Folklor: Kisah Nenek Jenab dan Buaya Buntung

0
870
Foto buaya bekasi, sumber: bekasitimes. foto: goriau

Ada sebuah legenda yang sangat terkenal di tanah Betawi. Konon, ada seekor buaya yang selalu menggendong anaknya, si buaya buntung, ke mana pun dia pergi. Kisahnya dikaitkan dengan seorang nenek bernama Jenab yang selalu rutin menunggui si buaya buntung.

Alisah pada zaman dahulu kala di sebuah kampung di tanah Betawi, hiduplah satu keluarga terpandang. Keluarga itu terdiri atas Bapak, Ibu, dan seorang anak perempuan bernama Jenab. Orangtuanya amat menyayangi Jenab, putri satu-satunya. Namun, kala Jenab menginjak usia 19 tahun, ayahandanya yang tercinta meninggal dunia. Maka di rumah itu kini hanya tinggal Jenab bersama ibunya yang bernama Maimunah.

Jenab memang sangat cantik jelita. Rambutnya yang hitam panjang bak mayang terurai, kulitnya bersih dan perawakannya sedang. Matanya pun selalu bersinar dan bercahaya. Banyak laki-laki yang jatuh cinta demi melihat fisik si Jenab. Namun sayang seribu sayang, Jenab memiliki sifat yang kurang baik. Ia angkuh dan sombong. Meski orang tuanya sudah banyak melontarkan nasihat kepada Jenab, ia sulit berubah.

Jenab misalnya pernah membentak seorang perempuan tua lantaran debu yang disapu oleh nenek itu mengenainya. Satu hal lagi yang amat menyedihkan hati ibunya, Jenab selalu menolak lamaran laki-laki yang datang  kepadanya.

“Jenab anakku sayang,” kata Maimunah pada suatu hari ketika anaknya itu sedang menyisir rambut.

“Ibu bingung melihatmu, Nak. Sudah banyak laki-laki yang datang melamarmu, tapi semuanya kau tolak. Ibumu ini sudah tua dan ingin melihat Engkau bersuami. Apalagi kini ayahmu sudah tiada,” katanya.

“Sebenarnya apa yang Engkau inginkan, Nak?” tanya ibunya mendesak.

Jenab menyahut, “Ibuku, semua laki-laki itu tak ada yang berkenan di hatiku. Aku hanya mau menikah dengan orang yang aku sukai saja,” ujarnya.

“Baiklah kalau begitu, Nak. Tapi seperti apa orang yang kausukai. Bukankah sudah banyak orang yang datang ke sini, berbagai macam rupanya. Masak kan tak ada seorang pun yang menarik hatimu,” ucap ibunya bersikeras.

“Oh, si Akib itu, Bu. Aku tak suka dia karena wajahnya buruk rupa,” jawab Jenab.

“Lantas si Mamat?”

“Dia kakinya pengkor, Bu. Masak kan aku bersuami seseorang yang kakinya pincang?”

“Baiklah, Nak. Tapi bukankah ada Yusuf dan dia cukup tampan?”

“Ibu, Yusuf itu dari keluarga miskin. Aku tak mau hidup susah dengan menikahi orang miskin,” ucap Jenab sambil mengentakkan kakinya.

Ibunya mengurut dada mendengar ucapan putrinya itu. Ia merasa sedih karena putrinya sombong dan pongah, padahal kekayaan datangnya dari Yang Maha Kuasa dan bisa pergi sewaktu-waktu jika Dia mengambilnya lagi.

Maka ibunya pun bangkit sambil menahan amarahnya. Dia berkata penuh kegetiran, “Terserah engkau-lah, Nak. Ibu tidak mau ikut campur lagi,” ucap Maimunah.

Namun, malam itu saat sedang tidur, ibunya bermimpi didatangi seorang kakek berjubah cokelat. Dalam mimpinya, sang kakek berkata bahwa kesombongan yang ada pada diri Jenab akan berbalik kepadanya. Jenab akan mendapat balasan dari sikap sombongnya itu. Begitu terbangun, semakin sedihlah sang ibu, sehingga ia menangis tersedu-sedu.

Mendengar ibunya menangis, Jenab khawatir dan pergi mendatangi ibunya di kamar.

“Kenapa Ibu, kenapa menangis?” tanya Jenab.

Si ibu pun dengan terbata-terbata menceritakan mimpinya itu.

Jenab menyahut, “Ah ibu, itu kan hanya mimpi. Kembang tidur. Jangan terlalu dipikirkan,” ucapnya sambil lalu.

Jenab lalu meneruskan pekerjaannya menyapu halaman. Ibunya hanya memandangi dengan hampa.

***

Syahdan di puncak gunung dekat kampung si Jenab, hiduplah seorang perampok yang memiliki ilmu tinggi bernama Roing. Si Roing terkenal sebagai perampok andal. Di setiap rumah yang dimasukinya, ia mampu masuk secara leluasa tanpa ketahuan si penghuni rumah.

Hal itu berkat ilmu yang didapatnya dari kaum jin. Namun bukan tanpa syarat ilmu itu didapatkan Roing. Jin itu mensyaratkan Roing untuk tidak menikah seumur hidupnya. Roing pun dengan enteng menyanggupi.

Selama bertahun-tahun Roing menikmati kejayaan dan kemasyhuran sebagai perampok. Hartanya melimpah, anak buahnya banyak, dan penduduk sekitar takut padanya. Sampai suatu hari, Roing turun ke kampung di bawah gunung dan melihat Jenab. Ia pun seketika terpesona pada kecantikan gadis itu.

Lantas Roing menyuruh salah seorang anak buahnya untuk mencari tahu siapa sebenarnya si Jenab. Setelah berupaya mencari tahu kepada penduduk sekitar dan penjaga warung, si anak buah itu kembali kepada Roing.

“Bang Roing, gadis yang Abang taksir itu bernama Jenab. Dia memang gadis tercantik di kampung itu,” ujar si anak buah. “Ayah si Jenab sudah meninggal dan kini ia hanya tinggal bersama ibunya.”

“Kalau begitu, besok kita ke rumah Jenab. Aku ingin menjadikan si Jenab sebagai istriku,” ucap Roing bersemangat.

“Hanya ada satu masalah, Bang Roing,” ucap anak buah itu dengan takut-takut.

“Apakah itu?” tanya Roing.

“Dia selalu menolak siapa pun yang hendak melamarnya. Konon tak ada sesiapa pun yang mampu menarik hatinya.”

Roing tertawa keras mendengar ucapan itu. “Itu gampang, besok bawakan Jenab kalung paling besar dan berlian terbagus yang kemarin kita curi dari saudagar Tionghoa. Ditambah wajahku yang tampan ini, masak kan Jenab mampu menolak aku,” ucap Roing sesumbar. Ia sangat yakin lamarannya akan diterima Jenab.

Maka, keesokan harinya rombongan Roing pun datang menuju rumah Jenab. Maimunah merasa syok melihat kumpulan orang berpakaian serba hitam ala pendekar menghampiri rumahnya. Ia mengigil di depan pintu karena ketakutan. Meski demikian, ia mempersilakan rombongan itu untuk masuk.

“Maaf, tuan-tuan, ada perlu apa ke sini?” ujar Maimumah takut-takut.

“Begini, Bu, kami mau melamar putri Ibu yang bernama Jenab untuk saya,” jawab si Roing.

Mendengar penuturan Roing, tenteramlah hati Ibu Jenab. Paling tidak, perampok itu tak berniat buruk kepadanya. Maka, Maimunah pun permisi hendak menanyakan jawaban lamaran itu kepada Jenab yang sejak tadi menunggu sambil berdebar di balik pintu.

Demi melihat Roing yang gagah dan perkasa serta didampingi banyak pasukan, terbitlah rasa tertarik di hati Jenab. Ia pun merasa senang karena rombongan itu membawa banyak seserahan, beras, dan sayur mayur sebagai buah tangan. Maka, ketika ibunya menanyakan apakah ia mau diperistri Roing, Jenab pun setuju.

Seminggu kemudian, pesta pun digelar selama tiga hari tiga malam. Itu adalah pesta yang paling meriah di seantero kampung. Sebuah grup lenong dari kampung sebelah ditanggap dan melakukan pertunjukan setiap malam. Makanan dari segala macam dan jenis ada dan berlimpah ruah. Pada hari ketiga, Jenab dan Roing diarak keliling kampung bagaikan raja dan ratu. Keduanya sangat berbahagia. Roing tak ingat bahwa ia melanggar janji kepada Raja Jin. Padahal, nasibnya sedang dipertaruhkan dan jiwanya pun terancam.

Singkat cerita, Jenab dan Roing hidup dengan rukun dan tenteram. Keduanya saling mencintai. Dari pasangan suami istri ini, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Miing. Namun sayang seribu sayang Miing memiliki perangai yang buruk. Miing suka mengambil barang yang bukan haknya. Ia senang mencuri dan berkata kasar—seolah-olah ia mewarisi seluruh sifat buruk orang tuanya di masa muda.

Roing mengurut dada melihat tingkah anaknya itu. Ia kini sadar dan insyaf akan sifat buruknya. Ia seolah-olah melihat cerminan dirinya di masa lalu pada diri anaknya itu. Roing pun merasa menyesal. Selain itu, ia juga khawatir karena selalu teringat janjinya yang ia ingkari kepada Raja Jin.

Miing kini berusia 15 tahun. Ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Seluruh kebutuhannya dicukupi karena Roing mempunyai harta yang banyak. Selain itu, kebun peninggalan ayah Jenab juga cukup untuk menghidupi anak beranak itu.

Seperti anak-anak lainnya, Miing suka berenang di sungai dan bermain ketapel. Namun, pada suatu malam, sifat usilnya kambuh. Miing dan kawan-kawannya pergi menyelinap ke dalam kebun seorang haji. Sudah lama air liur Miing menetes melihat durian dan rambutan yang bergelantungan ranum di kebun Pak Haji.

Namun, Pak Haji ini tahu akan rencana busuk Miing karena ia sudah lama mengawasi gerak-gerik Miing yang mencurigakan. Pak Haji pun mengambil tindakan pencegahan dengan selalu berjaga di kebun buahnya setiap malam. Tak lupa sebilah golok yang tajam ia selipkan di pinggangnya untuk jaga-jaga dan menghadapi kawanan pencuri.

Pada tengah malam, Miing masuk ke kebun buah Pak Haji dengan merusak pagar kebun. Namun, aksi Miing itu sudah diketahui oleh Pak Haji yang selalu waspada. Ketika Miing mendekat untuk menaiki pohon durian, Pak Haji yang bersembunyi di balik pohon langsung menyergapnya.

“Kena lu!” ujar Pak Haji kesal sambil memiting Miing.

Miing kaget karena mendapatkan serangan yang tiba-tiba dan tak disangkanya itu. Ia pun mencoba melawan dan mengeluarkan jurus maen pukulan yang diajarkan ayahnya. Pertempuran terjadi. Namun karena kalah pengalaman dan ilmu, Miing tak berdaya ketika ia akhirnya disabet golok Pak Haji di bagian punggungnya. Ia pun jatuh tersungkur. Teman-temannya yang melihat kondisi tidak menguntungkan itu segera menolong Miing. Mereka membantu Miing keluar dengan cara memapahnya.

Jenab amat terkejut melihat Miing, anak kandung yang disayanginya, pulang dalam keadaan berdarah dan terluka. Ia segera memanggil tabib untuk mengobati luka-luka Miing. Semuanya diurusnya sendiri karena Roing sedang pergi seminggu untuk bertapa di gua di puncak gunung dekat rumahnya yang lama. Miing memang dapat diobati, tapi ada bekasnya di punggung. Miing sendiri berdusta kepada ibunya. Ia tidak mengatakan luka itu diperoleh akibat tindakan jeleknya mencuri. Ia mengatakan kepada ibunya bahwa ia terjatuh dan Jenab percaya saja dengan ucapan anaknya.

Seminggu kemudian Roing pulang dan melihat hal mencurigakan ini. Ia punya firasat buruk, tapi diam saja mendengar kronologi kejadian dari Jenab. Sementara Miing kini sering mengaduh akibat punggungnya masih terasa sakit.

Sampai pada suatu malam, saat mereka tengah tidur, tiba-tiba terdengar bunyi petir menggelegar di tengah hujan deras. Meski hujan, suasana saat itu memang sangat sepi. Bahkan, tidak terdengar suara kodok bernyanyi atau tokek bersahut-sahutan seperti yang lazim terdengar saat hujan di kampung yang permai itu.

Tiba-tiba di hadapan Roing dan istrinya, muncullah sesosok makhluk besar yang menyeramkan. Itulah Raja Jin yang dulu mengikat perjanjian dengan Roing.

“Hai perampok,” kata Raja Jin itu. “Sungguh celaka Engkau telah mengingkari janji. Bukankah dulu kau bersumpah tidak akan menikah dan aku telah memberikanmu kekayaan dan kemasyuran. Karena kau bohong, maka aku akan menghukummu. Engkau dan anakmu akan aku kutuk menjadi buaya dan seluruh harta bendamu aku ambil kembali, hahaha,” ujar Raja Jin sambil tertawa terbahak-bahak.

Jenab sangat ketakutan melihat sosok yang bahkan tak pernah dibayangkannya hadir dalam mimpi. Ia bahkan sampai terkencing-kencing di atas kasur saking takutnya. Namun yang mengagetkan Jenab, saat ia menoleh ke samping, ia mendapati suaminya yang tampan, si Roing, sudah berubah menjadi buaya.

Sambil menjerit Jenab lalu bangkit dan menuju kamar anaknya. Sesampainya di sana, betapa menderitanya Jenab melihat anak yang disayanginya telah berubah menjadi seekor buaya buntung. Ia pun menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya yang celaka. Kedua buaya itu pun berlalu ke luar kamar dan meninggalkan Jenab yang sedang menangis menuju ke sungai di depan rumah mereka. Sebelum melompat ke dalam air, mereka memberikan pandangan perpisahan untuk Jenab. Itu adalah pemandangan yang sangat memilukan, melihat sebuah keluarga tercerai berai akibat takdir dan janji yang diingkari.

Jenab menangis sejadi-jadinya. Kini ia sebatang kara. Tak ada tempat baginya untuk mengadu. Ibunya telah wafat meninggalkan dia setahun setelah ia melahirkan Miing. Jenab tak tidur semalaman di pinggir sungai sambil memandangi airnya, berharap anak dan suaminya muncul, dan semua kejadian buruk itu hanya mimpi belaka.

Namun, berapa lama pun Jenab menunggu, suami dan anaknya tak pernah lagi menjadi manusia. Kekayaan yang disimpan suaminya pun tiba-tiba lenyap. Jenab menjadi miskin dan jelek sekali karena terlalu sering murung. Penduduk sekitar pun menjuluki dia sebagai Nenek Jenab.

Pada suatu hari, seperti biasanya Jenab berdiri di tepi sungai dan memanggil-manggil suami dan anaknya. Namun, pagi itu yang muncul hanyalah buaya buntung—yang dipercaya sebagai Miing. Jenab yang cemas memanggil-manggil nama suaminya lagi. Namun, buaya buntung malah bergerak ke arah utara sungai.

Jenab pun mengarahkan pandangannya mengikuti gerak si buaya buntung. Betapa terkejutnya ia saat melihat seekor bangkai buaya dewasa mengambang. Itulah Roing, suaminya. Buaya buntung itu lalu menghampiri sisi tempat Jenab berdiri dan memberikan pandangan sedih sebelum menyelam ke dalam air. Tahulah Jenab bahwa suaminya kini sudah meninggal. Kini hanya tinggal buaya buntung saja yang ia jumpai setiap berdiri di tepi sungai.

Kirim Tanggapan