Bubur Ase, Bubur Legendaris Orang Betawi

6
1572

Satu sosok perempuan berusia paruh baya tampak sigap dan cekatan melayani pembeli. Rambutnya pendek, berbaju belang-belang orange dan biru, dengan alis yang dihitamkan oleh kosmetik. Ia membungkus pesanan dengan cepat, lalu menyebutkan harganya. Setelah si pembeli berlalu, ia mengajak ngobrol pembeli yang sedang duduk dan menyantap bubur ase bikinannya.

Bawel, itu kesan pertama orang-orang terhadapnya. Ia bernama Lilis, biasa dipanggil Cik Lis. Bicaranya cepat dan medok dengan logat Tanah Abang. “Kalau di sini ada Bucik, ada Pakcik, ada Cik,” ujarnya merinci. Kalau Bucik itu biasanya adiknya Ibu. Di sini orang enggak dipanggil Empok,” ujarnya.

Usia Cik Lis 54 tahun. Kini ia sudah bercucu lima dari anaknya yang “hanya” dua orang. Ia mengaku bukan asli orang Gang Masjid At-Takwa, Tanah Abang. “Saye aslinya orang Kampung Lima. Habis nikah aje ikut suami ke sini. Di depan itu tuh rumah saye,” ujarnya menunjuk.

Karena lama tinggal di Tanah Abang itulah, Cik Lis mengaku kini logatnya sudah seperti penduduk asli sekitar. Seperti kaum Betawi Tengah, hampir setiap kata yang berakhiran a diganti menjadi e. “Coba aje tinggal di sini seminggu, pasti langsung medok,” ucapnya.

Begitu saya mengaku bahwa saya berasal dari Pasar Minggu, Cik Lis menyahut, “Kalau kamu orang pinggiran. Bilangnya aje sana. Kalau kite ngomong enggak ke sana, tapi ke sanu. Sanu tuh sono, sana yang jauh. Di sini bilangnya juge iye, bukan iya,” katanya bersemangat.

Cik Lis, pedagang bubur ase.
Cik Lis, pedagang bubur ase.

Ya dari Kebagusan, Pasar Minggu, pada Minggu, 6 Agustus, saya memang sengaja mendatangi tempat Cik Lis di Tanah Abang. Kami, saya dan suami, berangkat tepat pukul 06.00 dan tiba di Tanah Abang pukul 06.30 pagi. Jalan raya di hari Minggu pagi rupanya cukup bersahabat. Hari itu tujuan kami adalah mencoba bubur ase yang legendaris tersebut.

Begitu turun dari fly over Karet Bivak, tengoklah ke arah kiri. Ada masjid kecil di pinggir jalan, lalu masuklah di gang kecil sebelum masjid tersebut. Ikuti saja jalan yang ada, karena memang jalan itu sempit dan satu-satunya. Di sebelah kanan, ada warung sederhana terbuat dari kayu. Nah, itu warung bubur ase kepunyaan Cik Lis.

Kepada saya, Cik Lis bercerita bahwa ase berarti asinan. “Ase dari kata asinan,” ujarnya. Dalam semangkuk bubur ase ada bubur nasi yang disandingkan dengan sawi asin, toge, wortel, dan lobak. Kuahnya semur tahu, tentu ada tahunya juga sepotong, ditambah sambal, kacang, dan kerupuk.

“Kalau ini, lobak, ini tambahan. Dulunya nenek saye dagang enggak pakai lobak,” ujarnya sambil menunjuk lobak yang diiris kecil-kecil.

Cik Lis adalah generasi kedua yang berdagang bubur ase. Dulu nenek suaminya yang berjualan bubur ase. Namun, kini dialah yang meneruskan warisan keluarga itu. Tak ada anak yang bisa meneruskan, karena itu tampuk usaha jatuh ke tangannya—yang notabene adalah cucu menantu. “Kalau saye kan orangnya merhatiin. Dulu nenek bikin saye merhatiin, makanya jadi bisa,” katanya menegaskan.

Dari tangan sang nenek yang sudah berdagang sejak 1955, resep rahasia itu kini jatuh ke tangan Cik Lis. Ketika dicicipi, rasa semurnya tak terlalu kuat, tak seperti semur Betawi di kawasan pinggiran. Kuahnya encer, sehingga cocok dipadankan dengan asinan. Yang kuat terasa justru rasa asamnya. Sehingga ketika semuanya diaduk dan dimasukkan ke mulut, yang terasa adalah asam-asam segar. Nikmat sekali. Namun kata Cik Lis, “Segini buat anak-anak perawan masih kurang asem. Kalau anak-anak perawan, tuh, anak-anak yang kos, minta ditambahin lagi cukanya,” katanya sambil terbahak.

Beda tempat, beda isi

Tak lama berbincang, datanglah pembeli lain mengendarai sepeda motor. Harris, 50 tahun, meminta bubur ase dibungkus dalam sebuah kantong plastik.

“Kuahnye lebai enggak, nih?” tanya Cik Lis.

“Lebai.”

“Kalau gitu kuahnya dipisah aje ye.”

Harris mengaku rutin membeli bubur ase jika sedang mampir ke rumah mertuanya di Tanah Abang. Ia adalah penggemar bubur ase buatan keluarga Cik Lis sejak lama. Ia sendiri tinggal di Tanah Abang sejak kecil, yakni tahun 1960-an. Hingga kini, walaupun sudah pindah ke Ciledug sejak 2002, ia tak pernah lupa kelezatan rasa bubur ase ala Tanah Abang.

Harris, pembeli setia bubur ase asal Ciledug.
Harris, pembeli setia bubur ase asal Ciledug.

“Di mana-mana juga ada bubur ase, tapi rasanya laen,” ucap Harris.

“Iye, misalnya di Joglo, di Pejompongan. Tapi buburnya dimacem-macemin, dikasih ikan asin segala,” Cik Lis menyahut.

Soal ini memang ada benarnya. Berdasarkan penelusuran saya di CNN Indonesia, bubur ase yang dijual di PRJ Kemayoran 2015 berisi asinan, semur daging, taburan ikan teri, kucai, dan bawang goreng.

Siti Rochani, pedagang bubur ase di PRJ, menyatakan, “Ase itu artinya dingin. Buburnya disajikan dingin dan jadi serba dingin ditambah asinan dan teri. Kunci buburnya terletak di daging dan asinan,” ucapnya.

Jika Rochani menambahkan ati ampela dan emping sebagai tambahan, Cik Lis membuat satai kambing dan sapi sebagai pelengkap makan bubur ase. Kenapa kambing? Cik Lis berkata banyak yang meminta ada satai kambing bumbu kecap. Hal ini wajar saja karena Tanah Abang zaman dulu terkenal sebagai pasar kambing.

Setiap hari Cik Lis bisa menghabiskan 3 liter beras untuk dimasak menjadi bubur.  Satu mangkuk bubur beserta asinan dihargai Rp 8000, tambah Rp 4000 untuk satainya. Untuk minum, Cik Lis menyediakan teh tawar yang boleh diambil gratis. Berjualan setiap hari, kecuali di bulan puasa. “Biasanya saya buka jam enam, jam sembilan paling lama udah rapi,” ujarnya.

Cik Lis sendiri sudah berjualan bubur ase selama 16 tahun, yakni sejak 2000. Ia bersama Ibu Tin dan Cik Aan sudah terkenal sebagai pakar bubur ase di kawasan Tanah Abang. Namun begitu, masih ada yang membuatnya bimbang. Cik Lis masih galau perihal siapa yang akan meneruskan usahanya nanti. “Ada sih menantu saye, tapi die romannye kalau ngelayanin gugup,” kata Cik Lis.

 

6 Komentar

Kirim Tanggapan