Kisah Para Serdadu Belanda di Balik Perang 1945-1950

0
1038

Judul buku: Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950: Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah

Penulis: Gert Oostindie

Penerbit: Obor dan KITLV Jakarta

Jumlah halaman: xxvi + 372

Cetakan pertama: September 2016

 

Hubungan Indonesia dan Belanda terus-menerus tegang akibat adanya kaitan sejarah di masa lalu yang banyak membawa cerita kelam. Bagi orang Indonesia, kolonialisasi Belanda di Nusantara membawa banyak cerita menyedihkan. Sejarah mencatat setelah peristiwa proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, barulah pada 1949 kedaulatan Indonesia diakui oleh dunia internasional.

Setelah itu, cerita bagi orang Indonesia adalah sama. Upaya mempertahankan diri terus-menerus dilakukan oleh para pejuang Indonesia dengan dua motornya tritunggal Indonesia: Sukarno-Hatta. Sangat sedikit sekali versi yang kita ketahui tentang serdadu Belanda pada masa Bersiap (1945-1950). Sejak mencuatnya kasus Westerling di Sulawesi dan Rawagede di Jawa yang mengharuskan Pemerintah Belanda mengajukan permintaan maaf dan memberikan ganti rugi, citra mereka sebagai serdadu yang kejam dan bengis semakin kuat. Dengan mudah, semua anggota pasukan penjaga keamanan yang pernah melakukan invasi dicap sebagai pelanggar HAM yang tidak berperasaan.

Namun, seperti dituturkan Dr Abdul Wahid dalam Kata Pengantar buku ini yang berjudul “Berdamai dengan Masa Lalu yang ‘Kelam’”, sejarah pada dasarnya adalah ingatan atau memori. Karena itulah, penting bagi kita untuk mendudukkan buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950:Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah dengan pikiran yang adil sejak awal. Bahwa ternyata, banyak kisah yang belum pernah dibuka dengan terang kepada publik—khususnya publik Indonesia.

Dalam buku ini, berbagai ingatan kolektif para serdadu yang pernah terlibat dalam perang di Indonesia pada 1945-1949 dibeberkan berdasarkan dokumen ego, yakni: buku catatan harian, surat menyurat dengan keluarga dan kolega, memoar, biografi, dan rekaman wawancara. Berdasarkan ribuan dokumen ego yang dikumpulkan dan diteliti oleh penulis dengan sangat cermat inilah publik bisa mendapatkan opini yang sangat akrab, jujur dan personal.

Misalnya ternyata, siapa yang menyangka bahwa sebagian besar serdadu yang dikirim ke Indonesia pada masa Bersiap ternyata sebagian besar bukan militer profesional. Mereka berumur sangat muda, rata-rata awal 20 tahun, dan bahkan belum pernah menjejakkan kaki di Indonesia sama sekali. Hanya cerita-cerita saja yang mereka dengar. Itu pun sudah dibumbui dengan propaganda, perintah, atau bahkan ancaman dari negaranya.

Motif para serdadu ini umumnya adalah menjaga ketertiban di negeri jajahan. Mereka merasa kaum nasionalis dan para gerombolan adalah pengacau yang membuat keadaan menjadi tidak aman. Bagi mereka, misinya adalah jelas: membebaskan Hindia dari musuh Jepang.

Hal ini nyata sekali dalam penuturan sukarelawan J.T Ploeg. “Ketika kami dalam perjalanan dari Malaka ke Jawa, barulah kami mendengar untuk pertama kalinya, bahwa di Hindia kelompok-kelompok revolusioner telah dibentuk dan dipicu oleh orang-orang Jepang. Kelompok-kelompok revolusioner itu tidak mengekehendaki perwalian sementara, tetapi langsung menginginkan kebebasan dalam penentuan nasib sendiri. Andaikata saya ketika itu memiliki suara, maka bisa jadi akan langsung terbalik. Namun jelaslah saya dengan banyak ‘pembebas’ sama-sama mengarungi dan menghadapi kesulitan untuk diterima sebagai ‘penjajah’ […] karena Jepang berkapitulasi. Yang tersisa adalah motif yang kurang kuat. Ketertiban harus dipulihkan dan dipertahankan sampai menurut kami Indonesia siap mengambil alih kemudi.”

Namun, alangkah kecelenya mereka, bahwa Hindia yang mereka upayakan pertahankan sebesar apa pun risikonya ternyata malah berpaling. Sebagian serdadu mencatat bahwa ada kaum petani yang menunduk dan memberi hormat tatkala mereka berjalan melintas sawah, tapi setelah itu lari dan memberi tahu kaum revolusioner berapa jumlah tentara yang datang. Berdasarkan dokumen ego, para serdadu itu menggolongkan musuh mereka menjadi lima, yakni: Sukarno, yang mereka anggap pengacau dan kolaborator Jepang; TNI, khususnya pasukan Sudirman yang dianggap sebagai pembenci orang kulit putih; kelompok radikal Islam; komunis; serta gerombolan yang dicap sebagai perampok paling kampungan.

Yang paling menarik adalah uraian mengenai kehidupan lokal dan karakter orang-orang yang ditemui para serdadu ini. Stigma telah lama bercokol melalui pengamatan terhadap pribumi yang polos, suka menunduk dan memberi hormat; pada tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) yakni tentara campuran yang memiliki sifat babu dan suka omong besar; serta pada orang Cina yang dianggap oportunis.

Buku ini sendiri, karena terdiri atas ribuan korpus dari ribuan kenangan tentara dan veteran, tentu sangat unik dan tidak serupa. Namun, seperti diungkapkan Gert Oostindie, penerbitan buku ini bukanlah untuk menolak dari anggapan (dan kenyataan) bahwa Belanda telah melakukan kejahatan perang. Penerbitan buku ini justru memberikan gambaran dan latar belakang yang mengenai dalam skala mana dan di bawah kondisi apa “tindakan-tindakan di luar batas semacam itu sungguh terjadi”. Dengan demikian, tentu pembaca mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai keadaan yang terjadi dalam perang itu, termasuk manusianya.

Bagi Indonesia sendiri, kehadiran buku ini bisa jadi mengejutkan karena memperlihatkan adanya ruang kosong yang luas dalam historiografi Indonesia. Hal ini bisa menjadi kajian lebih lanjut untuk lebih bisa memahami kondisi sosial-psikologis pada masa itu, termasuk apakah berbagai ungkapan dalam dokumen ego dapat dipastikan keabsahannya. Dengan demikian, kita akan lebih bisa memahami motif dan tindakan para serdadu, serta mendudukkan sejarah dengan lebih semestinya.

Peresensi : Fadjriah Nurdiarsih

 

Kirim Tanggapan