Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi: Sebuah Dongeng Tragis untuk Kehidupan

1
1013

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah sebuah dongeng, begitu yang ditasbihkan Yusi Avianto Pareanom, penulisnya. Maka karena ini sebuah dongeng, kita harus siap dengan kisah tak masuk akal, ajaib, atau janggal yang disuguhkan di dalamnya. Kita tentu boleh percaya dan boleh tidak. Namun karena kisah dongeng itu begitu bagusnya, maka seolah-olah kisah itu sungguh-sungguh terjadi.

Alkisah ada seorang laki-laki muda berusia 19 tahun bernama Sungu Lembu, putra Banjaran Waru, kerajaan taklukan Gilingwesi. Ia tumbuh dalam didikan pamannya, Banyak Wetan, yang merupakan perwira tinggi di Banjaran Waru. Hubungan Sungu Lembu dengan Banyak Wetan mewujud dalam latihan-latihan fisik yang keras sekaligus tak bisa ditawar, seperti ujian untuk mencicipi setiap racun. Sementara dengan Lembu Kuning, ayahnya, dan anak-anak ayahnya yang lain, Sungu Lembu tak begitu akrab. Pertalian di antara mereka erat karena Sungu Lembu dan ayahnya sama-sama senang membaca.

Banyak Wetan memiliki tiga orang anak, yakni Jengger Banyak, Tlapak Banyak, dan Wulu Banyak. Di kemudian hari, Sungu Lembu mengetahui bahwa paman dan anak-anaknya terlibat dalam upaya untuk memerdekakan diri dari Gilingwesi. Dalam sebuah kekacauan, Jengger Banyak tertangkap dan Banyak Wetan dituduh ikut berkomplot. Nyi Banyak, bibinya, terbunuh dan dalam jangka waktu satu tahun hukuman terhadap Banyak Wetan akan dijatuhkan. Sungu Lembu lantas menjadi buronan. Dalam pelarian, ia mencari cara untuk membebaskan pamannya.

Sungu Lembu kemudian terdampar di rumah hiburan dan bertemu Nyai Manggis—sosok yang kemudian menggerakkannya untuk membunuh Prabu Watugunung, Raja Gilingwesi. Ia kemudian berkelana bersama Raden Mandasia dan mengikuti ide gila sang pangeran menuju Kerajaan Gerbang Agung untuk mencegah peperangan antara dua negara. Dalam perjalanan penuh hal tak terduga itu, Sungu Lembu mendapati kebiasaan aneh sang pangeran yang gemar mencuri sapi lalu menaruh uang emas sebagai gantinya. Perangai Sungu Lembu yang kadang bodoh, naïf, dan juga mudah naik darah membawanya pada kejadian demi kejadian yang tak disangka semakin mendekatkan dia pada tujuannya untuk menghabisi nyawa Watugunung.

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah novel pertama Yusi—yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis cerita pendek dan penerjemah. Beberapa cerita induk dalam novel ini sudah pernah muncul dalam bentuk tiga cerita pendek di Koran Tempo (2009 dan 2011) serta dalam kumpulan cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa (2011). Novel ini baru saja diganjar penghargaan sebagai terbaik kategori prosa Kusala Sastra Khatulistiwa 2016.

Kekuatan novel ini terletak pada kepiawaian Yusi meramu mitos-mitos klasik dan mencampurkannya dalam satu urutan peristiwa. Soal kisah upaya penaklukan Gerbang Agung oleh Gilingwesi yang dibantu pasukan gabungan termasuk pasukan berkuda, kisah Putri Tabassum yang kecantikannya begitu melegenda hingga tak seorang pun berhasil mempersuntingnya, seorang anak yang dipukul dengan centong di kepalanya hingga kabur dan kemudian menikah dengan ibu kandungnya, hingga kisah Dewi Sinta yang membakar diri lantaran seluruh anaknya meninggal di medan perang. Semuanya merujuk pada kisah-kisah yang sudah dikenal luas di kepala, tapi kemudian dibaurkan sehingga membentuk kisah baru yang membuat goyah pembaca. Benarkah demikian? Kalau ini hanya bualan, mengapa bagus betul sehingga kita berharap ini kisah nyata?

Misalnya saja kisah tentang bagaimana Watugunung memperoleh kejayaannya. Dikisahkan Watugunung adalah pemuda yang tak diketahui benar asal-usulnya. Ia kemudian datang ke Medang Kamulan karena diminta untuk membasmi pemberontakan kecil di negeri-negeri jajahan. Namun kemudian, si pemuda sakti ini menumpas sang raja lalim, mengambil alih kerajaan dan mengubah namanya menjadi Gilingwesi, serta memperisti dua orang permaisuri, yakni Dewi Sinta dan Dewi Landep. Dari Dewi Sinta, ia beroleh 27 orang anak; sementara dari Dewi Landep, ia tak beroleh seorang pun. Kemudian Gilingwesi tumbuh semakin besar dan jaya dengan mencaplok wilayah-wilayah di sekitarnya. Kisah penaklukan semacam ini tentu tidak asing bagi yang belajar sejarah kejayaan dan kejatuhan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Yang sangat menarik adalah cara Yusi memperkenalkan kosakata baru yang sebenarnya ada, tapi tak dikenal lantaran kurang lazim dipakai. Misalnya istilah buli-buli yang ternyata merujuk pada sebuah guci kecil, sampil yang berarti ‘paha sapi’, atau rigai yang berarti ‘lampai atau tinggi kurus.’ Ini bukan istilah baru, tapi penggunaannya yang tepat pada setting waktu novel ini membuat kisahnya semakin pas.

Belum lagi ungkapan-ungkapan bermakna makian yang sering kali muncul, seperti anjing kurap, tapir buntung, atau kadal kopet. Yang lucu, pernah Sungu mengumpat, “simbahmu koprol.” Yusi pun tak segan memperkenalkan istilah baru untuk merujuk sesuatu, misalnya sepenanakan nasi untuk mengukur waktu atau lima ratus tombak untuk mengukur langkah. Ditambah nama-nama seperti Pulau Padi, Kepulauan Rempah-Rempah, Jazirah Atas Angin, dan Benua Biru yang sebenarnya merujuk pada suatu tempat yang nyata di atas Bumi.

Bila ada ada yang patut dicermati, itu adalah bagaimana cara Yusi membangun tokoh-tokohnya. Meski dikisahkan sebagai sosok perkasa, Sungu Lembu sesungguhnya tak berdaya. Ia adalah stereotipe seseorang yang berada dalam cengkraman kuasa atau penjajahan dalam jangka waktu yang lama. Ia membenci Watugunung, tapi tak kuasa mencegah dirinya menyukai Raden Mandasia dan kemudian kehilangan nafsu membunuhnya begitu saja.

Nyai Manggis dan Dewi Sinta adalah tokoh-tokoh perempuan yang sangat menarik. Sebab, meski seolah-olah mereka tak punya pilihan dalam hidup, mereka mampu menjadi pendorong bagi seorang laki-laki untuk mengikuti keinginan mereka. Nyai Manggis mampu membujuk Sungu Lembu mengikuti Raden Mandasia. Seperti peramal ia berkata, “Tapi aku percaya Raden akan selamat setelah melihat bagaimana Watugunung dan orang-orang Gilingwesi berkubang darah.” (hlm. 167)

Sementara Dewi Sinta mendorong suaminya sendiri untuk pergi merebut Putri Tabassum lantaran tak sanggup menanggung dosanya. Ia kemudian memilih melakukan puja dan membakar diri untuk membersihkan dosa.

Bagaimana pun, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi memang layaknya sebuah dongeng yang memikat, yang pasti sangat nikmat ketika dibacakan, seperti tradisi sastra lisan di masa lampau. Novel ini memberi petunjuk untuk melihat ke dalam diri manusia, sebab “musuhnya sangat dekat, ada di dalam dirinya, hawa nafsunya sendiri” (hlm 84).

Judul : Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi

Penulis : Yusi Avianto Pareanom

Tahun terbit : Maret 2016

Jumlah halaman : xiii + 448

Penerbit : Banana Publishing

 

Penulis: Fadjriah Nurdiarsih

1 Komentar

Kirim Tanggapan