Tiga Buku Keren yang Saya Baca Akhir-Akhir Ini

7
1122
ilustrasi buku (sumber: kaskus)

Tahun 2016 hampir berakhir. Saya ingin ala teman-teman yang lain yang mengulas soal buku-buku menarik yang mereka baca di 2016. Namun, ngoook, rupanya saya sangat sedikit membaca buku. Tampaknya di 2017 saya harus mengetatkan resolusi baca minimal dua buku dalam satu bulan? Sanggupkah, saat begitu sampai rumah usai bekerja saya malah memilih bermain bersama-sama kedua anak saya. Hhhmm..

Jadi inilah yang saya buat. Perihal tiga buah buku yang saya baca dalam tiga bulan terakhir. Ketiganya memiliki tema yang unik dan terkait dengan sejarah. Bahkan, boleh dikatakan literatur dalam ketiga buku itu jarang beredar di publik. Karena itu, buku ini adalah sumbangan yang berharga dan amat penting dikoleksi oleh orang-orang yang menyukai topik “aneh” seperti saya.

Jadi, apa saja bukunya:

  1. Khazanah Arsip Perkebunan Teh Priangan
foto: beritagar.id
foto: beritagar.id

Buku ini adalah hasil kerja para arsiparis di Arsip Nasional Republik Indonesia. Saya mendapatkannya berkat budi baik Abdul Cholik yang menitipkannya pada Yunita Asteria berbulan-bulan lampau.

Narasumber utama dalam buku ini adalah Dra Darmiati dan penulis Euis Shariasih. Buku ini belum terlalu lama diluncurkan. Kalau tidak salah waktu itu saya dengar sengaja diterbitkan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Indonesia pada 17 Agustus 2016.

Isinya sangat komprehensif dan didasarkan pada arsip-arsip sejarah yang sebagian besar berbahasa Belanda. Tuturannya kurang menyenangkan karena seperti hanya pemindahan dari bahasa arsip, sehingga kurang luwes dibaca.

Dalam buku ini sejarah teh mulai dari kedatangannya di Hindia Belanda, upaya penanamanan, politik perkebunan teh, hingga perkebunan-perkebunan yang pernah berjaya dikupas tuntas.

Publik jadi tahu misalnya ternyata teh ditanam pertama kali di Batavia pada 1684. Benih tanaman ini dibawa dari Jepang oleh seorang warga negara berkebangsaan Jerman, Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias. Barulah pada 1694 F. Valentijn melaporkan dia melihat tanaman teh Sinensis di rumah Gubernur Jenderal Johannes Camphuys (1684-1691) yang kemudian menjadi rumah Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn (1691-1704) di Batavia.

Mengutip keterangan buku ini pada halaman tiga, disebutkan bahwa kemudian pada 1817 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Kebun Raya Bogor sebagai Kebun Botani. Maka pada tahun 1826 ditanamlah teh untuk melengkapi koleksi kebun raya. Lalu pada 1827 teh ditanam di kebun percobaan Tjiseroepan, Garut, Jawa Barat.

Sesuai dengan judul bukunya, buku ini hanya mengulas perkebunan-perkebunan teh yang ada di Bandung, Jawa Barat, yang pada zaman dahulu disebut Priangan. Ada perkebunan Pakantjilan, perkebunan Wanayasa, perkebunan Bodja Negara, Perkebunan Waspada (dengan Karel Holle yang terkenal dalam novel Juragan Teh), Tjinyiroean, dan Rioeng Goenoeng.

Dari arsip yang diteliti, dapat kita ketahui bahwa ternyata teh dibudidayakan sebagai bagian dari politik VOC untuk menambah pemasukan kas kompeni. Pengelola perkebunan teh tidak hanya orang kompeni. Belakangan kaum sipil Belanda berhasil memperoleh lelang izin penggunaan seluas hektar lahan untuk ditanami teh dalam jangka waktu tertentu. Misalnya saja Karel Holle di perkebunan Waspada. Di kemudian hari pengelolaan teh dijual kepada kaum Tionghoa, dan belakangan pribumi Indonesia.

Saya sangat suka deskripsinya yang detil, karena catatan keuangan, daftar gaji pekerja (ada perbedaan antara pribumi dan Tionghoa), hingga total panen perkebunan teh turut dicatat. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa pemerintah Hindia Belanda berupaya keras mencari metode terbaik penanaman teh. Terbukti, panen dari tahun ke tahun selalu meningkat.

Selain itu, buku ini juga memaparkan tiga jenis teh dan perbedaannya: teh hijau, teh hitam, dan teh oolong—yang berbeda didasarkan pemetikan dan pemprosesannya. Soal uji mutu teh bahkan tak ketinggalan. Sebab sebelum teh diekspor ke berbagai negara, salah satunya Inggris, daun teh harus lulus uji mutu. Menarik mengamati bagaimana teh Tegel asal Cina dan teh Tegel dari Jawa sangat berbeda kualitasnya. Rupanya teh Tegel Cina dibuat dari daun kualitas terbaik tanpa tambahan bahan lainnya, sementara teh Tegel Jawa adalah sisa sortiran berupa teh yang setengah hancur atau busuk.

Perkembangan teh yang meningkat membuat pendirian pabrik diperlukan. Kendala-kendala yang ada, termasuk hama penyakit yang menerjang perkebunan teh juga tak luput dari pembahasan.

Yang sangat langka sekaligus menyenangkan adalah bertebarannya foto-foto suasana perkebunan teh Priangan tempo dulu dan arsip rujukan sebagai pelengkap narasi. Tentang mandor Belanda yang sedang meninjau perkebunan, pakaian para perempuan pemetik teh, pabrik teh yang berdiri di tengah hamparan daun hijau, atau proses penjemuran teh oleh beberapa pekerja menjadi jembatan untuk membayangkan suasana berabad-abad lampau.

Dengan kertas luks yang tebal dan kualitas cetakan yang baik, buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dikoleksi. Saya sendiri berharap ANRI sering membuat edisi telusuran arsip sejarah seperti ini dan dicetak lebih banyak agar bisa diakses dan sampai kepada masyarakat luas.

 

  1. Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda

nyai-dan-pergundikan-di-hindia-belandaTopik soal nyai sudah akrab dengan saya sejak saya kuliah. Kisah nyai paling terkenal di Jakarta adalah Nyai Dasima, yakni seorang nyai yang bernasib tragis akibat terbunuh di tangan Samiun. Kisahnya berkembang dalam folklor masyarakat Betawi dan sempat dituliskan pula oleh SM Ardan. Versi Ardan berbeda dengan versi Gijsbert Francis yang terbit lebih dulu pada 1896. Sebuah catatan lain memperlihatkan bahwa Henry Chambert – Loir dalam Malay Literature in the 19th Century menyebutkan bahwa di Leningraad terdapat cerita “Nyai Dasima” dalam koleksi Akhmad Beramka tentang syair nomor 68. Ahmad Beramka aktif menulis pada sekitar abad ke-18.

Setelah itu soal nyai juga sempat mencuat dalam seri klasik Kesusasteraan Melayu Tionghoa yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Dalam telaah saya atas kisah-kisah nyai, saya menyimpulkan bahwa nyai ada yang baik dan buruk. Tidak dapat digeneralisasikan bahwa setiap nyai adalah mata duitan atau penyuka perhiasan. Selain itu, kata nyai sendiri bersifat netral karena nyai berarti ‘ibu’.

Namun, buku Reggie Baay berjudul Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda ini membuka tabir yang selama ini samar-samar bagi saya. Reggie Bay, dalam pengantarnya, mengaku bahwa ia hasil dari sistem nyai. Kakeknya memiliki nyai yang kemudian dari hubungan di antara keduanya lahirnya ayahnya. Latar belakang seperti itulah yang saya kira menjadi penyemangat bagi Reggie Baay untuk menulis tentang nyai dan pergundikan di Hindia Belanda, bahwa ada separuh akarnya yang ia cari.

Reggie Baay memulai tuturannya dengan mengklasifikasikan sistem pernyaian dalam beberapa bagian, yakni di tangsi, di perkebunan, hingga di masyarakat sipil. Data-data yang ia paparkan didapat dari karya sastra, cuplikan berita koran, riset pustaka, selebaran, hingga wawancara langsung.

Yang menarik, Reggie Baay membuka fakta bahwa petunjuk untuk mengambil nyai rupanya sudah diajarkan kepada para serdadu maupun petugas kompeni yang akan diberangkatkan ke Hindia Belanda. Kebijakan ini diperbolehkan untuk mengatasi kekurangan perempuan lantaran tak banyak perempuan Belanda totok yang sudi menempuh perjalanan jauh dan berbagai ke negeri asing. Konon pernah didatangkan perempuan dari panti asuhan di Belanda untuk mengatasi hal ini, namun ternyata mereka lebih suka berbuat asusila dan akhirnya menjadi “sampah masyarakat”.

Penuturan Reggie Baay sedikit banyak menumbuhkan simpati saya atas apa yang terjadi di masa lalu. Sebab, para nyai seringkali dianggap sebagai “ladang latihan” sebelum mereka menemukan jodoh dan menikah dengan kaum sebangsanya. Banyak para nyai yang dipisahkan dengan anaknya, kemudian dipaksa menandatangani surat perjanjian untuk kemudian diminta “tak menunjukkan wajah lagi selama-lamanya.”

 

  1. Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950: Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah

serdadu-belanda-gert-oostindieDalam buku karya Gert Oostindie ini, sejarawan dari Leiden, berbagai ingatan kolektif para serdadu yang pernah terlibat dalam perang di Indonesia pada 1945-1949 dibeberkan berdasarkan dokumen ego, yakni: buku catatan harian, surat menyurat dengan keluarga dan kolega, memoar, biografi, dan rekaman wawancara. Berdasarkan ribuan dokumen ego yang dikumpulkan dan diteliti oleh penulis dengan sangat cermat inilah publik bisa mendapatkan opini yang sangat akrab, jujur dan personal.

Misalnya ternyata, siapa yang menyangka bahwa sebagian besar serdadu yang dikirim ke Indonesia pada masa Bersiap (1945-1950) ternyata sebagian besar bukan militer profesional. Mereka berumur sangat muda, rata-rata awal 20 tahun, dan bahkan belum pernah menjejakkan kaki di Indonesia sama sekali. Hanya cerita-cerita saja yang mereka dengar. Itu pun sudah dibumbui dengan propaganda, perintah, atau bahkan ancaman dari negaranya.

Motif para serdadu ini umumnya adalah menjaga ketertiban di negeri jajahan. Mereka merasa kaum nasionalis dan para gerombolan adalah pengacau yang membuat keadaan menjadi tidak aman. Bagi mereka, misinya adalah jelas: membebaskan Hindia dari musuh Jepang.

Di sinilah peran sejarah sangat jelas bahwa history harus didudukkan bukan sebagai his story. Paparan dalam buku ini tentu tidak bermaksud membuat Belanda lepas dari tanggung jawab, seperti misalnya yang terjadi dalam kasus Rawagede. Gert Oostindie hanya ingin coba menuturkan kenapa pada saat itu Belanda mengambil kesempatan demikian untuk menduduki Indonesia kembali.

Hal ini pun sedikit banyak mengingatkan saya kepada sejarawan dan Indonesianis asal Keio University, Aiko Kurasawa, yang mengatakan Jepang menolak meminta maaf kepada Indonesia karena Jepang beranggapan mereka datang untuk membantu saudaranya dalam segala hal. “Namun jika cita-cita itu tidak tercapai karena Jepang kalah perang, itu adalah suatu hal lain yang di luar keinginan mereka,” ucapnya kepada saya beberapa waktu lalu.

Maka, dapat dipahami apabila para serdadu itu merasa kecela bahwa Hindia yang mereka upayakan pertahankan sebesar apa pun risikonya ternyata malah berpaling. Sebagian serdadu mencatat bahwa ada kaum petani yang menunduk dan memberi hormat tatkala mereka berjalan melintas sawah, tapi setelah itu lari dan memberi tahu kaum revolusioner berapa jumlah tentara yang datang. Berdasarkan dokumen ego, para serdadu itu menggolongkan musuh mereka menjadi lima, yakni: Sukarno, yang mereka anggap pengacau dan kolaborator Jepang; TNI, khususnya pasukan Sudirman yang dianggap sebagai pembenci orang kulit putih; kelompok radikal Islam; komunis; serta gerombolan yang dicap sebagai perampok paling kampungan.

Namun, seperti dituturkan Dr Abdul Wahid dalam Kata Pengantar buku ini yang berjudul “Berdamai dengan Masa Lalu yang ‘Kelam’”, sejarah pada dasarnya adalah ingatan atau memori. Karena itulah, penting bagi kita untuk mendudukkan buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950:Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah dengan pikiran yang adil sejak awal. Bahwa ternyata, banyak kisah yang belum pernah dibuka dengan terang kepada publik—khususnya publik Indonesia. Dan jika kisah ini dibuka sekarang, kita tentu harus sadar bahwa itu bukanlah untuk membuka luka lama.

 

 

 

 

7 Komentar

  1. dear Fajri,ANRI adalah singkatan dari Arsip Nasional Republik Indonesia, mohon diperbaiki ya darl.

    love,
    Yunita Asteria

    • Yang buku Nyai bisa dibeli di Komunitas Bambu, sejarah perang dan tentara ada di Gramedia, namun buku perkebunan teh sayang sekali tidak dijual bebas, Mas Firman.

Kirim Tanggapan