Sejarah dan Kisah Batik Betawi

0
7073
koleksi Seraci Batik Betawi.

Batik Betawi hampir tak pernah terdengar eksistensinya di masyarakat Jakarta. Seorang kawan bahkan pernah bertanya, “Memangnya orang Betawi punya batik?”

Jawabannya ternyata punya. Pertanyaan itu dia lontarkan bukan tanpa sebab. Pasalnya, selama ini masyarakat yang dikenal memiliki seni membatik adalah masyarakat di keraton, pesisir pantai, hingga orang Tionghoa.

“Batik Betawi sempat punah karena tidak ada penerusnya,” ujar Yahya Andi Saputra, budayawan Betawi, ketika ditemui di rumahnya di Gandaria Selatan, Rabu, 8 Februari 2017.

Menurut Bang Yahya, panggilan akrab Yahya Andi Saputra, setidaknya ada 10-15 motif Betawi asli yang berbeda dengan batik pesisir lain, misalnya batik Lasem atau batik Cirebon. Sayangnya, karena metode penyimpanan yang buruk disertai tak adanya regenerasi, generasi Betawi sekarang tidak bisa menikmati motif-motif lawas ini.

“Misalnya, motif batik tiga negeri, batik buket atau flora seperti yang dikembangkan masyarakat keturunan Tionghoa atau Indo, batik pagi sore, batik seser hujan dan batik ler (digelar) ciliwung,” ucap Bang Yahya.

Bang Yahya menambahkan, termasuk yang juga punah adalah motif kebanggaan orang Betawi, yakni motif bambu kuning. “Dulu gue sempet denger-denger cerita dari nenek-nenek kita dulu. Tapi sekarang enggak ada lagi yang punya motif bambu kuning, bahkan sampai Ibu Haji Emma Amalia Agus Bisri yang kolektor pun enggak punya,” ujarnya.

Berdasarkan penelusuran, batik Betawi sudah lama dikenal dan populer di Batavia sejak abad ke-19. Daerah pembatikan meliputi Tanah Abang, yakni di Karet Tengsin, Karet Semanggi, Bendungan Ilir, Bendungan Udik, Sukabumi Ilir, Palmerah, Petunduan, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, dan Tebet.

Menurut Hj. Emma yang dikutip dari www.jakarta.gov.id, batik-batik Betawi yang dianggap berkualitas kala itu adalah batik-batik keluaran rumah mode Van Zuylen dan Met Zellar. Batiknya biasa dipakai di kalangan elite Belanda, Cina, dan pribumi. Kedua rumah mode ini dikenal pandai memadukan teknik membatik dengan bahan kimia dan nabati.

Senada, Yahya Andi Saputra menyebutkan bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri atas tumbuh-tumbuhan asli Indonesia, antara lain babakan kayu, secang, kunyit, mengkudu, jengkol, soga, dan nila. Bahan sodanya dibuat dari soda abu serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Selain itu, motif pucuk rebung paling populer dan dianggap memiliki akar budaya Betawi paling kental. Motif ini merupakan campuran dari budaya Cina, Arab, Jawa, dan Eropa.

Adapun motif-motif dasar dalam seni membatik Nusantara adalah tumpal yang aslinya mengambil dari bentuk gunung. Motif ini kemudian bertransformasi menjadi gigi balang. Selain bisa ditemui dalam seni membatik, motif gigi balang juga ada dalam seni arsitektur Betawi.

Ridwan Saidi, budayawan Betawi, seperti dikutip dari www.jakarta.gov.id menyebutkan, pada akhir abad XIX batik menjadi bahan pakaian paling populer di kalangan masyarakat Betawi, terutama di wilayah budaya Betawi tengah. Kala itu di lingkungan kaum pria Betawi, celana batik bersaing populer dengan sarung batik corak plekat yang diilhami corak pakaian tradisional Skotlandia.

Untuk kembali mengangkat batik Betawi, belum lama ini kembali bermunculanlah upaya untuk menghidupkan batik Betawi sesuai dengan dinamika dan kondisi di lapangan. Motif-motif baru bermunculan, misalnya ondel-ondel, penari yapong, pemandangan, roti buaya, alat musik tanjidor, hingga motif kue pepe.

Seraci batik Betawi pimpinan Erna, batik Gandaria pimpinan Nur Yaum, batik Terogong pimpinan Siti Laela serta beberapa lainnya seperti batik Betawi Rusun Marunda, batik Betawi Muara Tawar dan batik Bani Said yang berhimpun dalam Keluarga Batik Betawi (KBB) merupakan upaya untuk kembali mempopulerkan batik Betawi.

Koleksi buku batik Betawi milik Pustaka Betawi.
Foto: Rachmad Sadeli

Berdasarkan pengamatan, batik Betawi lebih berani mempergunakan warna-warna cerah, tidak seperti batik Jawa yang cenderung berwarna cokelat. Merah, orange, ungu, biru, dan hijau merupakan elemen warna yang banyak digunakan.

Selain itu, harganya pun bervariasi. Untuk batik cap mulai Rp 150-350 ribu, sementara batik tulis dihargai lebih mahal antara Rp 700-1,2 juta.

Ibu Nur Yaum, pendiri batik Gandaria yang saya temui pada Rabu, 8 Februari 2017 mengatakan, ada beberapa motif yang diminta oleh Dekranasda DKI Jakarta selaku pembina para pembatik. Antara lain motif flora dan motif-motif kontemporer yang terinspirasi dari landmark Kota Jakarta.

Selain itu, dalam koleksi batik Gandaria juga ada motif yang menggambarkan kegiatan tradisional masyarakat Betawi, motif-motif yang terinspirasi dari budaya khas Betawi, dan motif klasik Betawi kuno. Bahkan salah satu motif yang bertema “penari ronggeng dan pemandangan”, diakui Ibu Nur, sudah didaftarkan HAKI (hak kekayaan intelektualnya) melalui Kementerian Hukum dan HAM.

Koleksi batik Betawi Gandaria.

Perempuan ini juga mengaplikasikan batik dalam karya-karyanya yang lain, seperti dompet dan tas jinjing. Hasilnya pun cukup elok dan indah dipandang. Tak dimungkiri langkah Ibu Nur dan para pembatik Betawi lainnya akan semakin memajukan seni yang penuh dengan kearifan budaya ini, sehingga makin populer dan berjaya di masa-masa mendatang.

sumber: wawancara Yahya Andi Saputra dan Ibu Nur Yaum, www.jakarta.gov.id, buku Gaya Apik Batik Betawi (Gramedia, 2016)

 

Kirim Tanggapan