Kami dan Kita: Sebuah Penanda Kebersamaan

0
490
Kami dan Kita menandai adanya modus kebersamaan dalam bahasa Indonesia.

Meski sejak lahir sudah diajari perihal berbahasa Indonesia, nyatanya banyak pengguna bahasa yang keliru memakai kata kita dan kami dalam percakapan sehari-hari. Konsep ini sering dipahami secara salah. Bahkan, termasuk saya sendiri pun terpeleset saat memakainya.

Hal itu terjadi ketika kami makan siang beramai-ramai pada Jumat pekan lalu.

“Kalian sudah lama kenal?” ucap seorang teman. Ia heran melihat saya begitu akrab dengan seseorang yang baru tiga minggu masuk ke kantor kami.

“Dulu satu kampus. Tapi kita baru kenal di sini,” saya menjawab.

“Kita?” teman saya itu menyergah. “Wah, lo enggak tertib berbahasa, nih,” katanya.

Kenyataannya, memang ada perbedaan mendasar di antara kata kami dan kita. Uniknya, perbedaan itu tidak kentara dalam bahasa Inggris yang hanya mengenal konsep “we” sebagai pengganti kami dan kita.

Secara linguistik, Kami diartikan sebagai penanda bahwa yang diajak berbicara ada di luar pembicaraan, sementara Kita menegaskan bahwa yang diajak berbicara termasuk ke dalam pembicaraan.

Tentu kalimat seperti ini menjadi rancu bila dipakai seperti ini:

X : Kita mau makan di Foodcout Senayan City. Kamu mau ikut?

Y : Enggak, ah. Aku masih kenyang.

Fuad Hassan, Guru Besar Fakultas Psikologi yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pernah mengangkat persoalan Kami dan Kita dalam disertasinya yang kemudian dibukukan dengan judul Kita dan Kami: The Modes of Togetherness oleh Penerbit Winoka. Pada halaman kelima, Fuad Hassan menulis:

“The form of togetherness… does not determine both modes a priori. The mode is dependent on how the We is being experienced as a guarantee for authentic subjectivity or for inauthentic objectivity, i.e. either for self-affirmation or self-alienation. For this purpose, this study will elaborate the theme by employing two Indonesian words, Kita and Kami; both words meaning We. However, they refer to two distinct modes of We-ness. While Kita means We without the psychological experience of excluding others, Kami is the We consciously established in order to exclude others. As we shall see in our further discussion, this is not merely a matter of linguistic differentiation, but refers to basically distinct modes of togetherness as a given condition in human existence.”

Dari kutipan tersebut Fuad Hassan menegaskan Kita dan Kami yang keduanya berarti We dalam bahasa Inggris, memiliki arti yang sedikit berbeda. Apabila kata Kita memiliki arti tanpa pengalaman psikologis yang memisahkan orang lain, Kami diterapkan secara sadar tanpa melibatkan orang lain. Namun, perbedaan kedua kata ini bukan sekadar permasalahan linguistik, tapi mengacu pada bentuk kebersamaan dasar yang sedikit berbeda, yang memang adalah kondisi alami manusia.

Konsep Kita dan Kami rupanya terkait erat dengan kondisi psikologis masyarakat Indonesia yang bergerak dari kekamian menjadi kekitaan. Ingatlah situasi pada Sumpah Pemuda tahun 1928. Ketika itu para kaum muda dari berbagai suku membuat ikrar:

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

Dari masing-masing keakuan sebagai Kami, para pemuda mencapai kebersamaan sebagai Kita. Kesadaran kebangsaan ini juga mengemuka dalam teks proklamasi bahwa Kami adalah kebersamaan sebagai bangsa Indonesia. Fuad Hassan mempertanyakan bagaimana kebersamaan manusia berpengaruh sebagai identitas pribadi (self identity) dan afirmasi pribadi (self affirmation).

Fuad Hassan menganalisis Kita dan Kami sebagai dua modus dasar kebersamaan yang akan memberikan pemahaman bagaimana identitas pribadi seseorang dapat dipertahankan dan tidak hilang oleh kebersamaannya dengan orang lain. Fuad Hassan menunjukkan secara jernih bahwa sense of self identity dikuatkan dan dikembangkan dalam modus kebersamaan Kita dan melemah serta tereduksi dalam modus kebersamaan Kami.

Inilah sebabnya para pejabat bila diwawancarai oleh para pewarta seringkali menggunakan kata Kita alih-alih Kami. Padahal, kebijakan yang mereka jalankan bersifat individual, tapi mereka berlindung dalam kebersamaan Kita. Dalam modus Kami secara esensial tersirat adalanya pihak ketiga yang dihadapi di luar kebersamaan, mungkin sebagai musuh bersama. Sementara dalam modus Kita setiap individu yang menjadi anggotanya dianggap setara.

Pada saat ini rupanya konsep Kita tengah bergerak kepada konsep Kami? Apakah kebersamaan itu sudah hilang? Ancaman disentegrasi dengan aksi terorisme, perpecahan dan pertentangan antara pemeluk agama adalah sebagian dari contohnya. Dalam modus Kami individu ditempatkan dalam kondisi berbagai sebagai kebersamaan yang diobjekkan dan dengan demikian kehilangan kemungkinan untuk aktualisasi diri sebagai individu. Ini tidak akan tampil dalam modus Kita yang menjadikan tiap individu leluasa mengembangkan dan menampilkan identitas diri yang otentik.

Bahwa bangsa Indonesia lebih memilih Kita dibandingkan dengan Kami adalah sebuah sikap yang harus terus dipelihara untuk mempertahankan kehidupan berbangsa yang lama atas dasar sebuah kebersamaan.

Bagus Takwin menyatakan sejarah Indonesia telah menunjukkan kepada kita bagaimana bangsa Indonesia terbentu melalui transendensi dari Kami ke Kita. Kekamian yang ditampilkan setiap suku dipadukan secara sinergis dalam kekitaan Indonesia. Jika belakangan ini muncul banyak gejala disentegrasi di Indonesia, sehingga integrasi sosial di Indonesia tampak koyak, itu karena menguatnya kekamian dan memudarnya kekitaan. Untuk mengembalikan dan mengembangkan integrasi sosial di Indonesia sebagai bangsa dan negara, diperlukan kembali transendensi dari Kami ke Kita. Apa yang dilakukan para pemuda di tahun 1928 sesungguhnya dapat kita jadikan pelajaran untuk melakukan transendensi itu.

*sudah dimuat dalam kolom bahasa Liputan6.com, Sabtu, 9 April 2016

Kirim Tanggapan