Makam Pangeran Wiraguna dan Asal-usul Ragunan

0
1835
Petunjuk makam Pangeran Wiraguna di Kampung Pekayon.

Beberapa kali saya melewati Jalan Raya Pejaten Barat arah ke Pejaten Village maupun sebaliknya ke Kemang, saya tidak sadar bahwa ada makam Pangeran Wiraguna di sana. Padahal rupanya pelang petunjuk papan makam sudah ada cukup lama.

Terdorong oleh rasa penasaran, pada suatu pagi saya mampir ke makam. Rupanya jalan masuk menuju makam sangat sempit, hanya bisa untuk dua motor berpapasan. Di depannya ada tukang tambal ban dan warung kecil. Setelah itu jalan agak menanjak, bermuara pada makam-makam yang letaknya tak beraturan dan tidak indah sama sekali. Sama sekali berbeda dengan bayangan saya soal makam keramat. Banyak sampah, nyamuk, dan pohon-pohon yang tingginya tidak sama. Ada sebuah bangunan kecil berpagar berwarna hijau. Saya mencoba masuk, tapi pintunya terkunci.

Saya melangkah lebih jauh ke areal permakaman hingga di ujung tembok yang berbatasan dengan permukiman. Ada seorang nenek sedang berlatih berjalan di sana. Di dekatnya ada penyangga seperti jemuran. Tampaknya dia pernah terkena stroke.

Saya menyapanya dan bertanya yang mana makam Pangeran Wiraguna. Nenek itu lalu menunjuk bangunan berwarna hijau yang ternyata sudah saya lewati. “Kalau di sini, Beliau dikenalnya dengan nama Mbah Kumpi. Konon karena dulu punya pasukan satu kompi,” ujarnya.

Ketika saya kembali ke areal makam, ada seorang laki-laki tengah berdoa dan bersila takzim di depan pintu itu. Saya menunggunya cukup lama, hingga nyamuk menggigiti kaki dan tangan saya. Ketika dia selesai, saya menodongnya bicara.

Tampak depan makam Pangeran Wiraguna
Tampak depan makam Pangeran Wiraguna

Dia mengaku bernama Aryo, datang dari pinggiran Jakarta, dan memang suka berziarah ke makam-makam. Ia pernah mengunjungi makam Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum dan makam Mbah Priok di Jakarta Utara. “Bukan untuk mengalap berkah atau minta karomah, tapi menjalankan kewajiban saja sebagai orang yang masih hidup,” ujarnya sambil menghisap rokok.

Sementara soal saya yang pada Jumat pagi itu tiba-tiba membelokkan setang motor ke arah makam Pangeran Wiraguna, Aryo berkata, “Mungkin itu panggilan dari Pangeran Wiraguna, mungkin Mbak Fadjriah mau dapat maonah.”

Suami saya hanya tertawa ketika saya menceritakan ucapan Aryo itu. Ia tampaknya tak percaya. Namun, dua bulan kemudian, dia bersedia menemani saya berkunjung kembali ke makam Pangeran Wiraguna.

“Dulu berani datang sendirian,” ujarnya berkomentar.

“Aku kan enggak tahu harus baca doa apa di depan makam. Kalau kamu hafal doa-doa dan selawat-selawat,” ujar saya berkilah.

Dia pun menyerah.

Asal-usul Nama Ragunan dan Kisah Pangeran Wiraguna

Ya, sejarah Ragunan memang tidak bisa dilepaskan dari Pangeran Wiraguna. Menurut buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat, nama Ragunan berasal dari nama Pangeran Wiraguna, yaitu gelar yang disandang tuan tanah pertama kawasan itu, Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar—atau biasa disebut Sultan Haji.

Tentu agak membingungkan bagaimana seorang Belanda kelahiran Steenwijk bisa dianugerahi gelar begitu tinggi oleh Sultan Banten yang merupakan musuh Belanda. Namun rupanya, Hendrik Lucaasz Cardeel berjasa membantu Sultan Haji dalam renovasi Keraton Surasowan di Banten yang terbakar sebagian. Keraton ini merupakan tempat bertakhtanya Sultan Ageng Tirtayasa, ayah Sultan Haji.

Cardeel adalah seorang juru bangunan yang mengaku melarikan diri dari Batavia karena ingin memeluk agama Islam dan membaktikan diri kepada Sultan Banten.

Tak lama, terjadi perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Terjadilah perang perebutan takhta antara ayah dan anak. Dalam keadaan terdesak, Sultan Haji mengirim utusan ke Batavia untuk meminta bantuan kompeni. Dan yang diutus adalah Kiai Aria Wiraguna alias Cardeel.

Sultan Haji kemudian memenangkan pertempuran. Atas jasanya, Cardeel ditingkatkan gelarnya menjadi Pangeran Wiraguna dan mendapatkan sejumlah hektar tanah. Ia konon sempat hendak pulang ke Belanda pada 1689 lantaran semakin banyak yang tidak menyukainya di Banten. Namun rupanya Cardeel menetap ke Batavia, kembali memeluk agama Kristen, dan menjadi tuan tanah yang kaya raya. Tanahnya yang terluas adalah di wilayah yang kini menggunakan namanya: Ragunan.

Makam Pangeran Wiraguna: Riwayatmu Kini

Di bawah tempat tidur model dulu terdapat makam Pangeran Wiraguna
Di bawah tempat tidur model dulu terdapat makam Pangeran Wiraguna

Makam Pangeran Wiraguna memang sudah terlindungi oleh bangunan permanen, tapi bukan pemerintah yang membuatnya.

Juru kunci perempuan yang saya datangi mengatakan bangunan makam dibuat oleh Ibu Lia. “Dulu dia penduduk sini, mungkin punya nazar atau dipilih atau bagaimana, saya kurang tahu,” ujarnya pada satu sore, 22 Oktober 2016.

Versi yang beredar di masyarakat sekitar, Pangeran Wiraguna adalah keturunan dari Kerajaan Majapahit. Warga percaya Pangeran Wiraguna adalah anak dari Brawijaya V yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit di abad ke-15. Sang pangeran dan pasukannya membawa misi mengelola kemakmuran di Batavia. Dari sinilah istilah Mbah Kumpi muncul. Dalam dunia militer, satu kumpi kurang lebih seratus orang. Wiraguna sendiri bukan nama asli, melainkan nama julukan.

Ketika saya memasuki makam, harum wangi melati menguar. Juru kunci cukup rajin membersihkan lokasi makam Pangeran Wiraguna. Di kanan saya, di dinding, terpampang peringatan bagi mereka yang datang dengan niat tidak lurus.

Tulisannya seperti ini:

Peringatan di dalam komplek makam bagi yang tidak bertujuan lurus
Peringatan di dalam komplek makam bagi yang tidak bertujuan lurus

Makam sang pangeran sendiri berada di bawah sebuah kasur kayu berkelambu model dahulu dengan seprai warna hijau. Di bawah ranjang barulah terdapat makam yang bagian permukaan tanahnya tertutup batu. Seolah dikesankan ini adalah tempat tinggal, bukan kuburan sang pangeran. Konon, warga percaya sang pangeran tidak mati, hanya berpindah tempat tidur. Malahan sebagian lagi menganggap Pangeran Wiraguna belum meninggal. “Dia masih ada hingga sekarang, tapi hanya sebagian orang yang bisa melihatnya,” ujar si juru kunci.

Ragunan, Dulunya Tanah Partikelir

Fakta menarik lainnya tercantum dalam buku Pasar Minggu Tempo Doeloe: Dinamika Sosial Ekonomi Petani Buah 1921-1966. Dalam buku ini disebutkan, Ragunan dulunya adalah tanah partikelir. Ragunan merupakan areal produktif dalam pertanian yang ditanami jeruk besar, sawo, rambutan, macam-macam jeruk manis dan jeruk keprok.

Partijijunianti (2012: 23) menyebutkan bahwa Ragunan adalah sebuah perkampungan yang dipercaya didirikan oleh Pangeran Wiraguna, dirancang sebagai permukiman yang mandiri dan berfungsi sebagai penghasil kayu jati yang dijual ke kota pantai Jayakarta. Komunitas ini membuka perkebunan jati yang diselang-seling untuk peternakan sapi dan kuda. Untuk menopang kegiatannya, komunitas lantas membangun fungsi lainnya yang kemudian menjadi kampung tersendiri.

Contohnya, komunitas tersebut membangun tempat pengumpulan kayu sebelum dikirim ke tempat pemasaran. Kemudian berdiri Kampung Pekayon yang artinya ‘tempat kayu-kayu’. Dibangun pula areal khusus untuk memenuhi pasokan air secara besar (Kampung Bendungan), areal khusus untuk pohon-pohon perdu yang menyerupai hutan (Kampung Utan). Demikian pula terdapat areal khusus untuk tanaman pisang (Kampung Pisangan), kandang hewan (Kampung Kandang), dan pohon jati (Kampung Pajaten). Kampung Ragunan pada zaman dulu lebih luas dibanding wilayah administratif saat ini.

Di balik mitos pendiri Ragunan yang bervariasi dan sulit diverifikasi kebenarannya, kejayaan Ragunan tempo dulu tak terbantahkan. Ragunan adalah bagian dari Kecamatan Pasar Minggu yang terkenal melalui lagu, “Pepaya, mangga, pisang, jambu… dibawa dari Pasar Minggu.”

Seorang peziarah berdoa di depan makam Pangeran Wiraguna
Seorang peziarah berdoa di depan makam Pangeran Wiraguna

Sebagian dari sejarah Ragunan itu pun mewujud dalam makam Pangeran Wiraguna di Jalan Pejaten Barat dekat Australian Internasional School yang kini dianggap keramat oleh sebagian orang. Hal ini diamini sendiri oleh sang juru kunci. “Biasanya di sini kalau malam Jumat ramai, Mbak. Malah pernah juga rombongan datang pakai bus dari Pulau Jawa,” ujarnya memungkasi.

 

Kirim Tanggapan