi. Hampir 6 tahun ia tidak pulang. Bukan karena tidak ada biaya, orang tuanya pasti mampu memberi uang lebih untuk membeli tiket kereta, tapi ia hanya tidak bisa menerima bunganya dipetik orang lain. “aku tahu selalu ada kesempatan.”

“Aku bunga yang sudah dipetik.”

“Bunga tetaplah bunga meski sudah dipetik.”

“Dan aku layu.”

“Karena kau terlalu sering menunduk.”

Meski sangat mengagumi kumbangnya itu, nenek masih menyelipkan ragu di antara kelopak-kelopak pikirannya. Mengatakan iya berarti melepas segala kedamaian kampung halaman untuk merasakan gejolak ibukota. Mengatakan tidak berarti kehilangan si kumbang menawan. Mengatakan iya berarti menciptakan jarak antara laki-laki itu dan kedua orang tuanya. Nenek buyut sangat tidak menyukai nenekku. Tapi aku tidak tahu sebabnya, nenek tidak pernah bersedia menyusun kata untuk menceritakannya. Mungkin saja karena citra nenek yang sudah menjanda di usia 24 tahun. Dan mereka hijrah ke kota. Sudah bisa kubayangkan betapa sederhana hidup yang mereka jalani ketika orang tua laki-laki itu menghentikan kiriman uang bulanan setelah tahu anaknya lari bersama seorang janda. Tapi kapal sudah terlanjur berlayar, pantang untuk turun layar. Meski demikian riak-riak air hanya menyapa lembut biduk mereka masih bisa diatasi bersama. Tapi di tahun ketujuh, sesaat setelah ibuku lahir, semua tidak lagi sama.

Hari itu hari senin di bulan Oktober, ketika kesibukan baru saja dimulai. Laki-laki itu bangun dengan badan yang lebih kuyu. Akhir-akhir ini laki-laki itu memang mengeluh bosan dengan suasana kantor. Sedikit malas dan sedikit paksaan dari nenek akhirnya laki-laki itu mau berangkat ke kantor. Dan tragedi itu terjadi, kereta terkapar, tanah merah, jerit kesakitan, tubuh tergeletak. Laki-laki itu salah satunya. Begitu sadar dia sudah berada di salah satu bangsal rumah sakit dan nenek juga ibu sudah ada di dekatnya. Tapi ada yang ia rasakan hilang. Buru-buru ia mencoba duduk dan memang percuma. Nenek diam. Buru-buru ia menarik selimutnya dan memang ada yang hilang. Nenek masih diam. Laki-laki itu tidak menempelkan reaksi apapun di wajahnya. Kaget pun ia tidak, bahkan seperti tidak kehilangan apapun, laki-laki itu kembali merapikan selimut sebisanya dan memejamkan mata. Nenek terus saja diam, tapi sepasang matanya menurunkan hujan secara diam-diam.

Tahun berganti angka dalam hitungan bulan, riak-riak tiba-tiba bergulung-gulung dan menghempas layar kapal yang sekuat tenaga direntangkan. Kehadiran ibu dan tragedi terkaparnya kereta menghapus kebiasaan hidup berhemat mereka. Kebutuhan ibu harus dipenuhi sementara laki-laki itu sudah lebih satu tahun tidak lagi bekerja. Dan tabungan semakin hari semakin dipangkas. Laki-laki itu semakin kuyu dari hari ke hari. Menghemat kata, menghindari makan, memandangi cermin dari atas kursi roda. Nenek sudah kehabisan stok sabar. Kompor di dapur semakin jarang dinyalakan. Dapur sepi dari kepulan asap. Sementara ia kewalahan dengan ibu yang memiliki nafsu makan yang luar biasa. Meski nenek sudah mencoba menutupi dengan berjualan kue basah, tapi selalu ada ruang yang bolong dalam masalah finansial. Malam itu, setelah menidurkan ibu di kamar, nenek mendatangi laki-laki itu. Badannya semakin terlihat menipis.

“Bagaimana kalau kita pulang?” Nenek berhati-hati dalam nadanya.

“Tidak dengan keadaan seperti ini.”

“Setidaknya kalau kita pulang,”

“Bagaimana kalau kau menikah saja dengan laki-laki lain?”

Nenek menekan kagetnya.

“Setidaknya kau tidak perlu bekerja, masa depan Sulin juga terjamin.” Mereka dikuasai hening sampai laki-laki itu kembali mengeluarkan kata, “Aku serius. Tinggalkan aku seperti kau meninggalkan suami pertamamu.”

“Tidak akan pernah aku lari dari suami pertamaku kalau ia tidak…kau tidak melakukan apa yang ia lakukan. Mengapa kau harus kutinggalkan? Tidak akan.”

“Kalau begitu kau yang akan kutinggalkan.”

Laki-laki itu mendorong roda kursinya masuk ke dalam kamar. Sementara airmata nenek menuntut untuk dibebaskan, tak lagi ingin terpenjara.

Subuh itu, ketika nenek hendak membangunkan laki-laki itu untuk mengunci pintu sementara nenek akan berangkat berjualan, kaki nenek seperti kehilangan tulang-tulangnya. Di sana, di dekat tubuh itu yang masih lelap, laki-laki itu menggantung tubuhnya dengan kain gendongan ibu dan di bawahnya kursi rodanya sudah terjungkal.

Memang, tidak pernah ada perpisahan yang tidak dibingkisi dengan kesedihan. Sejak itu pandangan nenek selalu layu. Seperti memandang kematian yang mendekat, tak ada harapan apapun dalam mata nenek. Tapi ia penipu yang hebat sebab tidak satu pun tetangga dan orang-orang pasar yang dapat melihat pandangan itu. Ia dengan rapi menyimpannya, seperti menyimpan kisahnya.

Ya, begitulah dongeng nenek berakhir dengan adegan itu. Nenek tidak pernah melanjutkan lagi sebab nenek jatuh dalam tangisnya. Tapi aku bisa melanjutkan bahwa setelah kejadian itu nenek pindah ke belakang pasar ini selain itu lari dari memori itu, harga sewa rumah ini jauh lebih murah. Membesarkan ibuku sendirian, menyembunyikan cerita hingga ibu beranjak dewasa dan menikah kemudian melahirkanku tanpa bapak. Sayang, bagian itu aku belum mendapatkan dongengnya dari nenek. Bahkan dari ibu sendiri aku tidak akan bisa mendengar dongengnya. Kata nenek hari ini ibu akan digantung karena membela dirinya. Lalu kepada siapa aku akan bergantung?

#

Gedarik menyapu kelopak matanya, mengeluarkan airmata yang tersisa. Ia mengatupkan mulutnya yang sedari tadi berteriak ketika seorang perempuan berbaik hati membagi sari tubuhnya untuk menenangkan teriakan Gedarik. Gedarik larut dalam sari tubuh perempuan itu, orang-orang semakin larut dalam praduga mereka. Sibuk dengan cerita yang mereka susun sendiri. Meski nama Ningsih masih tergantung di ujung bibir-bibir bergetar tetangga dan orang-orang pasar, tak pernah ada yang tahu mengapa Ningsih, perempuan yang dikenal paling bahagia yang biasa berjualan kue basah di pasar Kuramang, memutus jalan udara ke paru-paru dengan kain gendongan Gedarik, mungkin Subuh tadi.

Kirim Tanggapan