Tradisi Ramadan di Tanah Betawi, Khataman Quran dan Ketupat Qunut

0
967
penjual ketupat foto: kaskus

Semalam, bertepatan dengan malam Nuzulul Quran, hujan turun dengan deras. Sebenarnya pada malam itu katanya akan diadakan bazar Ramadan di lingkungan rumah kami di Masjid Jami Baitul Rahim Kelurahan Kebagusan. Namun entah kenapa jadi tak terealisasi. Barangkali karena salah satu sunnah saat bulan Ramadan di kampung kami, lebih luas lagi di Betawi, adalah banyak-banyak membaca Alqur’an. Karena itu, tindakan belanja-belanja yang mencerminkan komsumvitisme tentu tak dianjurkan.

Tradisi ini tampaknya memang dikenal luas di seantero wilayah Jakarta. Abdul Chaer, penulis Folklor Betawi, menyebut salah satu bentuk dari banyak mengaji adalah khataman Quran. Ini adalah suatu kegiatan bersama-sama mengkhatamkan bacaan Alqur’an.

Misalnya di kampung saya, kaum bapak punya tradisi untuk bergiliran mengaji di masjid. Para bapak-bapak ini bahkan sudah dibikinkan jadwal piketnya oleh pengurus kegiatan Ramadan. Satu hari ada sepuluh orang, bercampur antara tua dan muda. Jika ada di luar itu ingin datang dan tadarus tentu diperbolehkan. Namun sepuluh orang itu wajib hukumnya untuk datang.

Tadarus biasanya dimulai bakda salat tarawih. Jamnya tidak tentu, tergantung kekuatan niat para anggota jemaah masjid. Kadang-kadang pukul 21.00 sudah terdengar suara orang mengaji. Namun jika hujan turun tentu bisa lebih malam lagi.

Masing-masing anggota jemaah bergantian membaca Alquran dari surat dan ayat pertama. Bagian terakhir ditandai, untuk dilanjutkan oleh anggota yang lainnya. Begitu seterusnya sampai hari malam, suara orang mengaji masih terdengar dari masjid kami melalui pengeras suara. Barulah kira-kira pukul satu dinihari mereka pulang dan beristirahat sebentar untuk kemudian makan sahur.

Begitu sampai pada juz ke-30, acara khataman Quran pun digelar. Caranya begini. Setelah salat tarawih usai, imam biasanya tak lantas membubarkan jemaah. Mereka bersama-sama membaca surat-surat pendek dalam juz ke-30 sampai selesai. Maka suara orang mengaji dengan berbagai cengkok akan terdengar riuh rendah.

Setelah itu, tentu saja ada penganan yang disiapkan. Kalau keadaan kas infak masjid sedang baik, perut para jemaah akan sangat bergembira menyambut nasi uduk dengan telur dan semur jengkol atau barangkali nasi kebuli yang sangat aduhai itu. Mengetiknya saja saat ini bikin liur saya menetes, ha-ha-ha.

Namun kalau keuangan mepet, ya paling tidak buah dan kue-kue kecil ditambah aqua pasti tersedia. Ibaratnya, sedikit banyaknya penganan harus ada.

Lain lubuk lain belalang. Meski sama-sama di Betawi, kampung Pedurenan, Kemandoran, rupanya punya tradisi malam qunutan, yakni peringatan malam ke-15 di bulan Ramadan.

Berdasarkan penelusuran, ternyata tradisi malam qunutan tidak hanya dikenal di Jakarta, tetapi juga sampai di pinggiran Jakarta, termasuk Banten dan Tangerang–yang tentu di wilayah ini masih terpengaruh dengan kebudayaan Betawi.

Keberlangsungan tradisi qunutan banyak tergantung pada ibu-ibu di wilayah sekitar. Biasanya kaum ibu memasak ketupat, lalu ketupat-ketupat yang sudah matang tersebut dibawa ke masjid menjelang salat tarawih, dan kemudian dibagi-bagikan kembali kepada para jemaah usai salat tarawih.

Rachmat Sadeli, pendiri Majalah Betawi, mengaku semasa kecil senang pergi ke Masjid Al Munawarroh dan mencicipi ketupat qunut. Biasanya ketupat itu dicampur dengan cacakan pepaya muda. Tradisi yang baik ini diakuinya masih berlangsung hingga sekarang.

Seperti dilansir Antara, salah seorang tokoh masyarakat Desa Pasir Gadung, Cikupa, Tangerang, Banten, H Asnawi, menjelaskan tradisi itu disebut qunutan karena imam membacakan doa Qunut pada rakaat terakhir pelaksanaan salat witir.

Qunutan adalah tradisi lama yang masih diwariskan hingga saat ini. Tidak ada yang tahu pasti kapan dimulainya tradisi tersebut. Tradisi itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT serta waktu yang tepat untuk bersilaturahmi bersama tetangga.

Kirim Tanggapan