Wiji Thukul dan Istirahatlah Kata-Kata

0
660

Wiji Thukul, si penyair demonstran, lahir di Kampung Sorogenen, Jebres, Solo, pada 1963. Ia berasal dari keluarga miskin. Dalam wawancaranya seperti yang termuat dalam Aku Ingin Jadi Peluru terbitan Indonesiatera (2004), penyair pelo ini mengatakan bahwa dirinya tidak membela rakyat.

“Saya sebenarnya membela diri saya sendiri. Saya tidak ingin disebut berjasa karena memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sungguh, saya hanya bicara soal diri saya sendiri. Lihatlah saya tukang pelitur, istri buruh jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan saya semuanya melarat.”

Wiji Thukul menyatakan, semuanya masuk ke dalam puisi dia. Dan secara kebetulan, dengan membela diri sendiri ternyata juga menyuarakan hak-hak orang lain yang entah di mana.

Itulah, yang juga bersamaan dengan aktivitas dia membela buruh dan tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik, membuatnya masuk dalam buronan polisi. Lima hari sejak PRD didirikan pada 22 Juli 1996,  yakni 27 Juli, kerusuhan pecah (Kudatuli) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Hingga akhirnya ia harus “tiarap” selama beberapa tahun di Pontianak, Kalimantan Timur. Fragmen inilah yang kemudian ditangkap dan coba diangkat oleh sutradara Yosep Anggi Noen melalui film Istirahatlah Kata-Kata.

Namun, apa yang tampak di layar tentang Wiji Thukul sangat jauh dari bayangan. Suami saya yang menemani menonton Istirahatlah Kata-Kata pada Sabtu dua pekan lalu berulang kali mengusik. “Lucu banget orangnya,” ujarnya mengomentari penampilan Gunawan Maryanto yang memerankan Thukul.

Komentar tersebut wajar timbul karena dalam Istirahatlah Kata-Kata kita tak menemukan Thukul yang garang dan ditakuti pemerintah, melainkan Thukul yang peragu, penakut, dan rindu anak-istri. Bagi yang tak tahu sepak terjang sang penyair sebelumnya, sulit membayangkan latar apa yang memaksanya melarikan diri.

Apalagi film ini minim dialog. Sebuah siaran radio dan sekelumit teks memberi secuil petunjuk kondisi masa itu. Ditambah adegan Fitri Nganthi Wani (anak Thukul) dan Sipon (istri Thukul) yang diinterogasi polisi. “Bapak kapan muleh?” ucap si polisi dengan nada menekan.

Selebihnya adalah gambar yang sangat liris dan lambat serta penuh simbol. Sehingga bagi yang tak biasa menonton film sinema, tentu akan menjadi sangat pegal punggungnya bersandar di bangku bioskop.

Hiburan yang menarik adalah saat Thukul diinterogasi tentara “jadi-jadian” saat pulang membeli tuak bersama Thomas. Kala itu Thukul mengaku mencari cara agar bisa tidur. Berhari-hari ia merasa gelisah dan tak bisa tidur.  “Aku punya pistol,” begitu kata tentara jadi-jadian ini mengancam. Sebuah celetukan yang menggambarkan tingkah laku “petantang-petenteng” aparat menakuti dengan pistol.

Adegan yang paling menyiksa batin dan menunjukkan kekuatan akting Gunawan Maryanto adalah ketika ia di barbershop hendak memotong rambut untuk mendapatkan identitas baru, tetapi malah diserobot tentara yang tak tahu diri.

“Kamu tahu kenapa, supaya rakyat takut pada penguasa,” begitu kira-kira sang tentara menjelaskan soal aksi petrus (penembak misterius), sementara di belakangnya wajah Thukul pucat pasi.

Keterombang-ambingan Thukul juga terlihat kala membuat pas foto dengan rambut barunya, ada semacam slide wajah Thukul bergerak naik-turun. “Akulah si penyair yang memimpin demo ribuan buruh,” kira-kira begitu dia mengklaim. Namun yang tampak di layar adalah sosok yang kebingungan. Kita pun dipaksa untuk ikut menyelami batin Thukul selama dalam persembunyian. Mana si penyair garang itu?

Selain itu, metafor lainnya pun bertebaran. Kala mengarungi sungai di atas perahu bersama kawannya, Martin dan Thomas, pandangan Thukul menerawang. Ia mengatakan:

kuterima kabar dari kampung
rumahku kalian geledah
buku-bukuku kalian jarah
tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan sendiri
pada anak-anakku
kalian telah mengajari anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini”

Subversif. Itulah label yang diberikan pada Thukul. Dan pemahaman itu pula yang hendak ditegaskan si sutradara, bahwa Orde Baru sangat kejam, sehingga bahkan seorang penyair pun harus bersembunyi. “Mungkin ini rezim gila, takut pada kata-kata,” ucap Thukul di awal film. Penggambaran ini jelas perlu karena generasi yang lahir di tahun 1990-an tak pernah merasakan hidup di bawah kekangan Orde Baru.

Yang tidak begitu tergambarkan dalam film adalah bagaimana interaksi Thukul di Pontianak. Sebagai penonton, kita hanya disuguhi Thukul berusaha beradaptasi dengan berdiam di kamar, pergi sesekali dengan caping dan menutupi wajahnya, dan sesekali menulis puisi. Namun, tidak pernah digambarkan bahwa puisi-puisi itu rupanya dikirimkan juga ke media lokal di Kalimantan dengan nama samaran.

Puisi menjadi napas Thukul yang mengaku bahwa seorang seniman harus memperjuangkan gagasannya. Bagi Thukul, sastra tidak boleh berada di awang-awang. Sastra harus hidup di mana ia hidup, merekam gagasan yang tumbuh. Puisi dalam Istirahatlah Kata-Kata menjadi demikian menarik karena ia keluar secara wajar, ditempatkan secara pas, dan tidak sekadar pemanis belaka. Bahkan dalam kondisi kencing di Sungai Musi pun, Thukul memberikan celetuk, “Aku dapat ilham untuk bikin puisi soal tai.”

Judul puisi “Istirahatlah Kata-Kata” yang ditulis Thukul pada 12 Agustus 1988 di Solo, Sorogenen, yang dipilih menjadi judul film ini. Begini bunyi lengkapnya.

Istirahatlah kata-kata
Jangan menyembur-nyembur
Orang-orang bisu

Kembalilah ke dalam rahim
Segala tangis dan kebusukan
Dalam sunyi yang mengiris
Tempat orang-orang mengingkari
Menahan ucapannya sendiri
 
Tidurlah kata-kata
Kita bangkit lagi
Menghimpun tuntutan-tuntutan
Yang miskin dan papa dihancurkan

 Nanti kita akan mengucapkan
Bersama tindakan
Bikin perhitungan

Tak bisa lagi ditahan-tahan

Maknanya bukan kata-kata itu tidur selamanya, tapi kata-kata kembali bangun lebih kuat. Berhasilkah pemutaran Istirahatlah Kata-Kata dijadikan momentum untuk mendesak Presiden Jokowi menyelidiki kasus orang hilang dan menemukan Wiji Thukul? Sampai sekarang sepertinya gaungnya belum begitu terasa.

Istirahatlah Kata-Kata hanya diputar di beberapa jaringan 21, tak seluruh bioskop memutarnya. Di Jakarta pun hanya ada di Blok M Square dan TIM XXI. Gegap-gempitanya barangkali hanya dirasakan kalangan pencinta sastra saja.

Di mana Thukul? Kalau di masih hidup, kenapa dia tak kembali? Terlebih, adegan pamungkas di film ini sungguh menggelitik. Sipon menangis usai Thukul kembali.

“Aku tak pernah menangis saat kamu pergi. Aku menangis justru saat kamu kembali. Aku hanya ingin kamu ‘ada’”

Kesedihan Sipon akibat digunjingkan tetangga, lelah dimata-matai, dan capai menanggung beban akhirnya tumpah. Thukul hanya menyodorkan segelas air, canggung menghibur istrinya. Dalam adegan itu, saya tak bisa menangkap kira-kira apa yang dipikirkan Thukul. Apalagi tak lama ia kembali lagi ke Pontianak, lalu ke Jakarta ikut aksi, dan… menghilang.

Banyak konflik yang tak tampak dalam film ini. Buat saya, Istirahatlah Kata-Kata justru menggemaskan. Apa apa sebenarnya dengan Sipon dengan Thukul? Kok, sepertinya Thukul lebih tampak seperti sosok tak berdaya. Padahal, mengutip omongan Martin yang menyembunyikannya di Pontianak, “Dia saya kenalkan sebagai tukang bakso dari Jawa, tapi banyak yang tak percaya. Katanya, Paul (nama samaran Thukul), terlalu pintar sebagai tukang bakso.”

Kirim Tanggapan