Cerpen: Anak-Anak Ustazah Rahma

0
5352

Ustazah Rahma mengelap peluh-peluh keringat yang baru saja turun dari dahinya. Padahal ia hanya berzikir sesudah salat Magrib sambil menunggu datangnya Isya. Tapi rasa gelisah dan bersalah yang menderanya membuat ia berzikir lebih lama, lebih panjang, dan lebih khusyuk.

Ustazah Rahma tahu benar tingkah lakunya tadi akan membuat para jemaah menggerutu. Barangkali besok akan ada yang menggunjingkannya saat ia lewat atau berbisik-bisik kala ia memberikan ceramah.

Dadanya berdebar keras. Dirabanya butiran tasbih sambil mengucapkan istigfar, “Astagfirullahhalazim”. Diucapkannya kalimat itu berulang-ulang. Harus 70 kali, niatnya dalam hati. Semakin lama dan sering diucapkan, semakin damailah hatinya.

Jam dinding di tembok berbunyi tak-tik seirama dengan zikir Ustazah Rahma. Kalau saja Yusuf tak meminta, tentu tak sampai begini rusaknyalah hati Ustazah Rahma.

Mulanya adalah keinginan Yusuf untuk pergi ke kampung halaman istrinya di Rembang. Saat itu bulan Rajab dan istri Yusuf sudah sebulan pulang kampung lantaran hamil keduanya yang teramat payah. Kondisi itu membuat Yusuf uring-uringan lantaran istrinya memilih dekat tinggal dengan orang tuanya dibanding suaminya sendiri.

Ustazah Rahma yang hendak menyiapkan menu berbuka puasa tercekat demi mendengar keluh-kesah dan permintaan anaknya itu.

“Berapa rupiah yang kaubutuhkan,” tanya Ustazah Rahma tenang.

Dalam benaknya ia menghitung. Bulan lalu, baru saja ia mengeluarkan tabungannya 5 juta, demi Aisha, cucunya dari Yusuf, yang hendak mendaftar sekolah dasar. Bulan yang lalu lagi, gelang emasnya yang 20 gram ia gadaikan. Alasannya, Yusuf kekurangan uang untuk membayar rumah kontrakannya.

Ustazah Rahma menghela napas. Barangkali hanya tersedia sedikit uang tabungannya. Pun ia bukanlah orang yang bergaji tetap seperti pegawai negeri. Namun mendengar angka yang diucapkan Yusuf, ia mengangguk. Ia seorang ibu yang tak pernah putus memikirkan anak-anaknya.

Lantas, persis sebelum azan Magrib berkumandang, berangkatlah Ustazah Rahma ke rumah salah satu anggota jemaahnya. Setelah akhirnya berbicara berbelit-belit, ia mengutarakan maksudnya.

Ustazah Rahma menelan ludah kala mengucapkannya. Dengan susah payah, akhirnya kata-kata itu keluar juga. Pandangnya tertuju pada taplak di meja yang ada di hadapannya. Ia merasa berat untuk menatap mata lawan bicaranya karena begitu besarnya malu yang menguasai hatinya.

Darmi, perempuan yang bicara di hadapannya, menegaskan ucapan Ustazah Rahma sekali lagi. Darmi perempuan ramah dan gesit. Sehari-hari ia membantu Ustazah Rahma memasak dan membersihkan rumah. Ya, Ustazah Rahma tak terlalu pandai mengurus rumah. Bolak-balik pembantu masuk ke dalam rumahnya.

Setelah Ustazah Rahma menggangguk lemah, tanda mengiyakan ucapan Darmi, perempuan bertubuh agak gemuk itu masuk ke dalam rumahnya yang hanya berupa kontrakan tiga pintu ke belakang. Diangsurkannya uang satu juta tujuh ratus ribu rupiah pada Ustazah Rahma yang segera menyimpannya ke dalam saku dasternya.

Uang itu bukan uang Darmi. Itu adalah uang jemaah yang dititipkan sebagai kas pengajian. Dan sore itu Ustazah Rahma mengambil semuanya. Semuanya.

“Dapat, Bu,” ucap Yusuf begitu Ustazah Rahma sampai di pintu rumahnya.

Ustazah Rahma mengangguk sambil mengeluarkan uang dari dalam saku dasternya. Yusuf tertawa girang dan menyambut gulungan uang itu, uang sumbangan jemaah ibunya untuk maulid bulan depan.

Setelah mencium tangan ibunya, Yusuf langsung mengegas sepeda motor bebeknya yang baru saja dicicil bulan lalu. Motor yang uang mukanya dari uang yang seharusnya untuk membayar kontrakannya yang sudah terlambat dua bulan. Lamat-lamat azan Magrib terdengar dari utara, tempat masjid berada, bercampur raungan gas motor anyar dari Negeri Tirai Bambu itu.

Ustazah Rahma menghela napas. Berat dan sesak menghimpit dadanya. Ia buru-buru masuk ke dalam rumah. Rasa lapar yang sejak tadi ditanggungnya tiba-tiba tak terasa lagi, berganti dengan rasa sedih yang menusuk jantung hatinya. Ya, sedih yang begitu menekan ulu hati dan pikirannya, seolah-olah mengiris perasaannya berkali-kali.

***

Masih terbayang di benak Ustazah Rahma akad nikah yang dilakukannya lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Seorang laki-laki tiba-tiba datang melamarnya kala usianya baru saja genap dua puluh tahun. Si laki-laki itu, yang kemudian menjadi suaminya, hendak mencari istri untuk ketiga kalinya.

“Saya ingin mengambilmu menjadi istri,” kata laki-laki itu di hadapan ayahnya.

Rahma menunduk, menyembunyikan rasa panas yang tiba-tiba menjalar di pipinya.

Meski si laki-laki berumur dua kali usianya, dia adalah sosok matang yang berwibawa. Tindak-tanduknya sopan dan terjaga. Ditambah lagi, laki-laki itu adalah seorang ustaz muda yang  terkenal saleh. Rahma dengan segera jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi ia mengajukan dua syarat. Yang pertama, hidup terpisah dari anak-anak dan istri si laki-laki dari pernikahan sebelumnya. Dan yang kedua, ia minta diajari agama dari laki-laki itu.

Si laki-laki tersenyum demi mendengar syarat yang dirasanya tak terlalu memberatkan. Dengan segera tanggal pernikahan ditetapkan dan pesta direncanakan. Itu pesta yang meriah. Tiga hari tiga malam pesta diadakan. Salawat dan syair-syair pujian dibacakan, ditambah iringan lagu dari negeri padang pasir. Tak henti-hentinya kedua mempelai tersenyum, dipuji bagaikan raja dan ratu. Itu memang hari yang berbahagia bagi keduanya, tapi bagi dua perempuan lain dan empat anak dalam hidup si laki-laki itu, Rahma adalah penumpang gelap yang tak diinginkan.

Selama 25 tahun berikutnya, semua berjalan baik. Laki-laki itu adalah ahli ibadah yang sabar dan mumpuni. Semua kebutuhan Rahma dipenuhi, baik lahir maupun batin. Rumah tangganya tenang dan tak ada masalah. Lima bulan setelah mereka menikah, pasangan itu pergi haji ke Mekah. Diulangi lagi beberapa tahun berikutnya hingga total Rahma sudah tiga kali naik haji dan umrah delapan kali. Rahma merasa menjadi istri yang paling beruntung di dunia. Ia berkecukupan lahir dan batin. Dari pernikahan itu, Rahma memperoleh dua anak laki-laki, yakni Ahmad Ali dan Ahmad Yusuf.

***

Namun hidup manusia begitulah adanya, mengalir bagaikan sungai dan berputar bagaikan roda. Sumber kebahagiaan Rahma satu-satunya, sang suami yang begitu saleh dan dicintainya, dipanggil kembali ke rumah Tuhan setelah terkapar sakit selama dua minggu.

Kini dalam sayap seorang ibu, Yusuf yang sudah seharusnya terbang masih nyaman berlindung. Sementara Ali, ya Ali memang tidak terlalu banyak merepotkan. Namun kesibukannya sebagai kepala sekolah sebuah madrasah ibtidaiyah dan ulama muda membuat ia tak sering menengok ibunya.

“Aida mau balik ke Jakarta, Bu. Tapi tak kami mau tinggal di mana?” tanya Yusuf.

Rahma memandang anaknya. Aida adalah menantunya, istri Yusuf. Sejak dulu Rahma merasa menantunya itu menjaga jarak. Namun, ia sendiri tak tahu apa sebab Aida berlaku demikian. Sikap atau tingkah laku dalam dirinya mana yang kurang disukai Aida, Rahma tak pernah paham.

Aida memandang Yusuf dengan penuh kasih sayang. Muka suaminya terpeta jelas di wajah putra bungsunya itu.

“Bukankah dulu sudah kuberikan uang untuk membayar kontrakanmu, Yusuf,” kata Rahma dengan penuh kelembutan.

Di hadapannya Ali melotot marah pada adiknya. Tumben-tumbenan, sore itu mereka berkumpul bertiga. Ramadan memang akan datang. Ali baru saja datang setelah membersihkan kubur ayahnya. Sementara sang adik, yang terasa bagaikan tertuduh, menunduk diam seribu bahasa. Rahma bergetar hatinya demi melihat kedua putra yang dicintainya di hadapannya. Sejak ayah mereka meninggal, entah kenapa Yusuf lebih sering berulah. Dan Ali, si sulung yang biasanya tak banyak cakap, jadi lebih sering naik darah.

“Sudah habis harta Ibu demi membiayaimu, Yusuf. Kau kira Ibu orang kaya. Hanya sedikit saja peninggalan ayah untuk kita. Hanya tinggal rumah ini satu-satunya. Kau tahu kan dalam keluarga ayah kita dianggap apa?” ujar Ali memaki adiknya.

Rahma tersentak mendengar kata putranya itu. Ya, penumpang gelap. Itu embel-embel yang disematkan padanya, sang istri ketiga. Tapi ada lagi yang lebih menyakitkan: pembawa celaka.

Rahma tak mendapat tempat pada upacara pemakaman suaminya. Di rumah besar itu, ia bagaikan tak ada, tak terlihat. Hanya ucapan basa-basi yang didapatnya dan tak satu pun yang menanyainya cara yang terbaik untuk memakamkan sang ustaz. Padahal ia adalah istri satu-satunya yang tersisa. Dua istri suaminya sebelum dia, entah kenapa mendadak sakit dan meninggal dunia pada tahun pertama setelah ia resmi menjadi istri ketiga Ustaz Mubarak.

Rahma memegang dadanya, sekuat tenaga menahan air mata yang hendak turun. Ia menarik napas panjang-panjang, menenangkan gejolak kilasan masa lalu yang tiba-tiba saja menyeruak hadir. Diminumnya segelas air putih hangat di hadapannya.

“Tapi aku harus bagaimana lagi, Bu,” kata Yusuf sambil memandang ibunya.

Yusuf beralih menatap Ali. “Aku benar-benar buntu, Bang.”

“Kalau Abang kan enak, sudah punya rumah. Aku ini rumah saja belum punya. Kerjaan pun lagi ada masalah,” ucap Yusuf pelan, lalu menunduk.

Ali memandang ibunya, hendak meminta bantuan. Rahma meradang. Serasa hendak pecah kepalanya menghadapi anaknya ini. Berkali-kali dikatakan, rumah yang ditempati Ali itu, yang begitu diirikan Yusuf, adalah pemberian dari ayah Nabila, istri Ali. Bukan Rahma yang membelikan Ali rumah, tapi ia tak mau percaya juga. Yusuf selalu menyangka Rahma pilih kasih.

“Sudah, biarkan Aida tinggal di sini. Untuk menemani Ibu,” demikian kata Ali menyudahi percakapan mereka.

***

Lebaran semakin dekat. Sungguh di luar kebiasaan bahwa pada bulan puasa ini Rahma harus berbagi istananya dengan perempuan lain. Meski itu adalah menantunya sendiri, Rahma merasa tak nyaman. Kini di dapurnya bergeletakan peralatan masak kotor yang tak dicuci. Aida memang sering memasak, tapi rasa masakannya tak cocok di lidah Rahma. Kalau sudah demikian, seperti yang sudah-sudah, Rahma akan meminta Darmi mengirimkan sedikit makanan. Entah manisan kolak atau sayur asem, pokoknya hanya masakan Darmi yang bisa membangkitkan selera makan Rahma.

Selain itu, cucunya adalah sumber masalah sendiri. Pada malam-malam ketika Rahma mengadakan salat tarawih bersama para jemaah, Aisha itu akan berlarian atau berteriak-teriak. Pernah cucu perempuannya yang nakal itu melewati kepala Rahma saat ia sedang sujud. Bukan main senewennya Rahma. Meski memaklumi kenakalan anak-anak, Rahma merasa heran karena Aida tak melarang anaknya berlari-larian.

Seakan semuanya belum cukup, bom waktu yang disimpan-simpan bersiap meledak pada seminggu sebelum Lebaran. Seusai tarawih, Darmi baru saja bicara, menagih uang yang dulu dipinjam Rahma.

“Ibu-ibu memerlukan uang itu, Bu Haji. Apalagi sebentar lagi mau Lebaran,” katanya.

Rahma tahu betul ia harus mengembalikannya karena uang itu bukan uang pemberian, melainkan uang pinjaman. Namun upayanya meminta bantuan Ali gagal. Sementara uang sedekah di majelis taklimnya belum cukup untuk menalangi.

Di benaknya Rahma berpikir, tentang kedatangan dua orang laki-laki berkulit gelap ke rumahnya kemarin. Kedatangan dua orang yang maksudnya selalu ia tolak berkali-kali. Namun kini, bagi Rahma, adakah jalan lagi untuk berkelit?

Rahma mengangkat telepon, diputarnya sebuah nomor yang tertera di atas sebuah kartu nama. Sembari menunggu panggilan tersambung, ia teringat perkataan Yusuf kemarin. “Kata dokter Aida harus melahirkan dengan operasi Caesar, Bu. Biayanya 20 juta. Dari mana uangnya, Bu,” keluh Yusuf.

Dari kamar di seberang ruangan Rahma menelepon samar-samar terdengar suara Yusuf menenangkan istrinya yang sedang meringis. Suaranya yang panik kemudian berubah jadi teriakan. “Bu, air ketuban Aida pecah!”

 

Kirim Tanggapan