Lindu di Dada Aliya

0
533

Ruangan itu sederhana saja, 3 x 3 meter, dengan kondisi yang berantakan dan sama sekali tak teratur. Di hadapanku duduk Aliya di atas bangku kayu berwarna cokelat. Wajahnya pucat dan kuyu karena kurang makan. Matanya cokelat kelam, menyembunyikan semesta rahasia. Ujung poninya yang hitam pekat mencuat keluar dari kerudung hijau yang dikenakannya. Kulitnya berwarna cokelat manis menggoda dengan sedikit luka goresan di tangannya. Ia habis menangis. Bulir air mata masih berjejak di pipinya yang landai.

Kupancing dia tersenyum. Aliya bergeming. Bibir tipisnya bergetar menahan emosi yang hendak keluar. Alisnya yang lebat sejajar dengan mataku. Aliya manis, ujarku dalam hati, berhentilah menangis. Namun siapa pun tentu tak sanggup menanggung duka yang dirasai Aliya. Lindu Aceh merontokkan pertahanannya. Dua kali.

“Hubungi kekasihmu, Aliya,” kataku akhirnya.

“Aku tak bisa. Telepon selularku hilang. Kalaupun hendak meminjam, jaringan sedang buruk,” jawab Aliya seakan mengaduh.

“Kalau begitu, bersabarlah. Dua-tiga hari lagi keadaan pasti membaik,” ujarku menghibur.

Ternyata ucapanku tak menjelma kenyataan. Malam itu, gempa susulan sebesar 5 skala Richter kembali mengguncang Pidie Jaya. Dalam suasana panik, semua orang berhamburan ke luar. Malam gelap pekat karena listrik dimatikan. Di tengah hiruk-pikuk suara orang menyelamatkan diri, aku berteriak memanggil Aliya.

“Aliya, Aliya, Aliya!”

Di luar tendanya Aliya berdiri. Aku menangkap kibaran kerudung hijaunya dalam gelap. Aliya yang malang. Duka terus-menerus mengejar kakinya. Aku ingin menangkapnya dalam jangkauan, tapi tak bisa. Dengan suatu kode kuajak Aliya bergerak ke tanah lapang. Aliya bergerak sambil terisak. Dalam dadanya ia menahan perasaan yang membuncah. Gempa susulan masih terjadi. Aliya tak tidur hingga pagi. Ia merekam dengan matanya. Aliya, gadis Aceh yang tersuruk akibat tsunami belasan tahun lalu.

***

Aliya bukan asli Pidie. Ia datang dari Lhokseumawe. Dua belas tahun lalu saat tsunami dan gempa meluluhlantakkan Aceh, Aliya berusia dua belas tahun.

“Ceritakan padaku tentang kejadian dua belas tahun lalu, Aliya,” pintaku.

Aliya cukup sehat untuk duduk-duduk di halaman rumah sakit. Orang-orang hilir mudik di hadapan kami membawa korban yang butuh pertolongan. Rumah sakit kecil ini mendadak penuh karena merupakan rumah sakit terdekat yang masih berdiri tegak.

Panas mulai terasa menyengat, padahal hari baru pukul sembilan. Aliya membetulkan letak kerudung hijaunya sebelum membuka suara.

“Lhokseumawe kampungku,” ujar Aliya memulai cerita.

“Waktu air bah itu datang, aku sedang tidur. Sebenarnya pagi itu Abak mengajak ke pantai untuk jalan-jalan. Setiap minggu kami memang biasa berjalan-jalan ke pantai. Tapi Amak sedang kurang sehat dan perasaanku tak enak.”

Mata Aliya redup saat menggali kenangan yang menyakitkan itu.

“Padahal Abak baru kembali dari Banda Aceh. Baru sehari sebelumnya ia mendapatkan cuti. Ia ingin berlibur bersama kami…,” ujar Aliya sambil menerawang.

Kubayangkan kegembiraan yang sudah direncanakan keluarga itu. Mereka tentu ingin memanfaatkan libur Natal dan tahun baru yang cukup panjang. Namun, seperti kata pepatah, manusia boleh berencana, Tuhan juga yang menentukan.

“Abak berjanji akan membelikan kami baju baru setelah kembali dari pantai pagi itu, juga makan di restoran. Tapi Abak dan adikku tak pernah pulang. Mereka tergulung tsunami. Abak hilang, sampai kini mayatnya tak ketemu. Bahkan kalau hendak berziarah, aku tak tahu harus ke mana sebab tak ada kuburannya.”

Tangisnya pecah kala menceritakan kisah pilu itu. Aliya mengusap air matanya. Ia terdiam cukup lama, sampai akhirnya mampu berkata-kata lagi.

“Adikku, Sarah, ditemukan Tim SAR tiga hari kemudian. Kami mengenali jilbab merah yang dia pakai. Kasihan sekali dia. Masih kecil dan tergulung ombak. Ibuku meraung-raung dan merasa sedih berbulan-bulan. Ia terus meracau, andaikan waktu itu berkeras melarang Abak ke pantai, tentu tak begini jadinya keluarga kami,” ujarnya dengan suara bergetar.

Aku tahan keinginanku untuk menyentuh kepalanya dan mendekapnya dalam dadaku. Aliya menoleh sejenak. Serombongan pasien baru lewat di depan kami. Seorang bapak tampak tertatih-tatih dipandu laki-laki muda yang mungkin adalah anaknya. Kakinya berdarah dan pecinya miring. Mungkinkah Aliya ingat abaknya?

Aliya kemudian berkisah ibunya wafat sepuluh tahun setelah peristiwa itu. Hidup sambil menanggung perasaan kehilangan orang tercinta, bagaimanakah rasanya? Tentu hanya rasa bersalah yang menggedor-gedor masuk kala hati sedang lemah. Aliya dan ibunya menjalani tahun demi tahun sambil membawa duka.

Aku ingat kala Aceh dilanda tsunami dua belas tahun lalu, aku menontonnya dari layar televisi. Saat itu mataku membelalak dan mulutku menganga melihat jerit ketakutan dan kepanikan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri dari air bah. Air yang deras dan besar datang beberapa saat setelah gempa 8,9 skala Richter mengguncang serambi Mekah. Betapa tak terbayangkan kengerian itu, yang bahkan tak pernah hadir dalam mimpi paling buruk orang-orang yang tak bersalah itu.

“Maafkan aku telah membuatmu bersedih, Aliya,” kataku setelah ceritanya usai.

Aliya mengangguk. Ia bangkit berdiri sambil menepuk-nepukkan debu yang menempel di rok hitamnya.

“Ayo cari makanan. Aku lapar,” ujarnya sambil menyunggingkan seulas senyum tipis.

***

Dingin udara Subuh masih menusuk tulang. Tiga hari setelah gempa usai, jaringan komunikasi mulai pulih. Tim SAR dan wartawan dari Ibu Kota berdatangan. Aliya bergerak cepat dan bertanya-tanya kalau-kalau di antara mereka ada yang melihat Ammar. Ia mencari pinjaman telepon selular dari seorang wartawan yang berambut sebahu dan berkulit legam. Laki-laki itu menyerahkan telepon selularnya yang tipe jadul kepada Aliya. Aliya menerimanya dengan ragu, lantas memencet sederetan nomor. Sejenak raut wajahnya tampak berpikir, sebelum akhirnya ponsel itu ia kembalikan pada si wartawan yang tengah merokok.

“Bisa?” tanyaku setelah Aliya kembali.

Aliya menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat muram. Lantas, kuajak dia ke sebuah aula untuk bercengkrama dengan anak-anak. Puluhan ayunan kain menyambut kami saat pintu aula dibuka.

Suara tangis di pojokan menarik perhatiannya. Aliya tergerak menuju perempuan langsing berkerudung hitam yang tengah menangis sambil menangkupkan mukanya. Tak berapa lama mereka berpelukan. Pemandangan itu sungguh menimbulkan rasa iba.

“Ada apa?” tanyaku mencegat seorang pemuda yang baru saja ke luar aula.

“Begini, Bang. Nona itu sebenarnya hendak menikah. Tapi mempelai prianya mati tertimbun reruntuhan hotel saat malam akad. Jadi mereka tak jadi menikah,” ujar pemuda itu setengah berbisik.

Aku tersentak mendengarnya. Aliya yang malang. Mengapakah lara lindu selalu mengguncangkan dadanya. Kulihat Aliya memegang pipi perempuan itu sambil berkata-kata. Mungkinkah mengucapkan kalimat penghiburan?

Namun Aliya bukan perempuan ringkih. Nestapa hanya akan sebentar bersemayam sebelum akhirnya ia mampu tertawa kembali. Aliya pergi meninggalkan Lhokseumawe, meninggalkan segala cerita pilu di belakangnya. Ia mengadu nasib di Pidie dan menjadi pengajar di sebuah sekolah dasar. Barangkali perasaan kehilangan adik membuatnya ingin selalu berdekatan dengan mahkluk kecil berjiwa polos itu.

Aliya hijrah untuk menggapai nasib baru, meski lindu masih saja merontokkan senyumnya. Sementara apa yang kulakukan? Aku orang lemah yang melarikan diri. Bunda menderita menikah dengan Bapak karena tak mencintainya. Bapak yang hanya diam bermalas-malasan dan menua dengan seabrek penyakit. Bunda tersiksa harus merawat laki-laki selisih 20 tahun yang dijodohkan dengannya itu. Jiwaku yang rapuh tak menemukan ketenangan di rumah.

Aku pun lari karena toh tak ada warisan yang menunggguku di kampung di kaki Bukit Barisan itu. Hanya sesekali saja Bunda menelepon meminta dikirimi uang untuk biaya pengobatan Bapak. Aku tumbuh menjadi pribadi yang murung sebelum akhirnya bertemu Aliya yang sesekali berbelanja di toko buku tempatku bekerja.

Aliya berjiwa murni dan optimistis. Ia tak menggugat meski nasib baik belum jua menghampirinya. Meski ia kadang-kadang bertanya apa yang diskenariokan Tuhan padanya. Aliya kini yatim piatu. Ia mencoba berdiri di atas kakinya sendiri. Hanya Ammar tumpuannya. Ammar yang berjanji akan menikahinya.

“Ammar itu temanku saat SD, Bang,” ujar Aliya semalam saat kami terjaga sambil memandangi bintang.

“Ammar termasuk yang selamat, padahal banyak teman kami yang jadi mayat. Si Azhar, Anto, Fazlina, Nova, Heni, dan sebagainya. Ammar selamat karena ia sepertiku, naik ke atap rumah kami,” tutur Aliya.

“Ammar kuliah di Jakarta, ikut ayahnya yang dipindahtugaskan di sana. Ammar bilang, dia tak bisa melupakan aku. Sebenarnya setelah ujian akhir di sekolah usai, Ammar berjanji akan ke sini untuk berlibur. Tapi ah…,” ujar Aliya tak meneruskan kalimatnya.

“Jangan khawatir. Ammar pasti datang,” ucapku sambil tersenyum. Dengan satu lirikan mata, aku meminta Aliya kembali ke aula.

“Simpan ini Aliya, untukmu menuliskan segala perasaanmu. Tidak baik memendamnya sendiri. Hanya sedikit yang bisa kuselamatkan dari tokoku,” ucapku sambil mengeluarkan notes hijau dan sebatang pensil berwarna sama.

“Ini hadiah,” ucapku begitu melihat Aliya ragu-ragu. “Kau berhati lembut, pasti bisa menulis dengan bagus.”

Aliya tersenyum sambil mendekapkan notes itu ke dadanya. Ia berbalik menuju aula. Kerudung hijaunya berkibar ditiup angin malam. Ah, Aliya, andaikan kau mau, seumur hidup aku tak keberatan menjadi tempatmu bercerita, meski itu tentang Ammar.

***

Pidie Jaya semakin hidup. Bantuan mulai berdatangan, pejabat dari Jakarta juga sudah menampakkan diri. Bahkan kabarnya, presiden yang terhormat akan tiba dalam satu-dua hari setelah acara di Bali.

Namun yang menyesakkan, bendera Partai Merah jadi makin sering berkibar. Orang-orang partai berdandan parlente tampak sibuk mondar-mandir dengan jambul mereka yang menjulang. Mereka berusaha mencari simpati dan sering memberikan bantuan yang diantarkan jeep mewah ke markas-markas pengungsi.

“Seolah-olah jadi paling peduli, padahal Aceh hancur gara-gara mereka,” kudengar seorang lelaki bersungut-sungut sambil memandang benci. Menurut kabar yang kudengar, keponakannya diperkosa oknum tak dikenal seusai berbelanja dari pasar bertahun-tahun lampau. Waktu itu Aceh baru selesai perang.

“Lihatlah mi instan ini, bagaimana pula kami akan memasaknya kalau air buat cebok pun keruh,” ujar seorang laki-laki kurus di sampingku menahan kesal. Ia menunjuk tumpukan bantuan yang menggunung di hadapannya. Untunglah orang-orang partai itu tak mendengar umpatannya. Aku jeri membayangkan ia bisa saja dipukuli akibat berkata sembarangan.

Meski demikian, Aliya telah menemukan ritme. Ia mendapati murid-muridnya yang menjadi korban gempa sebagian besar selamat. Ia memprakarsai konseling dengan persetujuan seorang marinir yang mengepalai tempat pengungsian kami. Seorang mahasiswi Universitas Syiah Kuala yang baru datang kemarin membantunya. Aliya berpendapat tidak hanya bantuan logistik yang penting, tapi juga penyembuhan trauma. Aliya yang baik; ia berusaha menyembuhkan lukanya sendiri dengan menebarkan kebahagiaan. Sikapnya yang bak malaikat itu justru membuatku makin jatuh cinta.

Tiba-tiba Aliya kulihat seorang laki-laki menghampiri Aliya saat dia tengah bermain bersama anak-anak. Aliya tampak terkejut. Dalam hiruk-pikuk, kulihat mereka berdua berbicara. Aku melihat jam tuaku, hadiah dari ibu saat pergi haji, sudah 25 menit mereka bicara.

Kemudian kedua orang itu berjalan ke arahku. Aliya tampak tersenyum. Hatinya seakan riang dengan kedatangan pemuda tinggi berbadan tegap itu.

“Bang,” ujarnya. “Kenalkan ini Ammar.” Suara manis Aliya seakan menusuk gendang telingaku.

Ammar mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Genggaman tangannya terasa kuat dan mantap.

“Aku sudah membujuknya berkali-kali, tapi ia tidak mau,” ujar Ammar sambil menolehkan kepala ke arah Aliya yang tengah ke dapur untuk mengambil teh hangat.

“Pergi dari Aceh?” ujarku menebak.

“Ya, Aliya merasa tugasnya di sini belum selesai,” Ammar menyahut. Suaranya terdengar khawatir.

“Aliya memang seperti itu,” ucapku sambil mengangkat bahu. “Tenang saja, aku akan menjaganya.”

“Aku tak akan macam-macam,” ujarku menambahkan buru-buru kala melihat wajah Ammar yang menyelidik.

Ammar tersenyum. “Terima kasih,” ujarnya. “Aku terlambat ke sini karena harus menengok nenekku dulu di Bireun. Dan handphoneku dicuri begitu aku turun dari bus sesampainya di Aceh. Sial betul.”

“Ini nomor baruku,” ujarnya menuliskan sebuah nomor di selembar kertas. “Hubungi aku bila Aliya butuh apa-apa, seandainya dia sungkan meminta.”

Aku mengangguk mendengar permintaannya. Aliya tampak berjalan ke arah kami. Di tangannya dia memegang dua gelas teh. Udara semilir menerpa wajahku. Aku menghirup udara yang datang kuat-kuat ke dalam paru-paruku, lalu mengembuskannya perlahan.

“Bagaimana, Abang bisa jelaskan pada Ammar kenapa aku harus tetap di Aceh?” ujarnya.

“Beres.”

Ah, Ammar, seandainya kau tahu betapa tak amannya jadi perempuan tak bersanak saudara seorang pun di Aceh sekarang, tentulah kau akan menikahi dia buru-buru malam ini. Namun, Ammar tentu tak tahu. Dia sudah pergi dari Aceh lama sekali. Sementara Aliya? Dia terlalu pemberani, seperti nenek moyangnya perempuan Aceh yang berjuang mengusir kafir.

Aliya tersenyum. Ammar tersenyum. Senyum pasangan itu terasa mengiris hati yang tak tahan merasakan cinta tak berbalas. Ammar menggamit tangan Aliya sambil berbisik, “Mau cari makanan hangat?”

Aliya mengangguk.

“Mau ikut,” ujar Ammar menawariku. Tentu basa-basi.

“Aku masih kenyang,” ujarku bohong. Padahal sepagian perutku hanya kena air teh saja.

Kedua merpati itu pun segera meninggalkan aku. Tak apa-apa, ujarku dalam hati. Aceh tetap berdenyut. Kota ini akan segera pulih. Dengan segera bangunan yang runtuh akan didirikan kembali, infrastruktur yang hancur dipulihkan, dan pemerintahan berjalan seperti semula—bangkit seperti dua belas tahun lalu. Tentu hatiku yang terluka akan segera sembuh seperti para penduduk Aceh yang kuat dan optimistis. Negeri mereka telah lama dilanda perang dan pertikaian, kemudian lindu yang terus-menerus. Tapi mereka tak kehilangan kepercayaan pada Tuhan. Karena itu, tak seharusnya aku waswas.

Sehelai daun nangka jatuh mengenai kakiku. Aku memungutnya, lalu menyimpannya di saku. Daun nangka jatuh untuk sebuah alasan. Hati jatuh disiapkan untuk hati lain. Lindu di dada Aliya akan segera pergi.

*terinspirasi dari puisi berjudul sama karya Muslim AR

Kirim Tanggapan