Tokoh Ini Gagalkan Cita-cita Kartini Bersekolah di Belanda

0
665
RA Ajeng Kartini

Kisah hidup Kartini tak seharum namanya. Tumbuh sebagai gadis cerdas anak Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Kartini bersekolah di Europeesche Lagere School. Ia menonjol lantaran fasih menulis dan berbahasa Belanda. Bergaul dengan teman-temannya yang kebanyakan Belanda totok dan indo, ia tak sungkan apalagi canggung. Kartini lincah, gesit dan mudah bergaul.

Setelah lulus pendidikan dasar, Kartini merayu ayahnya agar membolehkan dia bersekolah ke Hogere Burger School (HBS, setingkat sekolah menengah) di Semarang. Meski sudah memohon dan bersimpuh di hadapan sang ayah, RM Sosroningrat menggeleng.

Kala itu awal 1892 dan usia Kartini baru 13 tahun. Cita-citanya yang melambung tinggi seketika runtuh mendengar titah tegas sang ayah. Kartini kemudian dipingit dalam rumah besarnya. Dalam surat-suratnya kepada Rosa Manuela Abendanon-Mandri, istri kedua Jacques Henrij Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri di Hinda Belanda, ia berkali-kali merintih, “Berlalu sudah. Masa muda yang indah sudah berlalu.”

JH Abendanon pertama kali mengunjungi Jepara pada 1900, delapan tahun setelah pingitan Kartini. Ia bertandang ke kediaman Sosroningrat atas saran Christiaan Snouck Hurgronje, penasihat pemerintah Hindia Belanda yang telah mendengar sepak terjang Kartini dan adik-adiknya.

Perkenalan dengan Abendanon rupanya membuka harapan baru bagi Kartini untuk melanjutkan sekolah ke Belanda. Abendanon menyatakan sanggup membuka jalan. Kartini mulai bertanya-tanya kepada Abendanon kemungkinan masuk sekolah kedokteran, yang waktu itu didominasi oleh laki-laki.

Selanjutnya, Kartini diundang datang ke Batavia dan dikenalkan dengan banyak tokoh Belanda, termasuk Nona Van Loon, Direktur Hogere Burger School Wanita Batavia. Kartini lalu menuju Istana Buitenzoorg untuk bertemu dengan istri Gubernur Jenderal Rooseboom. Sayang pertemuan itu batal.

Intinya, harapan Kartini melambung tinggi. Namun demikian, restu ayahnya sulit didapat. Raden Mas Sosroningrat, betapa pun progresifnya, menyadari bahwa jalan yang ditempuh Kartini akan sangat sulit. Menurut sang ayah, baru 20 tahun lagi perempuan Jawa bisa menempuh pendidikan setara laki-laki. Tiga bulan kemudian, sebagai penghiburan, Sosroningrat membiarkan Kartini menjadi guru di sekolah percobaan.

Abendanon terus mencari cara agar Kartini dan adik-adiknya bisa menempuh pendidikan tinggi. Caranya dengan berkirim surat kepada pemerintah Hindia Belanda agar menyediakan guru bagi ketiga saudara itu. Namun sayangnya, Raden Mas Sosroningrat menarik kembali permohonan beasiswa yang sudah ia ajukan. Sekali lagi, impian Kartini dijatuhkan oleh ayahnya sendiri.

Harapan kembali muncul ketika Henri Hubertus van Kol, anggota parlemen Belanda, datang ke Jepara pada 20 April 1902. Didampingi wartawan De Locomotif, Stoll, ia membangkitkan harapan Kartini yang sudah pupus. Ia meminta Kartini menulis surat langsung kepada Ratu Belanda. Surat itu dititipkan melalui van Koll pada 21 Juni 1902.

Van Koll lantas memperjuangkan beasiswa itu melalui sidang Tweede Kamer pada 26 November pada tahun yang sama. Suaranya amat didengar karena dia adalah politikus dan orator ulung. Menteri Seberang Lautan A.W.F. Idenburg mengiyakan permintaan itu. Kartini senang luar biasa.

Tanpa disangka, Abendanon menghalangi niat itu. Ia mengatakan perlindungan di Belanda terhadap perempuan belum baik. Abendanon secara khusus menyatakan khawatir dengan keselamatan Kartini. Selain itu, ia mengatakan perginya Kartini ke Belanda hanya akan menjauhkan Kartini dari cita-citanya mendirikan sekolah pribumi. Sebab, pergaulan di Belanda tentu akan menjauhkan Kartini dari rakyat yang harus dididiknya.

Ada versi lain yang mengatakan Abendanon mendapat banyak tekanan dari politikus terkait Politik Etis di Hindia. Namun yang pasti, Abendanon yang telah mengobarkan bara harapan, justru menjadi pihak yang menjegal cita-cita Kartini bersekolah ke Belanda.

Kirim Tanggapan