Luka dari Saudara Tua

0
914
mantan jugun ianfu

*judul mengambil dari tulisan Budi Setiyono dalam Narasi: Kumpulan Jurnalisme Sastrawi, Pantau.

**sudah tayang di Liputan6.com pada 7 April 2015 dengan judul “Kisah Getir Budak Seks Zaman Jepang”

Pembicaraan mengenai luka atas penjajahan Jepang di Indonesia masih belum selesai. Meski hanya berkuasa singkat, tiga setengah tahun, banyak pihak yang menyatakan penjajahan Jepang lebih kejam dibanding Belanda. Saudara tua itu hingga kini tak pernah secara terbuka meminta maaf atas kolonialisme di Asia Pasifik. Jepang bahkan masih mewariskan persoalan yang belum selesai. Salah satunya adalah jugun ianfu, perempuan budak seksual bagi tentara Jepang.

Mardiyem adalah salah satunya. Sudah sejak lama ia memperjuangkan haknya sebagai mantan jugun ianfu. Bersama Koichi Kimura, Mardiyem menghadiri Pengadilan Rakyat Perempuan Internasional (Tribunal Tokyo). Mardiyem datang ke Jepang atas undangan Violence Against Women in War-Net Work (VAWW-Net) Jepang. Pengadilan ini menuntut pemerintah Jepang sebagai penjahat perang yang melakukan sistem perbudakan seks selama Perang Dunia II. Pengadilan ini dihadiri negara-negara di Asia dan Belanda yang mengalami perbudakan seksual, seperti Indonesia, Tiongkok, Taiwan, Korea Utara, Korea Selatan, Malaysia dan Filipina.

Di bawah ini adalah kisah mengenai jugun ianfu seperti terdapat dalam buku Masyarakat dan Perang Asia Timur Raya karya Aiko Kurasawa, profesor emeritus Keio University.

Di seluruh wilayah jajahannya, Jepang mendirikan tempat hiburan. Para wanita dari seluruh pelosok didatangkan. Mereka diambil dari kampung halamannya dan ditinggalkan begitu saja saat perang usai. Mulanya para jugun ianfu adalah para wanita pekerja seks komersial. Salah satunya tergambar dalam film Sukarno garapan Hanung Bramantyo, saat Sukarno muda mengumpulkan para perempuan untuk melayani para tentara atas permintaan Jepang.

Para perempuan muda ini diming-imingi janji akan disekolahkan atau dipekerjakan dengan gaji yang layak. Kadang-kadang ajakan itu diikuti dengan perintah halus atau bahkan paksaan. Kepala desa dan ketua tonarigumi (ketua RT) sering diwajibkan untuk mengumpulkan wanita dalam jumlah tertentu. Mereka bahkan diberi target perekrutan dan para penduduk tidak berani menolak. Ada juga yang sudah tahu bakal jadi pelacur, tapi mereka tidak berani menentang pihak yang berkuasa.

Karena jugun ianfu harus yang belum bersuami dan usia kawin di masyarakat desa Jawa zaman dulu sangat muda, yang diambil sebagai calon jugun ianfu rata-rata masih sangat muda, sekitar 14-15 tahun.

Mardiyem, mantan juguan ianfu dari Yogyakarta.
Mardiyem, mantan juguan ianfu dari Yogyakarta.

Mardiyem adalah salah satu mantan jugun ianfu yang paling aktif bersuara. “Aku diberi nama Momoye dan menempati kamar nomor 11. Sejak itu semua orang memanggilku Momoye. Nama Mardiyem telah hilang di Telawang,” tutur Mardiyem, yang saat itu berusia 13 tahun, dalam buku Momoye, Mereka Memanggilku.

Kamarnya hanya berukuran 3 x 2,5 meter. Awalnya ia dijanjikan bakal diberangkatkan ke Borneo, jadi penyanyi kelompok sandiwara keliling Pantja Soerja. Namun anehnya, ia diperiksa detil sebelum berangkat, termasuk di bagian kemaluannya. Mardiyem tak bisa melupakan pemerkosaan pertamanya. Ketika itu terjadi ia bahkan belum menstruasi.

“Setelah saya diperkosa oleh laki-laki berewokan, pembantu dokter yang memeriksa kesehatan saya pertama di Telawang, hari pertama di Asrama Telawang, saya dipaksa melayani enam laki-laki padahal waktu itu saya sudah mengalami pendarahan hebat,” ujarnya kepada Eka Hindra, aktivis yang membantu advokasi jugun ianfu di Indonesia.

Sejak itulah mimpi buruknya dimulai. Di jalan ia dipandang sinis oleh penduduk sekitar, yang menyebutnya ransum Jepang. Para perempuan nakal di Telawang menganggap mereka sebagai pesaing. Ia juga diterungku, diawasi, dan dibatasi geraknya.

Setiap tentara yang datang kepadanya diwajibkan membeli karcis. Ada perbedaan tarif bagi kalangan serdadu dan perwira Jepang. Siang hari, untuk pangkat serdadu, harus membayar 2,5 yen, sementara pukul 17.00-24.00 membayar 3,5 yen. Pukul 24.00 sampai pagi untuk perwira membayar 12,5 yen. Namun, Mardiyem tak menerima pembayaran itu. Semuanya disimpan pengelola rumah hiburan. Ia dijanjikan akan menerima hasil kerjanya setelah keluar dari sana. Namun itu tentu janji kosong belaka.

Kepada Aiko Kurasawa, Mardiyem mengatakan ia berasal dari Yogyakarta. Keluarganya turun-temurun menjadi abdi dalam keraton sejak zaman sang kakek. Mardiyem lahir dan dibesarkan di Yogyakarta. Bersama 48 orang lainnya ia berangkat ke Surabaya menumpang kereta api, lalu dijemput dengan truk militer ke pelabuhan. Setelah itu bersama rombongan ia menaiki kapal Nichi’imaru dan diberangkatkan ke Banjarmasin.

Pemilik rumah bordil yang ditinggali Mardiyem adalah seorang Jepang yang juga mengelola restoran. Chikada namanya. Sikapnya sangat kasar. Chikada pernah menghamili pembantunya sendiri. Mardiyem juga pernah disiksa karena menolak melayani tamu. Akibat pukulan dan tendangan bertubi-tubi Mardiyem pingsan hampir enam jam. Kejadian itu membuatnya trauma secara fisik dan psikologis.

Tak semua tamu yang datang buruk. Mardiyem ingat ada seorang anggota tokubetsu keisatsutai yang bernama Watanabe, yang selalu membeli karcis untuk dua atau tiga jam agar ia bisa beristirahat. Rumah bordil itu memang sangat ramai, sehingga dalam satu tahun pertama lima orang rekannya jatuh sakit.

Hamil

Mardiyem pernah hamil. Tak semua tamu yang datang kepadanya sukarela mengenakan kondom. Ia terpaksa menggugurkan kandungannya karena disuruh oleh Chikada, pemilik rumah bordil. Ia sebenarnya tahu siapa ayah anaknya. Bahkan, kata Mardiyem, si laki-laki siap bertanggung jawab atas anak itu, tetapi Chikada tidak mengizinkan. Chikada mencoba membawa Mardiyem ke dokter secara paksa untuk mengaborsi janinnya. Ia juga diberikan obat tradisional untuk menggugurkan kandungan. Karena tidak berhasil, akhirnya perutnya ditekan dan bayi itu dikeluarkan secara paksa. Tenyata bayi itu laki laki dan masih hidup. Mardiyem merasa sangat merasa berdosa karena membiarkan bayi itu meninggal. Sebelum memakamkannya, ia memberinya nama Mardiyama—dengan “yama” dari nama ayah si bayi.

Setelah itu Mardiyem diistirahatkan tiga bulan, sebelum akhirnya dipukuli dan diperkosa oleh Chikada. Akhirnya Mardiyem dikembalikan ke pekerjaan lamanya.

Mardiyem beruntung bisa pulang kembali ke Yogyakarta pada 1953. Tak ada uang yang dibawanya lantaran situasi kacau. Meski dulu komunikasi dengan keluarga kadang-kadang diizinkan, ia tak diperkenankan menyebut sama sekali perihal rumah bordil.

Mardiyem bertemu dengan suaminya, seorang mantan prajurit KNIL yang sesudah pecah perang menjadi tahanan perang tentara Jepang. Di bawah pengawasan Jepang, dia diperkerjakan sebagai penyetor sayur ke rumah bordil. Sesudah selesai perang, si laki-laki mencari Mardiyem karena mereka sama-sama dari Yogyakarta. Beda usia antara keduanya 22 tahun. Suami Mardiyem kemudian masuk TNI dan dari pernikahannya ia memperoleh satu anak.

Pada 1993 Mardiyem mendaftarkan diri di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Yogya sebagai mantan jugun ianfu. Hingga saat itu putra dan keluarganya tidak tahu bahwa Mardiyem mantan jugun ianfu. Namun mereka akhirnya mengerti. Yang berat adalah ada tetangga dan keluargaku yang menuduh ia melakukan sesuatu yang memalukan.

Sebagian orang menuduh Mardiyem melakukannya demi uang. Namun meski sudah ke Jepang dua kali atas undangan LSM, ia belum juga dapat kompensasi. Mardiyem mengatakan ada tetangga yang berbisik, “Sudah berkali-kali ke Jepang kok belum dapat uang?” Padahal kebanyakan rekan mantan jugun ianfu sudah tua dan sisa umurnya tidak panjang lagi. Mereka betul-betul butuh kompensasi sebagai bantuan hidup di masa tua.

Ganti rugi Jepang

Aiko Kurasawa mengatakan gerakan menuntut pengakuan Jepang atas jugun ianfu datang dari Korea pada 1991. Meski sepakat memberi ganti rugi, Jepang menolak mengakuinya. Namun arsip yang ditemukan sejarawan Jepang menunjukkan ada keterlibatan pemerintah Jepang dalam pengelolaan rumah hiburan. Akhirnya pemerintah Jepang mengakui adanya jugun ianfu. Pada Juli 1995 Perdana Menteri Tomiichi Murayama pernah menyiratkan permintaan maaf secara pribadi, tetapi tidak mewakili negara Jepang. Tahun 1993 Yohei Kono mewakili sekretaris kabinet Jepang memberikan pernyataan empatinya kepada korban jugun ianfu. Namun pada Maret 2007 Perdana Menteri Shinzo Abe mengeluarkan pernyataan yang kontroversial dengan menyanggah keterlibatan militer Jepang dalam praktik sistem perbudakan seksual.

Di Indonesia, ganti rugi ini awalnya dianggap impas bersamaan dengan dibayarkannya dana pampasan perang sebesar USD 23 juta pada 1958. Karena desakan berbagai pihak, Jepang kemudian membayarkan ganti rugi khusus untuk para jugun ianfu. Namun ganti rugi ini tidak dibayarkan secara langsung. Pemerintah melalui Menteri Sosial saat itu justru mendirikan sebuah yayasan yang menampung pembayaran jugun ianfu, lalu menggunakannya untuk mendirikan panti jompo.

“Padahal orang Indonesia tidak akrab dengan panti jompo. Mereka biasa mengurus orang tuanya sendiri,” kata Aiko Kurasawa kepada Liputan6.com beberapa waktu lalu. Kompensasi sebesar 380 juta yen yang diangsur selama 10 tahun justru mengucur ke Asian Women Funds (AWF) yang didirikan pada 1995. “Waktu itu Menteri Sosial-nya Intan Suweno. Saya tidak akan lupa namanya, “ Aiko Kurasawa menegaskan.

Dalam Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, Pramoedya Ananta Toer menuliskan ada sejumlah alasan kenapa Jepang berhasil cuci tangan dari perbuatannya di masa lalu. Pertama, segera setelah Jepang menyerah, Indonesia belum atau tidak mempunyai bahan otentik untuk menggugat. Kedua, Indonesia sedang terlibat dalam perjuangan senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Ketiga, segera setelah pemulihan kedaulatan, Indonesia yang masih muda terlibat dalam pertentangan kepartaian yang berlarut-larut. Keempat, karena keteledoran pihak Indonesia. Tak ada komisi yang menyelidiki soal ini. Dalam perundingan-perundingan tentang pampasan perang antara Indonesia dan Jepang juga tak disinggung tentang jugun ianfu.

Hingga saat ini dana dari AWF tidak jelas penggunaannya. Dari awalnya dikatakan akan dialokasikan untuk pembangunan lima panti jompo di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Utara, aliran uangnya tak transparan. Para jugun ianfu pun tidak pernah menerimanya sepeser pun.

Mardiyem sendiri menolak menerimanya. Kecuali pemerintah Jepang mengaku bersalah dan meminta maaf kepada korban, merehabilitasi nama mereka, serta memasukkan jugun ianfu dalam pelajaran sekolah di Jepang.

“Jepang tidak mau minta maaf karena mereka sendiri merasa paling menderita akibat perang,” tutur Aiko Kurasawa. Ia mengaku banyak mendapat ancaman karena sikapnya yang berpihak pada Indonesia.

Bagi Mardiyem sendiri, ia sudah lelah bercerita. Sudah 14 tahun ia bersuara, tapi hasilnya masih jauh dari harapan. Di lain pihak, luka dan suara dari masa lalunya terus menggerogoti dan menghantui dia. Mardiyem ingin mengembalikan martabatnya, tapi pemerintah tampaknya tak punya kemauan untuk membela dia dan para mantan jugun ianfu lainnya.

 

 

Kirim Tanggapan