Kala Mata: Kisah Dua Perempuan Bali

0
1087

 

Kala Mata adalah sebuah novel tentang kisah perempuan Bali beda zaman yang berusaha mencari peran dan tempatnya di dunia. Ada dua orang perempuan yang menjadi sentral cerita dalam novel ini. Pertama, sosok pencerita orang pertama yang disebut Made—sama dengan nama penulisnya Ni Made Purnamasari, dan Ni Rumyig—seorang perempuan dalang terkenal yang dikisahkan mengalami demensia.

Dalam novel ini, pembaca akan diajak menyelami sisi Bali yang lain melalui gejolak pemikiran dua perempuan: aku dan Ni Rumyig. Bali yang tidak hanya sebatas permukaan sebagai sebuah pulau elok yang dikagumi para wisatawan dan karenanya bertumpu pada sektor pariwisata, tetapi juga Bali dalam alam pikiran masyarakatnya. Utamanya, Bali dalam pikiran tokoh Made yang kritis dan begitu filosofis.

Alkisah, si aku yang tengah menempuh pendidikan di Belanda terkejut dengan meninggalnya Ni Rumyig, yang diibaratkannya sebagai “sececap rasa asam di antaranya manisnya buah tomat yang sedang kulumat dalam mulut”. Setelah itu novel berjalan dengan alur mundur, saat tokoh aku dimintai tolong sahabatnya, Irana, untuk menuliskan biografi Ni Rumyig. Usaha menggali kenangan dan masa lalu Ni Rumyig pada mulanya menghadapi tembok tebal lantaran sang dalang mengalami demensia vaskuler. Penulis berbaik hati menjelaskan apa itu demensia vaskuler dan ciri-cirinya, walaupun kadang-kadang di bagian ini ia terasa menggurui. Akan lebih baik misalnya, jika ia memberitahukannya dengan percakapan-percakapan dan bukannya dengan deskripsi yang menjemukan.

Dalam usahanya yang tak pantang menyerah, si aku menggali berbagai sumber yang tepercaya mengenai Ni Rumyig. Ia menyambangi Pak Win, mantan wartawan yang pernah meliput pementasan sang dalang, dan Wayan Balik, mantan anak buah dan pemain gamelan dari sekaa dalang Ni Rumyig. Bagian penuturan kedua orang ini, yang dibuat seolah-olah “cerita dalam cerita” merupakan teknik yang paling berhasil dalam novel ini. Dari situlah kemudian tokoh aku mendapatkan gambaran apa yang terjadi di masa lalu Ni Rumyig, sehingga sang dalang tiba-tiba berubah dan menyendiri dalam kesunyiannya di masa sekarang.

Kata “parak cicing barak” di sini menjadi petunjuk yang mengarah pada peristiwa Gestok alias Gerakan 1 Oktober 1965. Ayah Ni Rumyig dikisahkan terpikat dengan suatu kelompok dan seseorang yang mengajarinya membuat catatan. Pada suatu hari, Ni Rumyig diminta kabur oleh ibunya ke rumah Nenek di desa tetangga, Desa Kemenuh, untuk menyelamatkan diri. Dalam suasana penuh kemelut, ayahnya dikumpulkan di jalanan kampung dan setelahnya Ni Rumyig tak pernah melihat kedua orangtuanya lagi.

Dalam bincang-bincang santai tahun lalu, Aiko Kurasawa, seorang Indonesianis asal Jepang, mengungkapkan beberapa desa di Bali memang sangat terpengaruh oleh Gestok. “Barangkali wilayahnya memang kecil, tapi pengaruhnya paling besar,” katanya. Ia menyebut Jembrana sebagai salah satu contoh. Dan dewasa ini melalui pemberitaan di media massa, kita membaca banyak kuburan massal yang diduga menjadi tempat pembuangan orang-orang yang diduga terkait Gestok. Kumpulan cerpen Putu Fajar Arcana berjudul Drupadi dengan sangat baik menjelaskan rasa trauma orang-orang Bali terhadap peristiwa itu dan dampaknya bagi mereka.

Namun, bukan cuma tuduhan terkait PKI saja yang menggoyahkan Ni Rumyig. Matinya Made Numadi, seorang anggota sekaa dalang, dengan cara gantung dirilah yang menjadi bom atom baginya. Kejadian ini membuat pamor Ni Rumyig amblas karena bagi orang Bali bunuh diri adalah suatu tindakan yang sangat tercela dan tak menghargai kehidupan. Ia kehilangan ketaksuannya dan tak lama kemudian “menghilang dengan ketakberdayaannya.”

Dalam pencarian jawaban atas teka-teki inilah, penulis dengan bebas mengeksplorasi pemikirannya mengenai kehidupan dan maknanya bagi orang Bali. Ia mengkritik Bali kini yang banyak berubah. Salah satunya karena faktor pariwisata dan wisatawan. Bukankah Emilio, sang fotografer asal Italia yang rajin mengikuti pementasan wayang, juga membawa celaka bagi sekaa dalang Ni Rumyig?

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Bali, Ni Made Purnamasari punya pengamatan yang jeli dan tajam. Ia misalnya bersuara tentang orang-orang yang menjual sawahnya agar anak mereka bisa bersekolah tinggi. Namun kemudian si anak yang mengambil jurusan perhotelan justru bekerja menjadi bartender di hotel yang didirikan di bekas sawahnya. Atau ia juga menyoroti tentang budaya perempuan dalang yang waktu sangat ganjil karena dianggap sebagai “anak luh dadi seluk”, boleh dijamah lelaki mana saja. Semakin menarik karena ia mengisinya dengan kenangan akan rumah tradisinya di masa kecil yang ia tinggalkan, dosennya sewaktu kuliah yang rutin bertemu Sutan Takdir Alisyahbana di Toya Bungkah, atau legenda-legenda setempat tentang pohon mistis berbau harum di Trunyan. Melalui sosok Metta yang meledak-ledak, secara tak sengaja kita juga dikenalkan dengan hukum tjampoet, hukum adat warisan Bali, yang dicurigai sebagai motif Mardika, adik Ni Rumyig, meminta Made menuliskan biografi kakaknya.

Kesehariannya sebagai penyair memberi jejak yang nyata dan jelas dalam novel ini. Kalimatnya memang puitis, tapi terlalu panjang dan berbelit-belit. Lintasan pemikirannya sangat kuat, sehingga menjadikan novel ini terasa sangat personal. Namun demikian, dalam novel pertamanya ini, Ni Made Purnamasari dengan jelas mengesankan dirinya sebagai perempuan muda modern yang sedang berjuang mencari identitasnya di antara berbagai kejadian hidup, dalam tradisi dan akar budaya Bali-nya, serta segala perubahan yang melingkupinya. Ya, ia telah berjuang, juga Ni Rumyig.

Seperti yang dituliskannya, “Kenapa kita yang menetap malah yang tak henti meratapi nasib buruk….” (hlm 18).

 

Judul: Kala Mata

Pengarang: Ni Made Purnama Sari

Tahun terbit: 2016

Jumlah halaman: xvi+226

Penerbit: KPG, Jakarta

 

*dimuat di Kompas, Sabtu, 7 Januari 2016

Kirim Tanggapan