Peter Carey: Seorang Pencerita Diponegoro

0
1369
Peter Carey, sejarawan Perang Jawa

Meski namanya sangat terkenal, Peter Carey rupanya sangat rendah hati. Disertasinya yang monumental pada hampir 40 tahun yang lalu, The Power of Prophecy: Prince Dipanegara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855 (KITLV Press, Leiden, 2010) dan kemudian dibukukan sebanyak tiga jilid oleh penerbit KPG dengan judul Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 (2012) membuat namanya sohor diperbincangkan sebagai sejarawan yang tekun dan teliti.

Pada suatu kesempatan di bulan Oktober 2015 ia pernah mengatakan beberapa orang pernah menuduhnya gila lantaran meneliti Pangeran Diponegoro selama lebih dari 30 tahun.

Are you crazy,” katanya mengulang tuduhan itu.

Pada April 2016, saat kami bertemu kembali, ia hanya mengangkat bahu ketika Karmin Winarta, rekan saya, bertanya mengapa ia tertarik pada Pangeran Diponegoro ketika mungkin orang lain tak tahu di mana menariknya.

Peter Carey kelahiran Myanmar (dahulu Birma) menempuh pendidikan di Trinity College, Oxford. Ketika menempuh pendidikan lanjutan di Cornel University, AS, minatnya terhadap sejarah tumbuh. Awalnya ia berencana mengambil topik penelitian mengenai Revolusi Prancis. Namun dosen pembimbingnya menolak. “Lahan mengenai itu (Revolusi Prancis) sudah banyak sekali dibicarakan orang,” ucap sang dosen.

Lantas oleh para profesor di Cornell—seperti George McTurnan Kahin, Ben Anderson, dan Oliver Wolter—ia dianjurkan belajar bahasa Belanda, bahasa Jawa, dan bahasa Indonesia. Mereka mengatakan jika ia mau, bahan-bahan untuk penelitian mengenai Indonesia sangat berlimpah. Awalnya Peter Carey tertarik pada Marshal Herman Willem Daendels, sosok yang disebutnya sebagai sosok monumental yang mengubah zaman. Menurut Peter Carey, Daendels meninggalkan warisan yang berharga dan mengubah wajah Hindia Belanda. Namun ketika ia sedang meneliti di perpustakaan, membaca bab demi bab tulisan De Graaf mengenai Perang Jawa, pandangannya tertumbuk pada sebuah gambar Pangeran Diponegoro. Itu adalah sketsa Mayor F.V.H.A Ridder de Stuers yang terkenal tentang Diponegoro yang memasuki perkemahan yang dipersiapkan di Metesih, suatu permukiman kecil di kawasan tanjung di tengah Kali Progo persis di bawah Keresidenan di Magelang menjelang senja tanggal 8 Maret 1830. Sosok Diponegoro yang misterius rupanya memikat hati sang sejarawan.

Maka, mulailah ia belajar tentang Indonesia. Namun, ia merasa persentuhannya dengan Indonesia sangat minim. Tiba-tiba saja ia membuat keputusan nekat, naik kapal uap Djakarta Lyyod ke Tanjung Betung, Lampung—sebuah pengalaman yang membuat dia hampir saja kehilangan nyawanya. Pengalaman itu disebutnya ajaib. “Saya memimpikan tanah harapan. Namun untuk menginjakkan kaki ke tanah itu, hampir saja saya harus kehilangan nyawa,” katanya.

Peter Carey tekun dan sangat teliti, pun saat memberikan instruksi.
Peter Carey tekun dan sangat teliti, pun saat memberikan instruksi.

Pengalaman tersebut, serta ketika ia diajak menonton wayang wong saat di Yogyakarta, membuat Peter Carey merasa ada takdir yang membuat dia harus selalu dekat dengan Indonesia. Seperti diceritakan oleh Wardiman Djojonegoro dalam seminar di Hari Museum Internasional pada 18 Mei 2016, pernah suatu hari di Yogyakarta kala sedang meneliti Pangeran Diponegoro, Peter Carey kehilangan kameranya. Padahal, kamera itu berisi foto-foto yang sangat penting. Setelah bertanya pada orang pintar, diketahui bahwa ia diganggu oleh roh halus. Namun setelah orang pintar itu mengatakan bahwa ini adalah “bule baik”, maka secara tiba-tiba kamera itu ditemukan lagi.

Bahkan di usia menjelang pensiun, takdir pula yang membawa Peter Carey kembali ke Indonesia dan kini bertugas sebagai profesor tamu di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Setelah pengalamannya di Pulau Komodo Besar, ia menerima tawaran menjadi direktur dari Cambodia Trust. Pengalamannya itu dituangkan lebih detail dalam buku terbarunya yang akan diterbitkan oleh Komunitas Bambu.

Masa setelah disertasinya di Oxford selesai, Peter Carey lebih disibukkan sebagai aktivis dan filantropis dibandingkan dengan sebagai sejarawan. Perhatiannya terhadap Timor Timur sangat besar. Ia termasuk yang menyerukan kepada dunia perihal adanya kekerasan di wilayah itu. Namun saat itu tulisannya dipublikasikan dengan nama samaran. Ketika perang saudara di Kamboja selesai dan Khmer merah baru saja pergi, bersama sebuah lembaga kebudayaan, ia masuk dan memberikan bantuan kaki palsu serta pelatihan bagi tenaga pembuat kaki palsu. Atas partisipasi kemanusiaannya, ia memperoleh banyak penghargaan, termasuk menjadi anggota kehormatan Kerajaan Inggris.

Ketika saya menemui dia di Museum Nasional beberapa waktu lalu, sikap hangatnya tak berubah. “Ah, you’re coming,” katanya senang. Meski lancar berbahasa Indonesia, Peter Carey lebih senang mengungkapkan gagasannya dalam bahasa ibunya, yakni bahasa Inggris. Maka, sebenarnya sangat lucu cara kami berkomunikasi. Ia bertutur dalam bahasa Inggris, lalu saya menjawabnya dengan bahasa Indonesia, hahaha.

Tentang pameran “Object, History, and Museum in Case of Diponegoro” pada 18 Mei 2016, tadinya ia sempat gamang akan terlibat. Sekitar sebulan yang lalu, saat ngopi kecil di Javaro di kantor Gramedia Palmerah Barat, ia mengatakan. “Kalau itu hanya untuk mengagung-agungkan Diponegoro saya tidak mau. Tapi kalau mau ditunjukkan bahwa Diponegoro itu agak ironi, kadang-kadang rendah diri, dan penyuka wanita, saya mempertimbangkan ikut.” Ia berharap pameran itu akan seperti “Aku Diponegoro” yang diadakan tahun lalu di Galeri Nasional.

Dan akhirnya, saya bisa menyatakan pameran itu sukses besar. Profil utuh Pangeran Diponegoro ditampilkan, termasuk tiga buah pusaka yang berhasil dikembalikan ke Indonesia. Pusaka itu adalah tombak Pangeran Diponegoro Kyai Rondhan, tongkat Pangeran Diponegoro bernama Kyai Cokro, dan pelana kuda Pangeran Diponegoro. Tadinya ketiga benda itu merupakaan milik Kerajaan Belanda sebagai bukti pampasan perang. Namun berkat kesepakatan Indonesia-Belanda tahun 1978, pelana kuda dan tombak Kyai Rondhan telah dikembalikan kepada Indonesia.

Sementara tongkat ziarah Diponegoro Kyai Cokro baru dikembalikan pada tahun lalu atas jasa Dr. Harms Stevens dari Rijkmuseum, Amsterdam. Tongkat ini diambil pasukan sekutu Belanda pada 11 Agustus 1829 saat kampanye terakhir Diponegoro di Mataram dan diberikan kepada Pangeran Notoprojo, seorang trah Sunan Kalijaga—salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah pada abad ke-16 dan cucu panglima perempuan Perang Diponegoro, yakni Nyi Ageng Serang.

Pada Juli 1834, Notoprojo memberikan tongkat ini kepada Gubernur Jenderal J.C. Baud (menjabat 1833-1836) waktu Baud sedang membuat perjalanan (tournee) pertama ke Jawa Tengah. Ahli waris Baud, Michiel dan Erica, mengembalikan tongkat pusaka ini kepada rakyat Indonesia, yang diwakili Museum Nasional pada pembukaan pameran “Aku Diponegoro: Sang Pangeran dari Ingatan Bangsa dan Raden Saleh hingga kini” di Galeri Nasional (5 Februari-8 Maret 2015).

Peter Carey mengatakan tongkat Kyai Cokro sebenarnya dibuat sekitar abad 16 untuk Sultan Demak dan bukan dibuat untuk khusus untuk Pangeran Diponegoro.  Tongkat ini diberikan pada seseorang rakyat biasa kepada Pangeran Diponegoro pada sekitar tahun 1815, sekitar sepuluh tahun sebelum perang Jawa dimulai pada 1825. “Mungkin rakyat ini sudah mendapat isyarat bahwa Diponegoro akan menjadi pemimpin,” katanya.

Tongkat ini kemudian dipakai Diponegoro kala berziarah di berbagai wilayah di Jawa. “Tapi cakra di ujung tongkat ini cukup tajam, jadi bisa juga digunakan untuk membela diri,” katanya.

”Sesuai mitologi Jawa, tongkat tersebut dikaitkan dengan kedatangan Sang Ratu Adil atau Erucakra,” ucapnya. Apalagi, kata Peter Carey, panji pertempuran Diponegoro menggunakan simbol cakra dengan panah yang menyilang.

Peter Carey mengklaim Diponegoro kemudian menganggap perjuangannya sebagai perang suci untuk mewujudkan walad Islam dan masyarakat yang sudah rusak dengan masuknya Belanda. Meski demikian, dalam sebuah tulisan singkat yang dikirimkannya melalui e-mail kepada saya, ia menulis ada banyak aspek mengenai sang pangeran yang “stranger than fiction”. Aspek-aspek itu adalah bahwa sang pangeran ternyata penggemar anggur berkualitas baik, yakni chardonnay. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian sejarawan Belanda, di tempat meditasinya di Selarejo, di luar Tegalrejo, banyak ditemukan arca-arca Hindu. Jadi sebenarnya Diponegoro tidaklah murni reformis Islam, tetapi ia juga memberi tempat bagi kepercayaan Jawanya.

Keterlibatan Peter Carey untuk meneliti biografi Pangeran Diponegoro disebutnya sebagai panggilan, meski beberapa yang lain menyebutkan sebagai kutukan. Sebab, saat Kuasa Ramalan diterbitkan pada 2012 atas jasa dan bantuan dana dari KPG, KITLV, dan Yayasan Apsari Djojohadikusumo, Peter Carey dipecat dari pekerjaannya sebagai direktur sekolah kesehatan atas nama Cambodia Trust bekerja sama dengan Departemen Kesehatan. Meski demikian, ia menyebut tahun-tahun ia bekerja di sana sebagai “seperti Alice in the Wonderland”. Pengalaman itu disebutnya sebagai empat tahun yang mengerikan.

Saat ini, bagi saya ketertarikannya terhadap Diponegoro terasa seperti fanatisme. Saat ia berbicara mengenai sang pangeran, matanya begitu bercahaya dan berseri-seri. Ia begitu bersemangat dan mengenal seluruh aspek hidup sang pangeran Jawa. Ia sendiri merasa sudah ditakdirkan, bahwa ia yang adalah orang Inggris, dipanggil untuk menceritakan kisah hidup sang pangeran. “Seumur hidupnya Diponegoro membenci Belanda, tapi hubungannya dengan orang Inggris cukup baik. Mungkin itu sebabnya ia memilih saya,” katanya.

Pengetahuannya yang sangat luas tentang semua aspek kehidupan Diponegoro membuat ia selalu sedia diajak berdiskusi tentang Perang Jawa. Tapi tak hanya itu, ia juga menguasai sedikit soal sejarah para gubernur Hindia Belanda, bahkan sampai sejarah korupsi. Ia adalah pembaca yang tekun dan penulis yang teliti. Surat menyurat kami terkait pekerjaan seringkali hanya berisi koreksi satu paragraf atau beberapa kalimat, tapi menurut dia penting untuk ditambahkan atau dikurangi.

“Mbak Fadjriah jangan hanya berfungsi sebagai copy editor, tapi juga editor yang memberi masukan mana yang harus ditambahkan atau dikurangi,” ujarnya mengingatkan. Dan benarlah, ternyata Peter Carey sangat menghargai setiap masukan dan usul yang saya berikan.

Peter Carey, sejarawan Perang Jawa, berkunjung ke kantor Lip6
Peter Carey, sejarawan Perang Jawa, berkunjung ke kantor Lip6

Saat saya pamit dari acara yang dikuratorinya di Museum Nasional minggu lalu, ia sedang berbincang dengan orang lain. Namun ia menjabat tangan saya erat dan mengatakan, “Terima kasih sudah datang, saya akan mengirim e-mail kepada Anda.” Maka saat itu juga saya sudah membayangkan surat ucapan terima kasih, yang selalu dikiriminya setelah pertemuan kami. Ia adalah orang sangat detail dan mampu menilai kepribadian orang lain dengan cermat.

Bukunya tentang Perang Jawa, Diponegoro, asal-usul Malioboro, Raden Saleh, candu dan orang Cina, perempuan perkasa Jawa, dan kini Daendels serta sejarah korupsi menunjukkan bahwa Peter Carey adalah seorang Indonesianis sejati yang sumbangsihnya amat penting dan tak diragukan lagi.

 

Kirim Tanggapan