Kisah Si Entong dan Mantra Man Jadda Wa Jadda

0
1372

Dusun kecil di pinggir Batavia gempar. Tiba-tiba Amin, yang akrab dipanggil Entong, hilang. Ibunya, Mahmudah, sudah sembab dan merah matanya lantaran menangisi kepergian anaknya yang tanpa pamit itu.

“Tumben-tumbenan si Entong pergi keluar enggak bilang-bilang,” ucap Aminah sambil bercucuran air mata.

Pada pagi hari sebelum hilang, Entong memang sempat mencium tangan ibunya. Kala mendekatkan bibir ke tangan ibunya, Entong berkata, “Doain ya, Mak, saya mau ngebahagiain Emak.”

Waktu itu ibunya abai saja karena memang setiap pagi sudah kebiasaan si Entong pamit sebelum pergi belajar ke rumah gurunya, Guru Rojali, di Kemanggisan.

Entong sudah sepuluh tahun menuntut ilmu di pondok pesantren milik Guru Rojali. Dari yang sebelumnya buta huruf dan tak bisa mengaji, Entong kini sudah lumayan pandai. Ia bisa dikatakan menjadi murid senior sekaligus kesayangan Guru Rojali. Terutama sejak Entong berhasil menyusul gurunya ke Mekah berbekal mantra biji beton sepuluh tinggal sembilan (lihat cerita sebelumnya: Kisah Si Entong dan Biji Beton).

Selain itu, Entong juga belajar ilmu silat dari gurunya itu. Sebagai anak remaja berusia 17 tahun, Entong terbilang mandiri dan dewasa. Maklum saja, ayahnya, Bang Maman, sudah meninggal, sehingga ia menjadi tumpuan hidup satu-satunya bagi ibunya.

Yang ibunya tak tahu, sehari sebelum hilang, Entong memang sempat ditegur Guru Rojali.

“Hush, Tong, kenapa bengong,” ucap gurunya mengagetkan si Entong yang sedang terpekur sendirian di atas tikar bambu.

Entong kaget mendengar suara gurunya itu. Ia buru-buru mencium tangan sang guru yang berdiri di hadapannya.

Setelah keduanya duduk berhadapan, mulailah Entong menceritakan kegelisahan hatinya.

“Saya lagi berpikir, Guru, bagaimana caranya supaya bisa ngebahagiain Emak,” ucap Entong.

“Itu niat yang mulia sekali,” ucap Guru Rodjali menanggapi.

“Iya, apalagi Emak sudah semakin tua. Saudara-saudaranya yang laen tak banyak yang mau peduli karena dulu Emak menikah dengan Babe yang preman,” ucap Entong sambil menunduk malu.

Guru Rojali mengusapkan kedua tangannya, lantas sebelah tangannya ia pindahkan mengelus jenggotnya yang panjang. Sejenak ia tampak berpikir sebelum akhirnya berkata, “Pergilah ke Priok dan timbalah air laut sampai engkau mendapatkan mustika ikan nun. Niscaya itu cukup untuk membahagiakan ibumu.”

Setelah itu Guru Rojali pun memberikan bermacam-macam petuah lainnya yang didengarkan oleh Entong dengan takzim. Entong mengangguk-angguk tanda paham, kemudian ia pamit pulang dan mencium tangan gurunya.

Keesokan harinya, Entong menghilang.

***

Ikan nun kecil itu sedang bermain-main di kedalaman laut. Ia senang sekali berjalan-jalan sendirian, terpisah dari rombongannya yang lebih besar. Ia sering berenang hingga ke tepian dan sesekali muncul di permukaan air meski ibu ikan nun sudah melarangnya. Dari situ, ia bisa mengetahui macam-macam hal tentang yang terjadi di dunia daratan.

Pernah ia melihat seorang anak kecil sedang tertawa bahagia sambil digandeng ayah dan ibunya. Pernah juga melihat anak-anak yang sedang tertawa-tawa sambil bermain petak umpet dengan kakaknya, lalu saling mencipratkan air. Sering juga satu keluarga kecil atau besar sedang piknik dan membuka bekal di atas pasir tepi laut.

Namun, yang dilihatnya kali ini betul-betul mengagetkannya. Seorang pemuda sedang duduk bersimpuh di tepi laut. Di tangannya ada ember berukuran sedang berwarna hitam. Si pemuda sedang menimba air laut, lalu membuangnya lagi ke tepian, lalu berjalan lagi menimba air laut.

Cukup lama ikan nun melihat kelakuan si pemuda yang cukup aneh itu. Dia, yang ternyata adalah Entong, sedang menimba-nimba air laut. Upaya itu dilakukannya tanpa kenal lelah. Entong hanya berhenti untuk beristirahat sejenak, lalu menimba-nimba air laut dengan ember hitam yang dibawanya.

Ketika matahari mulai tinggi dan air laut mulai panas, ikan nun bergerak menjauhi Entong. Ia kembali menyelam ke dalam lautan dan tak mempedulikan tindakan orang yang dianggapnya gila itu. Sebab, dengan ember yang tak seberapa besarnya, bagaimana mungkin Entong bisa membuat air laut surut hingga ke dasar?

Saat malam hari, seluruh kerajaan bawah laut gempar. Suara kecipak air laut semakin kencang. Permukaan air laut tampak bergelombang lantaran adanya gangguan di permukaan air laut. Raja Bilbillah, raja ikan nun, mulai gelisah dan tak tenang. Semalaman ia tak bisa tidur karena bunyi yang sangat menganggu itu. Sang raja sangat penasaran, siapakah yang berani menganggu kedamaian kerajaan bawah laut yang tenteram itu?

Pada pagi harinya, Raja Bilbilah mengumumkan kepada rakyatnya bahwa ia merasa sakit kepala lantaran tak tidur semalaman akibat suara bising. Ikan nun kecil kemudian menghampiri sang raja yang sedang termenung lesu.

“Raja Bilbilah yang baik, sepertinya saya tahu siapa penyebab suara bising yang membuat Raja tak bisa tidur semalam,” ucap ikan nun kecil.

Sang raja menolehkan kepalanya dan membuka matanya sebelah. Ia sedang berusaha tidur karena sayup-sayup suara itu masih terdengar.

“Coba katakan padaku apa sebabnya,” ucap sang Raja.

“Di sebelah utara laut ini, di dekat tanjung yang dalam dengan kapal-kapal yang besar, ada seorang remaja laki-laki yang sedang berusaha menimba air laut kita,” jawab ikan nun kecil.

Sang raja menggeleng tanda tak percaya.

“Tidak mungkin ada yang bisa menimba seluruh air laut hingga habis,” ucapnya.

“Itulah yang saya lihat wahai Raja,” ujar ikan nun kecil sambil takut-takut.

Raja Bilbilah meminta ikan nun kecil kembali bermain dan berhenti berkhayal tentang seseorang yang hendak menguras air laut dengan menimbanya.

Sang raja kemudian berusaha melanjutkan tidurnya, tapi keributan kecil itu masih saja terdengar, hingga malam harinya ia bermimpi aneh tentang seseorang laki-laki yang mengucapkan satu mantra berulang-ulang.

Raja Bilbilah lantas memanggil kembali ikan nun kecil itu dan memintanya melihat apa yang diinginkan remaja laki-laki yang menimbulkan kegemparan di kerajaan bawah laut itu.

Ikan nun kecil merasa sangat senang dipercaya Raja Bilbilah. Ia pun berenang secepat mungkin ke wilayah tempatnya melihat Entong menimba air laut. Semakin dekat dengan gelombang air laut yang memutar, ia percaya tujuannya akan terlihat. Ikan nun kecil lalu berenang hati-hati sedekat mungkin dengan Entong.

“Halo,” ujarnya pada Entong yang sedang terengah-engah kecapaian.

Entong kaget melihat ada ikan nun kecil dekat kakinya sedang berenang memutar.

“Halo,” ucap Entong bingung.

“Raja ikan nun ingin tahu apa yang sedang kamu lakukan di sini? Kenapakah sejak kemarin kamu menganggu kedamaian bawah laut dengan menimba air laut,” tanya ikan nun kecil itu kepada Entong.

“Tindakanmu sangat menganggu,” gugat ikan nun kecil.

Entong memandang sungguh-sungguh kepada ikan nun kecil.

“Aku menginginkan mustika Raja Ikan Nun yang ada di mahkotanya,” ucap Entong.

“Wah, aku rasa itu tidak mungkin. Apakah kau tidak tahu itu mutiara berharga kerajaan kami?”

“Aku tahu. Tapi bukankah kerajaan kalian memiliki banyak mustika lain yang juga berharga. Tak hanya mutiara itu saja,” ujar Entong.

“Kalau begitu, kenapa yang kau inginkan justru yang ada di mahkota raja kami?” tanya ikan nun kecil.

“Karena guruku bermimpi mutiara itu bisa membawa kebahagiaan dan keberuntungan seumur hidupnya terhadap pemiliknya,” ucap Entong.

“Bagaimana jika rajaku tak mau memberikannya? Kan, mutiara itu miliknya. Bisa saja ia menolak permintaanmu,” ucap ikan nun kecil.

“Aku tak akan menyerah. Aku akan terus menimba air laut sampai laut berkurang sedikit demi sedikit dan raja ikan nun mau memenuhi keinginanku,” jawab Entong yakin.

Ikan nun kecil mengibaskan ekornya dan berkata, “Baiklah, aku akan sampaikan ucapanmu kepadaku raja kami, Raja Bilbillah,” ujarnya.

Ikan nun kecil kemudian kembali berenang menjauhi Entong menuju ke kedalaman laut, tempat raja ikan nun bertakhta. Ia pun melaporkan percakapannya tadi dengan Entong. Raja Bilbilah murka mendengar laporan ikan nun kecil.

“Aku tak akan memenuhi permintaan orang itu. Lihat saja, sebentar lagi dia pasti menyerah,” ucap  Raja Bilbilah.

Tiga hari sudah berlalu sejak percakapan ikan nun kecil dengan Entong dan Entong belum juga menyerah. Raja Bilbilah semakin pusing. Ia mengutus ikan nun kecil untuk kembali membujuk Entong agar menghentikan tindakannya itu.

“Hai manusia yang baik, kenapakah Engkau belum juga menyerah?” ujar ikan nun kecil.

Entong tersenyum sambil menaruh ember yang digunakannya. Ia menunduk memandang ikan nun kecil yang berenang di sela-sela kakinya.

“Aku tak akan menyerah karena ibuku kini hanya satu-satunya yang kupunyai, wahai ikan nun kecil,” ucap Entong sambil tersenyum.

“Selama bermalam-malam aku berpikir, dengan cara apakah aku bisa membahagiakan ibuku padahal aku masih muda usia dan fakir ilmu. Aku ingin sekali membuatnya bahagia dengan benda indah tiada tara yang belum pernah dilihatnya. Karena itu, aku tidak akan pulang sebelum upayaku berhasil. Lagipula, aku punya mantra ajaib yang diajarkan guruku,” kata Entong.

“Mantra apakah itu, pemuda?” tanya ikan nun kecil penasaran.

Man jadda wa jadda, siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil,” ucap Entong.

Seketika ikan nun kecil merasa terharu melihat keteguhan Entong. Ia pun berenang kembali untuk melaporkan ucapan Entong kepada Raja Bilbillah.

***

Bulan bersinar cerah. Malam tampak indah karena langit berhiaskan bintang-bintang. Entong meluruskan kaki karena merasa capai. Ia masih bersemangat meneruskan tindakannya menimba-nimba air laut. Terbayang wajah emaknya yang hampir seminggu ia tinggalkan. Namun Entong tak mau putus asa. Dia punya mantra man jadda wa jadda dari gurunya. Selain itu, ia yakin Tuhan Maha Pemurah yang akan mengasihi umatnya yang mau berusaha.

Air laut tampak semakin lama semakin berkurang berkat usaha yang  dilakukan Entong. Meski demikian, hal itu belum cukup. Entong harus berusaha lebih keras lagi sampai air laut semakin sedikit dan ia bisa menyelam untuk meminta mutiara milik Raja Bilbilah.

Seusai salat, Entong duduk berzikir sambil mendaras pujian kepada Tuhan YME. Sepanjang usahanya, banyak bantuan datang kepada Entong. Penduduk kampung dengan ramah menawarkan nasi dan lauk-pauk, juga rumah untuk tempat berteduh. Entong pun sangat terharu dengan kebaikan manusia yang halus budinya itu. Apalagi pemilik rumah yang ditumpanginya punya seorang anak perempuan yang cantik dan baik. Entong sangat suka pada anak itu, apalagi dia tak bersaudara seorang pun.

“Aisyah, betapa cantik wajahnya bagaikan bulan purnama,” ucap Entong sambil menerawang membayangkan paras Aisyah yang memang rupawan.

Sementara di tempat lain, Raja Bilbilah sedang berpikir setelah mendengarkan laporan ikan nun kecil. Keinginan Entong untuk membahagiakan orangtuanya itu memang sungguh mengharukan. Namun, mutiara itu didapatnya dengan susah payah, dengan menyelami lautan yang paling dalam dan gelap. Kemudian Raja Bilbilah meminta ibu kerang membuka cangkangnya agar ia bisa mengambil mutiara berwarna putih bersih itu.

Lama-kelamaan ia merasa salut juga dengan perjuangan pemuda itu. Batinnya berbisik, bagaimana jika ia berikan saja mutiara itu sebagai hadiah. Namun ia masih juga ragu. Lama Raja Bilbilah memikirkannya sampai akhirnya ia jatuh tertidur.

Keesokan harinya, seisi laut kembil terganggu dengan suara ember yang diayunkan Entong. Tak ingin gangguan terjadi terus-menerus, Raja Bilbilah segera mengambil keputusan. Ia menyuruh ikan nun kecil membawa rumput laut berkhasiat untuk diminumkan pada Entong agar Entong bisa bernapas di dalam air. Raja Bilbilah bermaksud mengundang Entong ke kerajaannya dan mengajaknya berbicara.

Singkat cerita, Entong akhirnya berhadap-hadapan dengan Raja Bilbillah. Begitu melihat sosok raja ikan nun yang bersahaja itu, mau tidak mau Entong merasa gentar juga. Namun, dengan baik-baik ia mengutarakan keinginannya.

“Aku dengar Raja mempunyai mutiara yang bisa memberikan keberuntungan. Aku ingin memilikinya untuk ibuku karena sudah lama ia merasa kesusahan. Sebagai gantinya, aku memiliki daun mengkudu ini. Barangkali Raja bersedia menukarnya,” ucap Entong.

Raja Bilbilah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Entong. Ia diam-diam memuji kenekatan pemuda polos itu.

“Kembalilah ke darat. Saat kau menginjak pasir kembali, rogoh saku celanamu dan lihat apa yang terjadi dengan daun mengkudu yang hendak kau berikan kepadaku. Aku doakan hidupmu beruntung,” ujar Raja bijaksana.

Ikan nun kecil lantas mengantar kembali Entong ke pinggir laut. Entong tampak bingung dengan jawaban Raja Bilbilah, tapi ikan nun kecil tak mau menjelaskan apa-apa. Sesampainya di tepian, ikan nun kecil menggerakkan ekornya dan melompat dua kali sebagai tanda perpisahan sebelum ia kembali lagi ke dasar laut.

Entong lantas ingat untuk merogoh saku celananya seperti wasiat Raja Bilbiah. Tak disangka, ia menemukan mutiara putih cemerlang yang diidam-idamkannya di saku kanan. Sementara di saku kirinya, daun mengkudu yang ia pungut dari halaman rumah Aisyah itu ternyata berubah menjadi daun emas.

Mendadak sontak Entong berteriak. Ia meninju langit kemudian tersungkur bersujud sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Tuhan YME. Entong lantas menuju rumah Aisyah dengan setengah berlari. Ia menyerahkan daun mengkudu emas itu kepada ayah Aisyah.

“Ini sebagian dari mahar untuk putri Bapak, Aisyah. Kalau Bapak bolehkan, saya akan kembali bersama Emak untuk melamar Aisyah,” ucap Entong mantap.

Aisyah dan orangtuanya pun menyetujui lamaran Entong. Setelah itu Entong berjalan pulang kembali ke rumahnya. Perjalanan pulang itu hanya membutuhkan waktu setengah hari karena Entong yang sangat bersemangat.

Saat Asar, Entong tiba kembali di rumahnya. Di muka rumahnya ia berteriak, “Assamu ‘alaikum!”

Ibu Mahmudah yang baru saja selesai menunaikan salat Asar merasa terkejut mendengar suara yang dikenalnya. “Entong, dari mana saja, Nak?” ujar Ibu Mahmudah sambil menciumi anaknya.

Entong mengambil tangan emaknya lantas mencium punggung tangan Ibu Mahmudah. Ia mengatakan, “Entong punya hadiah buat Emak. Lihat, ini mutiara Raja Nun Bilbillah. Bagus bukan?” ucap Entong sambil mengeluarkan mutiara yang berpendar indah dari saku celananya.

“Dari mana Entong mendapatkannya?” tanya  ibunya bingung.

“Nanti saja, panjang ceritanya, Mak. Tapi yang jelas berkat usaha dan izin Tuhan, sekaligus mantra man jadda wa jadda ,” ucap Entong.

Ibunya mengangguk tanda bahagia. Di tangannya kini ia mengenggam mutiara paling indah di seluruh dunia yang diberikan Entong. Betapa beruntungnya dia sebagai seorang ibu dikaruniai anak yang berbakti.

“Selain itu, ada hadiah lain,” ujar Entong meneruskan ceritanya. Anak-beranak itu kini duduk di bale-bale.

“Emak akan segera memperoleh menantu. Bagaimana Emak, boleh kan Entong menikah, supaya ada yang menemani Emak juga di rumah kalau Entong sedang berladang?” ujar Entong.

Ibu Mahmudah menangis bahagia mendengar ucapan Entong. Ia merasa bagaikan mendapat durian runtuh karena dua keberuntungan sekaligus.

Sementara di dasar laut, Raja Bilbilah tersenyum lantaran ia bermimpi Entong sudah bertemu ibunya. Selain itu, kali ini tidurnya pun nyenyak sekali karena tak terganggu suara Entong yang sedang menimba-nimba air laut.

–Tamat–

Kirim Tanggapan