Sastra Betawi: Perkembangan dari Masa ke Masa

0
3418

 

Perkenalan saya dengan sastra Betawi pertama dimulai dengan  buku Si Doel Anak Betawi (1936) terbitan Balai Pustaka karangan Aman Dt. Madjoindo. Ini adalah buku yang amat mengesankan batin saya sebagai kanak-kanak. Doel yang lugu, polos, dan jahil sukses membawa saya membentuk bayangan kokoh tentang suasana batin dan pergaulan anak Betawi.

Kemudian saat saya duduk di bangku kuliah, pada suatu artikel tulisan Abdul Chaer di Intisari tentang bahasa Betawi, saya menemukan potongan cerpen karya Firman Muntaco. Kesan pertama yang saya tangkap, bahasa yang digunakan berbeda dengan karya sastra yang bercorak lokal atau kedaerahan Betawi.

Saya segera jatuh cinta pada sketsa tulisan Firman Muntaco. Tak lama kemudian, tahun 2006, penerbit Komunitas Bambu mencetak kembali Gambang Jakarta I terbitan lama tahun 1960 dan Gambang Jakarta II pada 1963 dalam satu  jilid buku. Ini adalah masterpiece Firman Muntaco selama karier kepenulisannya.

Jika dicermati, nilai-nilai budaya bercorak lokal memang mudah kita temui pada karya pengarang Indonesia. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, para pengarang pada dasarnya adalah makhluk sosial yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya masyarakatnya. Sebagai makhluk sosial, pengarang berurusan dan berhadapan dengan masalah di sekitarnya: dari tetek bengek rumah tangga, penggusuran, atau bahkan konflik antar golongan.

Kedua, ada sebuah idiom terkenal yang menyebutkan bahwa “sastra tidak jatuh dari langit”. Proses kreatif seorang pengarang seringkali dipengaruhi oleh etnis yang membesarkannya. Hasilnya adalah tulisan yang mengungkapkan persoalan etnis atau budaya lokal—disebut sastra bercorak lokal. Lokalitas berkaitan erat dengan persoalan kultural dan etnisitas sebab lokalitas biasanya mencerminkan semangat masyarakat pendukung kebudayaan tertentu atau masyarakat yang tinggal di wilayah tertentu.

Sastra Betawi dan Ciri-cirinya

Sebelum pembicaraan berlanjut, saya ingin mengemukakan definisi sastra Betawi berdasarkan beberapa literatur yang saya kumpulkan. Penjelasan lebih lengkap ada dalam skripsi saya berjudul Pandangan Sosial dalam Sketsa-sketsa Firman Muntaco yang menjadi tugas akhir di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Salah satu definisi sastra Betawi diungkapkan oleh Sagimun, seperti dikutip Tasai, Sunardjo, dan Sitanggang dalam buku Susastra Melayu Betawi. Sagimun menggunakan istilah susastra Melayu Betawi untuk menyebut sastra Betawi, yang disebutnya sebagai “susastra orang-orang Betawi yang hidup di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Dari empat daerah yang disebutkan itu, daerah Bogor tidak sepenuhnya dapat dimasukkan ke daerah Betawi karena sebagian penduduk Bogor mempunyai latar belakang bahasa dan kebudayaan Sunda. Oleh karena itu, daerah yang termasuk Betawi hanyalah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya (1991:1)

Yahya Andi Saputra dalam www.kampungbetawi.com menyebutkan bahwa kesustraan Betawi ditulis dalam bahasa Betawi. Pengarangnya mungkin orang Betawi, mungkin juga Betawi keturunan. Sementara syarat ketiga dan keempat menurut Yahya adalah dibaca atau didengar oleh orang Betawi serta isi ceritanya menyangkut adat istiadat, agama, tingkah laku, dan keadaan alam Betawi.

Sastra Betawi kemudian dibedakan menjadi dua: lisan dan tulisan. Sastra Betawi lisan mempunyai sifat khusus, seperti tidak ada nama pengarang, disebarkan secara lisan, relatif tetap bentuknya, mengandung fantasi serta memiliki beberapa versi.

Adapun sastra Betawi tulis, seperti dikutip dari Tasai, Sunardjo, dan Sitanggang (1991:11-12), memiliki beberapa cirri sebagai berikut:

  1. Dilahirkan dalam bentuk tertulis melalui surat kabar atau majalah Ibu Kota dengan bahasa Melayu.
  2. Memperlihatkan sosok pengarang dengan jelas.
  3. Tidak lagi memperlihatkan ungkapan klise atau kata-kata tradisional. Ungkapan keseharian terlihat jelas, terutama gaya humor yang kuat. Bahasa Betawi digunakan dalam dialog dan kisahan cerita.
  4. Peristiwa yang disampaikan adalah kejadian-kejadian dalam kehidupan seseorang dan kehidupan masyarakat Betawi sekarang ini.

Subagio Sastrowardoyo dalam Sekilas soal Sastra dan Budaya menyebut nilai-nilai budaya tradisional pada sastra bercorak lokal tidaklah ditemukan sebagai sisa atau bekas. Nilai itu dapat dilihat sebagai warna, tidak hanya kulit, tapi juga pada hal yang menyangkut esensi.

Penulis Betawi dari Masa ke Masa

Berdasarkan penelusuran, sastra Betawi sudah berkembang sejak abad ke-19. Hal ini ditandai dengan ditemukannya bentuk pantun dan syair pada lirik lagu gambang kromong. Kemudian ada pula jampe yang segendang sepenarian dengan mantra. Kesusastraan lisan Betawi semakin berkembang hingga akhirnya muncullah tradisi bercerita di hadapan banyak orang. Bentuk bercerita yang dikenal antara lain sahibul hikayat, gambang rancak, dan buleng.

Bentuk tertulis dengan jelas-jelas mencantumkan nama penulis muncul pertama kali dari keluarga Fadli asal Langgar Tinggi, Pecenongan. Salah seorang yang paling aktif menulis adalah Muhamad Bakir bin Sofyan bin Usman Fadli. Keluarga Fadli memiliki semacam perpustakaan rakyat dan memproduksi naskah untuk disewakan.

Selain Muhamad Bakir, keluarga Fadli lainnya yang memiliki keterampilan menulis adalah Ahmad Insab, Ahmed Muarrab, dan Ahmad Beramka. Sayangnya hanya naskah Bakir saja yang paling banyak tersimpan di Indonesia. Naskahnya sebagian besar selamat karena ia menjualnya pada Batavia Genootschap, yang lalu menyerahkan naskahnya pada Perpustakaan Nasional untuk disimpan.

Chambert Loir dalam “Penyalin, Pengarang, Pemilik Naskah di Betawi” menyebutkan perpustakaan rakyat keluarga Fadli biasanya menyewakan naskah untuk dibacakan di hadapan pendengar. Oleh karena itu, unsur lisan dalam karya Bakir sangat kuat. Ia sering menyapa pembacanya dengan sebutan tuan, nyonya, nona, baba, saudara, pembaca ataupun pendengar.

Sastra Betawi modern pertama kali muncul melalui Si Dul Anak Betawi (1936) karya Aman Datuk Madjoindo meskipun bahasa Betawi yang dipakainya tidak sungguh-sungguh murni. Disusul dengan karya M. Balfas berjudul “Lingkaran-lingkaran Retak”. JJ Rizal dalam pengantar untuk Gambang Jakarte menyebut karya Balfas memang lebih murni. Dia menggunakan bahasa Betawi dialek Ora, tapi masih tampak kebelanda-belandaan.

Kemudian, ada Terang Bulan Terang di Kali karya SM Ardan. Sapardi Djoko Damono dalam Politik, Ideologi, dan Sastra Hibria (1999: 158) menyebut Ardan adalah tokoh pertama dalam sastra Indonesia modern yang secara sadar mempergunakan dialek Jakarta untuk kepentingan artistik ceritanya.

Setelah itu mengemuka Firman Muntaco yang tidak hanya mempergunakan bahasa Betawi dalam bagian percakapan seperti Ardan, tetapi juga memasukkan bahasa Betawi dalam bagian deskripsi. Hal ini mengakibatkan suasana kebetawian dalam cerita-cerita Muntaco lebih kuat lagi.

Damono (1988: 4) mengungkapkan bahwa penggunaan dialek Jakarta yang dipakai baik oleh Ardan maupun Muntaco menunjukkan bahwa bahasa itu semata-mata didasarkan pada kehendak untuk pengungkapan kehidupan yang berlatar Betawi. Penggunaan dialek Jakarta ini juga dimaksudkan sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam karya sastra yang tampaknya baru disadari setelah Indonesia merdeka (dikutip dari Abdul Sahal, Tokoh Utama dan Latar dalam Kumpulan Cerpen Gambang Djakarte karya Firman Muntaco).

Pada masa sekarang, kecenderungan lokalitas Betawi dalam sastra cenderung menurun. Namun tentunya kita bersyukur masih dapat menemukan jejak kebetawian—dan sesekali kejakartaan—dalam puisi Susi Aminah Aziz, Zeffry Alkatiri, maupun Ridwan Saidi. Sekadar menyebut nama di bidang prosa, ada Mahbub Djunaedi, Aba Mardjani, Nur Zen Hae, Chairil Gibran Ramadhan, hingga Ben Sohib.

Dengan gayanya masing-masing, mereka memberikan warna dan sumbangsih tersendiri dalam dunia kesusteraan Betawi. Ibnu Wahyudi dalam pengantar Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya menyatakan, “Mengingat para sastrawan menulis atas desakan akan suatu impuls atau rangsang kreatif, maka masing-masing cerpen dari pengarang yang berbeda-beda itu niscaya menampilkan kebetawian atau latar Betawi yang berbeda-beda pula. Inilah sisi dokumentatif dari sastra yang sangat bisa jadi lebih mendekati sebagai semacam potret yang reflektif daripada tanggapan yang evaluatif.”

Kemajemukan ini justru harus disyukuri. Tidaklah penting memperdebatkan apakah penulisnya Betawi asli atau bukan, mempergunakan bahasa Betawi sebagian atau keseluruhan, sepanjang ide lokalitas itu dapat kita temukan. Sebab dengan menggunakan pisau analisis yang tepat, meski tidak sempurna, kita akan mendapatkan gambaran perihal dunia Betawi yang beragam dan utuh.

 

Kirim Tanggapan