Folklore: Buaya Putih Sungai Bekasi

0
1161
Foto buaya bekasi, sumber: bekasitimes. foto: goriau

Buaya Putih Sungai Bekasi

Oleh

Andry Setiawan

 

Zaman dahulu, hiduplah seorang pedagang kaya raya. Ia tinggal di tepi Sungai Bekasi. Pedagang itu memiliki seorang anak gadis. Seiring waktu yang terus bergulir, anak gadis tersebut tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik jelita. Selain cantik, gadis itu pun memiliki ilmu silat yang hebat. Ayahnya sengaja membekalinya ilmu silat agar anaknya dapat menjaga diri dari orang-orang yang mempunyai niat buruk.

Waktu terus berlalu, masa di mana si gadis sudah waktunya untuk menikah pun tiba. Namun si pedagang kaya belum mempunyai calon menantu yang cocok untuk putrinya. Sang pedagang kaya membuat sayembara. Ia pun mengumpulkan orang-orang di halaman rumahnya yang luas.

“Saudara-saudara sekalian. Seperti yang saudara semua ketahui. Anakku kini sudah beranjak menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Sudah waktunya ia menikah dan mempunyai keluarga. Dengan ini aku mengadakan sayembara. Barang siapa yang berhasil mengalahkan anakku dalam ilmu bela diri, maka lelaki tersebut dapat menikahi anakku,” kata pedagang kaya dengan suaranya yang lantang.

“Jika saudara sekalian mempunyai keluarga, teman, atau handai taulan sampaikanlah kepada mereka perihal sayembara ini. Biarlah yang terbaik yang akan menang,” sambungnya lagi.

Berita dengan cepat segera menyebar ke seluruh penjuru, bahkan hingga keluar Bekasi. Para pendekar berdatangan dari berbagai daerah untuk mengikuti sayembara, mereka berharap dapat mempersunting gadis jelita anak pedagang kaya itu. Entah tergiur karena harga si pedagang kaya atau karena kemolekan tubuh anak gadisnya. Sejumlah pendekar mendaftarkan diri untuk mengikuti sayembara.

Setelah menunggu beberapa hari untuk mengumpulkan para peserta lomba. Sayembara untuk mendapatkan anak gadis cantik pedagang kaya dimulai. Sebuah arena besar dibuat di halaman rumah pedagang kaya yang lapang. Beberapa bangunan yang berfungsi sebagai tribun didirikan di sisi arena pertandingan. Tribun tersebut dibuat untuk orang-orang yang tidak mengikuti sayembara, tapi ingin menyaksikan jalannya pertandingan.

Pertama-tama, si gadis naik ke arena pertandingan, mengikuti di belakangnya sejumlah peserta sayembara. Dari yang bertubuh kecil hingga yang berbadan besar dan bertampang bengis ada di rombongan peserta. Mereka naik ke atas panggung sembari berjalan dengan congkak, mereka yakin dapat memenangkan sayembara dengan mudah. Penonton memberikan tepuk tangan saat sang gadis muncul di arena. Sambil berjalan si gadis melambaikan tangan ke arah penonton, membuat penonton semakin riuh bersorak. Namun penonton bersorak,”Wooo,” saat sejumlah penantang naik ke atas arena pertandingan dengan melambaikan tangan pelan, seperti gerakan yang sengaja diperlambat.

Seorang yang bertugas sebagai wasit pertandingan memasuki arena. Ia memberikan hormat dengan membungkuk ke arah tribun penonton dan tribun si pedagang kaya. Pertandingan akan segera dimulai. Para peserta satu per satu turun dari atas arena hingga menyisakan seseorang di antara mereka. Pada pertandingan pertama si gadis bertanding melawan seorang lelaki besar dengan codet di wajahnya.

“Hei manis, sebentar lagi kau akan menjadi istri. Hahaha,” kata lelaki besar itu dengan penuh percaya diri.

“Jangan sekalipun kau berharap. Aku akan menjadi istrimu jika kau berhasil membuatku memohon ampun,” jawab si gadis.

“Sombong sekali kau. Jangan salahkan aku jika aku berhasil tidak sengaja membuat wajahmu yang mulus memiliki codet sepertiku,” kata lelaki itu lagi.

“Kita lihat saja nanti. Aku yang akan mempunyai codet, atau codetmu yang akan bertambah,” kata si gadis.

“Kurang ajar. Arghhh,” kata lelaki itu.

Gong tanda pertandingan dimulai dibunyikan. Si gadis memasang kuda-kuda bertahan, lelaki itu menyeringai merendahkan. Dengan cepat si lelaki merangsek menyerang. Menggunakan kedua tangan yang besar, dan kakinya yang panjang si lelaki menyerang si gadis sebisa mungkin. Namun si gadis dapat menghindar, ia bertahan sambil menunggu kesempatan untuk membalas. Tak beberapa kemudian si gadis pun melihat celah. Si gadis meninju rusuk lelaki besar itu dengan telak. Si lelaki tidak sempat menangkis pukulan itu. Pukulan itu membuat si lelaki besar terhuyung. Melihat lawannya mulai goyah, si gadis melanjutkan dengan serangan bertubi-tubi. Sebuah pukulan keras di tengkuk si pria besar mengakhiri perlawanannya. Si gadis kembali ke kuda-kuda bertahannya. Tubuh penantang pertama itu tidak bergerak, tubuh kekar itu pun roboh.

Keadaan senyap. Melihat adegan pertarungan sengit itu penonton terperangah. Namun tak lama satu-dua tepuk tangan mulai terdengar dari arah penonton. Penonton lain pun segera tersadar dari kekaguman melihat kehebatan si gadis. Riuh tepuk tangan menggema di sekitar arena pertandingan. Memeriksa keadaan lelaki besar itu. Wasit pertandingan memastikan si lelaki itu pingsan, kemudian mengangkat salah tangan si gadis, menyatakan si gadislah pemenangnya.

Tepuk tangan berhenti ketika penantang selanjutnya naik ke atas arena pertandingan. Wasit pertandingan segera menyuruh orang menggotong tubuh penantang utama untuk turun dari arena pertandingan. Peserta kedua adalah seorang warga keturunan Tionghoa, ia mengenakan pakaian serba putih dengan gaya rambut setengah botak setengah gondrong; rambut di kepala bagian depannya botak tapi bagian belakang rambutnya panjang terkepang.

Lelaki Tionghoa itu bersiap, ia segera membuat kuda-kuda, dengan pose yang sepertinya memang sering ia latih. Lelaki Tionghoa itu mengangkat satu kaki dan merentangkan kedua tangannya bak seekor burung bangau yang hendak terbang. Gong pertandingan tanda dimulai berbunyi. Lelaki Tionghoa itu berinisiatif melancarkan serangan terlebih dahulu. Dia menyerang menggunakan tangannya yang terlipat seperti paruh burung yang mematuk. Gerakannya ringan dan cepat. Dengan sigap si gadis menangkis serangan yang datang.

Lelaki Tionghoa itu mundur sesaat setelah melancarkan beberapa serangan, sadar serangannya tidak mampu mengenai sasaran yang dituju, lelaki Tionghoa itu pun mengganti jurusnya. Kini ia mengambil kuda-kuda seperti seekor harimau yang hendak menerkam mangsa. Jarinya dibentuk seperti cakar harimau.

Si lelaki Tionghoa itu kembali menerjang. Kali ini dengan gerakan yang lebih kuat tapi lambat. Tak tinggal diam, si gadis yang terus menangkis serangan lelaki Tionghoa itu melepaskan serangannya. Serangan di gadis berhasil mengenai si lelaki Tionghoa. Serangan terus dilancarkan, hingga akhirnya si lelaki Tionghoa terjatuh ke belakang, dan akhirnya mengaku kalah.

Penonton kembali bersorak ramai. Gemuruh sorak sorai penonton kembali bergema. Penonton mengelu-elukan kehebatan si gadis. Arena pertandingan dipenuhi dengan riuh penonton. Para peserta yang berdiri di samping arena pertandingan pun bergidik, tidak menyangka ilmu bela diri si gadis begitu hebat.

Pertandingan terus bergulir. Sejumlah peserta terus bertumbangan. Matahari pun mulai tampak tenggelam di ufuk barat. Sampai saat ini belum ada peserta yang berhasil mengalahkan di gadis. Si gadis masih memang stamina yang luar biasa, hingga kini ia masih mampu menjatuhkan lawan-lawannya. Sejumlah lawan yang dikalahkan si gadis ada yang pingsan, tersungkur, mengaku kalah, bahkan ada yang terlempar keluar arena pertandingan.

Di saat masa akhir sayembara, masih belum ada penantang yang berhasil mengalahkan gadis pedagang kaya tersebut. Si pedagang kaya pun mulai kebingungan,

“Anakku, kenapa kau tidak mengurangi kekuatannya sedikit, agar ada lelaki yang bisa mengalahkamu,” pinta si pedagang kaya.

“Tidak ayah. Aku tidak mau. Aku menginginkan lelaki yang kuat, supaya kelak dia bisa menjagaku, serta menjaga kita,” jawab si gadis dengan tegas.

Si pedagang kaya tidak bisa berbuat apa-apa jika yang diinginkan anaknya demikian. Para peserta pun habis, tidak ada yang berhasil mengalahkansigadis. Hingga akhirnya muncul lah seorang pemuda entah dari mana, pemuda itu tiba-tiba muncul di sekitar rumah juragan itu yang terletak bersebelahan dengan Sungai Bekasi. Pemuda itu pun mendaftarkan diri untuk mengikuti sayembara.

Ia pun naik ke atas arena pertandingan dan langsung mengambil kuda-kuda. Si gadis heran dengan kuda-kuda yang dibuat oleh si pemuda. Dia selama ini belum pernah melihat lawan yang menggunakan kuda-kuda seperti yang diperagakan oleh si pemuda. Entah jurus apa yang pemuda itu pakai. Si gadis melancarkan serangan terlebih dahulu, namun gerakan si gadis seperti sudah terbaca oleh si pemuda, semua serangan tersebut dapat ditangkis dengan mudah.

Mendapatkan lawan tangguh, si gadis semakin gencar menyerang. Semua jurus ilmu bela diri yang dikuasainya pun dikeluarkan. Namun serangannya selalu daat dipatahkan. Si gadis tampak mulai kelelahan. Si pemuda berbalik memberikan serangan yang gencar. Serangannya membuat si gadis kewalahan. Si gadis lalu mengaku kalah.

Pertandingan diakhiri dengan pengakuan kalah oleh si gadis. Hal itu menandakan si pemuda berhasil memenangkan sayembara. Ia berhak menikahi anak gadis pedagang kaya. Alangkah senangnya hati pedagang kaya. Akhirnya ia memiliki pasangan untuk putrinya.

Setelah pertandingan usai, pedagang kaya mengajak si pemuda masuk ke dalam rumahnya. Si pedagang kaya bertanya dari mana asal pemuda itu. Pemuda itu menjawab bahwa ia berasal dari negeri yang jauh. Setelah pembicaraan panjang-lebar. Mereka sepakat untuk mengadakan perayaan pernikahan tujuh hari tujuh malam. Si pemuda diminta untuk menginap. Keesokan harinya si pemuda memohon pamit untuk memberitahukan kepada keluarganya tentang pernikahan dan menyiapkan sejumlah seserahan untuk dibawa nanti.

Seusai memohon pamit kepada pedagang kaya, si pemuda mendekati si gadis. Pemuda itu berjanji akan kembali ada hari pernikahan yang telah ditentukan. Di gadis mengangguk dan tersenyum.

Waktu pun terus berlalu hingga saat yang dinantikan tiba. Besok adalah hari pernikahan tersebut. Hari ini si pemuda berjanji datang dengan membawa keluarga dan bermacam-macam seserahan yang telah disepakati sebelumnya. Sang gadis menunggu kedatangan pemuda itu dengan cemas. Ia menanti di jendela depan kamarnya. Menunggu dengan tidak sabar kedatangan calon suaminya. Si gadis terus menunggu di tepi jendela rumahnya. Sampai tanpa disadari di gadis melamun, membayangkan tentang pernikahannya besok.

Si gadis tersadarkan dari lamunannya oleh ucapan salam. Ia langsung melihat ke arah depan rumahnya. Seperti kemunculannya yang pertama, kehadiran si pemuda beserta rombongan keluarga tidak diketahui oleh siapa pun. Tiba-tiba mereka telah berdiri di halaman rumah si gadis yang bersebelahan dengan sungai Bekasi. Si gadis mengabaikan kejadian itu, ia terlampau senang dengan kedatangan calon suaminya. Rombongan keluarga si pemuda itu mengenakan pakaian yang bagus-bagus, mereka juga membawa barang seserahan yang diminta oleh si gadis.

Pesta diadakan dengan meriah. Sebuah panggung hiburan dibangun di depan rumah pedagang kaya itu. Seluruh warga diundang untuk datang, tanpa terkecuali. Tujuh hari tujuh malam hiburan terus berlangsung di rumah si pedagang kaya. Semua makanan dan minuman disuguhkan kepada tamu yang hadir. Pada hari ketujuh rombongan keluarga si pemuda memohon pamit, dan meninggalkan pemuda itu di rumah si pedagang kaya.

Setelah menikah, kehidupan keluarga baru itu tidak pernah sebaik ini. Mereka memadu kasih selayaknya dua orang yang sedang kasmaran. Si gadis tak pernah meragukan si pemuda sebagai suaminya, walaupun mereka baru bertemu satu kali. Segera mereka dikaruniai seorang anak, si gadis mengandung anak buah hatinya dengan si pemuda. Si pemuda menjaga istri dan buah kasih sayangnya dengan sepenuh hati. Setelah sembilan bulan sepuluh hari mengandung, si gadis melahirkan. Dia melahirkan seorang anak lelaki yang sehat. Alangkah bahagianya kedua pasangan suami-istri itu.

Suatu ketika setelah kelahiran si anak, si pemuda mengajak istrinya untuk berbincangra serius. Pembicaraan berlangsung di teras rumahnya yang sepi di pinggir sungai Bekasi. Sungai Bekasi yang tampak tenang dan jernih menjadi teman mereka berbincang kala itu.

Si pemuda menimbang-nimbang pilihan kata yang tepat untuk memulai pembicaraan.

“Istriku yang cantik, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu,” ujar si pemuda.

“Apa yang ingin katakan wahai suamiku, katakan saja,” jawab si gadis.

“Aku akan mengatakan sesuatu yang aku rahasiakan selama ini. Tapi aku takut kau marah jika mengetahuinya,” kata si pemuda.

“Tak ada yang bisa membuat marah sekarang suamiku. Aku kini telah memiliki engkau dan buah hati kita,” jawab si gadis dengan lembut.

“Baiklah, aku minta kau tidak memotong penjelasanku. Aku ingin mengatakan bahwa aku sebenarnya adalah raja buaya putih, penguasa Sungai Bekasi,” kata si pemuda panjang-lebar.

“Kenapa kau tidak mengatakan dari awal pernikahan kita suamiku, kenapa baru sekarang. Tapi aku tidak pernah menyesalkan sedikitpun tentang pernikahan kita. Aku tidak marah padamu suamiku,” jawab sang gadis dengan tenang.

“Kau memang istri yang baik. Tapi tak hanya itu saja. Di alamku ada seorang raja siluman yang sakti mandraguna, ia begitu kejam dan jahat. Tidak ada yang berhasil mengalahkannya. Yang bisa mengalahkannya adalah anak keturunan manusia. Oleh sebab itu aku mengikuti sayembara dan menikah denganmu,” kata si pemuda lagi.

“Lantas? Apa yang hendak kau sampaikan?” kata si gadis tak sabaran.

“Aku harus kembali ke alamku, dan membawa anak kita,” ujar si pemuda.

Suasana tiba-tiba hening. Terdengar isakan sang istri yang terasa sendu. Sang istri langsung berlari masuk ke dalam rumah.

Sejak pembicaraan itu tidak ada perbincangan di antara mereka. Sang pemuda merasa bahwa ia memang bersalah, tidak ia memisahkan anaknya dari ibunya sendiri. Ia pun berjalan keluar rumah menuju tepi Sungai Bekasi. Seketika itu sang istrinya berteriak.

“Tunggu suamiku,” ujar sang gadis, saat keluar rumah sambil menggendong anaknya.

“Selama ini aku terus berpikir. Pada awalnya aku sama sekali tidak merelakan kau membawa anak kita pergi. Namun setelah aku berpikir masak-masak, aku merelakan kau pergi membawa anak kita. Aku tidak mau menggugurkan usahamu selama ini. Ini juga sebagai tanda baktiku sebagai seorang istri. Aku merelakan anak kita kau bawa asal kau berjanji untuk terus menjaganya apa pun yang terjadi, jangan sampai ia kalah dari raja siluman jahat” kata si gadis.

“Apakah aku tidak salah dengar? Tentu saja aku akan merawatnya apa pun yang terjadi. Dan aku berjanji tidak akan membiarkan anak kita kalah,” kata si pemuda berjanji.

Walau dengan berat hati, si gadis menyerahkan anak yang digendongnya kepada sang suami. Sambil menitihkan air mata si istri memeluk anak dan suaminya untuk yang terakhir kali.

Si pemuda lalu berubah wujud menjadi seekor buaya putih yang besar. Anaknya ditaruh di atas punggungnya yang lebar. Perlahan buaya putih itu berjalan menuju Sungai Bekasi. Ia terus berjalan hingga air menenggelamkan tubuhnya, menyisakan punggung yang menjadi bayinya berada. Mereka terus menyusuri Sungai Bekasi menuju hulunya, mereka terus berenang hingga akhirnya tidak terlihat lagi.

Si gadis sangat bersedih kehilangan anak dan suaminya, tapi ia senang karena dapat berbakti kepada suaminya, ia pun tenang karena tahu anaknya berada di tangan yang tepat. Semenjak itu di gadis sering berada di tepi Sungai Bekasi. Memperhatikan permukaan air yang jernih. Ia akan membersihkan sungai dari sampah dan kotoran. Ia pun meminta anak buahnya dan orang-orang yang berada di tepi Sungai Bekasi supaya tidak membuang sampah ke sungai, ia selalu menjaga Sungai Bekasi tersebut agar tempat tinggal anak dan suaminya selalu nyaman dan bersih.

Kirim Tanggapan