Moemie, Kisah 3 Generasi Keluarga Indo

0
590

Judul : Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun

Pengarang : Marion Bloem

Penerjemah: Widjajanti Dharmowijono

ISBN : 978-602-424-097-4

Penerbit : KPG

Tahun terbit : Oktober 2016

Setiap manusia memiliki tujuan dilahirkan di dunia. Bagi Marion Bloem, sutradara dan penulis, barangkali salah satunya adalah menuliskan kisah Moemie, gadis berusia 100 tahun.

“Ini adalah kisah yang sangat menyakitkan untuk ditulis,” ucap Marion saat diwawancarai Ruang Gramedia.

Kisah bermula dari peristiwa puputan di Bali, saat seorang bayi tak berdosa tercerabut dari keluarganya, lalu mendapatkan nama baru sebagai Dorothea van Dijk. Sang bayi—yang kelak kita kenal sebagai Moemie—sejak lahirnya sudah istimewa. Moemie bisa meramal, melihat masa depan meski ia tak bisa mencegah kejadian buruk yang datang pada seseorang. Berkat bakatnya itulah ia diangkat anak oleh keluarga Mamelie sang janda dan mendapatkan saudara-saudara tiri yang sangat beragam macam karakternya.

Moemie membantu anak-anak Mamelie hampir seluruh hidupnya. Ia berperan sebagai bandul penyeimbang bagi keluarga itu. Dari kacamata keluarga inilah—dan keturunannya kelak di Belanda melalui tokoh Daisy, Fons, dan Beila—pengarang leluasa berkisah. Maka, sudut pandang yang didapat sangat menarik karena berasal dari tokoh non-Indonesia, yakni kaum peranakan alias blasteran.

Keluarga ini menikmati kemudahan-kemudahan tersendiri selama masa pendudukan Hindia Belanda. Paul, anak sulung, memperoleh kedudukan yang baik dan terhormat. Namun kedudukan berubah 180 derajat saat Jepang masuk dan memperlakukan mereka seperti pencuri. Dikisahkan, tentara Jepang akan datang ke berpatroli ke rumah-rumah kaum Belanda dan Indo, lalu merampas apa saja yang mereka sukai. Kekejaman orang Jepang amat terasa. Mereka terutama dipaksa mendaftarkan asal-usul mereka untuk membuktikan diri mereka setidaknya memiliki separuh darah asli Indonesia.

Sebagian keluarga tercerai-berai. Ada yang masuk tahanan dan menjadi tawanan, ada pula yang terpaksa menjadi tentara. Situasi di luar juga tidak mudah karena bahan makanan sulit didapat dan tentara Republik yang berusia muda bersikap sangat pongah. Moemie sampai menjual satu persatu gaun dan sapu tangan untuk ditukarkan dengan beras atau ayam. Ia juga mengikuti kursus kilat menjadi perawat dan diam-diam menyadari banyak yang berharap Jepang segera pergi. Namun, bakat meramalnya yang terkenal itu hampir saja membawa masalah baginya.

“Ada banyak mata-mata, pengkhianat, orang yang ingin melaporkan orang lain agar bisa menerima upah dari polisi militer Jepang. Pernah seorang perempuan Sunda sambil menangis bertanya padanya apakah perang akan segera usai, karena dia merindukan suaminya yang orang Belanda. Moemie menghibur perempuan itu, ‘Tak lama lagi’. Dan perempuan itu terus bertanya, ‘Masih berapa lama? Siapa yang akan memenangkan perang ini? Apakah orang Belanda akan segera kembali? Ceritakan pada saya segala sesuatu yang Anda lihat!’” (hlm. 394).

Kompleksitas permasalahan yang disodorkan Marion Bloem dalam novel ini memang terkadang membuat kening berkerut. Tiga generasi keluarga dengan lintas peristiwa mulai dari Oktober 1995, Mei 1995, Bom WTC 2002, dan Bom Bali menjadi latar yang menunjukkan penulis memahami sejarah Indonesia modern dengan baik.

Keunggulannya, penokohan dalam novel ini hampir seluruhnya bulat. Rasanya hampir seluruh karakter yang ada dipaparkan oleh Marion. Paul yang pencemburu dan suka mengekang, tapi hei malah dia yang berselingkuh. Daisy yang penuh tanggung jawab dan menyimpan emosi, termasuk menanggung hidup Donno, anak suaminya sendiri dari kencan satu malam dengan Rosana. Atau Beila yang manis tapi langsung memutuskan menjadi lesbian setelah putus dengan pacarnya selama 13 tahun terakhir.

Teristimewa adalah tokoh Moemie itu sendiri yang diceritakan hidup bagaikan “tuhan yang turun ke bumi”. Ia selamat dalam puputan, selamat dalam perang, dan secara mengejutkan pergi ke Amerika dengan bantuan laki-laki asing. Ia seperti tokoh yang sejak lahir sudah digambarkan “berbeda” untuk menunjukkan keistimewaannya.

Suara pengarang terhadap Indonesia masa kini juga tampak dalam novel ini. Marion sepertinya khawatir dengan gejala Islam yang makin menguat di Indonesia akhir-akhir ini. Ia menyebut hijab makin sering digunakan dibanding berpuluh-puluh tahun lampau. Marion juga menyinggung soal gerakan HAM, termasuk kasus meninggalnya aktivis Munir dalam penerbangan ke Belanda karena diracun.

Sebagai pencerita, Marion lincah berpindah dari satu karakter ke karakter lain, dari anak-anak ke orang tua. Deskripsinya halus dan lengkap, bahkan kadang-kadang menyentuh. Saat berkisah sebagai seorang senja, terasa sekali kesepian sang tokoh dan perenungan terhadap masa lalu.

Ya, dalam usia matangnya sebagai penulis, Marion memang mampu menjabarkan banyak sisi psikologis batin manusia ke hadapan pembaca. Maka bagi saya, Moemie adalah buku yang mengajarkan untuk lebih ikhlas, berpasrah, dan menjalani hidup sebaik-baiknya.

*oleh: Fadjriah Nurdiarsih

 

Kirim Tanggapan